I.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
4.4. Keadaan Pertanian
Faktor penting di bidang pertanian secara fisik adalah tersedianya lahan yang dapat dikerjakan oleh petani, dimana lahan tersebut merupakan media proses-proses perubahan organis yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Usahatani di Desa Jemundo dilakukan oleh petani dan buruh tani pendatang yang bercocok tanam padi, sayuran dan buah-buahan. Dari luas lahan sawah 16,5 Ha, hampir seluruhnya ditanami padi dan hanya sebagian yang berusahatani sayur dan buah. untuk mengetahui lebih jelas jenis komoditi yang diusahakan dapat dilihat pada tabel 4. sebagai berikut :
Tabel 4. Luas dan Persentase areal tanaman Menurut Jenis Komoditi di Desa Jemundo Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo tahun 2009
Jenis Komoditi Luas (Ha) Persentase (%)
Sayur – Sayuran 4 24,2
Padi dan Buah-buahan 12,5 75,7
Jumlah 16,5 100 Sumber : Kantor Desa Jemundo
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa luas pemakaian lahan terbesar adalah pada tanaman padi dan Buah-buahan yaitu sebanyak 12,5 ha atau sekitar
75,7 %. Hal tersebut disebabkan tanah di Desa Jemundo cocok untuk tanaman padi dan Buah-buahan dan irigasinya juga lancar serta secara geografis Desa tersebut termasuk dataran rendah. Sedangkan areal tanaman sayur - sayuran yaitu 4 ha atau sekitar 24,2 %. Hal ini dikarenakan komoditas sayur - sayuran termasuk tanaman yang kurang diminati oleh petani karena perawatan tanaman sayuran membutuhkan perhatian khusus, seperti menyiram dari pagi hari sebelum matahari terbit terlalu tinggi, siang dan sore hari juga harus menyiram tanaman sayuran tersebut. tanaman sayur - sayuran yang ditanam oleh petani Desa Jemundo yaitu sayur kangkung, sayur bayam, sayur ketela rambat,dan lain – lain. Tetapi yang banyak di tanam oleh petani jemundo yaitu sayuran kangkung, karena dianggap lebih menguntungkan dan permintaan konsumen lebih banyak sayuran kangkung daripada sayuran lainnya.
latar belakang kemampuan keluarga tani dalam menjalankan usahanya. Selain itu dengan melihat karakteristik responden akan menunjukkan hal-hal yang dapat menunjang atau menghambat dalam suatu pelaksanaan usaha. Adapun karakteristik keluarga tani tersebut meliputi keadaan tingkat pendidikan, usia dan jumlah tanggungan keluarga.
5.1.1. Tingkat Pendidikan
Pengembangan sumber daya manusia yang bertumpu pada pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup manusia secara umum. Pendidikan adalah salah satu syarat mutlak untuk mencapai suatu kehidupan yang layak bagi suatu bangsa. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pola pikir seseorang sehingga akan terjadi perubahan sikap serta mendorong seseorang untuk berpikir kritis, trampil dan dewasa serta menumbuhkan rasa percaya diri. Disamping itu, tingkat pendidikan petani secara tidak langsung akan mempengaruhi pengambilan keputusan atau penetapan suatu alternatif yang sesuai guna mendapatkan hasil yang bermanfaat bagi petani itu sendiri.
Tingkat pendidikan responden sangat perlu untuk diketahui karena akan menentukan pola pikir dan cara bertindak para petani terutama yang mempengaruhi kemampuan dalam menerima dan menerapkan teknologi baru yang dapat berguna bagi pengembangan usahatani buah dan sayur.
Karakteristik responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut :
Tabel 5. Tingkat Pendidikan Petani Sayur dan Buah di Desa Jemundo Tahun 2010.
Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
Tamat SD / Sederajat 10 33,33
Tidak Tamat SD 5 16,67
Tamat SMP / Sederajat 6 20,0 Tamat SMA / Sederajat 9 30,0
Jumlah 30 100
Sumber : Wawancara Dengan Responden di Desa Jemundo
Berdasarkan pada tabel 5, bahwa sebagian besar 33,33 % penduduk berusahatani sayur dan buah di Desa Jemundo berpendidikan SD, kemudian sebanyak 30,0 % berpendidikan SMA dan sebesar 20,0 % berpendidikan SMP, hal tersebut menandakan minimnya kesadaran dalam pendidikan mengingat bahwa pendidikan sangat berpengaruh pada penerapan teknologi baru di dalam pengembangan usahatani sayur dan buah tersebut. Dengan pendidikan maka tingkat kemampuan dan keterampilan dalam mengelola usahatani dapat meningkat ke arah yang lebih baik. Hal ini juga menunjukkan bahwa dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah tidak menghambat petani dalam upaya untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Kemampuan dan pengalaman yang mereka miliki untuk bekerja keras dengan intensifnya penyuluhan-penyuluhan pertanian dan semakin luasnya sarana komunikasi, maka akan semakin menambah pengetahuan dan ketrampilan petani dalam berusahatani sehingga mereka dapat meningkatkan produksi dan pendapatan mereka
5.1.2. Usia.
Usia merupakan salah satu faktor yang menentukan kemampuan fisik seseorang untuk bekerja dalam usahatani sayur dan buah. Dari perbedaan usia dapat diketahui pengalaman dalam pengambilan keputusan dan penerapan inovasi baru. Selain itu usia juga dapat menentukan usia produktif dan non produktif.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud usia petani adalah usia petani sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab atas pengelolaan usahataninya. Untuk mengetahui usia responden dapat dilihat pada tabel 6 adalah sebagai berikut :
Tabel 6. Usia Responden Petani Sayur dan Buah di Desa Jemundo Tahun 2010 Usia (tahun) Jumlah pembuat (orang) Persentase (%) 21 – 30 5 16,67 31 – 40 11 36,67 41 – 50 12 40,00 51 – 60 2 6,66 Jumlah 30 100,00
Sumber : Wawancara Dengan Responden di Desa Jemundo
Pada tabel diatas, tampak bahwa sebagian besar usia responden petani sayur dan buah di Desa Jemundo adalah berusia antara 41 - 50 tahun. Keadaan tersebut menunjukkan para petani sayur dan buah masih dalam usia produktif dimana tingkat kemampuan dan ketrampilan serta pengalaman dalam mengelola usahataninya lebih besar sehingga diharapkan dengan kemampuan dan ketrampilan serta pengalaman tersebut mampu memperoleh
hasil produksi yang optimal dalam usahataninya, sehingga dapat lebih meningkatkan pendapatan petani.
Sedangkan untuk umur 51-60 tahun sebanyak dua orang. Umumnya usia-usia tersebut kemampuan fisik dalam mengolah lahan pertaniannya dengan intensif tidak akan seperti dulu sehingga ada beberapa tanah tersebut diwariskan kepada anak-anaknya atau mereka jual dimana penjualannya dapat dipergunakan untuk kebutuhan hidupnya yang lain.
5.1.3. Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah anggota keluarga sering dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk menerima suatu inovasi atau perubahan-perubahan. Hal ini dapat dimengerti karena konsekuensi penerimaan inovasi akan berpengaruh terhadap keseluruhan sistem keluarga lainnya yang diharapkan dapat meningkatkan peningkatan keluarga dan taraf hidup masyarakat.
Jumlah anggota keluarga bagi para petani sayur dan buah dapat memacu semangat kerja untuk lebih giat bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dalam melakukan kegiatan bercocok tanam umumnya para petani dibantu oleh kerabat atau anak dan istrinya, disamping itu juga menggunakan tenaga kerja luar untuk membantu yang diupah setiap hari. Untuk mengetahui jumlah tanggungan keluarga responden dapat dilihat pada tabel dibawah ini, sebagai berikut :
Tabel 7. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani Sayur dan Buah di Desa Jemundo Tahun 2010.
Jumlah Tanggungan Keluarga (orang)
Jumlah petani
(sayur dan buah) Persentase (%)
2 – 4 15 50
5 – 7 10 33,33
8 – 10 5 16,67
Jumlah 30 100 Sumber : Wawancara Dengan Responden di Desa Jemundo
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah tanggungan keluarga para petani sayur dan buah sebagian besar 2 – 4 orang. Dengan jumlah tanggungan keluarga dan biaya hidup yang cukup besar ini mendorong para petani sayur dan buah lebih giat dalam bekerja guna memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Keterlibatan anggota keluarga sebagai bagian dari masyarakat dalm suatu kegiatan pembangunan sangat penting, karena semakin besar jumlah anggota keluarga yang terlibat maka semakin besar partisipasi yang diberikan dalam pembangunan desa. Peluang untuk memberikan partisipasi terhadap kegiatan pembangunan desa sebenarnya akan besar dengan banyaknya jumlah keluarga karena dapat menyumbangkan tenaganya. Disamping itu, dengan semakin besar jumlah angota keluarga maka dapat membantu petani dalam kegiatan bercocok tanam dan juga dapat membantu petani dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup keluarga dan meningkatkan pendapatan rumah tangga petani yaitu dengan bekerja di bidang non pertanian seperti penjahit, toko, warung, dan sebagainya.
5.2. Dampak Pasar Induk “Puspa Agro” Terhadap Perubahan Jenis