• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dan bertahun-tahun kemudian, saat ia menerima surat keputusan pensiun sebagai pegawai negeri, setelah lebih dari tiga puluh tahun mengabdi, Pak Tulus teringat sebuah senja yang jauh di kota pesisir timur pulau Sumatera.

Senja pertama saat bertugas di luar jawa, senja pertama saat ia bersama istri dan anak pertama yang masih ada di perut ibunya, berdiri di atas jembatan yang membentang sepanjang lebih seribu meter dan menghubungkan dua daerah seberang ulu dan seberang ilir di sisi lain. Ia teringat saat melihat istrinya mengusap sudut mata yang basah oleh linangan air mata dengan punggung tangan kanan.

“Dinda, kok bersedih?” tanya Pak Tulus sambil memegang tangan yang masih basah oleh air mata.

“Enggak Mas, aku terharu dengan perubahan yang mendadak dan tiba-tiba ini. Namun, kita sudah mendapatkan restu dan doa dari kedua orang tua dan semuanya membuatku semakin mantap untuk mendampingimu, Mas.” jawabnya dengan tatapan mata bulat dan berkaca-kaca.

“Terima kasih, Dinda, aku tak akan pernah menyia-nyiakan pengorbananmu ini.” balas Pak Tulus dengan menggenggam tangan istrinya dan mengecup keningnya.

“Kamu juga krucilku.” ia melanjutkan ciuman ke atas perut istrinya. “Kita akan selalu bahagia bersama.” janji Pak Tulus.

“Eh, dia menendang perutku, lho, Mas dan mendengar semua omongan kita, girang sekali

145

kelihatannya.” istrinya tersenyum ceria sambil mengelus-elus perut bulatnya.

Langit lazuardi, biru kemerah-merahan di ufuk barat menambah keindahan dan kemegahan jembatan yang diresmikan oleh presiden pertama RI pada tahun 1965; di atasnya terbentang tulisan ‘Ampera’: amanat penderitaan rakyat.

Pak Tulus teringat seminggu sebelumnya — saat roda kehidupan terasa berputar dengan cepat; dimana ia harus segera memutuskan setelah menerima surat keputusan mutasi. Malam hari menjelang tidur, Pak Tulus baru menyampaikan kabar pindah tugas yang membuat dilema. Setelah mendengar jawaban istri tercinta, ia merasa plong dan lega: “Mas, aku sudah berjanji pada Gusti dalam suka maupun duka ke mana pun Mas ditugaskan, aku akan mendampingi.”

“Apa gak sayang dengan pendidikan dan karir yang selama ini telah Dinda rintis?” tanya Pak Tulus seperti menguji kebulatan tekad istrinya.

“Mas, rejeki itu sudah ada yang mengatur — apa gunanya berumah tangga tanpa hidup bersama? Aku tak mau melahirkan dan membesarkan anak kita tanpa ditunggui dan dibimbing oleh bapaknya.”

Malam itu Pak Tulus tidur dengan lelap; tanpa mimpi karena mimpi sudah digenggamnya; gundah gulananya telah sirna; dipeluknya istri dengan hati berbunga dan senyum mengembang di wajahnya.

Malam berikutnya, mereka mengunjungi orang tua untuk memberitahukan rencana yang telah disusun semalam; tak lupa dalam perjalanan mereka mampir membeli sebungkus tahu petis Prasodjo kesukaan Bapak-Ibu. Pak Tulus bermaksud untuk memohon ijin dan doa

146

restu kepada mertua untuk memboyong anak mereka ke luar jawa.

“Ke mana? Jauh ke Sumatera? Ngapain juga kau ikut serta? Bagaimana dengan karirmu? Aku gak rela, aku yang membiayai sekolahmu.” respon dari Ibu Mertua membuat hati dan nyali Pak Tulus menciut, namun jawaban istrinya membuat wajahnya sumringah dan kepercayaan dirinya terubus kembali: “Semalam kami sudah membicarakan semuanya Bu, kami sudah mempertimbangkan baik dan buruknya, jadi malam ini kami mohon doa restu untuk keberangkatan pada hari Minggu nanti.”

Pak Tulus terpana mendengar jawaban istrinya, namun Ibunya kaget seperti tersambar geledek mendengar jawaban anaknya.

“Kau kan belum tahu situasi dan kondisi di pelosok pedalaman sana! Dokter, rumah sakit dan fasilitasnya masih terbelakang dan jauh tertinggal.” Ibu mulai hilang sabar, merasa ditinggal, tidak diajak urun rembukan.

“Iya Bu, saya ini anak Ibu namun bukan anak kecil lagi, saya kini sudah menjadi istri dan sebentar lagi akan menjadi Ibu, sebagai istri saya mau mendampingi Mas Tulus kemana pun ditugaskan, seperti wejangan Swargi Mbah Putri ‘swarga nunut neraka katut’ nyuwun pangestunipun nggih, Bu.” mohon istri Pak Tulus sambil bersimpuh di kaki Ibunya.

“Kalau Bapak ikut saja dengan keputusan keluargamu, Le Nduk; Bapak merestui rencana kalian kalau memang sudah dipertimbangkan sampai matang; semoga itu jalan Tuhan dan yang terbaik untuk kalian, mantapkan hati kalian.” Bapak Mertua mencoba menengahi.

Malam itu, Ibu dan Bapak bersilang pendapat tak ada habisnya dan lupa dengan tahu petis yang belum habis dan Pak Tulus dan istrinya akhirnya pamit pulang. Mereka

147

hanya berbekal satu setengah doa restu: satu penuh dari Bapak dan setengah dari Ibu.

Dan sikap Ibu berubah 180 derajat, saat anaknya mengabarkan prediksi tanggal kelahiran cucu pertamanya.

Ibu begitu antusias mendengarnya dan tak sabar untuk segera terbang. Dua hari kemudian, Bapak dan Ibu sudah dijemput di bandara lama — bandara yang berada di komplek angkatan udara. Dan sekarang pelabuhan udara sudah berpindah lokasinya, menjadi lebih baru dan modern; mengikuti perkembangan zaman; menjadi bandara internasional; selesai dibangun dan direnovasi dalam rangka pesta olah raga negara-negara se-Asia ; dan terhubung dengan LRT (light rail transit) —moda transportasi kereta api ringan dengan dua atau tiga gerbong dan berjalan di atas jalur rel yang melayang sepanjang lebih dari dua puluh kilometer.

“Bagaimana kabarnya anak-cucuku, Nak?“ tanya Ibu kala itu.

“Puji syukur, alhamdullilah Bu, Pak, berkat doa dan pangestunya, kami semua sehat-sehat saja.” jawab Pak Tulus sambil mencium tangan Bapak dan Ibu Mertuanya.

“Selamat datang, Bapak, Ibu, maaf hanya saya yang bisa menjemput, Dinda ditemani Bibi menunggu di rumah dinas.” kata Pak Tulus sambil mengangkat koper dan tas bawaan.

Dan setelah memutari jembatan Ampera, mereka tiba di rumah dinas yang dibelakangnya mengalir anak sungai dari sungai terbesar kota itu.

“Wah, ternyata di sini juga sudah maju, ya.”

komentar Bapak.

“Inggih, Pak, hampir semua fasilitas ada, meskipun kualitasnya belum sebagus di pulau Jawa.” jawab Pak Tulus.

148

Dan di rumah dinas mereka seperti di dalam surga, penuh kegembiraan, saling melepas kerinduan dan melupakan segala permasalahan yang selama ini terjadi.

Perbedaan pendapat sudah berlalu ; ke depan pengharapan baru; penantian kelahiran seorang anak sekaligus cucu. Dan semenjak kelahiran putri Pak Tulus — yang sekarang tengah melanjutkan sekolah di luar negeri setelah lulus arsitektur dari perguruan tinggi negeri, acara mengubur ari-ari, acara brokohan, sampai acara selapanan —35 hari setelah hari kelahiran, semua acara kejawen tersebut ditunggui, dibimbing dan dipandhegani oleh Bapak dan Ibu.

Acara pemotongan rambut dan kuku, tindik telinga kanan kiri cucu dan anak tercinta, semua dilakukan dengan penuh kasih sayang oleh kedua eyang dan kedua orang tua. Cucu dan anak pertama yang benar-benar dimanjakan oleh cinta.

Di kota kuliner khas berbahan mentah dari ikan air sungai seperti: belida, patin, tapa, baung dan lain-lain ini, Pak Tulus juga teringat suatu kejadian yang tak akan pernah terlupakan sepanjang karir penugasannya. Pada suatu siang, ia dijemput salah seorang pengguna jasa untuk pemeriksaan barang di lokasi tempat penimbunan barang dan di mobil jemputan, ia mendapat sodoran tas kresek hitam yang mungkin berisi beberapa gepok uang —hanya terlihat bungkus koran yang diikat karet kuning.

“Mohon dibantu Pak.” Pak Tulus terdiam kaku.

“Semua aman Pak, sudah diatur Bapak tinggal tanda tangan saja.” bujuk mereka.

Pak Tulus terpaku gagu. Dan setan pun mulai beraksi, menggoda dan membisikkan untuk mengambil kesempatan kaya ini, “Ambil saja, ini rejeki kelahiran anak.

Kapan lagi ada kesempatan seperti ini?. Aman Pak, sekali ini saja. TST, cincai saja.”

149

Pak Eko terbelenggu bujuk rayu. Pemeriksaan barang jaman sekarang jauh lebih aman dan nyaman untuk petugas, karena peraturan lebih tegas, sistem operasional dan prosedur lebih jelas: penjemputan dilarang, ajakan makan siang dan fasilitas yang ditawarkan pengguna pajak wajib ditolak karena pegawai sudah dibekali uang kumandah atau detasering — uang harian dan uang transportasi yang diberikan kepada pegawai yang bertugas sementara di luar kantor; selain itu dalam pemeriksaan barang sekarang dapat diikutsertakan personal dari seksi kepatuhan internal sebagai pengawas. Petugas zaman sekarang sudah dijauhkan dari berbagai godaan. Setan sudah disingkirkan di depan. Meskipun terkadang mereka masih berusaha menyusup dari belakang. Dan pegawai yang masih melanggar bisa dibilang keterlaluan. Pak Tulus mencoba melawan godaan dengan mengingat semua wejangan dan petuah dari teman, atasan dan orang tua:

“Bila terjadi masalah, yang bisa menolong hanyalah dirimu sendiri dan peraturan. Bahagia itu ketentraman hati, dimana tindakan dan perilaku selaras dengan suara hati.

Bumi akan selalu cukup untuk bermilyar-milyar lebih orang yang penuh syukur; namun bumi tak akan pernah cukup untuk satu orang saja yang serakah.”

Pak Tulus merasakan ada perang yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya; sebentar terbayang gepokan uang; sebentar kemudian beralih terbayang wajah anak istri dan tergambar rupa cinta yang sudah banyak dianugerahkan kepadanya. Ia tidak mau menyia-nyiakan pengorbanan istri dan tidak mau mengambil resiko yang akan ditanggung selamanya oleh anak dan istri.

“Maaf Pak, tugas saya hanya melaporkan barang yang saya periksa, tidak lebih dari itu.” Pak Tulus menjawab sambil mengembalikan tas kresek hitam.

150

Mungkin itu pilihan yang tak akan terlupakan.

Pilihan sebagai batu ujian sekaligus batu pijakan dalam bersikap selanjutnya selama berkarir. Pilihan untuk tetap setia pada hati nurani, karena sekali mengingkari hati nurani tak akan ada jalan untuk kembali. Dan rasa lapar serta haus harta yang ditawarkan setan tak akan pernah mengenal batasannya — kosa kata ‘cukup’ perlahan-lahan akan menghilang dari kamus pikiran dan hati. Pak Tulus merasa bersyukur dengan pilihan yang telah diambilnya.

Tak terbayangkan kalau dahulu ia mengambil jalan berbeda, mungkin hidupnya berakhir di penjara atau mungkin malah kaya raya. Entahlah. Pak Tulus lebih memilih kaya oleh cinta bukan oleh harta semata.

“Kepada yang terhormat Bapak Tulus, kami persilahkan untuk memberikan sepatah dua kata, kesan dan pesan selama berkarya di instansi tercinta ini. Waktu dan tempat sepenuhnya dipersilahkan untuk Bapak Tulus.” ucap pemandu acara dan segera wajah Pak Tulus muncul di monitor komputer, layar laptop, dan screen gawai atau handphone semua pegawai yang mengikuti acara pisah sambut pegawai yang memasuki masa purnabakti secara daring atau online.

“Terimakasih, mohon ijin pertama-tama saya mengucapkan puji syukur alhamdullilah kepada Tuhan yang Maha Kuasa...” Pak Tulus mulai berbicara dan tampak sudut matanya tak kuasa menahan rasa haru yang menumpuk di pelupuk hingga melelehkan rembesan air mata bahagia, dan segera diusap dengan ujung ibu jari dan telunjuk tangan kirinya. Ia terbayang senja yang jauh di pesisir timur pulau Sumatera. “Dan terakhir saya ingin menyampaikan bahwa ternyata kebahagiaan itu mempunyai wajah yang sama dan untuk menuju bahagia semua orang mempunyai jalan yang

151

masing-masing berbeda. Jangan lupa bahagia. Terima kasih.”

Pak Tulus seorang lelaki prasaja, lelaki yang berkilau bukan oleh emas permata, namun lelaki yang bercahaya karena cinta, cinta yang telah dianugerahkan oleh kemurahan semesta.

*Cerpensi ini didedikasikan untuk para purnabakti DJBC dan keluarganya. (Pekanbaru - Tangerang, Mei - Juni , 2021)

152