BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN
4.1.2 Keadaan Penduduk
Desa Pematang Guntung memiliki jumlah penduduk sebanyak 3527 jiwa yang terdiri dari 1772 laki-laki dan 1755 perempuan dihitung berdasarkan jumlah rumah tangga sebesar 856 rumah tangga.
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga Menurut Desa/Kelurahan Tahun 2019 (orang)
No Jenis kelamin Jumlah
Sumber : Kecamatan Teluk Mengkudu dalam angka BPS Tahun 2020 4.1.3 Sarana dan Prasarana
Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai memiliki berbagai sarana dan prasarana yang dapat dilihat pada Tabel 4.3 Tabel 4.3 Sarana dan Prasarana di Desa Pematang Guntung Tahun 2017
Sumber : Kecamatan Teluk Mengkudu dalam angka BPS Tahun 2018
Di desa Pematang Guntung terdapat beberapa sarana dan prasarana yang mendukung sosial ekonomi masyarakat dengan jumlah terbanyak posyandu yaitu sebanyak 3, sedangkan SMP,SMA,Mesjid, dan Klenten sebanyak 1.
No. Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit)
1. Posyandu 3
2. Sekolah Dasar Negeri 2
3. Sekolah Menengah Pertama 1
4. Sekolah Menengah Atas 1
4.1.4 Penggunaan Lahan Kering
Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai memiliki berbagai macam bentuk penggunaan lahan kering yang dapat dilihat pada Tabel 4.4
Tabel 4.4 Penggunaan Lahan Kering di Desa Pematang Guntung Tahun 2017
No. Penggunaan Lahan Kering Jumlah (Unit)
1 Tapak Bangunan 25
2 Tegal Kebunan 132
3 Tambak 15
4 Perkebunan Negeri/Swasta 50
5 Lain-Lain 58
Jumlah 280
Sumber : Kecamatan Teluk Mengkudu dalam angka BPS Tahun 2018
Universitas Sumatera Utara
20 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Sistem Budidaya Usahatani Udang Vannamei 5.1.1 Pengolahan Lahan Tambak
Lokasi penelitian yang digunakan sebagai lahan tambak ditentukan memiliki beberapa kondisi yang harus diperhatikan. Sesuai penggunaan tata ruang dan wilayah yang diperuntukkan untuk kegiatan budidaya Udang Vannamei. Dekat dengan sumber air dengan kualitas dan kuantitas yang cukup untuk proses produksi. Bebas dari banjir dan bahan pencemar, serta infrastruktur yang memadai. Suhu air yang digunakan pada budidaya Udang Vannamei berkisar antara 28oC-32oC, dengan pH air 7,5-10 dan oksigen yang terlarut dalam air minimal 4ppm.
Desain dan tata letak tambak pembesaran Udang Vannamei dengan penerapan biosecurity dengan persyaratan sebagai dibatasi oleh barier atau pagar berupa pematang yang kedap, saluran atau petak tambak yang dikelola sebagai biofilter dan pagar biosecu rity untuk mencegah carrier. Sumber air payau/laut berasal dari inlet berupa saluran sekunder/tersier. Petak tandon untuk mencampur air tawar dan laut atau sebagai petak penampungan air pasok yang sehat untuk petak pembesaran. Petak pembesaran Udang Vannamei kedap air untuk meminimalisir perembesan dari petak lainnya. Petak/tandon atau saluran buang digunakan sebagai penampungan limbah sebelum dibuang ke saluran umum.
5.1.2 Pemilihan Dan Penebaran Benih
Benih Udang Vannamei yang digunakan adalah benih Udang Vannamei bersertifikat dan atau memiliki surat keterangan sehat. Benih vannamei tidak terdeteksi virus atau penyakit. Secara visual ukuran seragam (>95%)
Universitas Sumatera Utara
dengan cara mengapungkan kantong dalam air atau menambah air sedikit demi sedikit dalam kantong tempat benur. Penambahan pakan perlu dilakukan sebelum ditebar. Penebaran benih Udang Vannamei dengan kepadatan 250 ekor/m2 tergantung ketersediaan sarana dan prasarana.
5.1.3 Pemeliharaan Udang Vannamei
Pemeliharaan dalam usahatani Udang Vannamei meliputi kegiatan pengelolaan pakan, pengeloaan air, dan pengendalian hama dan penyakit.
1. Pengelolaan pakan
Sumber utama nutrien pakan Udang Vannamei adalah protein, karbohidrat, dan lemak atau lipid. (Kureshy dan Davis, 2002). Protein selain untuk pertumbuhan, berfungsi sebagai sumber energi, sedangkan fungsi utama karbohidrat dan lipid adalah sebagai sumber energi. Benih Udang Vannamei yang sudah ditebar pada petakan tambak selang 6 jam diberi pakan pelet. Pemberian pakan dilakukan 4 (empat) kali sehari yaitu 7.00 wita, 11.00 wita, 15.00 wita dan 18.00 wita. Total pakan yang diberikan berkisar 3-4% dari berat total biomasa benur. Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Juga digunakan bahan untuk meningkatkan pertumbuhan Udang Vannamei berupa penambahan nutrisi lengkap dalam pakan (100%).
Tabel 5.1 Jenis Makanan dan Nutrisi yang Digunakan dalam Usahatani Udang Vannamei per Petani di Desa Pematang Guntung
No Jenis Pakan dan Nutrisi Kebutuhan Harga (Rp)
1 EM4 6,6 L 18.667/L
2 Molase 6,6 L 13.000/L
3 Pelet 110 sak 380.575/sak
Sumber : Data Primer Diolah
Universitas Sumatera Utara
22
Tabel 5.1 menunjukkan jenis kebutuhan pakan serta nutrisi yang diperlukan satu petani untuk melakukan kegiatan budidaya dalam satu kali masa panen. EM-4 dan molase digunakan sebagai sumber protein dan nutrisi yang diperlukan untuk kebutuhan Udang Vannamei selama masa pemeliharaan sampai siap dipanen.
2. Pengelolaan Kualitas Air
Air yang digunakan pada kegiatan budidaya Udang Vannamei di Desa pematang guntung bersumber dari irigasi air yang telah dibuat oleh pemerintah dan diambil menggunakan pompa dan selang. Kualitas air diukur dengan mekanisme dan alat sederhana. Kualitas air tambak pada budidaya Udang Vannamei haruslah dalam keadaan optimal, utamanya salinitas dan pH air. Dalam budidaya Udang Vannamei juga diperhatikan adalah derajat keasaman atau pH air, pH atau derajat keasaman yang baik bagi budidaya Udang Vannamei adalah 7,5 sampai 8,5.(Mujiman dan Suyanto, 1990).
Dalam budidaya Udang Vannamei, sistem budidaya mempunyai kriteria tersendiri salah satunya adalah luas tambak. Luas petakan semi intensif 1 hektar sampai 3 hektar dan pada tambak intensif 0,2 sampai 0,5 hektar, makin kecil petakan tambak makin mudah dalam pengelolaan airnya. Pengelolaan kualitas air yang baik dapat membantu pertumbuhan dan kelangsungan hidup Udang Vannamei. Parameter kualitas air yang sering diamati dalam kegiatan peliharaan Udang Vannamei yaitu suhu, oksigen terlarut, pH, dan salinitas. Pengukuran parameter kualitas air dilakukan sehari dua kali pada waktu pagi dan sorehari.
3. Pengendalian Penyakit
Penyakit yang umumnya menyerang Udang Vannamei di Desa Pematang Guntung dan menyebabkan kerugian yang besar secara ekonomi antara lain White Spot Syndrome Virus (WSSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), maupun
Universitas Sumatera Utara
Taura Syndrome Virus (TSV). Salah satu penyebab utama merebaknya penyakit tersebut adalah terjadinya degradasi lingkungan kolam. Penyakit pada Udang Vannamei akan muncul jika terjadi interaksi antara kondisi lingkungan yang jelek, dan kondisi Udang Vannamei lemah. Penyakit pada Udang Vannamei sangat bervariasi baik yang disebabkan karena virus, bakteri, jamur, protozoa maupun penyakit karena kekurangan nutrisi. Beberapa penyakit yang sering menyerang Udang Vannamei serta menimbulkan kerugian yang besar adalah adanya serangan penyakit pada Udang Vannamei yang dipelihara. Para petambak mencegah kemungkinan serangan penyakit ini antara lain dengan selalu secara rutin membersihkan dasar tambak melalui penyimpanan, pemantauan gerakan Udang Vannamei dan keaktifan Udang Vannamei selama pemeliharaan, terutama saat pemberian pakan. Pengendalian dilakukan secara alami tanpa menggunakan obat-obatan, yaitu menggunakan pucuk daun jambu yang dihaluskan dan dicampurkan ke pakan Udang Vannamei. Kemungkinan penyakit Udang Vannamei yang akan ada antara lain adalah penyakit bintik putih, penyakit bintik hitam, kotoran putih, insang merah dan nekrosis.
5.1.4 Panen Dan Pasca Panen
Udang Vannamei dapat dipanen setelah memasuki ukuran pasar (40 ekor/kg).
Panen Udang Vannamei dilakukan secara parsial atau panen total.Panen parsial dilakukan pada pagi hari untuk menghindari Udang Vannamei molting dan DO rendah.Udang Vannamei telah mencapai ukuran 100 ind/kg (dipanen sebanyak 20-30% dari jumlah Udang Vannamei). Panen parsial berikutnya pada ukuran 80 hingga 60 ind/kg. Panen parsial dilakukan menggunakan jala kantong yang baik sehingga Udang Vannamei yang tertangkap tidak mudah terlepas, dasar tempat penjalaan harus keras serta tidak berlumpur agar lumpur tidak mudah teraduk.
Universitas Sumatera Utara
24
Untuk memancing Udang Vannamei berkumpul, dilakukan pemberiaan pakan pada tempat penjalaan. Panen total biasanya ketika Udang Vannamei telah mencapai ukuran 40 ind/kg. Panen total dilakukan dengan menggunakan jaring kantong yang dipasang pada pintu air, kemudian dilanjutkan dengan jaring tarik (jaring arad). Udang Vannamei yang masih terima dapat diambil menggunakan tangan. Pengeringan air untuk panen total dilakukan dengan cepat untuk menghindari Udang Vannamei molting. Waktu pemanenan maksimal 3 jam, lebih dari itu Udang Vannamei akan stress. Agar Udang Vannamei yang dipanen dapat terjaga kualitasnya, sebelum panen dipersiapkan wadah tempat Udang Vannamei, air dan es dengan jumlah yang cukup dan menjaga kebersihannya. Udang Vannamei yang telah dipanen dicuci dengan air bersih dan dibenamkan dalam wadah yang berisi air es dengan suhu kurang lebih -40C, kemudian dibawa ke tempat penampungan untuk dilakukan sortir.
Udang Vannamei yang telah disortir berdasarkan kualitas dan ukuran tersebut ditiriskan kemudian ditimbang. Memasukkan Udang Vannamei ke dalam wadah dengan rapi, lalu tambahkan es curah dengan perbandingan 1 : 1. Model penyusunan Udang Vannamei berlapis-bertumpuk (antaraes-Udang Vannamei-es-Udang Vannamei-es). Vannamei-es-Udang Vannamei ditampung oleh PT.BMS (Bekerja Makmur Sejahtera) dengan harga jual Rp.83.000/kg.
5.2 Biaya-Biaya Dalam Usahatani Udang Vannamei
Biaya produksi yang terdapat dalam proses produksi usahatani Udang Vannamei meliputi biaya Tetap dan biaya Variabel (Biaya tidak tetap). Biaya tetap yang terdapat pada proses usahatani Udang Vannamei meliputi biaya tenaga kerja, dan biaya penyusutan. Biaya variabel yang terdapat dalam proses usahatani Udang Vannamei ini meliputi biaya sewa lahan dan pajak lahan, biaya bibit dan
Universitas Sumatera Utara
biaya pakan. Masing-masing biaya yang terdapat pada proses produksi Udang Vannamei.
5.2.1 Biaya Tetap
Biaya tetap meliputi biaya sewa lahan dan biaya penyusutan peralatan.
Besarnya biaya sewa lahan tergantung pada lokasi lahan dan luas lahan. Selain itu ada juga beberapa petani yang tidak membayar sewa lahan karena lahan yang dimiliki merupakan lahan warisan keluarga. Rata-rata biaya sewa lahan untuk lahan petani di daerah penelitian berkisar antara Rp.150.000- Rp.5.000.000 setiap tahunnya.
Tabel 5.2 Rata-rata Biaya Sewa Lahan dan Pajak Lahan Usahatani Udang Vannamei di Desa Pematang Guntung dalam 3 bulan Per Petani Luas Lahan
(Ha)
Biaya PBB/Musim Panen (Rp)
Biaya Sewa/Musim Panen (Rp)
0,044 41.914 166.667
Peralatan yang digunakan untuk melakukan proses produksi usahatani Udang Vannamei juga memiliki nilai penyusutan yang tergolong dalam biaya penyusutan. Peralatan tersebut meliputi terpal, pompa air, kincir angin, genset, cangkul, gerobak sorong, karung goni. Biaya penyusutan untuk peralatan usahatani Udang Vannamei dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 Rata-rata Biaya Penyusutan Budidaya Udang VannameiDesa Pematang Guntung dalam 3 Bulan Per Petani
No. Uraian Biaya Penyusutan Alat Produksi/Petani (Rp)
Biaya Penyusutan Alat Produksi/Ha (Rp)
1 Karung Goni 1.599.750 30.575.893
Rataan 4.060.626 12.470.057
Sumber : Data Primer Diolah
Universitas Sumatera Utara
26
Berdasarkan Tabel 5.3. dapat dilihat bahwa biaya penyusutan paling besar terjadi pada kincir air yaitu Rp.1.485.000 per petani dan sebesar Rp.33.750.000 per hektar. Sementara itu biaya penyusutan terkecil terjadi pada cangkul yaitu Rp 34.019 per petani dan Rp.745.938 per hektar.
Rata-rata biaya penyusutan karung goni per petani sebesar Rp.1.599.750 dan perhektar sebesar Rp.30.575.893, Dengan umur ekonomis 2 tahun. Harga karung goni dalam penelitian ini berkisar antara Rp.25.000 – Rp.45.000 per buah.
Rata-rata biaya penyusutan pompa air per petani sebesar Rp.74.250 dan 1.687.500 per hektar. Dengan umur ekonomis 3 tahun. Harga pompa air dalam penelitian ini berkisar Rp.450.000.
Rata-rata biaya penyusutan terpal per petani sebesar Rp.371.250 dan Rp.8.437.500 per hektar. Dengan umur ekonomis 1 tahun. Harga terpal dalam penelitian ini tergantung dari luas lahan tambak Udang Vannamei yaitu per m2 Rp.3000. Dalam penelitian ini harga terbesar berdasarkan luas lahan dimiliki oleh pak Acai yaitu sebesar Rp.5.250.000.
Rata-rata biaya penyusutan genset per petani sebesar Rp.426.390 dan Rp.10.748.071. dengan umur ekonomis 5 tahun. Harga genset dalam penelitian ini berkisar Rp.4.500.000 – Rp.5.500.000 per unit.
Rata-rata biaya penyusutan gerobak sorong per petani sebesar Rp.69.968 danRp.1.143.500. dengan umur ekonomis 2-5 tahun. Harga gerobak sorong dalam penelitian ini berkisar Rp.200.000 – Rp.350.000 per unit.
5.2.2 Biaya Variabel
Biaya variabel atau biaya tidak tetap meliputi biaya bibit, biaya makanan dan nutrisi dan biaya tenaga kerja. Dengan kebutuhan bibit yang beragam, maka rata-rata penggunaan bibit di daerah penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5.4.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 5.4 Rata-rata Biaya Bibit Pada Petani Sampel Usahatani Udang Vannamei di Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai Dalam 3 Bulan
No. Uraian Biaya Bibit (Rp)
1 Per Petani 5.280.000
2 Per Hektar 120.000.000
Sumber : Data Primer Diolah
Waktu penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari. Benih yang digunakan adalah benih unggul yang dibeli dari PT.CHAROEN POKPHAND INDONESIA dengan harga per ekor Rp.48 dengan kebutuhan benih rata-rata 50.000 ekor perkolam (1 kolam = 200m2). Benih disebar ketika kolam sudah terisi air dan sudah selesai dipersiapkan.
Tabel 5.5 Rata-rata Biaya Bahan Pelengkap Petani Sampel Usahatani Udang Vannameidi Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai Dalam 3 Bulan
No. Uraian Biaya Bibit (Rp)
1 Per Petani 42.077.003
2 Per Hektar 956.295.523
Sumber : Data Primer Diolah
Berdasarkan Tabel 5.5 diketahui bahan pelengkap usahatani petani sampel terdiri dari makanan, vitamin dan nutrisi Udang Vannamei. Dengan total biaya sebesar Rp 42.077.003, sedangkan total biaya per hektar sebesar Rp 956.295.523.
Tabel 5.6 Rata-rata Biaya Penggunaan Tenaga Kerja pada Petani Sampel Usahatani Tambak Udang Vannamei Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai
No. Uraian
Sanitasi Tambak 2 120.000 1.730.159
2. Panen 2 153.333 2.214.286
Rataan 2 273.333 1.972.222
Sumber : Data Primer Diolah
Universitas Sumatera Utara
28
Berdasarkan Tabel 5.6 dapat dilihat bahwa kegiatan persiapan dan panen membutuhkan tenaga kerja yang sama. Biaya paling besar dikeluarkan terjadi pada tahap penanaman yaitu sebesar Rp.153.333. Dalam penelitian ini, Tenaga Kerja Dalam Keluarga dihitung ke dalam HKO namun tidak dibayar. Upah Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK) untuk Laki-laki dan wanita berbeda. Untuk Laki-laki diberi upah sebesar Rp.100.000. TKLK berasal dari penduduk disekitar lahan para petani atau dapat juga di katakan tetangga petani sampel itu sendiri.
Upah yang diberikan sudah termasuk biaya makan, ongkos transportasi dan upah berkerja.
5.2.3 Total Biaya Produksi
Total biaya usahatani tambak Udang Vannamei di daerah penelitian secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 5.7.
Tabel 5.7 Rata-rata Biaya Produksi pada Petani Sampel Usahatani Udang Vannamei di Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai.
No Uraian Biaya Produksi(Rp)
1 Per Petani 51.899.544
2 Per Hektar 1.364.773.967
Sumber : Data Primer Diolah
Dari Tabel 5.7 dapat dilihat bahwa rata-rata biaya proses usahatani yang dikeluarkan tiap petani di daerah penelitian dari persiapan lahan hingga pasca panen sebesar Rp.51.899.544 per petani dan sebesar Rp.1.364.773.967 untuk satu hektar lahan. Total biaya produksi terdiri dari total biaya tetap, yaitu biaya pajak dan sewa lahan dan total biaya variabel, yaitu biaya saprodi, biaya penyusutan dan biaya tenaga kerja.
Universitas Sumatera Utara
5.2.4 Penerimaan Usahatani
Penerimaan yang di dapat para petani bergantung pada harga Udang Vannamei di pasar dan besarnya produksi yang di dapat. Harga pasar tidak dapat ditentukan oleh para petani tetapi hasil produksi dapat di maksimalkan dan biaya produksi juga dapat diatur sedemikian rupa agar mendapatkan penerimaan yang diinginkan para petani. Seluruh pendapatan yang di dapatkan petani dari menjual bawang merah yang di produksinya dinamakan Total hasil penjualan atau Total Revenue (TR). Harga jual Udang Vannamei di daerah penelitian sering kali mengalami fluktuasi pada waktu-waktu tertentu sehingga dapat diperkirakan harganya sekitar Rp.48 per ekor. Penerimaan para petani di daerah penelitian dapat dirumuskan dalam Tabel 5.8.
Tabel 5.8 Rata-rata Penerimaan Petani Sampel Usahatani Udang Vannamei di Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai.
No. Uraian Produksi (Kg) Penerimaan (Rp)
1. Per Petani 1.361,6 113.012.800
2. Per Hektar 30.997,5 2.572.795.794
Sumber : Data Primer Diolah
Berdasarkan Tabel 5.8. dapat dilihat bahwa tiap petani di daerah penelitian menghasilkan rata-rata 1.361,6 Kg per petani Udang Vannamei dan dijual dipasar dengan harga rata Rp.83.000 per Kg sehingga penerimaan tiap petani rata-rata sebesar Rp.113.012.800. Jika tiap petani memiliki lahan seluas satu hektar, produksi menjadi 30.997,5 Kg dan penerimaan sebesar Rp.2.572.795.794.
5.2.5 Pendapatan Usahatani
Pendapatan usahatani merupakan hasil bersih yang didapat para petani dari usahatani nya, dihitung dengan cara total penerimaan dikurang dengan total biaya produksi yang telah dikeluarkan. Rata-rata pendapatan petani sampel di daerah penelitian sebesar Rp.61.113.25 untuk tiap petani dan jika petani memiliki lahan
Universitas Sumatera Utara
30
satu hektar maka pendapatannya sebesar Rp.1.400.720.239 (Tabel 5.9). Hal ini menunjukkan bahwa usahatani yang dilakukan para petani menguntungkan karena pendapatan yang didapat lebih besar daripada pengeluaran atau total biaya yang dikeluarkan yaitu Rp.51.899.544 per petani dan Rp.1.172.075.554 per hektar.
Biaya terbesar dalam produksi yang dikeluarkan terjadi pada biaya pakan yaitu sebesar Rp.42.077.003 per petani dan Rp.956.188.500 per hektar. Sementara biaya paling kecil dikeluarkan pada biaya sewa lahan sebesar Rp.208.581 per petani dan Rp.4.652.208 per hektar.
Tabel 5.9 Total Biaya Produksi, Penerimaan dan Pendapatan Rata-rata padaPetani Sampel Usahatani Udang Vannamei di Desa Pematang Guntung, Keamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai.
Bibit 5.280.000 120.000.000
Biaya bahan makanan dan nutrisi
42.077.003 956.188.500
Tenaga Kerja 273.333 1.972.222
3 Biaya Produksi 51.899.544 1.172.075.554
4 Penerimaan 113.012.800 2.572.795.794
5 Pendapatan 61.113.256 1.400.720.239
Sumber : Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 5.9 maka, diperoleh total biaya produksi per petani sebesar Rp.51.899.544 dengan total penerimaan sebesar Rp.113.012.800 serta total pendapatan yaitu sebesar Rp.61.113.256, sedangkan biaya produksi per hektar Rp.1.172.075.554, dengan total penerimaan Rp.2.572.795.794, serta total pendapatan petani per hektar sebesar Rp.1.400.720.239.
Universitas Sumatera Utara
5.3. Analisis Kelayakan Usahatani Udang Vannamei
Untuk melihat apakah suatu usahatani layak diusahakan atau tidak, dibutuhkan suatu cara atau metode untuk mengetahuinya. Dalam penelitian ini digunakan metode analisis kelayakan finansial dengan kriteria yang harus dipenuhi yaitu NetR/C dan BEP (Break even Point).
5.3.1 Net R/C
Revenue cost Ratio atau R/C digunakan sebagai pembanding/nisbah antara penerimaan dan total biaya. Usahatani dikatakan layak apabila nilai R/Clebih besar dari 1. Jika nilai R/C tinggi maka keuntungan suatu usahatani juga tinggi.
Nilai R/C di Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai. Dapat dilihat pada Tabel 5.10.
Tabel 5.10 Hasil Perhitungan R/C pada Petani Sampel Usahatani Udang Vannamei.
No. Uraian Total Biaya (Rp) Penerimaan (Rp) R/C
1 Per Petani 51.899.544 113.012.800 2,60
2 Per Hektar 1.172.075.554 2.572.795.794 2,60
Sumber : Data Primer Diolah
Berdasarkan Tabel 5.10 dapat diketahui bahwa nilai R/C usahatani Udang Vannamei per petani dan per hektar di Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabu
Universitas Sumatera Utara
32
paten Serdang Bedagai sebesar 2,60. Artinya setiap biaya Rp.1,- yang dikeluarkan dapat menghasilkan penerimaan sebesar Rp.2,60,- atau dapat dikatakan hasil penjualan Udang Vannamei mencapai 260% dari biaya yang dikeluarkan. Hal ini disebabkan karena penerimaan para petani tinggi. Harga jual dan produksi lebih tinggi daripada total pengeluaran yang dikeluarkan oleh para petani. Berdasarkan kriteria yang disebutkan nilai usahatani dikatakan layak apabila nilai R/C lebih besar daripada 1, maka usahatani Udang Vannamei didaerah penelitian dinyatakan layak untuk diusahakan.
5.3.2 BEP (Break Even Point)
Menganalisa apakah suatu usahatani menguntungkan atau merugikan, dapat dilakukan analisis BEP yang menggambarkan titik impas atas hasil yang diperoleh usahatani dengan modal yang dikeluarkan. Dengan BEP,suatu usahatani dikatakan menguntungkan apabila titik impas terlampaui, artinya nilai masing-masing variabel lebih tinggi dari hasil perhitungan BEP.
Perhitungan BEP terdiri atas 2 jenis titik impas, yaitu titik Impas untuk harga (BEP Harga) dan titik impas untuk produksi (BEP Produksi). BEP Produksi menyatakan tingkat produksi minimum yang harus dicapai untuk memperoleh titik impas dan BEP Harga menyatakan besarnya tingkat harga minimum untuk mencapai titik impas. Nilai BEP usahatani tambak Udang Vannamei dapat dilihat pada tabel 5.11.
Tabel 5.11Hasil Perhitungan BEP pada Petani Sampel Usahatani Udang Vannamei di Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai.
No. Uraian Produksi Sumber : Data Primer Diolah
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan Tabel 5.11, BEP Produksi selama 1 musim panen per petani sebesar 625,3 Kg sedangkan jumlah produksi per petani selama satu musim sebesar 1.361,6 Kg. Jumlah produksi lebih besar dari BEP Produksi sehingga dalam satu musim panen per petani usahatani Udang Vannamei di daerah penelitian dinyatakan menguntungkan.
Jumlah produksi lebih besar daripada BEP Produksinya sehingga untuk satu hektar lahan usahatani Udang Vannamei di daerah penelitian dinyatakan menguntungkan. BEP Harga per petani dan per hektar menunjukkan angka yang sama yaitu Rp.39.016 dan harga jual dalam usahatani Udang Vannamei di daerah penelitian per petani dan per hektar sebesar Rp.83.000/Kg. Pasar untuk Udang Vannamei di daerah penelitian menguntungkan bagi petani karena jumlah harga yang diterima petani lebih besar dari BEP Harga.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh R/C sebesar 2,60. Dengan demikian Hipotesis diterima, sehingga Usahatani Tambak Udang Vannamei dinyatakan layak di usahakan di Desa Pematang Guntung.
Universitas Sumatera Utara
34 BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
1. Sistem pengelolaan usahatani budidaya tambak Udang Vannamei di Desa Pematang Guntung Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai meliputi tiga tahap yaitu pengelolaan pakan, pengelolaan kualitas air, serta pengendalian penyakit yang bekerjasama dengan PT.Phokpand.
2. Usaha tambak udang vannamei di Desa Pematang Guntung Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai dinyatakan layak dengan nilai R/C sebesar 2,60 dengan besar pendapatan rata-rata petani sebesar
2. Usaha tambak udang vannamei di Desa Pematang Guntung Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai dinyatakan layak dengan nilai R/C sebesar 2,60 dengan besar pendapatan rata-rata petani sebesar