BAB IV METODE PENELITIAN
5.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian
Kota Bogor terletak antara 106 0 43’30’’ sampai dengan 106 0 30’30’’ Lintang Selatan, dengan ketinggian tempat antara 190330 meter dari permukaan laut.
Suhu udara ratarata berkisar antara 26 0 C dengan suhu suhu udara terendah 21,8 0 C dan tertinggi 30,4 0 C serta kelembaban udara kurang lebih 70 persen.
Curah hujan Kota Bogor terbesar mencapai 3.500 sampai 4.000 mm pertahun yang puncaknya terjadi pada bulan Desember dan Januari. Secara geografis Kota Bogor terletak ditengahtengah wilayah Kabupaten Bogor dengan batasbatas wilayah sebagai berikut : sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kemang, Kecamatan Bojong Gede dan Kecamatan Sukaraja (Kabupaten Bogor), sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin (Kabupaten Bogor), sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi (Kabupaten Bogor) sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ciomas dan Kecamatan Dramaga (Kabupaten Bogor).
Luas wilayah Kota Bogor adalah 11.850 hektar. Secara administratif, Kota Bogor terbagi menjadi enam kecamatan yaitu Kecamatan Bogor Selatan, Kecamatan Bogor Utara, Kecamatan Bogor Timur, Kecamatan Bogor Barat, Kecamatan Bogor Tengah Dan Kecamatan Tanah Sereal. Secara keseluruhan meliputi 68 kelurahan, 210 dusun, 623 RW, dan 2.712 RT.
Kedudukan geografis Kota Bogor yang berada ditengahtengah wilayah Kabupaten Bogor sehingga sangat strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan
ekonomi dan jasa, pusat kegiatan nasional untuk industri, perdagangan, transportasi, komunikasi dan pariwisata. Hal ini yang dijadikan bagi para pebisnis untuk mejadikan Kota Bogor sebagai tempat untuk melakukan transaksi bisnis.
Kelurahan Tegallega merupakan daerah yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Bogor Tengah dengan luas wilayahnya sekitar 162,35 hektar.
Kelurahan Tegallega terdiri dari 9 RW dan 51 RT. Adapun batasbatas wilayahnya sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kelurahan Tegal Gundil
Sebelah Selatan : Kelurahan Paledang dan Kelurahan Babakan Sebelah Timur : Kelurahan Baranang Siang
Sebelah Barat : Kelurahan Tanah Baru.
5.2 Keadaan Lokasi Pedagang Sayur Keliling
Pedagang sayur keliling mulai aktivitasnya dengan membeli sayuran di Pasar Bogor pada pukul 04.30 WIB. Setelah selesai berbelanja para pedagang sayur keliling melakukan proses pengemasan di sepanjang jalan Rumah Sakit II (samping kampus IPB Baranang Siang). Proses pengemasan berlangsung sampai pukul 07.00 WIB, kemudian sebagian pedagang sayur keliling mulai mendatangi konsumen dari Babakan Fakultas sampai Tegal Mangga dan sebagian lainnya mulai berjualan dari jalan Malabar sampai ke Cilebende.
Lokasi yang dilalui oleh pedagang sayur keliling melewati ganggang rumah yang kecil dengan kontur tanah yang tidak beraturan. Ratarata pedagang sayur keliling menempuh perjalanan sejauh 10 sampai 15 kilometer melalui rute pulang yang sama atau jalan pintas menuju jalan Ciwaluya.
5.3 Karakteristik Pedagang Sayur Keliling
Pedagang sayur keliling yang menjadi responden berasal dari Desa Cugenang Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah. Berdasarkan informasi yang diperoleh pedagang sayur keliling merantau karena penghidupan di pedesaan yang sangat sulit disamping itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga di kampung.
Para pedagang sayur keliling, sebelumnya merupakan buruh tani yang bekerja di tempat asalnya. Atas ajakan dari saudara atau teman yang lebih dahulu menggantung hidup dari berjualan sayuran maka semakin lama penjual sayur keliling dari waktu ke waktu semakin banyak. Pekerjaan berdagang sayur keliling dilakukan karena perkembangan perumahan dan pertumbuhan penduduk di sekitar kelurahan Tegallega yang pesat sehingga menimbulkan kebutuhan sayuran dan kebutuhan dapur semakin meningkat.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pedagang sayur keliling diketahui bahwa karakteristik dapat dilihat dari segi kelompok umur, tingkat pendidikan dan lama mengeluti usaha, modal dan banyaknya jenis sayuran yang dijual.
5.3.1 Umur
Kinerja seseorang dipengaruhi oleh faktor umur. Umur yang produktif tentu akan memberikan kemudahan dalam memasarkan sayuran. Bila umur pedagang sayur keliling yang semakin tua tentu akan berdampak terhadap berapa banyak jumlah yang mampu dibawa untuk berjualan. Dari hasil wawancara terhadap 14 orang pedagang sayur keliling, pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa pedagang sayur keliling sebesar 4 orang berkisar pada umur 41 – 45 tahun (28,6 %). Sedangkan umur 30 – 35 tahun berjumlah sebesar 2 orang (14,3 %) dan umur 46 – 50 tahun
sebanyak 2 orang (14,3 %). Fakta ini menunjukkan bahwa pedagang sayur keliling bekerja pada umur produktif.
Tabel 2. Sebaran Umur Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008
Umur Jumlah pedagang Persentase (%)
a. 30 – 35 tahun b. 36 – 40 tahun
Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap cara memasarkan produk.
Semakin tinggi pendidikan seseorang akan memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi berbelanja di pasar atau menjual produk langsung ke konsumen. Berdasarkan hasil wawancara pada 14 orang pedagang sayur keliling pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan pedagang sayur keliling terbesar tidak tamat SD sebanyak 6 orang (42,9 %) dan terendah sebanyak 3 orang (21,4 %). Responden tidak tamat SD karena kemampuan ekonomi yang kurang mendukung sehingga tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Tabel 3. Sebaran Tingkat Pendidikan Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008
Tingkat Pendidikan Jumlah pedagang Persentase (%) a. Tidak tamat SD dan kecepatan memperoleh informasi pasar. Semakin lama seseorang berjualan tentunya telah banyak pelanggan yang berlangganan di pedagang sayur tersebut.
Kemudahan dalam mendapatkan kualitas sayuran yang dijual juga akan semakin mudah karena para pedagang sayur telah memiliki pedagang pengumpul di pasar Bogor. Keakraban ini yang dimanfaatkan oleh pedagang sayur yang telah lama melakukan usaha berdagang sayur karena pengalaman berjualan sayuran yang telah mencapai di atas 20 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, 9 orang pedagang mempunyai pengalaman berdagang antara 21 – 25 tahun (64,9 %). Pengalaman berdagang 10 – 15 tahun (Tabel 4) berjumlah 2 orang (14,3 %).
Tabel 4. Sebaran Pengalaman Berdagang Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008
Pengalaman Berdagang Jumlah pedagang Persentase (%) a. 10 – 15 tahun
b. 16 – 20 tahun
Modal yang digunakan akan menentukan seberapa banyak jenis sayuran yang akan dijual. Berdasarkan Tabel 5, pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega memiliki modal yang beragam. Keberagaman modal ini disebabkan karena masingmasing pedagang sayur keliling tidak ada yang melakukan peminjaman modal melalui bank karena akses peminjaman yang terlalu rumit disamping jaminan yang dimiliki oleh pedagang sayur tidak ada. Pedagang yang memiliki modal antara Rp 446.652 Rp 560.777 sebanyak 8 orang (57,1 %) dan modal terendah berkisar antara Rp 560.778 – Rp 674.904 hanya 1 orang atau 7,1 persen. Umumnya pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega ini hanya mengandalkan modal yang dibawa dari kampung dan ada juga yang meminjam kepada teman atau saudara yang lebih dahulu berjualan. Biasanya dicicil setiap
hari dari keuntungan yang mereka peroleh setelah dikeluarkan untuk biaya membeli sayuran dan biaya yang dibutuhkan setiap harinya.
Tabel 5. Sebaran Modal Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008 Modal Jumlah pedagang Persentase (%) a. Rp 218.400, Rp 332.525,
b. Rp 332.526, Rp 446.651,
c. Rp 446.652, Rp 560.777,
d. Rp 560.778, Rp 674.904,
2
Semakin banyak jenis sayuran yang dijual maka akan membuat pelanggan semakin banyak karena produk yang dijual lebih beragam. Salah satu yang menjadikan banyaknya jumlah sayuran yang dijual oleh pedagang sayur keliling adalah memanfaatkan jumlah penduduk yang padat. Perumahan Baranang Siang IV merupakan salah satu perumahan elit yang terletak di Kelurahan Tegallega.
Sehingga pedagang sayur keliling yang berjualan di wilayah tiga memanfaatkan kondisi ini untuk menjual lebih banyak sayuran. Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa pedagang sayur keliling yang menjual jenis sayuran sebanyak 46 – 56 jenis sebanyak 8 orang atau 57,1 persen. Banyaknya jenis sayuran yang dijual juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat ditempat pedagang sayur keliling berjualan.
Tabel 6. Sebaran Banyaknya Jenis Sayuran yang dijual Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008
Banyaknya jenis sayuran yang dijual Jumlah pedagang Persentase (%) a. 35 – 45 jenis
BAB VI
ANALISIS PENDAPATAN
6.1 Analisis Usaha Pedagang Sayur Keliling
Analisis yang dilaksanakan pada pedagang sayur keliling ini dilakukan pada 14 orang pedagang berdasarkan wilayah penjualan. Pada penelitian ini, analisis usaha pedagang dibagi menjadi empat wilayah yaitu wilayah satu ada 4 orang pedagang yang memulai aktivitasnya dari Jalan Rumah Sakit sampai Jalan Malabar, wilayah dua ada 4 orang pedagang, mereka berjualan di Babakan Fakultas sampai Tegal Mangga, wilayah tiga terdapat 3 orang pedagang yang menjajakan dagangannya di perumahan Baranang Siang III, dan wilayah empat disekitar perbatasan Tegallega dan Cimahpar ada 3 orang pedagang sayur keliling.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui berapa banyak sayuran yang terjual terhadap pendapatan pedagang sayur keliling, biaya yang dikeluarkan dan R/C rasio.
Pendapatan merupakan selisih antara total penjualan dengan total biaya yang dikeluarkan. Pendapatan pedagang sayur keliling dapat dilihat dari dua hal yaitu : (1) pendapatan atas biaya yang tidak dikeluarkan namun diperhitungkan sebagai biaya (biaya diperhitungkan), (2) pendapatan atas biaya total yaitu penjumlahan dari biaya variabel dan biaya tetap.
Cara menghitung pendapatan pedagang sayur keliling yaitu dengan cara menghitung semua penerimaan yang berasal dari penjualan sayuran yang laku terjual dan resiko yang tidak terjual pada saat hari berjualan. Setelah itu dikurangi dengan semua pengeluaran, baik yang tunai maupun yang diperhitungkan.
6.2 Analisis Biaya Pedagang Sayur Keliling
Pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega mengeluarkan biaya untuk pembelian sayuran, pengemasan, sewa gerobak , konsumsi, resiko tidak laku, penyusutan alat dan biaya tenaga kerja. Berdasarkan Tabel 7. dapat diketahui bahwa biaya variabel terbesar dikeluarkan oleh pedagang sayur di wilayah 3 yaitu sebesar Rp 530.150,00 dengan biaya pembelian sayuran senillai Rp 521.150,00 dan biaya pengemasan Rp 9.000,00. Sedangkan biaya terendah terdapat pada wilayah empat yaitu sebesar Rp 397.983,33 dengan biaya pembelian sayuran sebesar Rp 389.483,33 dan biaya untuk pengemasan sebesar Rp 8.500,00. Hal yang menyebabkan terjadi perbedaan biaya variabel terletak pada jumlah sayuran yang dibeli oleh masingmasing pedagang di wilayah tempat mereka berjualan.
Wilayah tiga merupakan salah satu perumahan elit di Kelurahan Tegallega sehingga pedagang sayur memanfaatkan kondisi ini untuk menjual sayuran dengan jenis yang lebih banyak bila dibandingkan dengan wilayah empat.
Pedagang sayur di wilayah empat menjual jenis sayurannya lebih sedikit karena pemukiman peduduk yang kurang padat sehingga daya beli konsumen yang sangat rendah. Biaya pembelian sayuaran dapat dilihat pada Lampiran 1.
Wilayah dua merupakan wilayah dengan kontur tanah yang tidak rata sehingga biaya konsumsi yang dikeluarkan lebih besar daripada ketiga wilayah yang lain karena permukaan jalan yang dilalui lebih rata. Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pedagang sayur diwilayah tiga sebesar Rp 7.000,00. Untuk biaya sewa gerobak yang dikeluarkan oleh pedagang sayur di Kelurahan Tegallega sama, hal ini disebabkan karena pedagang sayur menyewa
gerobak pada satu orang, yaitu sebesar Rp 1.500,00. Sewa gerobak langsung dibayar setalah para pedagang sayur selesai berjualan.
Tabel 7. Biaya Variabel, Biaya tetap, Biaya Diperhitungkan, Total Biaya dan Total Biaya Tunai (Rp/minggu)
No BiayaBiaya W1 W2 W3 W4
1 Biaya Variabel
Biaya Pembelian Sayuran 454.925,00 443.962,50 521.150,00 389.483,33 Biaya Pengemasan 12.000,00 10.500,00 9.000,00 8.500,00 Total Biaya Variabel 466.925,00 454.462,50 530.150,00 397.983,33 2 Biaya Tetap
Sewa Gerobak 1.500,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00
Konsumsi 6.000,00 7.000,00 6.000,00 6.500,00
Total Biaya Tetap 7.500,00 8.500,00 7.500,00 8.000,00 3 Biaya Diperhitungkan
Biaya Resiko Tidak Laku 9.662,50 9.525,00 12.416,67 8.533,33
Biaya Penyusutan Alat 62,06 67,82 72,15 75,60
Biaya Tenaga Kerja 29.108,00 29.108,00 29.108,00 29.108,00 Total Biaya Diperhitungkan 38.832,56 38.700,82 41.596,82 37.716,93 4 Total Biaya 513.257,56 501.663,32 579.246,82 443.700,26 5 Total Biaya Tunai 474.425,00 462.962,50 537.650,00 405.983,33
Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa biaya diperhitungkan lebih besar dikeluarkan oleh para pedagang sayur di wilayah tiga dengan rincian biaya : biaya resiko sayuran yang tidak laku sebesar Rp 12.416,67, biaya penyusutan alat Rp 72,15 dan biaya tenaga kerja Rp 29.108,00. Biaya resiko sayuran tidak laku lebih besar bila dibandingkan dengan tiga wilayah yang lain disebabkan karena jumlah sayuran yang dijual lebih beragam sehingga tingkat resiko untuk tidak terjual juga lebih tinggi. Sedangkan biaya tenaga kerja di Kelurahan Tegallega sama karena dihitung berdasarkan Upah Minimum Kota Bogor sebesar Rp 873.240,00 per bulan sehingga upah ratarata sebesar Rp 29.108,00.
Total biaya yang paling tinggi dikeluarkan oleh pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega terdapat pada wilayah tiga yaitu sebesar Rp 579.246,82 dan total biaya tunai sebesar Rp 537.650,00. Sedangkan total biaya paling rendah dikleuarkan oleh pedagang sayur di wilayah empat yaitu sebesar Rp 443.700,26 dan total biay tunai sebesar Rp 405.983,33.
6.3 Analisis Total Penjualan Pedagang Sayur Keliling
Informasi yang diperoleh dari para pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega bahwa sayuran yang dibeli dalam satuan kilogram, kemudian dibungkus kedalam plastik yang telah disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Hal ini yang disenangi oleh ibuibu rumah tangga berbelanja dari pedagang sayur keliling karena jumlah yang dibeli telah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan sehingga tidak perlu menyimpan sayuran bila bersisa atau dibuang begitu saja.
Total penjualan yang diterima oleh pedagang merupakan hasil dari jumlah sayuran yang dijual dikalikan dengan harga jual.
Komponen penjualan sayuran di Kelurahan Tegallega dikelompokkan berdasarkan wilayah penjualan. Berdasarkan dari perhitungan terlihat bahwa penjualan sayuran terbesar terdapat pada wilayah tiga dengan nilai penjualan sebesar Rp 620.716,67. Para pedagang sayur di wilayah tiga menjual sayuran antara 48 sampai 74 jenis sayuran. Sedangkan total penjualan terendah terdapat pada wilayah empat dengan total penjualan sebesar Rp 464.083,33 dengan 42 sampai 52 jenis sayuran. Pedagang sayur keliling di wilayah satu menjual jenis sayuran antara 40 sampai 60 jenis sayuran sehingga total penjualan yang diperoleh pedagang di wilayah tersebut Rp 549.560,00 (Tabel 8).
Wilayah tiga merupakan wilayah perumahan elit di Kelurahan Tegallega sehingga harga jual yang ditawarkan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah yang lain. Konsumen diwilayah tiga adalah masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan tinggi sehingga mengkonsumsi sayuran merupakan suatu keharusan karena kesehatan bagi penghuni perumahan elit adalah barang mahal.
Wilayah empat merupakan wilayah yang sedikit tingkat penjualan sayuran karena kepadatan penduduk yang sedikit. Disamping itu daya beli masyarakat yang rendah sehingga tingkat penjualan pedagang sayur keliling yang berjualan di wilayah ini juga rendah. Penjabaran secara rinci tentang unsurunsur dalam komponen total penjualan dapat dilihat pada lampiran 1.
Tabel 8. Wilayah dan Total Penjualan Pedagang Sayur Keliling di Kelurahan Tegallega (Rp/minggu)
No Wilayah Total Penjualan
1 W1 549.560,00
2 W2 535.275,00
3 W3 620.716,67
4 W4 464.083,33
6.3 Analisis Pendapatan Pedagang Sayur Keliling
Suatu usaha dikatakan menguntungkan bila selisih antara penerimaan dan pengeluaran bernilai positif. Selisih tersebut dinamakan pendapatan atas biaya tunai jika penerimaan totalnya dikurangkan dengan pengeluaran tunai, sedangkan apabila penerimaan totalnya dikurangkan dengan pengeluaran totalnya maka selisih tersebut dinamakan pendapatan atas biaya total. Perhitungan analisis pendapatan ini disajikan pada Tabel 9. Pendapatan atas biaya tunai merupakan pendapatan kotor usaha yaitu setelah penerimaan dikurangi dengan biaya tunai.
Besarnya pendapatan kotor ini adalah sebesar Rp 83.066,67 pada wilayah tiga sedangkan nilai terendah terdapat pada wilayah empat sebesar Rp 58.100,00.
Artinya setiap minggu pedagang sayur keliling di wilayah tiga akan memperoleh uang tunai sebesar Rp 83.066,67. sedangkan pedagang sayur keliling di wilayah empat akan menerima uang tunai sebesar Rp 58.100,00, karena bernilai positif maka usaha ini dapat dikatakan menguntungkan.
Pendapatan atas biaya total merupakan pendapatan bersih usaha berjualan sayuran setelah komponen penerimaan dikurangi dengan total biaya baik yang tunai maupun yang tidak tunai (diperhitungkan). Besarnya pendapatan bersih yang diterima oleh pedagang sayur keliling di wilayah tiga adalah Rp 41.469,85, sedangkan pendapatan bersih terendah terdapat di wilayah empat yaitu sebesar Rp 20.383,07. Pendapatan ini merupakan ukuran imbalan yang diperoleh pedagang sayur keliling dari penggunaan faktor tenaga kerja dan modal milik sendiri.
Salah satu cara mengukur efisiensi usaha pedagang sayur keliling ini adalah menghitung rasio antara penerimaan dan biaya. Jika total penerimaan dibandingkan dengan biaya tunai maka disebut sebagi R/C atas biaya tunai. Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai R/C atas biaya tunai pedagang sayur di Keruhan Tegallega tidak berbeda jauh. Hal ini disebabkan karena biaya tenaga kerja dimasukkan kedalam perhitungan. Nilai R/C atas biaya tunai tertinggi terdapat pada wilayah satu sebesar 1,158, artinya jika pedagang sayur keliling menambah biaya tunainya sebesar Rp 100,00 maka akan meningkatkan penerimaan sebesar Rp 115,80. Dengan demikian akan memperoleh tambahan pendapatan tunai sebesar Rp 11,58. Sedangkan nilai R/C rasio terkecil terdapat pada pedagang sayur keliling di wilayah empat yaitu sebesar 1,143. Artinya, jika pedagang sayur
keliling di wilayah empat menambah biaya tunainya sebesar Rp 100,00 maka akan meningkatkan penerimaan sebesar Rp 114,30. Sehingga tambahan pednapatan tunai pedagang sayur keliling di wilayah empat sebesar Rp 11,43.
Apabila total penerimaan dibandingkan dengan biaya total maka disebut R/C atas biaya total. Pedagang sayur keliling di wilayah tiga memiliki nilai R/C atas biaya total sebesar 1,072. Artinya pedagang sayur keliling di wilayah tiga dapat meningkatkan biaya total sebesar Rp 100,00 maka akan memperoleh tambahan penerimaan sebesar Rp 107,20 dengan demikian juga akan meningkatkan pendapatan total sebesar Rp 7,20. Sedangkan R/C rasio total terkecil terdapat pada wilayah empat adalah sebesar 1,046. Artinya pedagang sayur keliling diwilayah empat dapat meningkatkan biaya total sebesar Rp 100,00 maka akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 104,60 dengan demikian akan meningkatkan pendapatan total sebesar Rp 4,60. Karena perhitungan kedua rasio tersebut bernilai lebih dari satu maka dapat disimpulkan bahwa usaha yang dijalankan oleh pedagang sayur keliling ini menguntungkan sehingga usaha pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega masih dapat terus ditingkatkan.
Tabel 9. Pendapatan Tunai, Pendapatan Total, R/C Rasio Atas Biaya Tunai, R/C Rasio Atas Biaya Total (Rp/minggu)
No Pendapatan W1 W2 W3 W4
1 Pendapatan Tunai 75.135,00 72.312,50 83.066,67 58.100,00 2 Pendapatan Total 36.302,44 33.611,68 41.469,85 20.383,07 3 R/C Rasio Atas Biaya Tunai 1,158 1,156 1,154 1,143 4 R/C Rasio Atas Biaya Total 1,071 1,067 1,072 1,046
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Dari analisis total penjualan yang diperoleh dapat dilihat bahwa wilayah sangat berpengaruh terhadap tingkat penjualan sayuran yang dijajakan oleh pedagang sayur keliling. Wilayah tiga merupakan wilayah yang memiliki nilai penjualan tertinggi bila dibandingkan dengan tiga wilayah lainnya. Ratarata pedagang sayur keliling diwilayah tiga memperoleh total penjualan dalam satu minggu sebesar Rp 620.716,67. Hal ini disebabkan oleh daya beli masyarakat diperumahan Barang Siang IV yang sangat tinggi. Sedangkan total penjualan terendah berada pada wilayah empat, penyebabnya karena wilayah ini tidak memiliki kepadatan penduduk seperti di wilayah tiga serta tingkat daya beli masyarakat yang rendah. Pedagang sayur keliling diwilayah empat ratarata dalam satu minggu memperoleh total penjualan sebesar Rp 464.083,33.
Berdasarkan pendapatan tunai yang diperoleh oleh pedagang sayur di masingmasing wilayah terlihat bahwa pedagang sayur keliling di wilayah tiga memperoleh pendapatan tunai sebesar Rp 83.066,67 dengan pendapatan total sebesar Rp 41.469,85. Sedangkan pendapatan tunai terendah terdapat pada wilayah empat dengan nilai sebesar Rp 58.100,00 dan pendapatan total sebesar Rp 20.283,07. Pendapatan tunai dipengaruhi oleh biayabiaya yang diperhitungkan yang dikeluarkan oleh masingmasing pedagang sayur dimasing
masing wilayah berbeda.
Dari hasil analisis pendapatan pedagang sayur keliling yang diperoleh menunjukkan bahwa usaha pedagang sayur keliling dimasingmasing wilayah menguntungkan. Pedagang sayur keliling diwilayah tiga memiliki nila R/C rasio sebesar 1,072. Sedangkan nilai R/C rasio terendah terdapat pada wilayah empat yakni sebesar 1,046. Dari kedua nilai R/C rasio dapat diketahui bahwa usah pedagang sayur keliling menguntungkan karena nilai R/C rasio lebih dari satu.
Perbedaan R/C rasio antar wilayah tidak terlalu besar, hal ini disebabkan oleh biaya tenaga kerja dimasukkan kedalam analisis.
7.2 Saran
Saran yang dianjurkan oleh penulis kepada para pedagang di wilayah satu dan dua adalah sebaiknya para pedagang sayur menjual lebih banyak jenis sayuran karena memiliki kelebihan penduduk dibandingkan dengan wilayah yang lain.
Wilayah tiga hendaknya pedagang sayur lebih meningkatkan kualitas sayuran dengan cara mengemas sayuran lebih bagus dan kebersihan dagangan harus diperhatikan. Pedagang sayur diwilayah empat supaya lebih mendekatkan diri dengan konsumen agar pembeli lebih banyak lagi.
.
DAFTAR PUSTAKA
David, Fred. R. 2002. Manajemen Strategis. Edisi VII. Prehallindo. Jakarta.
Djaslim, S. 1991. UnsurUnsur Inti Pemasaran dan Manajemen Pemasaran. CV Mandar Maju. Bandung.
Jauch, L. R dan Glueck W. F. Manajemen Strategi dan Kebijakan Perusahaan.
Edisi II. Erlangga. Jakarta.
Kadarsan, Halimah W. 1995. Keuangan Pertanian dan Pembiayaan Perusahaan Agribisnis. PT. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta.
Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran. Edisi Bahasa Indonesia. Jilid 1.
Prehallindo. Jakarta.
Lipsey, R. G., P. N. Courant, D. D. Purvis dan P. O. Steiner. 1995. Pengantar Mikroekonomi. Terjemahan. Binarupa Aksara. Jakarta.
Lubis, Muhammad Rayo. 2000. Strategi Hidup Pedagang Sayur yang Bekerja di Sektor Informal (Kasus pada Pedagang Sayur di Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kotamadya Bogor, Jawa Barat). Skripsi.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Murtadlo, Nurasiah Al. 2007. Pengaruh Modal dan Lokasi Terhadap Pendapatan Pedagang Kaki Lima Pakaian Jadi di Pasar Anyar Kota Bogor. Skripsi.
Fakultas Ekonomi dan Masyarakat. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nauly, D. 1999. Kajian FaktorFaktor yang Mempengaruhi Pendapatan Pedagang Sayur Keliling di Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang. Skripsi.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Saragih, Bungaran. 2001. Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Pustaka Wirausaha Muda. Bogor
Simanjuntak, Donny. Pola Migrasi dan Kepemimpinan Informal dalam Kelompok Migran Pedagang Sayur di Perkotaan (Kasus pada Pedagang Sayur di Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kotamadya Bogor, Jawa Barat). Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Syaukat, Yusman dan Sutara Hendrakusumaatmadja. 2004. Pengembangan Ekonomi Berbasis Lokal. Jurusan Ilmuilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sumarti, Titik dan Yusman Syaukat dan Mu’man Nuryana. 2003. Ekonomi Lokal.
Jurusan Ilmuilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
L A M P I R A N
Lampiran 1. Jenis Biaya Pedagang Sayur Keliling di Kelurahan Tegallega Kota Bogor (Rp/minggu)
No Jenis Biaya W1 W2
P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8
1 Total Penerimaan 438000 599450 643450 606950 650450 650450 637450 817950
1 Total Penerimaan 438000 599450 643450 606950 650450 650450 637450 817950