• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keabsahan Instrumen Penelitian

Dalam dokumen UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2020 (Halaman 49-56)

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.8 Keabsahan Instrumen Penelitian

Analisis instrumen tes meliputi validitas isi, validitas butir, tingkat kesukaran, daya beda dan reliabilitas soal tes yang dijabarkan sebagai berikut : 3.8.1.1 Validitas Isi Soal

Validitas isi soal digunakan untuk mengetahui kelayakan isi dari sebuah soal yang digunakan dalam penelitian berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh validator. Berdasarkan hal tersebut terdapat beberapa indikator ketercapaian dalam validitas isi yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. 6 Indikator Validitas Isi Soal

No Butir Penilaian

A. KONSTRUKSI

1 Soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tepat 2 Ada petunjuk pengerjaan soal pada lembar soal B. MATERI YANG DISAJIKAN DALAM SOAL UJI COBA

1 Kesesuaian materi dengan KD

2 Soal berisikan tentang permasalahan yang dapat dipecahkan oleh siswa

3 Kesesuaian tingkat kesulitan materi dengan tingkat berpikir kritis siswa

C. BAHASA YANG DISAJIKAN DALAM SOAL UJI COBA

1 Bahasa yang digunakan sesuai dengan tingkat berpikir kritis terhadap siswa

2 Kalimat yang digunakan dapat dimengerti dan jelas 3 Bahasa yang digunakan bersifat komunikatif

Berdasarkan Tabel 3. 6 yang telah diajukan kepada validator isi soal dengan hasil 87,5 % sehingga dinyatakan instrumen layak dipakai dan dapat dilihat pada Lampiran 6.

3.8.1.2 Validitas Butir Soal

Validitas butir diukur menggunakan rumus korelasi product moment.

Menurut Arikunto (2018), rumus korelasi product moment dirumuskan sebagai berikut:

π‘Ÿπ‘‹π‘Œ = 𝑁(Ξ£π‘‹π‘Œ) βˆ’ (Σ𝑋)(Ξ£π‘Œ)

√[𝑁(Σ𝑋2) βˆ’ (Σ𝑋)2][𝑁(Ξ£π‘Œ2) βˆ’ (Ξ£π‘Œ)2] Keterangan :

π‘Ÿπ‘‹π‘Œ : Koefisien korelasi antara variabel 𝑋 dan π‘Œ 𝑁 : Banyak siswa

𝑋 : Skor uji coba π‘Œ : Jumlah skor total

Mengetahui valid atau tidaknya butir soal, nilai π‘Ÿπ‘‹π‘Œ dibandingkan dengan harga r pada table product moment dengan 𝛼 = 5%. Jika π‘Ÿπ‘‹π‘Œ > π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘π‘’π‘™ maka butir soal termasuk valid. Derajat validitas dapat menggunakan tolak ukur berdasarkan kriteria menurut Guilford dalam Lestari (2018) sebagai berikut:

Tabel 3. 7 Kriteria Koefisien Korelasi Validitas Instrumen KoefisienKorelasi Korelasi

0,90 ≀ π‘Ÿπ‘‹π‘Œ ≀ 1,00 Sangat Tinggi 0,70 ≀ π‘Ÿπ‘‹π‘Œ < 0,90 Tinggi 0,40 ≀ π‘Ÿπ‘‹π‘Œ < 0,70 Sedang 0,20 ≀ π‘Ÿπ‘‹π‘Œ < 0,40 Rendah

π‘Ÿπ‘‹π‘Œ< 0,20 Sangat Rendah

Soal sejumlah 39 dengan 35 soal pilihan ganda beralasan serta 4 uraian di uji coba pada kelas IX F terdapat 24 soal bersifat valid dan diambil 22 soal.

Nomor soal yang bersifat valid dapat dilihat pada Tabel 3. 8 berikut:

Tabel 3. 8 Nomor Soal Yang Bersifat Valid Nomor Soal Validitas Kriteria

2

3.8.1.3 Taraf Kesukaran

Taraf kesukaran menunjukkan seberapa sulit soal tersebut dikerjakan oleh siswa. Menurut Lestari (2018) dalam mengukur taraf kesukaran, digunakan rumus sebagai berikut: SMI : Skor maksimum ideal

Nilai taraf kesukaran digolongkan menjadi 5 (Lestari, 2018) seperti pada tabel berikut:

Tabel 3. 9 Kriteria Indeks Kesukaran Instrumen Indeks Taraf Kesukaran Kriteria

𝐼𝐾 = 0,00 Terlalu Sukar

0,00 < 𝐼𝐾 ≀ 0,30 Sukar 0,30 < 𝐼𝐾 ≀ 0,70 Sedang 0,70 < 𝐼𝐾 ≀ 1,00 Mudah

𝐼𝐾 = 1,00 Terlalu Mudah

Hasil analisis tingkat kesukaran soal uji coba dapat dilihat pada Tabel 3. 10 dan Lampiran 16.

Tabel 3. 10 Hasil Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal

Kriteria Nomor Soal Jumlah

Mudah

1,2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 21, 22, 24, 26, 27, 28, 31, 32, 33, 34, 4(uraian)

27 Sedang 16, 18, 19, 20, 23, 29, 25, 30, 35,

1(uraian), 2(uraian), 3(uraian) 12 3.8.1.4 Daya Pembeda

Daya beda merupakan kemampuan suatu soal untuk membedakan tingkat kemampuan siswa antara yang tinggi dengan yang rendah. Daya beda dinilai dengan indeks diskriminasi. Menurut Lestari (2018), rumus yang digunakan untuk menentukan indeks diskriminasi sebagai berikut:

𝐷𝑃 = π‘‹Μ…π΄βˆ’ 𝑋̅̅̅̅𝐡 𝑆𝑀𝐼 Keterangan :

𝐷𝑃 : Indeks diskriminasi atau daya beda 𝑋̅ : Rata-rata skor

SMI : Skor maksimul ideal

Langkah-langkah dalam menghitung daya beda antara lain:

(1) Mengitung total skor tiap siswa.

(2) Mengurutkan skor dari yang tertinggi hingga terendah.

(3) Menentukan banyaknya kelompok atas dan kelompok bawah. Jika banyak siswa β‰₯ 30, maka banyak anggota tiap kelompok adalah 27% dari banyak siswa.

(4) Menghitung rata-rata skor masing-masing kelompok.

(5) Menghitung daya beda.

Nilai indeks diskriminasi digolongkan menjadi 5 (Lestari, 2018) sebagai berikut:

Tabel 3. 11 Kriteria Indeks Daya Pembeda Instrumen Indeks Diksriminasi Kriteria

0,70 < 𝐷𝑃 ≀ 1,00 Sangat Baik

0,40 < 𝐷𝑃 ≀ 0,70 Baik

0,20 < 𝐷𝑃 ≀ 0,40 Cukup

0,00 < 𝐷𝑃 ≀ 0,20 Buruk

𝐷𝑃 ≀ 0,00 Sangat Buruk

Hasil analisis daya pembeda soal uji coba dapat dilihat pada Tabel 3. 12 dan Lampiran 16.

Tabel 3. 12 Hasil Daya Pembeda Soal Uji Coba

Kriteria Nomor Soal Jumlah

Baik 23, 30, 33 3

Cukup 2, 6, 7, 11, 14, 19, 21, 25, 28, 32 10 Buruk

1, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 12, 13, 15, 16, 17, 18, 24, 26, 27, 29, 31, 34, 1(uraian), 4(uraian)

21 Sangat Buruk 20, 22, 35, 2(uraian), 3(uraian) 5

3.8.1.5 Reliabilitas Soal

Reliabilitas menunjukkan tingkat konsistensi suatu instrumen, sehingga apabila digunakan beberapa kali untuk objek yang sama, maka akan menghasilkan data yang sama. Mengukur reliabilitas pada soal berbentuk pilihan ganda beralasan dan uraian, menurut Arikunto (2018) digunakan rumus Alfa sebagai berikut:

π‘Ÿ11 = ( 𝑛

𝑛 βˆ’ 1) (1 βˆ’βˆ‘ πœŽπ‘–2 πœŽπ‘‘2 ) Keterangan :

π‘Ÿ11 : Reliabilitas

βˆ‘ πœŽπ‘–2 : Jumlah varians skor tiap item πœŽπ‘‘2 : Varians total

Derajat reliabilitas dapat menggunakan tolak ukur berdasarkan kriteria menurut Guilford dalam Lestari (2018) sebagai berikut:

Tabel 3. 13 Kriteria Korelasi Reliabilitas Instrumen Koefisien Korelasi Korelasi

0,90 ≀ π‘Ÿπ‘₯𝑦 ≀ 1,00 Sangat Tinggi 0,70 ≀ π‘Ÿπ‘₯𝑦 < 0,90 Tinggi 0,40 ≀ π‘Ÿπ‘₯𝑦 < 0,70 Sedang 0,20 ≀ π‘Ÿπ‘₯𝑦 < 0,40 Rendah

π‘Ÿπ‘₯𝑦< 0,20 Sangat Rendah

Hasil dari analisis reliabilitas instrumen dapat dilihat pada Lampiran 16 dengan taraf signifikan 5% dan N=35 diperoleh r11 sebesar 0,765 dengan rtabel

0,344 yang berarti bahwa r11> rtabel maka dapat disimpulkan bahwa instrumen ini mempunyai taraf kepercayaan dengan kriteria tinggi dan dapat digunakan sebagai alat pengumpul data yang terpecaya.

3.8.1.6 Penentuan Soal Tes

Berdasarkan hasil analisis uji coba tes keterampilan berpikir kritis yang terdiri dari 39 butir soal (35 pilihan ganda beralasan dan 4 uraian), diperoleh hasil dari validitas, taraf kesukaran, daya beda, dan reliabilitas untuk terpilihnya 22 soal yang terdiri dari 20 pilihan ganda beralasan dan 2 uraian yang digunakan dalam pretest dan posttest. Hasil penentuan soal dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. 14 Keabsahan Penentuan Soal

3 Sedang Mudah Buruk Dipakai dengan

perbaikan

4 Sedang Mudah Buruk Dipakai dengan

perbaikan

6 Sedang Mudah Cukup Dipakai

7 Sedang Mudah Cukup Dipakai

9 Sedang Mudah Buruk Dipakai dengan

perbaikan

10 Sedang Mudah Buruk Dibuang

11 Sedang Mudah Cukup Dipakai

12 Sedang Mudah Buruk Dipakai dengan

perbaikan

34 Sedang Mudah Buruk Dipakai dengan

perbaikan

1(uraian) Sedang Sedang Buruk Dipakai dengan

perbaikan

4(uraian) Sedang Mudah Buruk Dipakai dengan

perbaikan Keterangan :

Nomer 10 dan 19 dibuang dikarenakan dengan pertimbangan pada indikator soal keterampilan berpikir kritis sudah terpenuhi dengan soal lain yang lebih baik.

3.8.2 Keabsahan Instrumen Non-Tes

Instrumen non-tes dalam penelitian ini adalah angket keterampilan berpikir kritis siswa untuk mengetahui tanggapan siswa terkait proses pembelajaran.

Pengujian validitas instrumen lembar angket menggunakan pengujian validitas konstruk. Validasi instrumen lembar non-tes dilakukan dengan validasi konstruk menggunakan pendapat ahli yaitu Erna Noor Savitri, S.Si., M.Pd dengan hasil layak dipakai dan dapat dilihat pada Lampiran 13.

3.9 Teknik Keabsahan Data

Dalam dokumen UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2020 (Halaman 49-56)

Dokumen terkait