• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

RIWAYAT HIDUP

2 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

Geografis dan Topografis

.

Kota Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh memiliki posisi yang sangat strategis karena terletak di penghujung sebelah Barat wilayah Republik Indonesia yang berbatasan dengan Negara-Negara Asia Selatan, dikelilingi oleh Selat Malaka dan Samudra Hindia yang memiliki potensi sumberdaya perikanan yang sangat tinggi. Secara geografis Desa Lampulo kecamatan Kuta Alam berada pada batas astronomis 050 34’ 45’ LU – 950 19’ 30’ BT (DKP Provinsi Aceh 2012).

Secara Topografi, Kondisi iklim di wilayah Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo merupakan daratan rendah, dengan keadaan jenis tanah Aluvial dan dasar perairan berlumpur atau bisa dikatakan daerah rawa-rawa. Selain itu kondisi Lampulo tidak terlepas dengan wilayah lain dalam kota Banda Aceh, yang mana pada umumnya merupakan daerah tropis dan sebagian besar dipengaruhi oleh iklim laut. Adapun batas-batas wilayah Kota Banda Aceh sebagai berikut:

1) Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka,

2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar, 3) Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar, 4) Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.

5

Gambar 2.1 Peta daerah penelitian

Nelayan di PPP Lampulo

Nelayan di Lampulo pada umumnya merupakan penduduk asli yang berasal dan menetap di Lampulo. Nelayan musiman banyak berasal dari daerah sekitar Lampulo yaitu Kabupaten Aceh Jaya, dan Aceh Timur yang melakukan migrasi musiman ke Lampulo untuk mencari ikan karena di daerah perairannya sendiri sedang tidak ada atau kurang tersedia sumber daya ikan. Armada penangkapan ikan di PPP Lampulo umumnya menggunakan alat tangkap pukat cincin. Nelayan dibagi atas beberapa kategori yaitu:

1) Nelayan penuh adalah nelayan yang seluruh waktunya digunakan untuk bekerja menangkap ikan;

2) Nelayan sambilan utama adalah nelayan yang pekerjaan utamanya digunakan untuk menangkap ikan, namun hanya setengah hari, sebagian waktu lainnya digunakan untuk bekerja yang lain; dan

3) Nelayan sambilan tambahan adalah nelayan yang pekerjaan sampingannya digunakan untuk menangkap ikan, namun hanya setengah hari, sebagian waktu lainnya digunakan untuk melakukan pekerjaan utama.

Nelayan di PPP Lampulo sebagian besar atau sekitar 80% termasuk kategori nelayan penuh. Nelayan yang termasuk nelayan sambilan utama atau sambilan tambahan biasanya mempunyai pekerjaan lain sebagai tukang becak atau pedagang ikan. Jumlah nelayan di Lampulo tidak diketahui secara pasti dikarenakan oleh pihak pelabuhan di lapangan tidak memperbaharui jumlah nelayan yang ada atau jumlah nelayan di Banda Aceh yang tidak bertambah juga bisa dikarenakan sistem pendataaan yang kurang baik oleh pihak pengelola pelabuhan.

6

Alat penangkapan ikan

Alat tangkap merupakan suatu alat yang digunakan untuk menangkap jenis ikan yang sesuai dengan tingkah laku ikan. Pukat cincin umumnya digunakan untuk menangkap jenis ikan pelagis seperti cakalang, tuna, tongkol dan beberapa jenis ikan pelagis lainnya. Alat penangkapan ikan yang digunakan nelayan di Lampulo ada tiga jenis yaitu pukat cincin, pancing ulur, dan pancing rawai. Jenis alat tangkap yang paling dominan digunakan adalah pukat cincin, disebabkan banyaknya nelayan pancing ulur dan pancing rawai yang beralih mengganti alat tangkapnya menjadi pukat cincin karena lebih menguntungkan dari sisi finansial. Perkembangan jumlah alat tangkap menurut jenisnya di PPP Lampulo tahun 2007 sampai 2011 dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Perkembangan alat tangkap dominan di Lampulo tahun 2007-2011 Tahun Pukat cincin Pancing ulur Rawai tetap Jumlah

2007 97 31 0 130

2008 90 35 0 125

2009 101 47 6 154

2010 110 57 20 187

2011 115 55 40 210

Sumber: UPTD PPP Lampulo (2012).

Kapal perikanan di PPP Lampulo

Kapal di PPP Lampulo dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu kapal motor, perahu motor tempel, dan perahu tanpa motor. Kapal yang memiliki ukuran <10 GT merupakan kapal yang digunakan untuk mengoperasikan pancing ulur. Kapal 10 GT hingga 30 GT kebanyakan digunakan untuk mengoperasikan pancing rawai dan pukat cincin trip harian. Kapal dengan ukuran >30 GT digunakan untuk mengoperasikan pukat cincin trip mingguan. Perkembangan kapal 5-60 GT mengalami pertumbuhan signifikan pada tahun 2007 sampai 2011. Perkembangan jumlah armada menurut jenisnya di PPP Lampulo tahun 2007 sampai 2011 dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Perkembangan armada menurut klasifikasi di Kota Banda Aceh

Jenis Kapal Tahun

2007 2008 2009 2010 2011

Perahu tanpa motor 3 3 3 3 3 Motor tempel 14 14 65 65 65

Kapal motor 5–60 GT 130 130 306 310 355

Total 147 147 374 378 423

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh (2007 – 2012)

Nelayan pemilik kapal mulai menjual kapal kecil untuk diganti dengan kapal yang berukuran lebih besar agar dapat mencapai daerah operasi yang lebih jauh dari fishing base. Banyaknya nelayan pancing ulur dan pancing rawai yang

7 beralih menjadi nelayan pukat cincin karena lebih menguntungkan dari sisi finansial. Sistem pengoperasian alat tangkap adalah disesuaikan dengan ukuran kapal, semakin besar GT kapal maka alat tangkap pukat cincin yang digunakan akan semakin panjang. Setiap kapal membawa dua macam alat tangkap, biasanya pukat cincin dengan pancing.

Produksi ikan

Jenis ikan yang tertangkap dengan alat tangkap pukat cincin di Lampulo beraneka macam. Produksi semua jenis ikan sangat berfluktuasi dipengaruhi oleh faktor cuaca, musim ikan, daerah penangkapan, dan jumlah alat tangkap yang ada. Musim puncak produksi ikan meningkat, sedangkan pada musim paceklik produksi ikan hasil tangkapan nelayan akan berkurang. Musim puncak terjadi pada bulan Maret-Agustus, musim biasa/sedang terjadi pada bulan September-Oktober, dan musim paceklik terjadi pada bulan Desember-Februari. Selama lima tahun terakhir dari total produksi, hasil tangkapan pukat cincin terus meningkat setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena jenis alat tangkap pukat cincin yang meningkat. Produksi ikan menurut jenis alat tangkap di Kota Banda Aceh dapat dilihat di Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Produksi ikan menurut jenis alat tangkap di Kota Banda Aceh

Jenis Tahun Rata-rata

2007 2008 2009 2010 2011

Produksi Ikan (Ton) Pukat cincin 3.717,50 3.594,30 6.064,70 7.094,90 7.320,10 5.578,30 JIH 1.021,00 1.189,30 975,80 205,80 203,20 699,02 Rawai tetap 910,10 996,40 813,60 147,30 149,80 603,44 Pancing ulur 202,40 766,40 489,20 139,20 154,90 350,42 Lainnya Jumlah 68,50 5.919,00 70,03 6.616,43 73,98 8.417,3 72,70 7.659,90 75,00 7.903,00 1.242,14 7.303,12 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh 2012

*JIH: jaring insang hanyut

Ketika musim cakalang, semua nelayan pukat cincin mengoperasikan kapalnya dengan rata-rata hasil tangkapan yang cukup tinggi sehingga nilai produksi cakalang saat musim penangkapan sangat tinggi. Ikan cakalang adalah salah satu komoditi ekspor Indonesia yang dapat diandalkan dari sektor perikanan setelah udang dan tuna, dimana ikan cakalang diekspor ke beberapa negara diantaranya Jepang dan Amerika (Uktolseja et al. 1998 vide Martasuganda et al. 2002). Gambar 2.2 disajikan produksi terbesar 5 jenis ikan yang didaratkan di PPP Lampulo.

8

Gambar 2.2 Komposisi ikan hasil tangkapan pukat cincin yang didaratkan di PPP Lampulo.

3 KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN PUKAT

Dokumen terkait