• Tidak ada hasil yang ditemukan

p = fi/n, dimana fi jumlah penduduk kecamatan ke i dan n adalah

LAYAH STU erah

II. Kawasan Budidaya Non-Pertanian

Tabel 6 Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya Kabupaten Garut Tahun 2011

No Jenis

Pemanfaatan Luas (Ha)

Luas

(%) Lokasi (Kecamatan) I. Kawasan Budidaya Pertanian

1. Kawasan Pertanian Lahan Basah

55.862,60 18,22 Tersebar di seluruh Kecamatan yang ada

2. Kawasan Pertanian Lahan Kering

51.323,48 16,74 Seluruh bagian-bagian wilayah kecamatan kecuali Leuwigoong, Banyuresmi

3. Kawasan Perkebunan

26.807,65 8,75 Bayongbong, Cilawu, Cikajang,

Pamulihan, Pakenjeng, Banjarwangi, Cisompet, Cibalong,

Pameungpeuk, Talegong, Cikelet. 4. Kawasan Hutan

Produksi

30.742,65 10,04 Kadungora, Tarogong, Limbangan, Cibatu, Wanaraja, Karangpawitan, Malangbong, Bayongbong, Cisurupan, Cilawu, Cikajang, Banjarwangi, Bungbulang, Caringin, Cisewu, Cisompet, Pameungpeuk, Cikelet, Cihurip

5. Kawasan Perikanan Tambak

1.000,00 0,33 Caringin, Cibalong, Cikelet, Bungbulang, Pameungpeuk

6. Kawasan Peternakan

1.00,00 0,03 Cikajang, Pakenjeng, Pamulihan, Bungbulang, Caringin, Cisewu, Talegong, Pameungpeuk, Cibalong, Cikelet, Cisompet, Peundeuy, Singajaya, Banjarwangi, Cihurip

II. Kawasan Budidaya Non-Pertanian

1. Kawasan Industri (Agroindustri)

100,00 0,03 Kota Malangbong, Cikajang 2. Kawasan

Pariwisata

- Pantai 1.371,80 0,45 Caringin, Bungbulang, Cikelet, Pameungpeuk, Cibalong

- Non Pantai 933,00 0,30 Tarogong, Cilawu, Banyuresmi, Leles, Karangpawitan, Wanaraja, Samarang, Cisurupan, Bayongbong, Cibalong, Cisompet, Cikelet, Cikajang

3. Kawasan Lainnya (pemukiman,

sarana/prasaran, dll)

6.326,00 2,06 Tersebar di seluruh kecamatan

JUMLAH 174.566,53 56,96

 

Penggunaan Lahan

Sebagai daerah agraris, penggunaan lahan di Kabupaten Garut masih didominasi oleh kegiatan pertanian baik pertanian lahan basah maupun kering, kegiatan perkebunan dan kehutanan. Penggunaan tanah di wilayah Kabupaten Garut, secara garis besar dapat dikelompokkan (Tabel 7) :

• Kawasan hutan sebesar 31,58%, yang terdiri diri atas hutan lindung dan hutan produksi,

• Kebun dan kebun campuran sebesar 18,38%, yang terdiri dari perkebunan rakyat,

• Perkebunan besar dengan luasan mencapai sekitar 8,80% dari total luas wilayah Kabupaten Garut,

• Persawahan mencapai sekitar 16,14%, dan sisanya merupakan lahan permukiman dan lain-lain.

Tabel 7 Luas Tanah Menurut Penggunaannya di Kabupaten Garut

No Uraian Luas (Ha) Proporsi (%)

1. Lahan Sawah 49.477 16,14

• Irigasi 38.026 12,41

• Tadah Hujan 11.451 3,74

2. Lahan Darat 252.097 82,25

• Hutan 96.814 31,58

• Kebun Dan Kebun Campuran 56.350 18,38 • Tanah Kering Semusim/Tegalan 52.348 17,08

• Perkebunan 26.968 8,80

• Pemukiman/ Perkampungan 12.312 4,02

• Padang Semak 7.005 2,29

• Pertambangan 200 0,07

• Tanah Rusak Tandus 66 0,02

• Industri 34 0,01

3. Perairan Darat 2.038 0,66

• Kolam 1.826 0,60

• Situ/Danau 157 0,05

• Lainnya 55 0,02

4. Penggunaan Tanah Lainnya 2.907 0,95

Jumlah 306.519 100,00

 

Sarana dan Prasarana Daerah Sarana dan Prasarana Transportasi

Sarana dan prasarana transportasi bersama-sama dengan aspek penataan ruang diarahkan pada upaya untuk menunjang aspek-aspek pembangunan di Kabupaten Garut. Masih kurangnya sarana dan prasarana transportasi daerah terutama sarana transportasi baik dari segi kuantitas maupun kualitas, merupakan salah satu faktor diklasifikasikannya Kabupaten Garut sebagai daerah tertinggal bersama 190 Kabupaten lain di Indonesia. Masih terbatasnya sarana transportasi, terutama jalan mengakibatkan rendahnya aksesibilitas antar wilayah dan banyaknya wilayah yang terisolir, sehingga menjadikannya sebagai wilayah terbelakang.

Prasarana jalan merupakan faktor pendukung dan penunjang kelancaran dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan bagi suatu wilayah atau daerah yang menghubungkan daerah yang satu dengan yang lainnya. Sekalipun begitu, jalan harus mampu berperan mampu mendorong pengembangan semua satuan wilayah pengembangan, dalam usaha mencapai tingkat perkembangan antar daerah yang semakin merata.

Saat ini panjang total jalan mencapai 4.750,59 km, yang terdiri dari 30,08 km jalan nasional, 282,68 km jalan propinsi, 828,76 km jalan kabupaten, dan 3.611 km jalan desa. Jaringan jalan arteri primer (jalan negara) adalah jaringan Jalan Nagreg – Tasikmalaya yang melewati Limbangan dan Malangbong, sedangkan jaringan jalan sepanjang Pantai Selatan yang melewati Pameungpeuk merupakan jalan kolektor primer (jalan propinsi).

Kondisi jalan kabupaten dapat diperinci sebagai berikut : 133,49 km dalam keadaan mantap dengan jenis permukaan aspal; 333,76 km dalam keadaan sedang dengan jenis permukaan aspal 330,56 km dan batu 3,20 km; 325,41 km dalam keadaan rusak terdiri atas jenis permukaan aspal 148,06 km, batu 173,45 km dan tanah 3,90 km; dan 36,10 km dalam kedaan rusak berat terdiri atas jenis permukaan aspal 14,70 km, batu 17,30 km dan tanah 4,10 km (tabel 8)

Tabel 8 Ketersediaan Infrastruktur Jalan di Kabupaten Garut Uraian Negara Propinsi Kabupaten Jumlah Jenis Permukaan

 

Uraian Negara Propinsi Kabupaten Jumlah

Aspal/Penetrasi 0,00 104,20 626,81 731,01 Kerikil (batu) 0,00 0,00 113,71 113,71 Tanah 0,00 0,00 8,00 8,00 Jumlah 30,08 282,68 828,76 1.141,52 Kondisi Jalan Mantap 30,08 173,73 133,49 337,30 Sedang 0,00 99,70 333,76 433,46 Rusak 0,00 1,00 325,41 326,41 Rusak Berat 0,00 0,00 36,10 36,10 Jumlah 30,08 282,68 828,76 1.141,52 Kelas Jalan Kelas .I 0,00 0,00 0,00 0,00 Kelas .II 30,08 0,00 0,00 30,08 Kelas .III 0,00 64,81 0,00 64,81 Kelas .III A 0,00 0,00 0,00 0,00 Kelas .III B 0,00 217,87 619,14 837,01 Kelas .III C 0,00 0,00 209,62 209,62 Jumlah 30,08 282,68 828,76 1.141,52

Sumber : Bappeda Kabupaten Garut, 2005.

Perumahan dan Pemukiman

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah terpenuhinya kepemilikan rumah. Oleh karena itu pemerintah wajib mengusahakan pembangunan perumahan dan pemukiman yang terjangkau oleh masyarakat. Masalah perumahan perlu penanganan yang serius karena tidak hanya menyangkut pembangunan rumah saja, tapi juga sarana dan prasarana penunjangnya, sehingga perumahan dan pemukiman tersebut tertata rapi, sehat dan ramah lingkungan.

Dalam kaitan ini Kabupaten Garut berupaya membangun perumahan dan pemukiman yang layak, lingkungan yang tertata, sehat, aman dan serasi, yang dilengkapi dengan fasilitas sosial, fasilitas umum, dan fasilitas ekonomi. Selain itu diupayakan bantuan pemugaran rumah-rumah penduduk kota dan desa yang sudah tidak layak huni sehingga mengancam keselamatan penghuninya dan mengganggu keindahan lingkungan.

 

Pembangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Garut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum memiliki rumah direalisasikan dengan membangun Rumah Sederhana dan Rumah Siap Huni yang dilaksanakan oleh pengembang. Di samping itu pembangunan perumahan oleh masyarakat terus berlanjut, hal ini dapat dilihat dari permohonan masyarakat untuk memperoleh IMB rumah yang terus meningkat setiap tahunnya.

Indikasi permasalahan yang muncul, dalam pembangunan bidang perumahan dan permukiman, adalah sebagai berikut :

1. Belum seimbangnya pembangunan perkotaan dan perdesaan, sehingga sulit mengendalikan migrasi penduduk dari desa ke kota

2. Penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman yang dilaksanakan oleh masyarakat sangat dominan, mengakibatkan terjadinya pertumbuhan yang tidak terencana.

3 Rendahnya kemampuaan finansial pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pembangunan perumahan dan permukiman.

Sosial dan Kependudukan Kependudukan

Jumlah penduduk Kabupaten Garut, berdasarkan perhitungan BPS pada akhir tahun 2007 tercatat sebanyak 2.309.773. Dengan demikian maka tingkat kepadatan penduduk pada tahun 2007 adalah sebesar 753 orang per km2. Sementara itu, bila dibandingkan dengan angka hasil Sensus Penduduk tahun 2000, jumlah penduduk adalah sebanyak 2.044.129 jiwa, sehingga tingkat kepadatan penduduknya adalah 669 orang per km2. Dengan demikian, selama kurun waktu tujuh tahun telah terjadi peningkatan kepadatan penduduk sebanyak 84 orang per km2 atau sekitar 12,55 % (Tabel 9).

Tabel 9 Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Garut Tahun 2000 – 2007

No Tahun Jumlah (jiwa) Pertumbuhan (%)

1 2001 2.051.092 1,66 2 2002 2.139.167 4,29 3 2003 2.173.623 1,61 4 2004 2.204.175 1,41 5 2005 2.239.091 1,58 6 2006 2.274.973 1,60 7 2007 2.309.773 1,53

 

Tingkat kesejahteraan masyarakat yang dicerminkan oleh jumlah penduduk miskin menurut hasil pendataan yang telah diolah dengan mengkaitkan pada metode Garis Kemiskinan hasil SUSENAS. Pada Tahun 2005 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan 0,66 persen, yakni sekitar 2 ribu jiwa dibandingkan tahun 2004, atau menjadi sebesar 336,1 ribu jiwa. Namun demikian, kenaikan BBM dengan rata-rata sebesar 125 persen pada Oktober 2005 telah memicu kenaikan harga-harga (inflasi) di Kabupaten Garut, yang tercatat sampai dengan level 17 persen lebih di sepanjang tahun 2005. Kondisi tersebut mengakibatkan peningkatan kembali jumlah penduduk miskin di Kabupaten Garut pada Tahun 2006 sebanyak 363.148 jiwa. Pada Tahun 2007 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Garut kembali mengalami penurunan menjadi 358.217 jiwa. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Garut periode Tahun 2002-2007 disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10 Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Garut Tahun 2002 – 2007 No Tahun Jumlah Penduduk (jiwa)

Jumlah Penduduk Miskin (jiwa) % Ket. 1 2002 2.139.167 603.800 28,23 SUSENAS 2 2003 2.173.622 338.702 15,58 3 2004 2.204.175 332.750 15,10 4 2005 2.239.091 336.076 15,01 5 2006 2.274.973 363.148 15,96 6 2007 2.309.773 358.217 15,51

Sumber : BPS Kabupaten Garut, 2008

Ketenagakerjaan

Dengan jumlah pendudukyang besar, jelas merupakan suatu tantangan yang dihadapi oleh pemerintah, terutama dalam hal penyediaan lapangan kerja, pendidikan, kesehatan dan aspek-aspek lainnya. Hal ini terlihat dari jumlah pencari kerja yang terdaftar pada tahun 2007 di Dinas Tenaga Kerja sebanyak 24.223 orang dengan jumlah pencari kerja terbanyak berasal dari golongan pendidikan SLTA (16.128 orang). Sementara, Pencari kerja yang bisa ditempatkan hanya 1.754 orang. Sehingga masih banyak pencari kerja yang belum mendapatkan pekerjaan apalagi ditambah dengan pencari kerja tahun-tahun sebelumnya.

 

Disamping itu ketenagakerjaan di perkotaan juga berhubungan dengan urbanisasi, migrasi dan struktur pekerjaan, yang dianggap berkaitan erat dengan kemiskinan di pedesaan. Penerapan teknologi padat modal di sektor usaha/industri di perkotaan mengakibatkan terjadinya urban bias (kecenderungan mengutamakan perkotaan), sehingga terdapat kecenderungan mengabaikan daerah pedesaan. Terjadinya angka pengangguran tinggi terutama dialami usia muda yang baru menyelesaikan pendidikan lanjutan, terdapat pula dikalangan masyarakat aspirasi akan pekerjaan “kantor” yang lebih menjanjikan menyebabkan lambannya pertambahan lapangan pekerjaan baru.

Perekonomian Daerah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan dasar pengukuran atas nilai tambah yang mampu diciptakan karena adanya berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu wilayah. Data PDRB tersebut menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki. Oleh karena itu besarnya PDRB yang mampu dihasilkan sangat tergantung pada faktor tersebut, sehingga dengan beragamnya keterbatasan dua faktor di atas menyebabkan PDRB bervariasi antar daerah.

Secara makro besaran PDRB yang dihitung atas dasar harga berlaku di Kabupaten Garut pada tahun 2007 mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp 1.824,94 miliar, atau dari semula sebesar Rp 15.890,28 miliar menjadi Rp 17.715,22 miliar. Sedangkan dua tahun sebelumnya besaran PDRB Kabupaten Garut mencapai Rp 13.697,88 miliar tahun 2005 dan Rp 11.323,78 miliar tahun 2004. Gambaran tersebut merefleksikan perkembangan yang cukup singnifikan dari pertambahan nilai produk barang yang dihasilkan di wilayah Kabupaten Garut pada periode 2004 - 2007. Kendati demikian, perkembangan tersebut belum dapat dijadikan sebagai indikator dari peningkatan volume produk barang atau jasa di wilayah Garut, karena pada besaran PDRB yang dihitung atas dasar harga berlaku masih terkandung inflasi yang sangat mempengaruhi harga barang/jasa secara umum. Untuk menganalisis perkembangan dari volume produk barang/jasa umumnya digunakan PDRB yang dihitung atas dasar harga konstan. PDRB yang dihitung atas dasar harga konstan tahun 2000 di Kabupaten Garut pada tahun 2007 telah

 

mencapai Rp 9.563,13 miliar, atau mengalami pertumbuhan 4,76 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai sebesar Rp. 9.128,81 miliar. Kondisi tersebut merupakan indikasi produksi produk barang/jasa secara umum mengalami peningkatan atau perekonomian Kabupaten Garut secara makro berkembang positif dengan besaran 4,76%.

Tabel 11 PDRB Atas Dasar Harga Konstan tahun 2000 Kabupaten Garut Tahun 2004 – 2007 Kelompok 2004 2005 2006 2007 Sektor (1) (2) (3) (4) (5) PRIMER 4,104.50 4,284.67 4,299.54 4,467.62 Pertanian 4,093.83 4,273.83 4,288.06 4,454.98 Pertambangan 10.67 10.84 11.48 12.64 SEKUNDER 773.49 808.31 876.55 941.97 Industri 514.04 540.52 586.62 633.13

Listrik dan air 39.20 41.06 44.33 47.84

Bangunan 220.25 226.73 245.60 261.00 TERSIER 3,540.46 3,675.43 3,952.72 4,153.54 Perdagangan 2,143.41 2,249.30 2,427.10 2,586.02 Pengangkutan 242.63 255.17 270.84 282.60 Bank 367.35 351.28 360.02 348.40 Jasa-jasa 787.07 819.68 894.76 936.52 PDRB 8,418.45 8,768.41 9,128.81 9,563.13

Sumber: BPS Kabupaten Garut, 2008.

Dari tabel di atas, dapat dilihat sektor andalan atau sektor yang memberi sumbangan terbesar adalah Pertanian. Pada tahun 2007 sektor ini memberikan sumbangan nilai tambah sebesar Rp 4.454,98 miliar atas dasar harga konstan tahun 2000. Kondisi tersebut dapat dipahami, karena sebagian besar wilayah di Kabupaten Garut masih tampak didominasi oleh sektor pertanian. Hal ini terlihat dari sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di sektor ini serta sebagian besar lahan di wilayah Kabupaten Garut digunakan untuk kegiatan di sektor pertanian yang hampir mencapai 3/4 dari total luas wilayah Kabupaten.

       

 

Dokumen terkait