• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA MOULOUD MAMMER

Dalam dokumen buku hiski 1compressed (Halaman 106-112)

I w an Khrisnanto, M.Hum

Sastra Prancis, Universitas Padjadjaran < [email protected]>

Abstrak

Aljazair merupakan sebuah negara yang terletak di Afrika Utara dan memiliki berbagai macam suku. Salah satu suku yang terdapat di negara tersebut adalah suku Kabyli dan masyarakatnya merupakan masyarakat kolonial hasil dari penjajahan Prancis. Untuk itu cara pandang dan hidup masyarakat Kabyli yang pada awalnya menganut budaya nenek moyang atau budaya tradisional, dipengaruhi oleh cara pandang Prancis yang menghasilkan sebuah masyarakat yang ambivalen.

Pendahuluan

Aljazair merupakan negara yang pernah dijajah oleh Prancis dengan tujuan untuk menjadikan Aljazair negara bagian dari Prancis. Oleh karena itu masyarakat Aljazair yang di dalamnya terdapat masyarakat Kabyli, menjadi sebuah masyarakat kolonial. Pada hakikatnya, masyarakat Kabyli merupakan masyarakat yang menjalani hidup dengan menggunakan kebudayaan tradisional suku Kabyli. Salah satu kebudayaan kabyli yang biasa mereka jalani adalah ritual menyembah makam untuk mendapatkan kebahagiaan serta kesejahteraan. Namun praktek ritual tersebut diperdebatkan secara religi dan logika masyarakat.

Perubahan pemikiran masyarakat Kabyli ini merupakan sebuah hasil dari penjajahan Prancis terhadap Aljazair dan ekspansi beberapa masyarakat Kabyli ke Prancis guna melanjutkan pendidikan tinggi. Kedua hal tersebut sedikit banyak mengubah cara pandang masyarakat Kabyli terhadap kehidupan budaya mereka sendiri. Maka kebudayaan asli nenek moyang suku Kabyli ini terancam tidak mengalami regenerasi. Dengan kata lain masyarakat Kabyli yang dianggap sebagai masyarakat jajahan atau kolonial mengalami konflik budaya anatara budaya Eropa dan Kabyli akibat dari penguasaan ideologi kolonial yang menguasai pemikiran, tubuh serta ruang gerak masyarakat Kabyli. Kemudian, untuk melihat lebih jelas cara pandang masyarakat Kabyli terhadap budaya lokal dan budaya asing, penulis akan menggunakan sudut pandang naratif terbatas (Schmit & Viala, Savoir Lire, 1982).

Sudut pandang adalah pandangan pembaca untuk dapat mengetahui peristiwa- peristiwa dalam sebuah cerita. Sebagai cara pandang pengarang dan pembaca yang diwakilkan pada pencerita (narrateur) dalam karya sastra, sudut pandang atau perspektif

sangat penting keberadaannya dalam memberitahukan tendensi dari pesan yang akan disampaikan pengarang, karena teks sastra bukanlah teks yang bersifat netral, tetapi selalu memuat perasaan-perasaan dan ideologi pengarang dari sudut pandang tertentu.

Mokrane, tokoh utama dalam novel ini, merupakan bagian masyarakat Kabyli yang mengenyam pendidikan tinggi di Prancis. Saat studinya selesai, dirinya harus kembali ke Kabyli untuk membangun daerahnya yang secara geografis merupakan daerah yang sangat kering dari sumber daya alamnya. Namun hal tersebut bukan sebuah halangan bagi Mokrane untuk mengabdikan dirinya untuk tanah kelahirannya. Akan tetapi hal lain yang menjadi bahan pemikiran bagi Mokrane adalah kehidupan masyarakat Kabyli yang semakin aneh baginya. Di sinilah peran dan hati Mokrane sebagai lulusan perguruan tinggi di Prancis terpanggil untuk mengentaskan kesulitan-kesulitan yang selama ini dialami oleh masyarakat Kabyli.

A. Pengklasifikasian Masyarakat

Pada awalnya masyarakat Kabyli merupakan masyarakat yang hidup penuh dengan damai dan suasana persaudaraan. Hal ini diakibatkan oleh kekuatan budaya nenek moyang suku Kabyili yang selama ini menjadi pijakan hidup masyarakat Kabyli. Salah satu budaya nenek moyang mereka yang berfungsi sebagai alat pemersatu masyarakat adalah tarian yang dinamakan Sehjas.

‘’Quand les rapports n’étaient pas trop tendus entre eux et nous, nous participions aux sehjas des camarades d’Ouali. Mais c’était plutôt rare.’’ (p.25)

‘’Ketika hubungan kami dan mereka tidak terlalu kuat, kami ikut juga menari sehjas bersama teman-teman Ouali.’’ (h.25)

Melalui kutipan di atas ini dapat dilihat bahwa budaya nenek moyang memiliki peran yang cukup kuat dalam membentuk keharmonisan masyarakat Kabyli. Dalam hal ini budaya nenek moyang atau biasa disebut dengan budaya asli tradisional selalu mengajak dan menginspirasi masyarakat untuk berpikir bahwa persatuan di dalam sebuah komunitas sangat penting.

Namun, praktik budaya tradisional yang berfungsi sebagai alat pemersatu itu mulai berubah secara perlahan. Hal ini disebabkan oleh datangnya pemikiran asing dalam hal ini Prancis untuk membuka mata masyarakat Kabyli bahwa budaya Prancis jauh lebih baik dibandingkan budaya nenek moyang mereka. Oleh karena itu, masyarakat Kabyli mulai terpecah menjadi dua bagian, yaitu masyarakat terdidik dan non-terdidik. Terdidik di sini berarti golongan masyarakat yang memiliki kemampuan finansial untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, sedangkan non-terdidik berarti golongan masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk melanjutkan pendidikan ke universitas. Pemikiran yang membedakan kelas masyarakat tersebut merupakan ciri dari

masyarakat jajahan, karena hal ini merupakan propaganda penjajah untuk memecah belah masyarakat agar dapat menguasai teritori jajahan.

‘’Nous formions deux groupes rivaux d’adolescents et l’histoire de nos démêlés a remplie toute ma jeunesse. Nous étions < < ceux de Taasast> > et eux < < la bande> > tout court. (…) Toute une bande de jeune gens sans travail, sans ressources, le plus souvent aussi sans scrupules. La plupart étaient pauvres et certains vraiment misérables. Nous de Taasast, à qui rien ne manquait, savions très bien que, s’ils buvaient souvent à leur soif, ils ne mangeaient pas toujours à leur faim.’’ (p.23-24)

‘’Kami membentuk kelompok remaja yang bersaing dan cerita masa muda kami telah mengisi kehidupanku di saat remaja. Kami adalah kelompok Taasast dan mereka adalah kelompok yang bernama la bande, sangat singkat namanya. Semua anggota dari kelompok bande ini tidak memiliki pekerjaan, penghasilan dan yang paling sering dibicarakan adalah hilangnya moral mereka. Kebanyakan dari mereka hidup dalam kemiskinan dan beberapa di antaranya sangat menyedihkan. Sementara kami dari kelompok Taasast tidak kekurangan suatu apapun, dan kami pun mengerti kalau mereka hanya dapat minum saat mereka dahaga dan belum tentu dapat makan saat mereka lapar.’’ (h.23-24)

Kutipan tentang pembagian kelas masyarakat di atas ini merupakan sebuah situasi yang menginspirasi Mammeri sebagai pengarang, untuk menciptakan novel ini dengan tujuan bahwa di dalam pemikiran masyarakat jajahan terdapat dualisme pemikiran. Pada umumnya dualisme pemikiran seperti ini lahir sejak datangnya budaya asing dan pengaruhnya terhadap budaya lokal, karena masyarakat lokal dihinggapi virus yang dinamakan euphoria, sehingga mereka begitu antusias menyambut pembaharuan dan cenderung melupakan budaya lokal.

B. Pergesekan Pemikiran Lokal (tradisional) dan Barat

Pada umumnya cara pandang penduduk Kabyli dalam menjalani hidup selalu berdasarkan budaya lokal dan agama. Namun akibat hadirnya pemikiran modern yang didatangkan dari negara penjajah, cara memandang manusia mulai berubah ke arah yang bersifat materiil. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini :

‘’Je dois avouer qu’il fit les choses magnifiquement, puisqu’il égorgea deux moutons, qu’il y eut tant de couscous que les grains s’en répandirent partout dans la vaste cour de son Moulin à huile.’’ (p.79)

‘’Aku harus mengakui bahwa dia membuat banyak hal sangat indah, karena dia memotong dua domba dan ada pula kuskus dan gandum yang tersebar di sekitar pabrik minyaknya.’’ (h.79)

Pemikiran yang terdapat pada kutipan di atas ini ingin menjelaskan bahwa cara pandang masyarakat yang sedikit memiliki cara pemikiran barat secara perlahan berubah. Dalam hal ini melihat apa-apa yang dimiliki oleh seseorang daripada melihat usaha atau kerja keras seseorang untuk mendapatkan hasil yang terbaik di dalam hidupnya.

Kemudian, hadirnya pemikiran tentang modernisasi yang diusung oleh barat tidak hanya melahirkan ide-ide baru dalam perubahan sebuah sistem kehidupan, tetapi juga seakan-akan membebaskan masyarakat Kabyli ini dari belenggu budaya nenek moyang mereka.

‘’Notre groupe était distendu, bigarré. I l avait fallu embaucher du monde pour charger sur les bêtes les marmites, les casseroles, les écuelles, les pots à eau, les grands plats, les gaules, les grandes couvertures de laine et les tambourins qui allaient servir tout à l’heure à la fête des femmes.’’ (p.80)

‘’Kelompok kami tidak terlalu terikat dan ramai. Kami harus mempekerjakan orang lain untuk mengurus keledai-keledai, panci-panci, piring-piring yang besar, tempat-tempat air, hidangan-hidangan yang besar,

galah-galah, selimut-selimut dari wol dan tamborin yang nantinya akan berguna saat pesta para wanita.’’ (h.80)

Penggalan cerita di atas ini menggambarkan bahwa pekerjaan sehari-hari yang bersifat tradisional, karena telah hadir sejak dulu, mulai ditinggalkan oleh masyarakat Kabyli yang memiliki pemikiran yang lebih modern. Hal ini dilakukan karena pekerjaan yang bersifat tradisional itu sudah tidak dianggap lagi memiliki kemampuan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu mereka rela untuk meninggalkannya dengan memilih untuk berpihak kepada barat.

Dengan demikian keberpihakkan masyarakat Kabyli terhadap barat ini diperkuat dengan kesukarelaan mereka menjadi pasukan militer dalam perang dunia ke 2 untuk Perancis. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini :

‘’La guerre et l’occupation allemande avaient ramené presque tous les jeunes gens à Tasga. Les rues, les places n’avaient jamais été si bruyantes et si pleines. I l y avait là de tous les types : ceux qui étaient revenus de France gardaient le béret et les pantalons longs, on le leur permettait maintenant qu’on ne trouvait plus que peu d’étoffe et encore à quel prix, pour confectionner des habits comme en portaient nos ancêtres ; ceux qui revenaient des pays arabes avaient le turban et le large pantalon (…) La variété des costumes n’était qu’un signe de la bigarrure des pensées.’’ (p.71-72)

‘’Perang dan penjajahan Jerman telah mengembalikan hampir seluruh anak muda ke Tasga. Jalan- jalan dan tempat-tempat mulai ramai dan penuh. Semua pria sedang berkumpul : mereka yang datang dari Prancis mengenakan topi ala Prancis dan celana panjang yang saat ini diperbolehkan karena ada kain yang lebih hemat daripada menggunakan pakaian yang biasa digunakan nenek moyang kita ; mereka yang datang dari negara-negara Arab mengenakan sorban dan celana panjang yang besar (…). Keberagaman pakaian ini merupakan sebuah tanda adanya gangguan dalam pemikiran.’’ (h.71-72)

Dengan ini, terlihat bahwa masyarakat Kabyli merupakan masyarakat yang ambivalen. Hal ini terjadi sejak datangnya Prancis untuk meminta bantuan pada suku ini untuk perang melawan Jerman, kesetiaan mereka mulai luntur sedikit demi sedikit. Hal ini diungkapkan pada kutipan di atas yang berbicara tentang kebanggaan memiliki identitas baru daripada menjaga identitas aslinya. Hal lain yang dapat diungkap pada bagian ini adalah barat (Prancis) memiliki kekuatan untuk mengubah pola hidup dan pikir.

Secara tidak langsung negara penjajah itu memiliki kekuatan penuh untuk mengubah cara pandang suatu masyarakat. Penjajahan yang dimaksud di sini bukan proses menguasai suatu tanah jajahan, tetapi lebih berpijak pada kekuatan penjajah dalam mengubah cara pandang dan identitas suatu masyarakat.

‘’Dans un monde où le sort changeant des armes remettait tout en question et que la secousse universelle avaient très profondément ébranlé, chacun cherchait la voie qui mènerait à un nouveau salut : il y avait ceux que hantaient vaguement le souvenir de l’ancienne grandeur de l’I slam et qui rêvaient d’y revenir en employant des moyens nouveaux, ceux qui, ayant travaillé à l’usine avec les ouvriers français (…)’’ (p.72) "Dalam dunia di mana perubahan nasib dipertanyakan dan pergerakan universal telah sangat mengguncang dunia, masing-masing orang mencari jalan yang akan membawa kepada kehidupan baru: ada orang-orang yang samar-samar teringat selalu akan kebesaran I slam dan yang bermimpi untuk kembali menggunakan cara yang baru saat mereka telah bekerja di pabrik dengan buruh Perancis (...)" (p.72)

Uraian sitasi di atas menunjukkan adanya keinginan yang cukup kuat pada masyarakat Kabyli untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang telah diatur oleh

budaya nenek moyang. Dalam hal ini mereka ingin menemukan sebuah kehidupan yang baru dengan atmosfer yang baru. Untuk dapat memiliki kehidupan yang baru, mereka rela untuk bergabung dengan masyarakat yang menjajah. Kemudian hal ini menjelaskan pula bahwa barat menawarkan nilai-nilai positif yang dapat memperbaiki kualitas kehidupan secara materi sedangkan timur tidak dapat memberikan hal yang sama.

Kemudian perubahan yang terjadi pada masyarakat Kabyli ini tidak hanya berbicara mengenai kebiasaan-kebiasaan yang ditinggalkan, namun mengungkap pula permasalahan tentang hilangnya ideologi sebuah kehidupan.

‘’On n’en avait jamais tant vu à Tasga, car les jeunes ne se mariaient plus. Ils disaient comme les I roumien qu’il leur fallait d’abord gagner assez d’argent pour deux ; ils croyaient, les impies, que c’est du travail de leurs bras que sortirait la nourriture de leurs enfants ; ils ignoraient que c’est Dieu qui comble et Dieu qui appauvrit.’’ (p.33)

‘’Un jour nous lûmes, effarés, sur les gros titres des journaux que la paix ne tenait plus qu’à un fil et que des millions d’hommes, mécontents de leur sort, allaient, pour l’améliorer, se jeter sur des million d’autres hommes.’’ (p.28)

"I tu tidak sering melihatnya di Tasga, karena generasi muda lebih memilih untuk tidak menikah. Mereka berpikir seperti orang Prancis bahwa untuk menikah hal pertama yang diperlukan adalah uang agar dapat hidup berdua dengan pasangan; mereka berpikir bahwa orang yang kurang beriman, nafkah untuk anak-anak mereka hanya datang dari hasil usahanya ; mereka pun lupa bahwa Tuhan yang memberikan rezeki dan memutuskannya. " (hal.33)

"Suatu hari kami baca sebuah judul besar di surat kabar bahwa kedamaian tidak lagi merupakan tujuan hidup dan ribuan orang yang tidak dapat menerima nasib mereka memilih untuk pergi agar kehidupan mereka membaik, dengan cara bergabung dengan orang lain." (h. 28)

Pada bagian ini narator ingin menyampaikan pemikirannya tentang sebuah cara pandang yang dinilai kebarat-baratan, karena semua keputusan dalam hidup ini harus berdasarkan materi yang dimiliki. Dengan demikian masyrakat Kabyli ini mulai melupakan kehadiran kuasa Tuhan dalam kehidupan, karena mereka lebih percaya bahwa semua kebahagiaan akan datang melalui hasil karya manusia. Pemikiran seperti ini merupakan karakter dari pemikiran barat yang memang tidak terlalu percaya kepada Tuhan yang kadang dianggap absurd atau tidak jelas. Oleh karena itu beberapa anggota masyarakat Kabyli ini sependapat dengan pemikiran yang bersifat sekuler itu, karena mereka butuh uang agar dapat melanjutkan kehidupan mereka.

Simpulan

Setelah menguraikan tentang hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat jajahan, maka dapat disimpulkan bahwa di dalam jiwa dan pemikiran masyrakat jajahan terdapat sebuah ambivalensi yang diakibatkan oleh lahirnya ide-ide baru dari pemikiran penjajah. Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa masyarakat jajahan merupakan masyarakat yang dikendalikan secara penuh oleh penjajah, sehingga mereka terbelenggu oleh keraguan yang tiada henti untuk lebih memilih budaya lokal atau budaya asing. Namun demikian, masyarakat memiliki kecenderungan untuk lebih memilih budaya asing, karena merupakan hal yang baru guna melepaskan diri mereka dari rutinitas yang berhubungan dengan budaya lokal.

Daftar Pustaka

Faruk. 2007. Belenggu Pasca-Kolonial Hegemoni & Resistensi dalam Sastra I ndonesia.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Loomba Ania. 2003. Kolonialisme / Pascakolonialisme. Yogyakarta: Bentang

Budaya

Mammeri, Mouloud, 1992. La Colline Oubliée, Folio

Dalam dokumen buku hiski 1compressed (Halaman 106-112)