BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Hasil Penelitian
2. Keadaan setelah suami meninggal
Seiring berjalannya waktu, T mulai menerima kepergian
suaminya dan sudah bisa mengikhlaskan.
“Seneng mbak sekarang udah gak susah lagi, udah lupa- lupa. Udah 3 tahun lebih to emang harus bisa merelakan bapak. Udah, ibu dah ikhlas” (701-704)
b. Aspek Kognitif
Walaupun begitu, T masih sering mengenang dan
membayangkan jika suaminya masih hidup. Banyak kenangan yang
menyenangkan dengan suami.
“Sebetulnya kalo ada bapak kan misalnya kan kekurangan mesti bayar sekolah kan jadi ibu harus kerja keras to mbak buat anak-anak” (166-169)
“Wah kalo ada bapak seneng yaa misalnya hajatan apa, misalnya pengajian bareng-bareng, sukuran anak-anak” (580-582)
“Suamiku itu yaa Alhamdulillah ya mbak, orangnya diem memang.. tetangga sini juga kalo gak diajak ngomong gak pernah ngomong. Kedua tanggungjawab sekali, cari uang itu pagi sampe malem pulangnya itu sampe jam 8 baru pulang, kalo belum dapat uang belum pulang mbak. Orangnya disiplin, keras. Misalnya punya utang, bayar besok ya harus. Jangan bikin kecewa orang lain Terus gak pernah marah, sabar bapak” (553-564)
“Dulu sama yang kecil itu sering maen ke alun-alun sana, itu yang ibu inget” (618-620)
Setelah merelakan kepergian suami, T harus menyesuaikan diri
dengan status baru sebagai seorang janda. T memandang negatif status
janda yang disandang.
“Bicara sama suaminya orang, ibu juga merasa rendah gitu mbak”(998-999)
“Iyaa, minder rasanya mbak” (1009)
“Ada mbak kemaren terjadi waktu masih jualan itu disini ada tetangga, gak tau, seneng sama ibu si gak, ibunya juga agak curiga ya. Bapaknya kan tiap hari maem disini, di dalem. Trus istrinya mondar mandir gitu, trus ngomongnya agak lain” (1019-1025)
“Misalnya ibu campur guyonan gitu, ya udah gak ada harganya” (1141-1143)
“Ibu usaha cari uang itu aja mbak, gimana kita bisa hidupi anak-anak nanti ndak pandangannya orang lain wah ditinggal gak bisa apa-apa” (839-843)
“Berarti ibu tenang, ngopeni anake tenang, gak mau punya suami. Orang-orang suka bilang gitu. Yaudah ibu diem aja. Wah ibunya bener, cari uang sendiri buat anaknya” (1176- 1180)
c. Aspek Perilaku
Oleh karena itu, T menjaga jarak dengan lingkungan. T berhati-
hati dalam bergaul dengan lingkungan terlebih dengan pria yang
mempunyai istri agar tidak menjadi perbincangan di tetangga.
“Pertemuan bapak ibu biasanya kan ada ya. Misalnya bapak-bapak kita kan ya memaklumi sendiri, selalu menghindar. Soalnya takut timbul perasaan cemburu dari istri” (987-991)
“Sekarang agak minggir-minggir sedikit, agak kurang kumpul-kumpul bareng. Ibu juga maklumin kan udah sendiri, ibu jaga anak-anak juga jaga lingkungan biar dihormatin sedikit sama bapak-bapak lain” (1055-1060)
“Kalo dulu kan ada bapak, sekarang ya gak bebas aja mbak kalo duduk-duduk sama yang punya istri, gak berani ibu” (1070-1073)
“Ya sikapnya harus rendah sama orang” (1135)
“Deket ibu itu istrinya meninggal bareng sama bapak, anaknya dua cowok sama cewek. Itu emang sering ngobrol karena dia juga sendiri ibu juga sendiri, itu baru berani. Tapi kalo yang punya istri, gak berani” (1157-1162)
“Ibu jaga perasaan kan. Emang selalu jaga perasaan mbak kalo udah sendiri, laen kalo punya suami kan bebas mau ngobrol sama suami orang, duduk bareng. Kalo sekarang kan gak, gak bisa. Ya gampang-gampang susah si kalo di masyarakat. Ya merendah sama tau diri, kalo gak ya diomongin” (1162-1170)
T juga menhindari tempat atau situasi yang dapat
mengingatkannya pada sang suami.
“Anak kesayangan dari mertua. Tiap ibu kesana mesti nangis, yaudah ibu pergi. Gak kuat liat mertua nangis” (404-407)
“Gak sempat ngomong sama tamu itu, kalo ada tamu gak bisa nerima. Ibu gak sanggup gitu lho, kan ingat bapak to kan baru satu tahun” (427-431)
“Makanya sampe sekarang ibu gak mau ke alun-alun, ibu inget bapak itu” (634-636)
Banyak hal yang berubah saat T menjadi janda. Dulu ia terbiasa
mendapatkan uang dari suami tetapi sekarang T harus mencari sendiri
untuk biaya sehari-hari. T dibantu oleh anak tertuanya yang juga
menjadi tulang punggung keluarga.
“Kalo pas hajatan tetangga itu ya susah juga gak ada bapak. Misalnya ada bapak kan bapak yang cariin uang lha sekarang sendiri” (252-255)
“Ya itu ibu usaha buka laundry terus kakaknya itu yang pertama yang di Riau kan belum nikah bantu buat adek-adek buat masuk kuliah terus sampe sekarang”(308-312)
“Kalo makan sih ibu sendiri setiap hari, ya nyuci ini lah kalo ada pemasukan kan buat keperluan di masyarakat misalnya ada hajatan ada apa ya sendiri” (324-328)
“Dulu harus ngeladeni bapak dulu, masak, kalo bapak belum berangkat, ya ibu belum kerja. Sekarang gak, bangun pagi langsung solat subuh bis selese itu ya nyuci, langsung mulai, kalo belum selese belum berenti” (485-491)
“Kalo sekarang kan bebas, misalnya mau duduk-duduk lama, ngobrol. Kalo dulu kan baru keluar sebentar udah dipanggil, harus dirumah ngurus anak-anak. Sekarang kan
gak” (496-501)
“Kalo dulu ya mikir kok bapak belom pulang, besok mau masak apa, kalo sekarang kan gak. Terserah mau masak nasi siang bisa, gak masak juga bisa. Anak-anak bisa makan diluar” (503-507)
“Cuma kalo ada bapak kalo sakit bisa berenti kerja tapi kalo sekarang sakit tetep harus kerja. Ya ibu terima dengan sabar, mau gak mau ibu kerja sendiri. Tar ongkos buat anak darimana” (516-521)
“Cuman untung kebetulan anak-anak itu nurut juga, gak nakal gak seperti.. misalnya gak seperti yang lain lah. Suruh sekolah ya sekolah, gitu aja .. gak ngerokok. Dia ngerti keadaan orangtua, kerja keras buat sekolah” (532-537)
“Yaudah ibu sambil kerja terus langsung kerja jualan itu. Setaun terus langsung kerja biar buat ngilangin, susahnya
itu” (684-687)
T juga tidak menikah lagi setelah suami meninggal. Banyak
faktor yang menyebabkan ia tidak menikah lagi salah satunya adalah
pesan dari suami sebelum meninggal. T juga takut jika suaminya nanti
tidak akan sama seperti suami terdahulu.
“Besok kalo bapak meninggal, kalo bapak pergi, gak meninggal anu.. ibu anu anak-anak aja gak usa punya suami lagi, cuman kaya gitu pesennya. Ya gak pesen cuman ngomong, gak tau kalo mau gak ada. Anak-anak nanti biar sekolahnya selesai”(207-214)
“Makanya ibu gak mau misalnya punya suami lagi nanti takutnya gak kayak bapak” (587-589)
d. Aspek Harapan
T juga memiliki harapan untuk diri dan anak-anak. T berharap
agar semua anak dapat menyelesaikan kuliah dan memiliki masa depan
yang cerah. T juga berharap diberi kesehatan sehingga dapat mengasuh
anak-anak hingga dewasa.
“Yang penting adeknya berdua ini bisa selese kuliah, itu aja. Ibu mengharapkan itu, biar besok berguna mbak kalo udah selese.. seperti kakaknya, itu aja”(475-479)
“Selese kuliah biar bisa kerja biar buat masa depannya anak-anak” (541-543)
“Semoga diberi kesehatan. Ibu uda ikhlas, dalem hati pengennya ibu sama anak-anak aja, anak-anak biar selese sekolahnya nanti bisa kerja” (1086-1089)
2.
Subjek 2
a. Deskripsi subjek
Subjek kedua dalam penelitian ini berinisial E. E berusia 52 tahun dan
telah menjadi janda selama 12 tahun. E menikah pada tahun 1990 dan suami
meninggal pada tahun 2000. Usia pernikahan E dengan suami saat itu adalah
sepuluh tahun. E berperawakan tinggi, kurus dan masih cantik di usianya
yang menginjak setengah abad. E orang yang senang bercerita sehingga
sifatnya yang terbuka dalam bercerita memudahkan ia untuk dekat dengan
orang lain. E juga orang yang periang, ramah dan menyenangkan ketika
diajak mengobrol.
E tinggal dengan ketiga anak perempuannya. Yang pertama berusia 20
tahun dan duduk di perguruan tinggi swasta, anak kedua berusia 18 tahun
dan duduk di kelas XII SMA, sedangkan anak terakhir berusia 16 tahun dan
duduk di kelas X SMA. E adalah seorang ibu rumah tangga dan memiliki
usaha salon dan kost-kostan. Usaha yang dijalaninya ini dapat membantu
biaya hidup sehari-hari. Walaupun E mendapatkan bantuan biaya dari
keluarga besarnya, ia tetap harus berjuang sendiri mencari nafkah untuk
keluarga.
Suami E meninggal karena sakit gagal ginjal yang diderita sejak muda.
E sudah mengetahui penyakit batu ginjal yang di derita suaminya sejak
mereka pacaran sehingga E nampak lebih siap ketika suaminya meninggal.
E tabah menjalani kehidupannya sebagai seorang janda. E sudah
pasrah pada Tuhan dengan keadaannya sekarang. E juga menjalani masa
sulit sepeninggal suaminya. E mengatakan bahwa ia dapat pulih dan
menjalani aktifitasnya seperti biasa setelah satu tahun sepeninggal suaminya.
E juga merasa minder dengan status janda yang disandangnya tetapi E
mampu beradaptasi dengan baik dan bangkit kembali menjalani hidup demi
diri dan masa depan anak-anak.
b. Struktur Dasar Pengalaman
1. Keadaan saat suami meninggal
a. Aspek Afektif
Saat suami meninggal, E telah mempunyai pengetahuan
tentang sakit yang diderita suami. Suami E menderita sakit batu ginjal
sejak muda.
“Tante tau dari pacaran dulu udah punya, uda sakit terus sampe punya anak satu itu keluar masuk rumah sakit, anak kedua juga gitu sampe anak ketiga sampe akhirnya terus dia kerja diluar jawa, di Bengkulu ” (9-14)
“Saya sudah siap mental soalnya saya sebelumnya udah dikasih tau dokternya. Bapak ini sudah gak lama lagi tinggal menghitung hari. Pokoknya ibu harus ikhlas”(841-845)
Saat suami meninggal, E merasa sedih, bingung dan belum
ikhlas.
“Temen-temennya kesini. Saya gak ngabarin kantor, uda gak kepikiran. Mikir anak kecil-kecil trus suami meninggal”
(98-101)
“Ya sedih ya bingung karena kan gak punya pensiun” (142-143)
“Dari hari pertama sejak suami meninggal, selalu ke makam papanya sampe hari ke 40. Padahal makamnya jauh, di Sanden situ. Jaraknya 30 kilo dari sini. Ya tiap ke makam ya nangis itu kita, belom ikhlas lah”(811-817)
Dengan status baru yang di sandang E yaitu sebagai seorang
janda, E mengalami rasa minder dengan status jandanya ketika mulai
bergaul di lingkungan.
“Temen-temen suaminya belum meninggal. Kakak-kakak ku suaminya pada belom meninggal kok aku meninggal sendiri”(649-652)
“Ada undangan gitu di RT, kalo sarimbit gitu among tamu, aku gak sendiri kan gak ada suaminya. Jadi kayak kecil hati gitutetangga bilang maap ya, ibu kan gak ada suami tar kalo aku pasangin sama yang lain takut jadi heboh, jadi ibu tamu aja. Jadi rasanya kok kayak aku dikucilkan gitu ya” (688- 695)
b. Aspek Kognitif
E hanya fokus memikirkan anak-anak yang masih kecil dan
bagaimana caranya mendapatkan biaya hidup.
“Besarkan anak-anak terus saya dapet duit darimana” (267-268)
c. Aspek Perilaku
E mulai menarik diri dari lingkungan karena rasa berduka atas
kehilangan suami yang dirasakan masih belum hilang. E juga masih
perlu beradaptasi dengan status barunya sebagai janda. E
membutuhkan waktu satu tahun agar dapat kembali pulih beraktifitas
seperti biasanya.
“Dulu saya masih gak mau arisan pas suami baru meninggal sampe 100 hari suami saya, malah lebih. Terus tetangga pada tanya kenapa, trus pada kasih dukungan, menghibur trus” (698-702)
“Ya males aja ngapa-ngapain, masih keingetan. Gak bisa senyum mbak dulu waktu ditinggal suami. Murung kayak ada beban” (733-736)
“Satu tahunan baru bisa normal lagi. Ya susahnya gini, apa- apa sendiri”(686-687)
“Iya di rumah aja gak keluar-keluar, males ikutan kegiatan RT gitu” (808-809)
d. Aspek Harapan
E tetap memiliki harapan agar tetap kuat dan agar cepat
bangkit dari kesedihan.
“Ya pokoknya saya tuh harus kuat, harus bangkit karena anak-anak” (411-412)
Tetapi E dapat bangkit dari kesedihannya karena ia mendapatkan
dukungan sosial yang besar dari lingkungan. Dukungan yang didapat
berupa dukungan moril dari teman, tetangga dan keluarga. E juga
mendapat dukungan keuangan dari keluarga besar untuk biaya sekolah
dan kesehatan anak-anak. Dukungan dari lingkungan yang didapat E
menjadi motivasi untuk bangkit dan meneruskan hidup demi diri dan
ketiga anak-anaknya. E tetap harus berjuang menghidupi anak-
anaknya. E akan melakukan apapun untuk menghidupi keluarganya. E
harus bertahan hidup tanpa suami demi anak-anak.
“Mereka malah support saya sama anak-anak terus kan uda tau to kalo suami sering sakit. Jadi pas suami meninggal itu malah pada kasih semangat, dukungan”(255-259)
“Terus anak saya bilang kata bude gak papa eyang soalnya daripada mama ngelangut dirumah suruh buka salon sama bude, yang modalin bude”(294-297)
“Yang memberi dukungan ya keluarga, kamu harus tetep hidup bagaimanapun juga, 3 anak tuh tergantung dari kamu, perlu bimbingan kamu kalo kamu ngelokro, kamu sakit yo kasian anak-anak mu. Tunjukkan kamu bisa besarin anak- anak mu sendirian” (412-419)
“Kakak-kakak saya bilangnya misal kamu berjodoh ya tetep saya nikahkan, manusia itu kan berpasang-pasangan untuk hari tua mu. Udah anak-anak ditinggal disini, mengelola kost-kostan untuk anak-anak mu, kamu ya ikut suami mu” (431-437)
“Iya sampe sekarang pun ini dari budenya masih. Anak saya yang nomer 2 ya dari buku, uang saku ya dari budenya yang di Semarang itu. Kalo anak saya yang pertama dari budenya yang di Jakarta. Kalo anak yang kecil dari budenya yang sekarang lagi sakit itu” (474-481)
“Senengnya pas ada suami apa-apa tinggal ngomong, ada tempat curhat kalo sekarang curhatnya sama anak-anak tiga
itu” (485-487)
“Ya ada. Kalo dulu kan pontang panting sana sini. Kalo sekarang kan kakak-kakak saya tau, hidup sendirian. Itu motor anak saya dibelikan. Dari handphone, laptop itu dibelikan. Saya gak pernah belikan, kakak tau kondisi saya. Kalo makan, untuk hari-hari saya sendiri”(571-576)
“Kakak saya tuh ya kalo untuk biaya kesehatan, pendidikan dia nomer satu. Ngirim duit ke saya itu ya hanya untuk kepentingan anak-anak” (620-623)
“Dulu saya masih gak mau arisan pas suami baru meninggal sampe 100 hari suami saya, malah lebih. Terus tetangga pada tanya kenapa, trus pada kasih dukungan, menghibur trus” (698-702)
“Trus temen-temen kasih spirit lah. Mereka bilang ya namanya orang hidup itu mesti mati. Jodoh ketemu pacaran menikah punya anak meninggal itu udah wajar. Ya itu tahapannya udah begitu kalo kamu nglokro, kasian anak- anak”(711-717)
2. Keadaan setelah suami meninggal
a. Aspek Afektif
Setelah mengalami kesedihan dan tidak melakukan aktifitas
seperti biasa, E lama kelamaan mulai merelakan kepergian suaminya.
“Raganya udah gak kuat. Ya makanya itu kita harus mengikhlaskan ya jalan yang terbaik. Kalo memang harus diambil ya diambil, kalo diberi kesehatan ya biar” (834-838)
b. Aspek Kognitif
E sekarang hanya fokus untuk memikirkan anak-anak, mencari
biaya hidup untuk keluarga dan mengamati perkembangan anak-anak.
“Sekarang ya itu besarkan anak-anak, cari duit untuk dia, udah. Ngawasin dia, nungguin perkembangannya dia”(538- 540)
E masih sering mengingat kenangan bersama suami dan anak-
anak sewaktu hidup.
“Orang bangun rumah ini juga saya gak setuju, kan lagi sakit to. Pokoknya gak usah ya tapi tetep bangun. Ya kalo kamu gak mau, aku nggawe nggo anak-anak” (160-164)
“Ya suami saya itu keras, tapi dia tuh penyabar, penyayang. Selama saya pacaran gak pernah berantem besar, kayak ada orang lain, dia apa saya tuh gak pernah ada orang lain” (350-354)
“Kalo maen-maen paling ke kids fun, kan dulu masih baru- barunya, taman pintar belum ada. Terus ke Pura wisata tempat rekreasi anak-anak, inget saya tu itu terus bonbin. Tiap anaknya minta pergi tu sering ngajak kesitu ato gak makan kemana. Dulu waktu toko Ramai pertama kali yang belom ada mall, ada mainan yang diatas situ. Ya cuma main- main kesitu”(385-394)
c. Aspek Perilaku
Banyak hal yang berubah saat E menjadi janda sekarang karena
E terbiasa mendapatkan biaya hidup sehari-hari dari suami tetapi
sekarang E harus mencari nafkah sendiri. E juga mulai bangkit karena
teringat akan masa depan anak-anaknya. Bekerja menjadi sarana untuk
menghilangkan kesedihan yang sedang dirasakan E. Tetapi saat mulai
bangkit dari kesedihan dan berjuang demi hidupnya, banyak cobaan
yang harus dihadapi oleh E. Mulai dari pandangan negatif dari
lingkungan tentang statusnya sebagai janda hingga penolakan mertua
dengan usaha yang dimiliki E.
“Saya ambil baju di rumah temen-temen tak jualin sampe saya jual sembako. Dulu ada mobil ditinggal, pajak juga berat bayarnya, tak jual bikin kios sembako itu warung. Bertahan dua tahun itu warung” (276-281)
“Akirnya dimodali kakak saya. Dibelikan kaca, kursi, apa- apa semua kakak saya yang beliin. Saya buka salon ini 2003”(285-288)
“Mertua saya gak boleh buka salon. Saya janda nanti ibaratnya orang datang laki-laki, goda-goda, kan kolot toh mertua” (288-291)
“Ya susah biasanya dulu dapet dari suami sekarang mikir sendiri to” (321-323)
“Ya salon jadi hiburan karna aku seneng dandanin orang, seneng potong jadi tersalurkan”(655-657)
“Iya cari kesibukan aja, kerja buat ngilangin sedih sekalian cari duit sambil bisnis baju itu. Dulu saya masih belom bisa juga bonding trus temen ngajakin ikut seminar” (663-667)
“Ya orang tu lain-lain ya. Dulu ada tetangga yang bilang, halah paling ra kacek setaun wes nikah meneh wong konco- konco ne okeh” (741-744)
Setelah menjadi janda, E memutuskan untuk tidak menikah lagi
karena bermacam faktor. Sebelum suami E meninggal, ia pernah
berpesan agar E tidak menikah lagi. Selain itu, mertua dan anak-anak
E tidak mengijinkan jika E menikah kembali. E menjadi takut untuk
menikah lagi setelah suami meninggal.
“Dia bilang gini, ya syukur kalo kamu gak nikah lagi, titip anak-anak. Tapi kalo kamu nikah lagi boleh kok, wong kamu masih muda tapi kamu sama suami mu gak boleh tinggal disini, gitu dia bilangnya. Saya disuruh pergi kalo nikah lagi dengan catatan anak-anak gak boleh dibawa”(208-216)
“Kakak saya berusaha jodoh-jodohkan berkali-kali, temen- temen saya juga, tapi gak boleh sama anak-anak saya. Yaudah, saya beratnya di anak-anak. Misalnya saya nikah, saya suruh ninggal anak-anak ya gak tega perempuan semua. Ya saya harus berkorban demi anak-anak saya. Tetep single parent sampe sekarang” (235-244)
“Iya gak boleh, aku gak mau papa ku di duakan”(341- 342)
“Ibaratnya itu tadi kalo orang Jawa kan, ah keenakan laki- lakinya, uda punya rumah, kalo emang mau nikah lagi ya pergi dari rumah sini. Jadi gak boleh tinggal disini” (427- 431)
“Anak-anak tuh bilangnya aku gak mau tinggal sama mama aku mau tetep disini. Lha masih kecil-kecil udah nangis dulu itu kalo budenya kesini suruh aku nikah lagi. Anak-anak saya gak mau. Yaudah akirnya saya putuskan gak nikah lagi”(438-444)
Sekarang E tetap menjadi orang tua tunggal bagi tiga anak
perempuannya. E menjalani hidup seperti biasanya dan telah menerima
dan beradaptasi dengan status jandanya.
“Ya udah biasa sekarang, dulunya kan abot ya tapi lama- lama gak”(497-498)
“Iya ada yang suka ada yang gak. Tapi saya tuh gak ngurus, yang penting saya gak merugikan orang lain. Tingkah laku saya di RT, di kampung sini ya umumnya orang” (757-761)
“Pokoknya sekarang saya mikir maju lah gak mikir mundur. Saya mandang positif lah. Itu udah garis saya jadi janda. Kalo misal saya pergi sama temen-temen trus mereka pada bawa suami, ya saya gak papa. Tadinya kan saya agak gimana gitu, saya sendiri yang gak bawa suami tapi itu udah garis hidup saya” (783-791)
d. Aspek Harapan
E memiliki harapan untuk masa depan anak-anaknya agar semua
anak dapat menyelesaikan kuliahnya. E sudah dapat bangkit dan
menatap masa depan. E berharap agar selalu di beri kesehatan dan
dapat mengasuh anak-anak. E juga berharap dapat hidup normal
seperti orang pada umumnya.
“Saya juga minta dikasih kesehatan lah untuk bisa besarkan anak-anak saya sampe besok tiga-tiganya bisa berumah tangga, sampe saya tua. Saya pengen nungguin anak-anak” (504-509)
“Ke depannya saya ya pengen hidup normal, maksudnya tercukupi makan, bisa nyekolahkan anak, bisa biayain anak, ya lumrahnya orangtua lah, ya mengawinkan anak” (775- 779)
“Kepinginnya saya tiga-tiganya bisa kuliah seperti pesan papanya. Papanya bilang biar gimana pun juga anak-anak harus kuliah sampe selesai” (563-566)