BAB IV. MEMAHAMI MAKNA PACARAN YANG SEHAT DAN
D. Katekese Bagi Kaum Muda dalam Masa Pacaran
Katekese kaum muda adalah katekese yang diharapkan dapat membantu Kaum Muda dalam mengembangkan iman mereka. Katekese kaum muda harus peduli terhadap masalah-masalah mereka sekaligus membantu mereka menghayati nilaki-nilai Kristiani dalam kehidupan, dapat membantu dalam mengembangkan iman mereka.
Katekese kaum muda harus memperhatikan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik, kehendak dari kaum muda. Materi katekese disesuaikan dengan masalah yang sedang dihadapi kaum muda. Katekese itu juga harus membantu kaum muda untuk menemukan jati diri beserta dinamika batinnya serta mengolah perasaan cinta, dorongan biologis dan seksualitas.
Kaum muda perlu dibantu agar tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memikirkan teman, orang tua, masyarakat dan Tuhan. Katekis harus sadar bahwa banyak remaja bingung dan cemas karena terombang-ambing oleh berbagai godaan dan pengaruh perubahan jaman.
Katekese kaum muda harus berusaha menjawab setiap pernyataan dan seluruh pergulatan hidup mereka dan mendorong untuk menemukan Yesus sebagai sahabat, pemimpin, model dan teladan.
Masa muda merupakan saat penting untuk mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupnya untuk mengikuti Yesus melalui status hidup yang dipilihnya, entah sebagai calon religius atau panggilan hidup lain. Katekese harus membantu mereka untuk mensosialisasikan dan mempribadikan seluruh kekayaan iman Kristen. Tema hak-hak asasi, martabat pribadi, makna kerja, perdamaian internasional, perkembangan dan pembebasan yang utuh menjadi makin berarti bagi hidup mereka. Katekese harus mampu memberi inspirasi pada mereka supaya makin dewasa dalam iman, bersedia berkorban, terlibat dalam kehidupan masyarakat, dalam memperjuangkan perdamaian dan keadilan. Pada tahap usia ini katekese mempunyai kedudukan dan arti yang khusus, karena pada merekalah Sabda Allah dapat disajikan, dipahami, diterima, dan
dipersonalisasikan sebagai suatu hal yang sanggup memberi arti kepada kehidupan dan memberikan ilham bagi mereka untuk mengambil suatu keputusan penting (CT, art. 39).
Katekese kaum muda menangkap “bahasa” (kelompok, persahabatan, relasi interpersonal, gejolak emosional dan afektif, serta otonomi) dari kaum muda yang sangat khas. Dengan bahasa itu, katekese berusaha menterjemahkan warta mengenai hidup Yesus dengan cara yang tepat, relevan, sabar, dan bijaksana. Kaum muda sangat rindu untuk dapat mengenal Yesus, mencintai dan mengikuti-Nya dengan lebih dekat (CT, art. 39). Katekese harus mampu mengisi hidup mereka, menciptakan peluang-peluang untuk saling berjumpa dalam kelompok: berkomunikasi, saling mengolah, mencari dan menemukan bersama.
Katekese bagi kaum muda menjadi wacana untuk menyiapkan diri dalam menanggapi panggilan hidup, khususnya menyangkut hidup perkawinan mereka nantinya. Sehingga masa pacaran bagi orang muda Katolik merupakan tahapan penting menuju masa depan dalam perspektif perkawinan secara kristiani. Kepentingan tersebut perlu disosialisasikan dengan baik supaya kaum muda mengerti dan memahami akan pentingnya kesadaran mengenai persiapan diri dalam masa depan menuju hidup berkeluarga. Melalui ajaran dan tradisi Gereja Katolik mengenai perkawinan kristiani, dapat dijadikan pedoman dan patokan norma bagaimana pasangan muda menjalin hubungan. Dengan demikian masa pacaran sebagai masa penjajakan dan masa untuk belajar saling mencintai, menjadi semakin terjaga kemurniannya karena masing-masing pasangan saling menghormati hak dan kewajibannya.
Pengalaman jatuh cinta antara seorang pria dan wanita merupakan suatu hal yang normal dan wajar. Namun ketika seseorang mengalaminya maka pengalaman jatuh cinta menjadi pengalaman yang sangat istimewa. Cinta kasih memberikan makna tersendiri di dalam hidup seseorang. Dengan disadari oleh cinta kasih dua orang yang saling jatuh cinta ingin mengabadikan cinta kasih mereka dalam hubungan yang lebih intens dan khusus.
Pengalaman jatuh cinta biasanya terjadi secara alami. Memang ada berbagai bentuk pengalaman yang menjadikan seseorang jatuh cinta. Dapat terjadi seseorang tertarik kepada lawan jenis karena wajahnya yang cantik atau tampan, rambutnya indah dan panjang, tutur katanya yang baik, senyumnya yang manis dan sebagainya. Dari ketertarikan yang bersifat fisik tersebut terjadilah komunikasi dan interaksi yang lebih lanjut. Komunikasi dan interaksi yang semakin intensif antara seorang pria dan seorang wanita mendorong seseorang untuk mencintai.
Karena cinta kasih, seseorang akan merasa bahwa orang yang dicintainya begitu berharga. Hal inilah yang kiranya menjadi pendorong seseorang untuk memberikan yang terbaik kepada orang yang dikasihinya. Bahkan karena cinta kasih, seseorang seringkali berani dan rela melakukan sesuatu hal yang mengandung resiko. Uraian di atas mau menunjuk bahwa cinta kasih memberikan kekuatan yang sangat besar dalam diri seseorang kepada yang dikasihinya.
Cinta kasih sejati, saya yakin, adalah suatu keputusan dan suatu komitmen. Sebelum saya benar-benar dapat mencintai seseorang, saya harus mengambil keputusan batin yang mengakibatkan saya mampu memilih segala sesuatu yang terbaik bagi dia yang saya kasihi. Cinta kasih menggerakkan saya untuk mengatakan, melakukan, menjadikan apa saja yang dibutuhkan oleh dia yang saya kasihi (Powell, 1992: 96).
Masa pacaran, menjadi kesempatan untuk menumbuhkan, mengembangkan dan memupuk rasa cinta kasih. Sehingga pasangan pacar semakin yakin akan cinta kasih yang mereka miliki. Kedalaman cinta kasih mereka menjadi sadar dan menjadi bekal persatuan dalam ikatan perkawinan.
Perkawinan merupakan tindakan yang diadakan oleh seorang pria dan seorang wanita untuk membentuk persatuan cinta kasih yang penuh. Dalam perkawinan seorang pria dan seorang wanita berjanji untuk saling menerima pasangan hidupnya baik dalam untung dan malang, dalam suka dan duka. Namun perkawinan tidak semata-mata merupakan tindakan seorang pria dan seorang wanita secara manusiawi belaka. Sebab perkawinan sebenarnya dikehendaki oleh Allah sendiri. Pria dan wanita dalam perkawinan menanggapi panggilan hidup dalam kekudusan Allah yang bersifat adikodrati. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej 2:24). Persatuan pria dan wanita menjadi suami istri hanya dapat terjadi dalam dan berdasar pada cinta kasih, bukan atas dasar suka-sama suka atau sekedar rasa senang. Manusia dapat mengalami dan memiliki kasih karena kasih itu berasal dari Allah (1 Yoh 4:7), dan karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh 4:10). Demikian persekutuan hidup dalam kasih adalah rahmat atau panggilan Allah. Panggilan tersebut mengundang makna perutusan, yakni supaya manusia hidup oleh Allah yang adalah kasih (1 Yoh 4: 8-9,17), agar dengan demikian kasih Allah menjadi sempurna di dalam diri manusia (1 Yoh 4:12). Salah satu cara menampakkan dan menyempurnakan kasih Allah adalah melalui perkawinan. Dalam perkawinan suami istri saling memberikan kasihnya. Di dalam perkawinan, suami istri secara intensif berusaha membentuk persekutuan hidup. Persekutuan tersebut dinyatakan dengan melaksanakan janji
yang mereka ucapkan. Suami istri saling berusaha mengungkapkan cintanya dengan memberikan yang terbaik kepada pasangan hidupnya. Cinta kasih mereka juga ditampakkan kepada anggota keluarga, sanak saudara, dan sesama.
Di sisi lain, perkawinan merupakan saran cinta kasih Allah kepada manusia. Untuk menunjukkan cinta-Nya, Allah melimpahkan Roh Kudus kepada suami istri. Roh Kudus ini menaungi, membimbing, menganugerahi, menguatkan dan mengarahkan keluarga kristiani. Maka keluarga kristiani tidak berjalan sendiri. Allah turut di dalam hidup perkawinan umat beriman. Dalam perkawinan terjadi relasi suami istri dan relasi manusia dengan Allah. Cinta kaish suami istri bukanlah tindakan manusiawi semata melainkan juga tindakan Allah. Namun Allah menggunakan cara-cara yang manusiawi untuk mempersatukan suami istri. Rasa kangen, saling menyayangi, perhatian, merupakan cara Allah untuk semakin mempersatukan cinta kasih suami istri dalam membangun keluarga kristiani yang ideal. Masa pacaran adalah masa persiapan yang penting dan genting. Pasangan tersebut akan memutuskan menerima pasangannya sebagai pasangan seumur hidup; satu rumah, satu tempat tidur, satu kamar mandi, satu dapur, satu lemari, satu anggaran, satu visi, satu misi, dan satu iman. Maka hidup berkeluarga perlu dipersiapkan dengan baik sebab persiapan yang baik biasanya menjalin keberhasilan hidup berkeluarga selanjutnya. Keberhasilan dalam hidup berkeluarga merupakan harapan dan cita-cita semua orang. Oleh karena itu, keluarga atau orang tua dan Gereja wajib terlibat dalam upaya pendampingan kaum muda pada masa pacaran, yaitu untuk mempersiapkan mereka memasuki tahap hidup berkeluarga.
E. Usulan Program Pendampingan bagi Orang Muda Katolik Lingkungan