Perkenalkan namaku Julian. Aku adalah seorang pegawai pelaksana di Bea Cukai Madiun yang ditempatkan pada Subseksi Penyuluhan dan Layanan Informasi (PLI) sejak tahun 2017. Hingga pertengahan 2018, aku bertugas seorang diri di PLI (tanpa rekan sesama pelaksana maupun atasan langsung). Hari-hari kulalui sebagai frontliner yang menangani berbagai pertanyaan dari pengguna jasa, memperbarui berita pada media sosial kantor, serta memberikan penyuluhan di berbagai tempat. Tiba di pertengahan bulan Juli 2018, yang kutunggu-tunggu terbit, mutasi para pejabat eselon V. Jabatan Kepala Subseksi PLI di kantorku akhirnya terisi. Masih teringat sore itu, kubuka dokumen pdf melalui pesan whatsapp sambil membaca dalam hati nama-nama pejabat yang masuk ke Madiun. Bu Kusmartinah namanya, jabatan lama sebagai Kepala Subseksi Hanggar Pabean dan Cukai Bea Cukai Tanjung Emas, dipindahkan sebagai Kepala Subseksi PLI Bea Cukai Madiun.
Pertama kali bertemu dengan Bu Kusmartinah, aku merasakan pribadi yang tegas dan sedikit galak. Kudengar dari beberapa teman yang bertugas di Semarang, beliau memiliki banyak pengalaman di hanggar, khususnya bidang pabean. Cerita dari teman pula, Bu Kus mengalami kecelakaan saat mengendarai motor tiga bulan sebelumnya, sehingga membuat kaki kanannya patah. Hingga bertugas di Madiun pun, beliau berjalan dengan kondisi kaki masih diperban dan berjalan dengan dibantu tongkat sebagai
72
topangan. Awal-awal beliau bertugas, aku dan Bu Kus menyusun jadwal rencana kerja kegiatan penyuluhan selama satu tahun. Atas bantuan dan arahan dari beliau, media sosial kantor kami yang dulu sepi, kini semakin ramai. Pamflet untuk pengunjung kantor kami yang dulunya terdiri dari tiga jenis, kini ada sepuluh jenis pamflet terpasang rapi di ruang pelayanan.
Bulan-bulan selanjutnya, aku dan Bu Kus laksana teman duet. Berbagai kegiatan penyuluhan telah kami gagas, di antaranya ditujukan untuk para pelajar SMA/SMK, calon tenaga migran yang akan berangkat ke luar negeri, para pedagang pasar tradisional, hingga masyarakat umum yang diundang oleh pemerintah daerah di balai kelurahan atau kecamatan. Sinergi bersama pemerintah daerah pun dalam rangka penyerapan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) juga perlahan mulai kami rintis.
26 November 2018
Kamis siang yang mendung, seperti biasa aku berjaga di front office. Kulihat dari balik kaca ruang pelayanan, Toyota Avanza berpelat merah memasuki pagar kantor. Tak berselang lama kemudian,
“Assalamualaikum… Mas Julian, apa kabar?” sapa Bu Etty memasuki ruang pelayanan.
Bu Etty adalah salah satu pejabat eselon IV di Bagian Perekonomian Pemkot Madiun yang setiap tahun bersinergi dengan kami dalam rangka penyelenggaraan sosialisasi di bidang cukai untuk masyarakat. Di belakang beliau, kulihat Mas Ali, staf Bu Etty tersenyum mengikuti salam.
“Wa’alaikumsalam, Bu, Mas. Masya Allah, lama sekali ndak ketemu. Monggo…monggo… pinarak”, jawabku sambil mengarahkan Bu Etty dan stafnya ke ruang tamu.
Setelah mempersilakan dan izin sejenak, aku berjalan cepat
73
ke ruangan Bu Kus untuk melapor bahwa ada tamu dari Pemkot yang hendak berkonsultasi. Dapat kuduga, kedatangan Bu Etty dan stafnya pasti akan menyampaikan maksud penyelenggaraan sosialisasi dalam rangka penyerapan DBHCHT. Selanjutnya, kami berempat pun duduk santai di ruang tamu dan larut dalam obrolan serius.
Hingga akhirnya…
“Bagaimana kalau bikin pertunjukan ludruk di Alun-alun malam Minggu nanti Bu Etty, bisa?” tanya Bu Kus pada Bu Etty.“Pas banget sekalian kita nimbrung di acara Madiun Fair,” tambah Bu Kus.
“Bisa… bisa… Tapi, apa ndak terlalu mendadak Bu untuk pihak panjenengan? Kalau kami sih siap-siap saja,”
pungkas Bu Etty.
Aku dan Mas Ali hanya mengernyitkan dahi.
Batinku bergejolak. Waduh, bisa-bisanya Bu Kus berinisiatif mengemas sosialisasi di bidang cukai dalam bentuk pagelaran ludruk. Acaranya pun kurang enam hari lagi, mana mungkin terealisasi, batinku.
“Gimana, Bu? Kalau misalkan Pemkot bisa membantu, segera akan saya sampaikan proposalnya. Inshaa Allah besok jadi dan kami sampaikan ke kantor jenengan,”
sahut Bu Kus dengan wajah semringah pada Bu Etty.
“Oke… oke… Bu. Sekalian kita besok ketemu di ruangan saya sambil menyusun panitia dan membagi tugas sekalian nggeh,” jawab Bu Etty dengan antusias.
Kata sepakat pun diperoleh. Bu Etty dan stafnya kemudian mohon izin pamit.
Harus kuakui, bahwa metode penyampaian sosialisasi yang telah terselenggara sebelum-sebelumnya terasa membosankan. Hal itu disadari oleh kami, juga dirasakan oleh Bagian Perekonomian yang menyelenggarakan sosialisasi di bidang cukai setiap
74
tahunnya. Bak gayung bersambut, ide pagelaran ludruk dicetuskan oleh Bu Kus dan disetujui oleh Bu Etty. Sorenya, Bu Kus menghadap Kepala Kantor untuk permohonan bersinergi dengan Bagian Perekonomian Pemkot Madiun dalam rangka pagelaran ludruk. Kepala Kantor pun setuju.
Aku masih tak percaya. Bagaimana mungkin kami yang terdiri dari dua orang di PLI sanggup menyiapkan ludruk dalam waktu enam hari bersama Pemkot.
***
Keesokan harinya, kuantar Bu Kus menyampaikan proposal ke Bagian Perekonomian Pemerintah Kota Madiun.
Kami pun disambut oleh Bu Etty dan tiga orang stafnya di ruang rapat Sekretariat Daerah Pemkot Madiun. Bu Etty pun mengangguk setuju setelah membaca proposal dari kami.
Tak menunggu lama, panitia pagelaran ludruk pun dimusyawarahkan dan diputuskan untuk pembagian tugas masing-masing. Bu Etty dan staf sanggup mendanai penunjukan event organizer (EO), panggung, sound, dan lighting-nya. Aku dan Bu Kus siap mencarikan lakon pelawak, penyanyi tembang Jawa lengkap dengan pemain musiknya, serta salon untuk menyiapkan busana dan riasan.
Hari itu juga, semua penyedia telah kami hubungi dan semuanya deal. Kami memilih D’Tejo, salah satu kelompok seniman lawak yang ada di Kabupaten Madiun sebagai pemain pada acara nanti. D’Tejo adalah akronim dari Dagelan Tembang Jowo. Para pemainnya terdiri dari sepuluh orang yang hampir semuanya lansia. D’Tejo sendiri merupakan gabungan dari tiga talenta, antara lain bernyanyi lagu tembang Jawa, permainan musik, dan seni lawak. Musyawarah berlangsung selama dua jam.
75
Selanjutnya, aku dan Bu Kus pamit undur diri untuk kembali ke kantor.
Tiba waktu absen pulang, aku dan Bu Kus masih belum rampung. Kami berdua masih sibuk di hadapan komputer di ruang PLI. Sore itu, aku menyiapkan desain publikasi untuk diunggah di media sosial. Bu Kus sendiri menyusun naskah cerita dan bahan materi yang akan dibahas saat geladi resik Jumat nanti. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 8 malam, aku pun tidak kuat menahan lelah dan kantuk. Setelah publikasi rampung, aku pamit pulang.
“Bu, saya mohon izin pulang dulu nggeh,” pintaku pada Bu Kus.
“Iyo, mas, ati-ati neng ndalan, ojo ngebut-ngebut.
Matur suwun, ya,” jawab Bu Kus.
“Sami-sami, Bu,” tutupku.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, tiba-tiba rasa iba menghampiriku pada sosok atasanku. Bertanya-tanya dalam hatiku. Mengapa Bu Kus yang dua tahun lagi memasuki masa pensiun, harus mengemban tugas jauh dari homebase-nya di Semarang. Apalagi dengan keterbatasan gerak kaki karena kecelakaan. Berjalan setiap hari dari rumah kos ke kantor dan sebaliknya menggunakan tongkat.
Meskipun demikian, beliau masih menunjukkan semangat yang tinggi dan juga inisiatif dalam bekerja.
30 November 2018 (H-1)
Geladi resik dimulai. Jumat pukul 3 sore, aku dan Bu Kus sudah siap di ruang rapat Sekretariat Daerah Pemkot Madiun. Begitu pun dengan Bu Etty bersama stafnya dan para personil D’Tejo. Dari kantor sudah kusiapkan lima belas set salinan jadwal dan naskah alur cerita. Ludruk akan diawali dengan alunan musik khas Jawa
76
Timur, kemudian dimulai lawakan dari para pemain pria.
Selanjutnya, seorang ibu pedagang jamu dan bapak pedagang asongan datang menawarkan rokok ilegal.
Kemudian tibalah seorang polisi dan seorang petugas Bea Cukai datang untuk memberikan penyuluhan. Ludruk ditutup dengan nyanyian lagu-lagu campur sari. Begitulah konsep yang kami setujui pada saat geladi resik.
1 Desember 2018 (Hari H)
Lepas Isya, pukul 7 lebih 15 menit, panggung di Alun-Alun Kota Madiun ramai riuh dengan alunan nyanyian campur sari dan tembang khas Jawa Timuran. Di depan panggung pun mulai ramai dengan para penonton dan pedagang jajanan. Pukul 8 malam, tibalah di sesi pagelaran ludruk. Dari belakang panggung, kaki dan tanganku terasa dingin. Bu Kus duduk di sampingku sambil mengingatkan.
“Jolali bismillah disek, semangat”, pesan Bu Kus sambil menepuk pundakku.
“Nggeh Bu, siap,” jawabku. Sambil berlalu dan berjalan ke atas panggung, kuucap lirih
“Bismillahirrohmanirrohim… Ya Allah, mugi paring lancar.”
77
Aku berperan sebagai petugas Bea Cukai, sedangkan Mas Ali, staf Bu Etty berperan sebagai polisi.
Drama yang terjadi dalam ludruk tersebut menceritakan bagaimana rokok ilegal sudah merajalela di masyarakat.
Sambil beraksi di atas panggung, kulihat mungkin sekitar dua ratus orang berjubel di depan panggung menyaksikan kami. Tak terasa satu jam berlalu. Tepukan riuh dari penonton menambah semangat kami. Tiga puluh menit berikutnya, kami lakukan pembagian doorprize kepada 30 penonton yang paling antusias dan mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Senang, lega, dan puas. Itulah tiga kata yang menggambarkan usai pertunjukan digelar.
Pukul setengah sepuluh malam, aku dan beberapa pemain turun dari panggung. Selanjutnya, panggung akan diisi dengan hiburan musik campur sari. Aku dan mas Ali diarahkan oleh EO menuju belakang panggung.
“Alhamdulillah… sukses untuk kita semua,” teriak Bu Kus.
“Alhamdulillah lancar dan ramai sekali penontonnya,” tambah Bu Etty.
Terbayar sudah jerih payah kami selama enam hari menyiapkan pagelaran ludruk ini.
Setelah berpamitan, aku dan Bu Kus berpamitan untuk pulang. Kuantar Bu Kus kembali ke rumah kos dengan menggunakan mobil dinas. Dalam perjalanan pulang, kami membicarakan pagelaran ludruk yang barusan kami laksanakan. Sebuah pertunjukan seni tradisional yang akan melekat dalam memori kami. Ide penyuluhan ini akan selalu kami ingat sepanjang perjalanan karir kami.
Sepuluh menit menyetir, tibalah kami di depan rumah kos Bu Kus.
78
“Matur suwun, yo, mas. Mugi Gusti Allah membalas apa yang menjadi niat baik kita semua,” kata Bu Kus sambil turun dari mobil.
“Aamiin, sami-sami, bu,” jawabku.
“Ati-ati,” imbuh Bu Kus.
“Njeh bu, pareng,” pamitku sambil menginjak gas meninggalkan Bu Kus.
Tiba-tiba, kedua mataku berkaca-kaca terenyuh.
Hati ini tersentuh atas perhatian beliau. Bu Kus bukan hanya atasan yang rajin dan berinisiatif dalam bekerja, namun juga perhatian dan memberikan dukungan kepadaku dalam setiap kesempatan saat aku memberikan penyuluhan. Aku pun teringat hari Minggu lalu saat diminta oleh pihak Pemkot untuk mengisi sosialisasi cukai pada acara Harlah Nahdlatul Ulama. Waktu itu, Bu Kus dan suaminya mengantarku hingga belakang panggung. Sosok atasan yang begitu perhatian dan loyal terhadap anak buah.
Pernah kutanya pada beliau, apa tipsnya hingga bersemangat sekali dalam bekerja. Beginilah jawaban beliau:
“Begini mas, jika kita bergaji 10 juta, namun kita bekerja layaknya orang bergaji 20 juta. Inshaa Allah, Allah akan mengganti kelebihannya dengan nikmat sehat, kelancaran bekerja, atau bentuk kemudahan rezeki yang lainnya. Namun apabila kita bekerja layaknya bergaji 5 juta, maka Allah akan menagih sisanya melalui sakit atau mungkin kesulitan yang kita temui di kemudian hari.”
Bagiku, itu merupakan pesan yang begitu mendalam dan mampu menjadikan booster saat aku malas-malasan.
79 20 Februari 2019
Pukul 7 malam, bertempat di Auditorium lantai 5 Gedung Kalimantan Kantor Pusat Bea dan Cukai, acara PLI Award
2019 digelar. Aku bersama dengan perwakilan PLI dari seluruh kantor Bea Cukai
berkumpul dalam acara tersebut. PLI Award diselenggarakan pertama kalinya saat itu dengan dibuka oleh Kepala Subdirektorat Penyuluhan dan Layanan Informasi. PLI Award 2019 sendiri merupakan ajang pemberian penghargaan terhadap insan humas yang terbagi dalam tujuh kategori. Betapa bersyukur dan terkejutnya aku saat Bea Cukai Madiun terpilih dalam kategori best event.
Setelah acara usai, aku cepat-cepat mengirim rekaman video dan foto piala melalui whatsapp untuk kukirimkan ke Bu Kus.
“Bu Kus, Alhamdulillah, inisiatif jenengan membuahkan hasil,” begitu isi pesanku pada Bu Kus.
“Alhamdullahirrobil ‘alamin….” bunyi voicenote whatsapp dari Bu Kus dengan nada setengah berteriak riang.
“Matur suwun Bu Kus,” balasku.
***
80 5 Februari 2020
Kabar sedih dan bahagia kami rasakan di Bea Cukai Madiun manakala terbit surat keputusan mutasi para pejabat eselon V, dimana Bu Kus menjadi salah satu pejabat yang dimutasi. Sedih karena kami harus ditinggal mutasi oleh sosok atasan juga pegawai yang baik. Kontribusi beliau begitu besar bagi kehumasan kami. Bahagia karena Bu Kus dapat kembali bertugas mendekati keluarga di Semarang sekaligus mempersiapkan pensiun.
29 Februari 2020
Kami segenap pegawai millenial sangat berkesan pernah mengenal sosok Bu Kus yang begitu baik. Hingga setelah beliau pindah tugas pun, kami para pegawai millenial menyewa kendaraan elf untuk bersilaturahmi ke kediaman Bu Kus di Semarang. Melepas kangen dan menikmati obrolan hangat, kami rasakan saat di rumah beliau. Pempek Palembang dan berbagai jenis jajanan turut disuguhkan oleh beliau kepada kami. Tak hanya itu, kami juga diajak berkeliling Semarang mengunjungi tempat-tempat wisata. Masjid Agung Jawa Tengah, Lawang Sewu, Klenteng Sam Poo Kong, Taman Bunga Celosia, dan Cimory on the Valley kami kunjungi satu per satu. Sore harinya, kami pamit pada Bu Kus dan suami, Pak Kamto. Kami pun tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas segala tiket dan parkir yang telah ditanggung oleh Pak Kamto. Tak berhenti di situ, Bu Kus pun menyelipkan beberapa bungkus tas ke dalam bagasi elf kami. Lambaian tangan dari Pak Kamto dan Bu Kus pun mengiringi kepergian kami untuk pulang ke Madiun.
81
Tiba di Madiun, betapa terkejutnya kami membuka isi tas yang masing-masing sudah tersemat nama kami.
Kubuka, isinya baju batik dan jajanan khas Semarang. Masya Allah, begitu baiknya Bu Kus pada kami. Namun, siapa yang menyangka bahwa hari itulah perjumpaan kami terakhir dengan Bu Kus.
4 Maret 2020
Lepas Ashar sore itu, telepon di ruang staf kepala kantor kami berdering. Adik perempuan Bu Kus memberi kabar bahwa Bu Kus telah berpulang ke sisi Allah. Betapa mengejutkan bagi kami mendengar berita duka itu. Padahal belum ada sepekan lalu kami mengunjungi beliau dalam keadaan sehat dan ceria. Sulit bagi kami untuk memercayainya. Bu Kus telah berpulang sebelum memasuki masa purnatugas di Semarang. Kami pun
segera berangkat melayat ke Kota Solo, tempat kelahiran beliau. Dari sini kami menyadari, bahwa betapa indahnya perkara manusia. Kebaikan manusia akan selalu diingat dan dikenang oleh orang-orang di sekitarnya meskipun telah meninggal dunia. Untuk almarhumah Bu Kusmartinah, terima kasih atas segala kebaikan dan teladan yang telah diberikan. Doa kami untuk almarhumah, semoga Bu Kus mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, menjadi ahli kubur dan ahli janah, aamiin. Al Fatihah.
82