PERANAN PENGGUNAAN INTERNET BAGI MAHASISWA IPPAK DALAM MEMPERSIAPKAN PERSIAPAN PPL PAK PAROK
B. Katekese di Era Digital dan PPL PAK Paroki 1 Katekese di Era Digital
Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan Se-Indonesia (PKKI) diselenggarakan Komisi Kateketik KWI setiap tiga atau empat tahun sekali.PKKI diselenggarakan pertama kali pada tahun 1977.PKKI X diselenggarakan di Wisma Shalom, Cisarua, Bandung Barat, pada tanggal 10 – 16 September 2012. PKKI X ini dihadiri wakil-wakil Komisi Kateketik Keuskupan-keuskupan se-Indonesia dan lembaga-lembaga pendidikan kateketik.Hadir pula sebagai undangan khusus perwakilan dari Komisi Seminari KWI, imam-imam wakil setiap regio keuskupan, sekretaris eksekutif KWI dan beberapa undangan lainnya.Pada saat
pembukaan, hadir wakil dari Direktorat Jendral Bimas Katolik Kementrian Agama RI.
PKKI sebagai pertemuan kateketik tingkat nasional selalu mengangkat tema yang aktual dalam karya katekese Gereja Indonesia. PKKI X ini mengangkat tema: “KATEKESE DI ERA DIGITAL: Peran Imam dan Katekis Dalam Karya Katekese Gereja Katolik Indonesia di Era Digital”. Tema ini dicetuskan dalam Rapat Pengurus Lengkap Komkat KWI pada tanggal 5-7 Mei 2011 berdasarkan kesadaran bahwa saat ini Gereja Indonesia menghadapi situasi zaman baru, yaitu era digital. Situasi ini memengaruhi pola pikir, cara hidup dan pola relasi umat beriman, yang tentu saja juga melibatkan karya Katekese. Penanggung jawab utama karya katekese adalah Uskup. Dalam menjalankan karya katekese, Uskup dibantu oleh para Imam yang adalah penanggung jawab karya katekese di wilayah pastoral yang dipercayakan kepadanya dan para Katekis sebagai mitra kerja dalam penyelenggaraan karya katekese di wilayah pastoral tersebut.
Tujuan diangkatnya tema tersebut dalam PKKI X adalah agar para pelaku katekese, baik imam maupun katekis, menyadari berkembangnya sarana komunikasi digital dan pengaruhnya dalam budaya kehidupan masyarakat sehari- hari.Kesadaran tersebut diharapkan membawa pada gagasan, pemikiran serta perencanaan katekese yang tepat guna dalam menjawab kebutuhan Gereja Indonesia di era digital sekarang ini.
Berdasarkan pengalaman peserta PKKI X di masing-masing Keuskupan, disadari bahwa orang zaman sekarang tidak lepas dari teknologi digital. Teknologi
digital sungguh dirasakan menjadi sarana yang memberi berbagai kemudahan, terutama dalam dunia komunikasi, memperlancar pekerjaan, dan memperpendek jarak. Disadari pula bahwa teknologi digital sungguh mengubah perilaku. Beberapa Keuskupan telah mulai memanfaatkan media digital untuk karya pewartaan.
Era digital adalah situasi baru yang ditandai oleh maraknya penggunaan berbagai sarana teknologi digital sehingga jarak waktu dan tempat semakin kecil. Situasi baru yang tidak bisa dihindari ini mengubah karakteristik budaya, perilaku dan cara berkomunikasi manusia. Corak mencolok dari era digital adalah „global‟, mendunia, orang yang hidup dalam sebuah desa besar, di mana sekat-sekat yang memisahkan kapling-kapling individual teritorial seperti diruntuhkan. Dalam era digital, orang mendapati dirinya di tengah seluruh dunia.Berikut beberapa karakteristik dari era digital yang kami temukan dalam diskusi.
Dunia komunikasi digital lewat internet membuka gudang informasi yang tadinya tidak terjangkau oleh banyak orang.Sekarang, tiba-tiba orang dihadapkan pada melimpahnya informasi.Informasi itu tidak hanya berupa tulisan, tetapi juga berupa gambar, animasi, video dan produk auditif.Orang berhadapan dengan tersedianya informasi melimpah yang muncul mengenai segala segi dari suatu topik.Di sini, informasi bisa bersumber dari siapa saja dan tanpa filter.Dalam situasi ini, ada nuansa egaliter namun otoritas juga bisa menjadi kabur.Oleh karenanya, teramat pentinglah untuk jeli melihat kredibilitas sumber informasi beserta segala latar belakangnya.
Relasi yang langsung namun bercorak sepintas dan dangkal Internet juga membuka kemungkinan yang amat luas untuk menjalin relasi dengan orang-orang yang barangkali belum pernah dijumpai secara fisik.Relasi ini ditandai oleh kontak-kontak virtual, entah berupa e-mail, status dalam facebook atau twitter beserta komentar dan tanggapannya.Tanpa harus bertemu muka, orang bisa berelasi secara langsung, tetapi relasi ini juga bercorak sepintas dan dangkal.Kontak ini bersifat interaktif karena bisa saling menanggapi dari tempat yang jauh.Yang jauh menjadi dekat, namun bisa juga yang dekat malah menjadi jauh.Di satu pihak, dengan sarana digital orang bisa berkomunikasi secara real time dengan orang yang jauh jaraknya. Di lain pihak, kadang terjadi pula bahwa beberapa keluarga menjadi dangkal relasinya karena masing-masing anggota keluarga asyik dengan dunia virtualnya. Hal yang sama juga melanda orang muda. Era digital membentuk karakteristik orang muda yang patut diakui kekuatan positifnya namun juga perlu diwaspadai dampak negatifnya.
Penampilan atau permukaan menggantikan kedalaman, kecepatan menggantikan refleksi yang mendalam.Internet menyajikan beribu fakta namun sedikit sekali bicara tentang nilai. Generasi yang sejak kecil biasa bergaul dengan internet akan mengalami pembentukan pengetahuannya sebagai rangkaian perjumpaan secara audio-visual yang diperoleh dengan cepat, dan tidak lagi lewat proses penalaran. Dengan hadirnya „mesin pencari‟ seperti Google dan Yahoo, internet menjadi wadah tanya jawab tentang segala macam persoalan. Karena jawaban ada bermacam-macam dan itu pun diberikan secara cepat, orang tidak berkesempatan atau kurang menyediakan waktu untuk masuk lebih dalam;
banyaknya informasi menjadi lebih penting daripada kedalamannya.Pola pikirnya pun cenderung melompat-lompat.
Di dalam era digital, bahasa yang paling menyentuh adalah bahasa audio- visual yang lebih menyapa emosi.Karena menggunakan bahasa gambar yang menyentuh, penyampaian unsur-unsur emosional menjadi lebih kaya.Dalam dunia komunikasi virtual terciptalah macam-macam kosakata baru yang belum ada dalam bahasa bakunya, seolah-olah tidak ada wewenang linguistik yang mengatur pembakuannya.
Dalam pola-pola relasi dan cara berkomunikasi di era digital, manusia cenderung memperlakukan dirinya dan orang lain bukan sebagai manusia melainkan sebagai benda ataupun robot. Manusia juga kehilangan salah satu inti hidupnya, yaitu keheningan.
Karakteristik era digital di atas menimbulkan tantangan-tantangan bagi cara orang berkomunikasi: komitmen, ketulusan, keterlibatan dan kesetiaan. Komunikasi lewat media digital berlangsung tanpa perjumpaan fisik orang-orang yang terlibat. Ini berarti bahwa orang hanya mengandalkan apa yang didengar, ditulis atau ditampilkan di atas sarana digital. Selebihnya, orang tidak bisa langsung tahu apakah yang didengar, ditulis atau ditampilkan itu sejujurnya merupakan kebenaran atau tidak; apakah partner komunikasi lewat sarana digital tersebut bisa diandalkan komitmen maupun keterlibatannya, apalagi kesetiaannya.Era digital juga membangun komunitas-komunitas virtual dari kalangan publik yang memanfaatkan media digital.Komunitas-komunitas virtual ini mempunyai karakteristik yang berbeda dengan komunitas-komunitas riil.
Dalam rangka mengkomunikasikan diri-Nya, Allah senantiasa menjumpai dan menyapa manusia sepanjang zaman. Sapaan Allah itu berpuncak dan terjadi secara penuh dalam diri Yesus Kristus: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada” (Ibr 1:1-2). Maka peristiwa inkarnasi, sabda yang menjadi manusia, sejatinya merupakan peristiwa Allah yang sudi menjumpai manusia dengan segala situasi hidupnya. Allah memakai bahasa dan cara manusiawi untuk menyampaikan sabda-Nya, “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Flp 2:6-7) Saat ini, Allah menjumpai manusia di dalam Gereja, kumpulan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.Karena itu, umat beriman pun senantiasa saling menyapa dan menjumpai untuk mewujudkan perjumpaan dengan Allah.
Di era digital sekarang ini, banyak orang mengalami sapaan, sentuhan dan perjumpaaan dengan Tuhan baik melalui dunia riil maupun dunia virtual. Yang dimaksud dengan dunia virtual adalah perjumpaan-perjumpaan yang difasilitasi oleh sarana-sarana digital. Kehadiran, keberadaan dan berbagai kemudahan perjumpaan yang ditawarkan sarana-sarana teknologi digital yang ada sekarang ini diharapkan bisa semakin memudahkan dan menolong banyak orang berjumpa dengan Tuhan dan sesama.
Gereja terus mengajak umat beriman untuk tidak takut memanfaatkan sarana-sarana digital, misalnya internet: “Tinggal di belakang akibat ketakutan akan teknologi atau oleh suatu sebab lain merupakan sikap yang tidak dapat diterima, mengingat begitu banyaknya kemungkinan positif yang terkandung dalam internet” (Komisi Kepausan untuk Komunikasi Sosial, 2002). Hal ini ditegaskan kembali oleh Paus Benediktus XVI dalam seruannya pada Hari Komunikasi Sedunia yang ke-44 tahun 2010: “Dunia komunikasi digital, dengan segala kemampuannya untuk berekspresi nyaris tanpa batas, membuat kita lebih menghargai seruan Paulus: „Celakalah aku bila aku tidak mewartakan Injil!‟ [1Kor 9:16]”. Karena itu Gereja menerima dengan gembira dan memandang budaya digital sebagai anugerah Allah sehingga mau memanfaatkan dan menjadikannya sebagai medan perjumpaan dengan Allah.
Paus tidak hanya menyerukan kepada umat beriman untuk memanfaatkan sarana digital bagi pewartaan Injil, tetapi juga menjadikan sarana-sarana tersebut untuk menjalin perjumpaan antara warta Injil dengan budaya yang tercipta di era digital ini. Dalam ensikliknya Redemptoris Missio, 1990, Paus Yohanes Paulus II menyatakan: “…Tidak cukuplah untuk memanfaatkan media guna menyebarkan warta kristiani dan ajaran-ajaran otentik Gereja. Diperlukan pula integrasi antara warta tersebut dengan „budaya baru‟ yang tercipta dari komunikasi modern.”(RM 37).Gereja berdialog dengan budaya digital dengan tetap menawarkan nilai-nilai Injili dan kemanusiaan.
Katekese merupakan komunikasi iman, baik pengetahuan maupun pengalaman iman, untuk meneguhkan, menghayati dan mengembangkan iman
sampai terbentuk perilaku beriman yang dewasa dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.Di era digital, proses katekese mengintegrasikan budaya digital dan dapat menggunakan teknologi digital atau wahana virtual sebagai sarana untuk berkatekese.Tanpa meninggalkan ciri-ciri katekese sebagaimana telah dirumuskan mulai PKKI II dan seterusnya, katekese di era digital perlu lebih berciri interaktif, informatif, inklusif dan dialogal.
Katekese di era digital perlu mengembangkan pola inkarnatoris yang mulai dengan perjumpaan penuh penghargaan terhadap budaya yang sedang berkembang dan kemudian mengakrabkan diri dengan ungkapan-ungkapan dan idiom-idiom dari budaya tersebut.Ungkapan-ungkapan dan idiom-idiom di era digital ditandai oleh kelimpahan, keterjangkauan, dan bersifat langsung. Kelimpahan berarti sangat banyaknya informasi yang masuk dan bisa diakses. Keterjangkauan berarti mudah dijangkaunya berbagai informasi yang dibutuhkan. Bersifat langsung berarti informasi dapat diperoleh tanpa melalui perantara, cukup dengan browsing melalui sarana digital.
Era digital memunculkan cara pewartaan baru, misalnya 'katekese online'. Katekese online bisa dilakukan dengan memanfaatkan media jejaring sosial, Skype, atau media lainnya. Dalam era digital terbentuk komunitas-komunitas virtual, misalnya: komunitas milis, komunitas jejaring sosial, komunitas sms, komunitas BBM. Komunitas ini menjadi ajang berkatekese. Dalam komunitas ini, terjadi proses saling berbagi informasi bahkan saling meneguhkan dalam hal kehidupan beriman. Katekese bagi kelompok ini membantu mereka untuk menjalani proses pertobatan yang berdampak pada sikap mereka terhadap
masyarakat dan bermuara pada tindakan nyata. Dengan demikian, dinamika otentik dari komunitas virtual ini akan mengantarnya pada suatu bentuk perjumpaan riil.
2. Proses “belajar” (pelatihan, persiapan, pelaksanaan, refleksi, dan
evaluasi) dengan PPL PAK Paroki
Sebagai salah satu realisasi dari praktek katekese di era digital, mata kuliah PPL PAK Paroki merupakan mata kuliah perilaku berkarya (MPB) yang mempunyai bobot 2 SKS. Mata kuliah ini bertujuan agar para mahasiswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang bermacam cara dan metode dalam pendalaman iman, khususnya bagi orang dewasa, sehingga memiliki ketrampilan untuk melaksanakan pendalaman iman bagi umat (lingkup teritorial dan kategorial) dalam tingkat paroki.
Shared Christian Praxis atau biasa lebih dikenal dengan SCP adalah sebuah model pendalaman Iman untuk orang dewasa. Salah satu pokok yang sangat digaris bawahi oleh model ini adalah sifatnya yang dialogis partisipatif. Model pendalaman iman ini menekankan pentingnya kemitraan di dalam penyelenggaraan pendalaman iman. Pendalaman iman ini mereupakan model pendalaman yang bermula dari pengalaman hidup peserta, yang direfleksikan secara kriris dan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman supaya muncul sikap dan kesadaran baru yang memberikan motivasi pada keterlibatan baru. Di dalam proses pelaksanaannya peran keberadaan peserta sebagai subyek pergulatan,
keprihatinan, dan harapan hidupnya, mendapat tempat yang pokok. Maka, orientasi pendekatan ini dalam pendalaman iman model ini lebih pada praxis.
Dalam mengikuti proses pelatihan PPL PAK Paroki yang diselenggarakan pada pertengahan bulan Juli yang lalu, sungguh mengasikkan dan dapat dinikmati karena tidak berbenturan dengan segala kegiatan mata kuliah yang ada. Proses penyampaian materi dari pendamping cukup jelas dan mendetail. Dengan adanya pelatihan ini sangat membantu mahasiwa-mahasiswi untuk terjun ke lapangan, apalagi jadual pelatihan diberikan lebih awal dari kegiatan perkuliahan biasanya.
Selesai mengikuti proses pelatihan, maka mahasiswa-mahasiswi memasuki tahap persiapan. Dalam tahap ini, saya sungguh banyak belajar dari pengalaman. Mulai dari membuat SP yang tidak pernah sekali buat langsung jadi, selalu ada corat-coret di sana-sini. Namun mahasiswa-mahasiswi sungguh belajar dari kesalahan itu sehingga membuat mahasiswa-mahasiswi semakin mengerti untuk membuat SP yang baik. Melalui proses persiapan yang cukup melelahkan itu sangat membantu dalam proses pelaksanaan PPL PAK Paroki ini.
Proses belajar khususnya persiapan dan pelaksanaan PPL PAK Paroki ini memang menyita waktu dan perhatian yang ekstra. Apalagi bersamaan dengan PPL PAK Pendidikan Dasar. Dua mata kuliah yang sama-sama “berat”. Di sinilah mahasiswa-mahasiswi dituntut untuk pandai-pandai membagi waktu agar tidak ada yang terbengkai. Sebagai seorang mahasiswa memang harus dituntut untuk bekerja keras dan ulet. Semua ini merupakan proses. Suatu proses pendewasaan dan kematangan intelektual. Pada akhirnya mahasiswa-mahasiswi menikmati proses ini. Jika semakin banyak yang mahasiswa-mahasiswi belajar, maka
semakin banyak pula yang mahasiswa-mahasiswi tahu dan semuanya itu suatu kebaikan yang mendatangkan kebahagiaan.
3. Kegunaan PPL PAK Paroki
PPL PAK Paroki ini merupakan mata kuliah yang bersyarat, dan membutuhkan keterampilan serta kemampuan dari mahasiswa untuk mengembangkan dalam praktek lapangan. Dengan adanya PPL PAK Paroki, mahasiswa terbantu untuk terjun langsung ke lapangan untuk mempimpin pendalaman iman, jadi teori yang di dapat dalam perkuliahan dapat dikembangkan saat di lapangan. Dalam segi keterampilan mahasiswa mendapatkan pengetahuan tetntang menemukan bahan yang sesuai, mengolah bahan untuk kepentingan umat yang bersangkutan dan menjabarkannya dalam satuan pertemuan, melaksanakan dalam waktu yang ditentukan serta mengevaluasi teman dalam melaksanakan PPL PAK Paroki.
BAB III
PENELITIAN TENTANG PERANAN PENGGUNAAN INTERNET BAGI