Keadaan Menjelang Mati

Dalam dokumen Ka bah Sucikanlah Rumah-Ku ini (Halaman 35-38)

Mati itu hanya sekali dan akan dialami setiap diri. Kesempatan di dunia juga hanya sekali untuk mempersiapkan diri menemui pati. Sekali saja mengalami dan merasai mati ini salah, lalu sesat jalan, akan selamanya dirasakan betapa sengsaranya di alam sesat selamanya sedang kesempatan memperbaiki kesalahan telah tutup dan selesai.

Siapapun yang pasti akan mengalami rasanya saat menjelang mati, yakni antara menjelang habis nafasnya hingga less – berhenti, disitulah alam antara yang benar-benar berbahaya. Iblis dan segala jaringan yang dibentuk dengan wadya balanya, (termasuk wadya balanya adalah segala cipta angan-angannya, gagasan-gagasannya, selera hawa nafsu dan sahwatnya) yang ketika masih hidup gagah di dunia, menganggap baik dan benar atas akal dan pendapatnya sendiri. Maka lalu berani meninggalkan Allah dan Rasul-Nya dan atau wakil-wakilnya yang hak dan sah, semua akan menjebak di alam antara itu. Antara menjelang habisnya nafas hingga less habis.

Kerja keras jaringan iblis tersebut bahkan adakalanya datang mendekat calon si mati ini bahkan ngaku-ngaku Tuhannya yang disembah. Ngaku apa saja yang disenangi ketika gagah di dunia. Jadi matinya ya apa yang dihayatinya dalam rasa jiwanya ketika masih gagah di dunia. Hingga kalau tidaklah memiliki secara hak dan sah ilmu tentang pintu selamatnya mati menemui Dzat Al Ghaib Yang Rabbul Izzati (= tidak punya Guru yang hak dan sah), rasa jiwa si mati, menjelang : less (habisnya nafas), akan diboyong ketempat yang bukan tempat kembali yang selamat dan bahagia di Rumah Abadi-Nya karena selamat disambut oleh-Nya menemui-Nya kembali. Tempat ini dengan sendirinya yang tempat yang sesat bersama dengan si iblis yang mereka memang sama sekali tidak rela dan tidak senang sekiranya hamba Allah (manusia) ini selamat matinya.

Karena itu ada sabda Nabi Muhammad SAW (yang ini banyak ditolak oleh mereka yang memang tidak percaya kepada adanya tugas dan fungsi Rasul-Nya Ilaahi yang terus berlanjut), sebab sabdanya Nabi ini hanya khusus dipakai ketika seseorang berkehendak

³

D

º

memperoleh ikmu untuk dapat selamat ma’rifat kepada-Nya (selamat mati kembali berjumpa dengan-Nya).

Sabda itu ialah :”Man laisa lahu syaikhun fasysyaihtaanu syaikhuhu”. Artinya : barang siapa tidak mempunyai guru (yang hak dan sah sebagai wakilnya Rasullullah), maka orang itu gurunya setan. Matinya lalu tidak akan selamat “nyemplung ke dalam Rumah Abadi yang di dalam-Nya Dzat Al Ghaib yang Allah Asma’-Nya bersinggasana”. Tetapi diboyong oleh jaringan dan jebakan iblis dan wadya balanya yang luar biasa semarak dan jayanya ketika masih berada di alam dunia.

Sedang mereka yang dikehendaki oleh Allah jadi orang yang sampai kepada-Nya dengan hati yang selamat, menjelang mati itupun akan sadar sesadar-sadarnya. Kesadarannya utuh dan karena itu iapun dengan hati yang tetap sehat merasa dan mengakui mempunyai Guru yang hak dan sah itu, lalu mohon maaf pada gurunya itu serta mohon supaya gurunya memberinya pangestu dapat membuktikan petunjuknya, yakni masuk ke dalam dzikirnya. Sebab Guru yang hakekatnya adalah Isi-Nya Hu dan ketika kita masih di dunia, itulah pintunya akherat. Ya pintunya ma’rifat (melihat dengan jelas dan yakin dengan mata batin) kepada Dzat Yang Wajib Wujud-Nya dan Al Ghaib ini. Adapun wujud jasad yang menyampaikan ilmunya guru yang hak dan sah seperti itu adalah juga manusia biasa. Karena itu ia takkan berani ngaku sebagai guru (juga sama sekali tidak akan merasa jadi guru). Sebab hal itu benar-benar murtad terbesar. Maka yang kebetulan jasadnya ditugasi penyambung lidahnya guru yang hak dan sah itu, takutnya kepada Allah luar biasa.

Mereka yang saat matinya diboyong oleh jebakan makhluk yang ablasa kepada-Nya lalu dikrayuk ke tempat alam sesatnya ini oleh Allah banyak diungkap dalam firman-Nya. Seperti dalam QS. Al Mukminun 99 -100 :

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : ”Ya Tuhanku

kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai mereka dibangkitkan”.

Dinding yang menghijab mata batinnya terhadap nikmatnya menghayati dan merasakan dzikir (mengingat-ingat Dzat Yang Wajib Wujud-Nya, AL Ghaib, Isi-Nya Hu), itu tidak lain adalah wataknya aku yang menyubur makmurkan wataknya nafsu. Karena itu kesempatan sekali saja di dunia ini justru malah menjadikan orang-orang yang mendustakan kebenaran al Haq-Nya. Firman Allah dalam QS. Al Mukminun 105 -108 : “Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan

kepadamu sekalian tetapi kamu selalu mendustakan”? Mereka berkata : “ Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat”. “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dari tempat yang sesat ini dan kemudian kembalikan ke dunia), maka jika Kami kembalikan (tetap juga sebagai pendusta), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”. Allah berfirman : “Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kamu berbicara dengan Aku”.

Yang mereka dustakan sehingga menyebabkan sesat itu ialah keberadaannya guru yang hak dan sah sebagai wakilnya Rasulullah. Yakni Al Haadi kepercayaan-Nya yang hakekat-Nya Rasul-Nya juga. Pesdustaan yang mereka lalukan dengan sombong dan mengejek serta memperolok-olok keberadaannya. Perlakuan mereka sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Mukminun 109 -110 :

“Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo’a (di dunia) : “Ya Tuhan kami,

kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berikanlah kepada kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi Rahmat Yang Paling Baik”.

³

D

º

Kemudian Allah memberikan balasan kepada mereka yang selalu mereka ejek dan ter-tawakan : “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran

mereka (menerima ejekan dan perolok-olokan para pendusta); sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang”. (QS. Al Mukminun 111).

Bumi tempat menguji hamba ini berputar hanya sebentar. Lalu mengapa manusia yang berakal juga berputar terus pikirannya merancang dan mempolakan nikmatnya dunia. Mengapa tidak mau mencari tempat berhenti yang akan menjadikan dunia dan juga hidupnya lalu mencukupi di tempat berhenti itu oleh Sang Pencipta dan Sang Pemilik-Nya jagad dunia dan jagadnya manusia? Firman Allah dalam QS. Al Mukminun 112 – 115 :

“Allah bertanya :”Berapa tahunkan kamu tinggal di bumi”? Mereka menjawab : “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”.

“Allah berfirman : “Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”. Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak dikembalikan kepada Kami”? (K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Dakwah Untuk Menghidupkan Kembali Bangkitnya dan Cita-Citanya Rasa Nikmat dan Rasa Bahagia Bertemu Dengan Dzat Al Ghaib Yang Wajib WujudNya, Jilid 1, Tanjung, 11 Februari 1994, hal. 38 – 41).

Pintunya Mati

Ilmu yang menunjukkan “pintunya mati” supaya selamat bertemu Tuhan dan merasakan bahagianya hidup kekal dengan-Nya di hari akhir, disebut ilmu Syathariyah. Adalah mati yang

“fii maq’adhi shidqin ‘inda malikin muqtadirin” (QS. Al Qamar : 55). Ketika mati yang pasti

ditemui dan hanya sekali dirasakan, kembali di dalam tempat yang benar (lalu merasakan betapa bahagia hidup kekal dengan Yang Maha Kekal) di sisi Maha Raja diraja Yang Berkuasa.

Pintunya mati itu oleh Allah ditempatkan di dalam rasa. Dan rasa adalah dasar manusia. Rasa ditempatkan Allah di dalam arwah. Arwah ditempatkan di dalam hati nurani yang dibungkus oleh wujudnya jiwaraga.

Oleh karena mati yang selamat itu kembali kepada Diri-Nya Dzatullah Yang Al Ghayb, maka pintunya mati adalah menunjukkan dengan metode tunjuk oleh yang berhak dan sah menunjuki (ahli dzikir) mengenai Ada dan Wujud Diri-Nya Ilaahi Dzat Yang Al Ghayb lalu menjadi hamba Allah yang secara benar memenuhi syarat pertama muttaqin. Yaitu “alladziina

yu’minuuna bi al-Ghayb” (syarat pertama menjadi muttaqin).

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Ilmu Syaththariah, Nubuwah dan Zikir, Pondok Sufi, Tanjung, 13 Desember 2006, hal.1 – 2).

Pintu (gerbang) agar selamat dan bahagia pulang kembali kepada Diri Illahi adalah “Nur Muhammad” (lih. Nur Muhammad)

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Gilir Gumantinya Wasithah Dalam Sebuah Rantai Silsilah Yang Sejak Junjungan Nabi Muhammad SAW Hingga Kini Tidak Pernah Putus Sama Sekali (Karena Hanya Kiamat Saja Yang Menghentikannya), Pondok Sufi, Tanjung , 8 Maret 2001, hal.1).

Mati Yang Benar

– Mati Yang Selamat :

• Ilmu Syaththariah menjelaskan bahwa mati yang benar itu jasad busuk, hati ‘adam, roh sirna dan tinggal sirr (rasa) yang kembali pada Tuhannya di kampung akherat. Manusia ini terjadi dari empat unsur kejadian. Yaitu jasad, hati, roh dan rasa.

³

D

º

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Ilmu Syaththariah, Tanjung, 1 Okotber 2000, hal. 2)

• Jasadnya bosok (asal mula jasad yang terdiri dari kumpulan tanah, angin, api dan air; kembali keasalnya masing-masing dengan sempurna);

Dapat selamat merasakan betapa bahagianya bertemu Diri-Nya Tuhan -, hatinya ‘adam, yaitu membuktikan kebenaran yang dikandung oleh kalimah tauhid; “Laailaaha illallah”. “Laailaaha” ini kalimah nafi. Maksudnya, membuktikan apa saja, seperti akon-akon (dalam hati merasa memiliki) dunia dan wujud jiwa raga, zat, sifat dan af’alnya hamba, semua telah nafi. Semuanya tiada (‘adam).

Mati yang benar, ruhnya sirna. Sebab ruh yang dimasukkan ke dalam jasad manusia ini sebenarnya adalah Ruh Illahi. Daya dan Kekuatan-Nya Allah SWT yang biasanya dengan kuatnya diaku (merasa miliknya) oleh nafsu manusia. Kemampuannya diaku, kuatnya diaku, harta benda-hasil kerja kerasnya diaku, pintarnya diaku, jasadnya diaku, amal-amalnya diaku, dan semua apa saja yang pantas bagi kehormatan dirinya diaku. Kemudian tinggallah siir (rasa) yang kembali ke akhirat.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Risalah Ilmu Syaththariah, Jalan Menuju Tuhan, Pustaka Pondok Sufi, Januari 2002, hal. 20, 22, 23, 24).

• Mati yang selamat bertemu lagi dengan Diri-Nya Tuhan Dzat Yang Al Ghaib, Wjib Wujud-Nya, dekat sekali keberadaan-Nya dan Allah Asma-Nya.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Apabila Daabbah Telah Dikeluarkan dan Diberdayakan Tuhan, Maka Akibat Nyata (Azab) Pasti Ditimpakan Mereka Yang Tidak Mengenal Diri-Nya Tuhan, Tanjung, Oktober 1997, hal. 25).

• Tangis do’anya Nabi Ibrahim Khalilullah yang diabadikan Allah dalam QS. Asy Syu’ara’ ayat 87-89 : “Dan janganlah Engkau hinakan daku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu)

di hari ketika harta benda dunia dan anak-anak laki-laki tiada berguna, kecuali orang yang telah sampai kepada Allah dengan hati yang selamat”.

Firman Allah diatas memberi ingatan tentang mati yang selamat. Bahwa mati yang selamat ialah oleh Allah selalu dibimbing dengan hidayah-Nya (menjadi obor yang madangi) hingga saat menjelang dan less, mati, semua selain Ada dan Wujud-Nya, oleh Allah dinyatakan nafi sama sekali. Maka masuklah ke dalam Yang Tetap Kekal dan Abadi yang ketika masih hidup dingelomi dan dilakoni dari petunjuknya al-haadi itu. Masuk menjadi orang yang telah sampai kepada Allah dengan hati yang selamat. Firman Allah : “Wajah mereka itu berseri-seri, kepada Tuhannya melihat”. Juga dimasukkan muqarrabun sebagaimana QS Al Maqi’ah ayat 88 – 89 : “Adapun jika (orang yang mati) termasuk

orang yang didekatkan (kepada-Nya dan juga oleh-Nya jua), maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta jannatun na’iim”.

(K.H.Mohammad Munawwar Afandi, Dakwah Untuk Menghidupkan Kembali Bangkitnya dan Cita-Citanya Rasa Nikmat dan Rasa Bahagia Bertemu Dengan Dzat Al Ghaib Yang Wajib Wujud-Nya, Jilid 1, Tanjung, 11 Februari 1994, hal. 37 – 38).

Dalam dokumen Ka bah Sucikanlah Rumah-Ku ini (Halaman 35-38)