• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODOLOGI PENELITIAN

5.3. Keadaan Usaha Ternak Sapi

Keadaan usaha ternak yang dibahas dalam penelitian ini menyangkut pemilikan dan penjualan ternak sapi di Minahasa dan Bolaang Mongondow.

5.3.1. Pemilikan Ternak

Ternak sapi di Minahasa dan Bolaang Mongondow sebagian besar masih dipelihara secara tradisional. Dalam arti belum memperhatikan tiga unsur keberhasilan usaha ternak yaitu breeding, feeding dan management. Hal ini disebabkan usaha ternak sapi yang ada merupakan usaha sambilan. Hasil penelitian

menunjukkan bibit sapi di Bolaang Mongondow berasal dari hasil perkawinan alamiah antara induk dan pejantan lokal. Keadaan tersebut menunjukkan petani peternak belum memperhatikan cara pemilihan bibit yang baik. Berbeda dengan di Bolaang Mongondow, petani peternak di Minahasa bersedia mengeluarkan uang untuk membayar pejantan. Mereka berusaha mencari pejantan terbaik untuk dikawinkan dengan sapi betinanya walaupun pejantan tersebut berada di desa lain. Biaya mengawinkan ternak sapi dengan pejantan yang baik di Minahasa (sewa pejantan) berkisar antara Rp 50 000 – Rp 125 000/sekali kawin. Menurut hasil wawancara, besarnya sewa pejantan ditentukan berdasarkan kondisi sapi betina. Bila sapi betina “bagus” (kulit putih licin tidak hitam, kaki belakang simetris, ekor halus ujung warna hitam, mempunyai tanda di dahi) maka biaya sewa pejantan lebih mahal.

Jenis sapi (bangsa sapi) baik di Minahasa maupun Bolaang Mongondow untuk setiap petani peternak berbeda-beda. Jenis sapi tersebut diantaranya sapi PO, Sumba, Bacan, Bali dan Lokal. Sebagian besar pemilikan sapi di Minahasa adalah sapi sumba yaitu dimiliki oleh 116 petani peternak (59.79%), sapi PO dimiliki oleh 73 petani peternak (37.63 %), 5 petani peternak (2.58 %) memiliki jenis sapi bacan. Sapi sumba bulunya putih sedangkan sapi PO terdapat bercak abu-abu pada bulunya. Di Bolaang Mongondow, sekitar 96 (41.20 %) petani peternak memelihara jenis sapi Bacan, 24 (10.30%) petani peternak memelihara sapi Bali, 102 (43.78%) petani peternak memelihara sapi lokal dan 11 (4.72%) petani peternak memelihara jenis sapi sumba (4.72%). Pemilihan bibit belum menjadi perhatian bagi petani peternak di Bolaang Mongondow. Tipe sapi bacan lebih besar dibanding sapi bali dan sapi lokal. Namun sapi sumba dan PO lebih besar dari ketiga jenis sapi sebelumnya.

Tujuan pemeliharaan sapi di daerah penelitian bukan untuk penggemukan (fattening) ataupun pembibitan. Tetapi tujuan pemeliharaan adalah “dwi fungsi”, yaitu sebagai pekerja sekaligus pedaging bila sapi dijual atau sudah afkir. Pada tahun 2004, di Bolaang Mongondow terdapat Perusahaan Penggemukan Sapi Potong (yaitu di desa Poyuyanan, kecamatan Passi) dengan jumlah ternak 19 ekor. Namun pada tahun 2006, perusahaan tersebut tutup dan baru sekali menjual ternak yaitu pada bulan Pebruari 2005 (Potabuga, 2007). Dugaan peneliti bahwa penyebab utama adalah pemilik bukanlah peternak sehingga tidak ada naluri beternak dari si pemilik. Selain itu pemilik tidak punya pengetahuan beternak sapi. Pemilik hanya memiliki modal. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang dapat fasilitas Kredit Penggemukan Sapi (RCP = Rural Credit Project) dari pemerintah. Sapi dikandangkan pada malam hari dan pada siang hari dilepas di bawah pohon kelapa.

Pengembangan ternak sapi ke arah yang lebih baik dapat dilakukan dengan cara perbaikan kualitas bibit sapi. Dalam hal ini perlu dilakukan introduksi IB, walaupun hal ini bukan satu-satunya cara untuk mengatasi peningkatan kualitas bibit. Menurut informasi ada kasus yang pernah terjadi bahwa sapi betina yang dikawinkan dengan sistem IB tidak berhasil. Ternak yang lahir dari hasil IB tersebut mati karena ternaknya sangat besar sehingga induk tidak mampu melahirkannya. Walaupun demikian sistem IB sangat dibutuhkan dan perlu keterampilan inseminator untuk menentukan jenis sapi mana yang cocok untuk dikawinkan.

Rata-rata pemilikan sapi oleh petani peternak saat penelitian di Minahasa adalah sebesar 6 ekor dan di Bolaang Mongondow 3.93 ekor. Jumlah ternak sapi di Minahasa dan Bolaang Mongondow berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Rata-rata Jumlah Pemilikan Ternak Sapi Berdasarkan Umur oleh Rumahtangga Petani Usaha Ternak Sapi-Tanaman di Minahasa dan Bolaang Mongondow, Tahun 2006-2007

Umur Sapi (Tahun)

Jumlah Pemilikan (Ekor)

T o t a l (Ekor) (%) Jantan Betina Minahasa : < 1 1.09 1.10 2.19 36.50 1 - 2 0.10 1.10 1.20 20.00 2.1 - 3 0.27 1.15 1.42 23.67 > 3 0.05 1.14 1.19 19.83 Sub Total 1.51 4.49 6.00 100.00 Bolaang Mongondow < 1 0.34 0.23 0.57 14.50 1 - 2 0.26 0.18 0.44 11.20 2.1 - 3 0.24 0.33 0.57 14.50 > 3 0.40 1.95 2.35 59.80 Sub Total 1.24 2.69 3.93 100.00

Data Tabel di atas menunjukkan rata-rata populasi ternak betina di Minahasa dan Bolaang Mongondow lebih tinggi dibanding ternak sapi jantan. Kondisi tersebut menunjukkan rumahtangga petani peternak sapi masih mempertahankan sapi betina terutama di Minahasa. Rata-rata populasi ternak sapi di Minahasa lebih banyak tetapi ternak sapi berumur di atas tiga tahun populasinya di Minahasa paling sedikit yaitu sekitar 19.83% dari jumlah ternak sapi yang dimiliki. Sebaliknya di Kabupaten Bolaang Mongondow, ternak sapi di atas tiga tahun populasinya terbanyak yaitu sekitar 59.80%. Kondisi ini menunjukkan bahwa rumahtangga petani peternak sapi di Minahasa masih mempertahankan populasi ternak sapi di bawah satu tahun.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut ternyata pemilikan sapi anakan di Bolaang Mongondow lebih sedikit, disisi lain ternak sapi di atas tiga tahun di Minahasa lebih banyak. Keadaan ini menunjukkan produktivitas ternak sapi yang ada

di Sulawesi Utara dianggap rendah. Konsekuensinya populasi ternak sapi rendah. Salah satu penyebab rendahnya populasi ternak sapi di Sulawesi Utara adalah ternak sapi dewasa baik jantan maupun betina produktif dimanfaatkan sebagai tenaga kerja sampai sapi tersebut berumur > 10 tahun. Faktor lain yang juga menyebabkan rendahnya populasi ternak sapi adalah terjadinya pemotongan betina produktif dan penjualan ternak sapi anakan.

Kondisi di atas terjadi disebabkan adanya peningkatan permintaan daging sapi dan ternak sapi bibit baik lokal maupun dari luar daerah. Peningkatan permintaan disebabkan adanya kecenderungan naiknya pendapatan masyarakat dan naiknya jumlah penduduk. Permintaan luar daerah terhadap sapi anakan juga mengalami peningkatan. Hal ini terjadi setiap saat dan tidak ada intervensi dari pemerintah.

Di Minahasa, sebagian besar ternak sapi adalah milik sendiri (98.97 %) dan sisanya milik orang lain (1.03%) dengan sistem bagi hasil. Sedangkan di Bolaang Mongondow sekitar 8 rumahtangga (3.43 %) memelihara ternak sapi milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Sistem bagi hasil baik di Minahasa dan Bolaang Mongondow adalah sama yaitu bila ternak lahir pertama menjadi bagian pemilik ternak dan ternak yang lahir kedua menjadi bagian peternak sapi. Sebagian besar petani peternak sapi yang menjadi sampel di daerah penelitian belum pernah mendapatkan bantuan ternak sapi dari pemerintah maupun swasta.

Keberhasilan ternak sapi selain tergantung pada bibit juga pakan (feeding). Berdasarkan hasil penelitian, rumahtangga belum memperhatikan pemberian pakan, baik kuantitas maupun kualitasnya. Pemberian pakan untuk ternak sapi bila ternak dikandangkan (tujuan pemeliharaan penggemukan maupun pembibitan) adalah

berupa hijauan (70 %) dan konsentrat (30 %). Kenyataannya, pakan yang diberikan hanya berupa rumput yang tumbuh liar ataupun rumput jagung ataupun limbah pertanian. Ternak sapi di Minahasa selain diberikan rumput jagung sebagai pakan juga rumput “letup”. Sebagian besar petani peternak menanam rumput tersebut dibawah tanaman jagung. Di Bolaang Mongondow, ternak sapi dipelihara di bawah pohon kelapa, rumput yang dimakan adalah rumput yang tumbuh liar di bawah pohon tersebut. Pagi hari sekitar jam 06.00, ternak dibawa ke kebun kelapa yang jauh, ternak dilepas dan dibiarkan merumput. Pada sore hari sekitar jam 18.00, sebagian peternak membawa ternaknya dan diikat di kebun paling dekat dengan rumah tinggal.

Di Minahasa, pada pagi hari sekitar jam 06.00 ternak dibawa ke kebun dan dibiarkan merumput di sekitar kebun. Sore hari ternak di bawa pulang dan diikat di halaman rumah atau di bawah kolong rumah bagi penduduk yang memiliki model rumah panggung. Petani peternak memotong rumput liar atau rumput jagung dan diberikan kepada ternak setelah ternak di rumah pada sore dan malam hari. Di Minahasa, jagung ditanam selain untuk dijual, 20-25 % diberikan kepada ternak. Dua minggu setelah jagung berbuah, pohon jagung dipotong dan diberikan kepada ternak. Indikasinya, petani peternak di Minahasa sudah memberikan pakan jagung untuk pertumbuhan ternaknya. Hal ini yang menyebabkan berat badan sapi di Minahasa lebih besar dibanding di Bolaang Mongondow untuk jenis sapi dan umur yang sama.

Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan usaha ternak sapi adalah pengelolaan (management). Pengelolaan diantaranya mencakup pengelolaan bibit, pakan, perkandangan, kesehatan ternak, penanganan hasil ternak, pemasaran dan pengaturan tenaga kerja. Seperti telah diuraikan sebelumnya, usaha ternak sapi

merupakan usaha ternak rakyat yang dikelola secara sambilan sehingga rumahtangga petani peternak sapi belum memperhatikan pemilihan bibit yang baik. Hal ini lebih khusus terjadi bagi rumahtangga di daerah Bolaang Mongondow. Demikian juga mengenai pemberian pakan. Rumahtangga petani peternak hanya memanfaatkan limbah pertanian dan rumput liar. Walaupun di wilayah Minahasa petani peternak sapi memanfaatkan jagung muda (selain limbahnya) sebagai pakan namun jagung muda tersebut belum tentu sudah memenuhi syarat kualitas pakan yang baik.

Untuk mengatasi masalah pakan, dalam hal ini rumput, ada berbagai cara yang dapat dilakukan oleh rumahtangga dan perlu ditunjang oleh pemerintah. Cara tersebut diantaranya, pertama, perlu diintroduksi pakan hijauan (rumput dan leguminosa) di bawah pohon kelapa (khusus untuk wilayah Bolaang Mongondow). Kedua, limbah pertanian dapat dibuat hay atau silase. Hal ini dapat dilakukan untuk mengatasi masalah pakan apabila terjadi kemarau panjang. Ketiga, perlu dilakukan pertanian campuran antara jagung dan leguminosa. Hal tersebut telah dilakukan di Minahasa. Rumahtangga petani peternak menanam jagung tumpang sari dengan kacang merah (brenebon), kacang tanah atau ditanam bergantian antara jagung dan kacang merah atau kacang tanah. Tanaman leguminosa selain bermanfaat sebagai pakan juga dapat menyuburkan lahan pertanian. Namun di Minahasa rumput kacang- kacangan berupa limbah hanya dimanfaatkan oleh sebagian kecil rumahtangga.

Petani peternak di daerah penelitian belum memperhatikan soal perkandangan walaupun di Minahasa ternak pada sore hari dibawa pulang ke rumah tetapi sebagian besar dibiarkan di halaman rumah. Petani peternak sapi juga belum memperhatikan kesehatan ternak. Di Bolaang Mongondow, ternak yang sakit hanya diberikan obat-

obatan tradisional berupa daun-daunan atau obat-obat warung untuk manusia. Di Minahasa, petani peternak berusaha mencari petugas kesehatan ataupun penyuluh bila ternaknya sakit. Salah satu faktor penyebab pemeliharaan yang tradisional adalah kurangnya pengetahuan, ditunjang juga dengan kurangnya modal yang dimiliki rumahtangga. Untuk mengatasi hal ini diperlukan penyuluhan dan intervensi pemerintah dalam hal pengontrolan penyakit ternak sapi.

Berdasarkan kondisi seperti di jelaskan di atas, usaha ternak sapi di kedua lokasi perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Dalam memberikan bantuan ternak sapi, pemerintah harus memperhatikan tatalaksana pemeliharaan ternak sapi. Bantuan tersebut harus ditunjang dengan bibit yang baik, pemanfaatan pakan yang berkualitas serta kontrol terhadap kesehatan ternak sapi. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka menunjang keberhasilan usaha ternak sapi di Sulawesi Utara ke arah yang lebih baik.

5.3.2. Penjualan Ternak Sapi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumahtangga petani peternak sapi di kedua lokasi penelitian menjual ternak sapi karena adanya kebutuhan keluarga. Kebutuhan keluarga tersebut diantaranya adalah : bila ada anggota keluarga yang sakit, kebutuhan pendidikan anak, kebutuhan membangun rumah, membeli lahan pertanian, untuk membeli input pertanian dan lain sebagainya.

Saluran pemasaran ternak sapi di Sulawesi Utara berbeda-beda untuk setiap rumahtangga petani peternak sapi. Saluran pemasaran ternak sapi tersebut melalui pedagang maupun petani lain. Pedagang yang dimaksud adalah pedagang lokal

maupun pedagang luar daerah. Pedagang juga adalah pedagang pengumpul maupun pedagang sebagai tukang potong sapi. Namun transaksi penjualan ternak sapi baik melalui pedagang, tukang potong atau petani lainnya selalu menggunakan perantara. Transaksi yang terjadi di pasar blantik Kotamobagu tidak seramai di pasar blantik Kecamatan Kawangkoan Minahasa. Di pasar blantik Kawangkoan setiap minggunya merupakan tempat pertemuan pedagang-pedagang sapi dari berbagai daerah maupun lokal Sulawesi Utara. Pasar blantik ini sudah berdiri sejak tahun 1960-an. Yang menarik di pasar blantik, perilaku yang terjadi selain dapat memberikan pendapatan bagi penjual ternak (rumahtangga) juga terhadap perantara. Pengunjung yang datang di pasar blantik bukan hanya pembeli atau penjual atau tukang blantik tetapi juga masyarakat sekitar khusus untuk menonton transaksi-transaksi yang terjadi. Transaksi di pasar blantik tersebut terjadi sekali dalam seminggu yaitu setiap hari kamis. Pasar blantik ini juga memberikan pemasukan bagi pemerintah baik pemerintah daerah maupun Dinas Kehewanan Kabupaten Minahasa melalui retribusi dan biaya administrasi. Skema saluran pemasaran ternak sapi dapat dilihat pada Gambar 9.

Berdasarkan Gambar 9 terlihat, transaksi ternak sapi yang terjadi yaitu dari petani peternak sapi disalurkan ke pedagang pengumpul, tukang potong sapi ataupun ke petani lain. Pedagang pengumpul yang melakukan transaksi berasal dari daerah Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Ternak sapi dari pedagang pengumpul dijual ke petani dan tukang potong maupun pedagang antar pulau. Sebagian besar rumahtangga di Minahasa menjual ternak sapi melalui pedagang pengumpul dan tukang potong di pasar blantik, hanya sebagian kecil pedagang pengumpul yang mendatangi rumahtangga.

Gambar 9. Saluran Pemasaran Ternak Sapi di Sulawesi Utara

Tukang Potong/RPH

Petani

Peternak Tukang potongSapi/RPH

Pedagang pengumpul Petani Pedagang Antar Pulau Pasar Tradisional Tukang bakso Rumah makan Konsumen Konsumen Konsumen Petani Tukang bakso Rumah makan Konsumen Konsumen Konsumen Swalayan

Sebagian besar rumahtangga petani peternak sapi di Bolaang Mongondow menjual ternak didatangi pedagang baik pedagang pengumpul maupun tukang potong sapi. Setiap transaksi yang terjadi melalui perantara. Perantara memperoleh upah sebagai balas jasanya dalam penjualan ternak sapi. Adanya perantara tersebut disebabkan karena terjadinya asymetri information di tingkat rumahtangga sebagai pemilik ternak sapi yang menyebabkan terjadinya biaya transaksi. Dalam hal ini rumahtangga di Bolaang Mongondow sebenarnya menanggung biaya transpor pedagang yang datang di lokasi, sehingga harga yang diterima lebih kecil.

Pedagang pengumpul yang ada di daerah penelitian maupun dari luar daerah menyalurkan ternak sapi ke petani, tukang potong dan ada yang mengantarpulaukan. Menurut informasi beberapa pedagang pengumpul, ternak yang dikumpulkan dijual di desa-desa di Sulawesi Utara juga diluar daerah diantaranya : Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Pada saat penelitian, salah seorang petani peternak di Bolaang Mongondow masih melakukan penjualan antar pulau dengan tujuan Balikpapan. Untuk Minahasa tidak ada lagi pedagang yang mengantarpulaukan ternak sapi. Sesuai hasil wawancara dengan 4 (empat) pedagang (tukang potong ternak sapi) yang berada di pasar blantik bahwa tahun 2002 terakhir mereka mengantarpulaukan ternak sapi. Pedagang membeli ternak kemudian dipelihara selama beberapa bulan, sebagai upaya meningkatkan berat badan sapi, selanjutnya diantarpulaukan. Tujuan antar pulau ternak sapi tersebut di antaranya Balikpapan, Irian dan Pulau Jawa. Sekarang ini pedagang-pedagang tersebut tidak lagi mengantarpulaukan ternak sapi disebabkan beberapa pedagang dari Balikpapan datang sendiri ke Sulawesi Utara untuk membeli ternak sapi. Adanya transaksi yang dilakukan pedagang dari luar daerah tanpa kontrol

dari pemerintah, sehingga terjadi pembelian/pengeluaran ternak sapi yang menyebabkan populasi ternak sapi di Sulawesi Utara semakin menurun.

Transaksi melalui tukang potong ternak sapi yaitu tukang potong yang berada di beberapa kota kabupaten di Sulawesi Utara dan kota Manado. Tukang potong menyalurkan daging sapi ke pasar-pasar tradisional maupun pasar swalayan di kabupaten dan kota Manado. Kemudian tukang bakso, rumah makan maupun konsumen membeli melalui pasar tradisional ataupun pasar swalayan.

Penjualan melalui tukang potong sapi disalurkan ke pasar tradisional dan swalayan. Namun, penjualan ke pasar tradisional dan swalayan sebagian melalui rumah potong hewan (RPH) di Kota Manado untuk dipotong dan sebagian tidak. RPH dalam hal ini sebagai pengontrol kesehatan ternak sapi yang akan dipotong. Dari RPH kemudian disalurkan ke pasar tradisional dan pasar swalayan. Sebagian ternak dipotong untuk dijual di pasar swalayan maupun pasar tradisional yang berada di kota Manado maupun kabupaten Minahasa (Tomohon dan Tondano). Apabila ternak sapi dipotong di RPH dapat memberikan keuntungan bagi konsumen daging sapi. Keuntungannya adalah ternak sapi tersebut sudah layak dipotong baik dari segi higienes maupun segi kehalalan. Pemotongan ternak di RPH dikenakan retribusi untuk keterangan kesehatan ternak dan keterangan hasil ikutan ternak.