BAB VIII PERUBAHAN SOSIALPERUBAHAN SOSIAL
KEADILAN GENDER DAN PEMBANGUNAN PETERNAKAN
Istilah ‘kesetaraan gender’ bisa diartikan secara berbeda-beda apabila dikaitkan dengan konteks pembangunan. Laporan ini mengartikan kesetaraan gender sebagai kesetaraan di bidang hukum, kesempatan (termasuk kesetaraan upah kerja, kesetaraan akses terhadap sumber daya manusia, dan sumber-sumber produktif lainnya yang memperluas kesempatan) dan aspirasi (untuk
LKPP
mempengaruhi pengambilan keputusan dalam proses pembangunan). Kami tidak mengartikan kesetaraan gender sebagai kesetaraan atas apa yang dihasilkan. Hal ini didasarkan pada dua alasan sebagai berikut, pertama, tiap-tiap budaya dan masyarakat dapat mengambil jalan yang berbeda dalam upaya mereka mencapai kesetaraan gender. Kedua, kesetaraan secara implisit berarti kebebasan bagi perempuan dan laki-laki untuk memilih peran dan akibat-akibat yang berbeda (atau serupa) yang disesuaikan menurut pilihan-pilihan dan tujuan-tujuan mereka sendiri.
Peran perempuan dalam peningkatan kesejahteraan keluarga, telah diakui adanya peran ganda dari perempuan, baik sebagai istri, ibu, pekerja profesional, serta anggota masyarakat. Jadi perempuan dapat memainkan peranannya di sektor publik, domestik, dan kemasyarakatan. Perempuan dikenal sebagai individu yang dapat mengajarkan berbagai kegiatan pada waktu yang sama sehari-hari. Hal-hal yang bisa dilakukan perempuan di desa adalah aktivitas-aktivitas seperti menggendong anak sambil menyapu halaman rumah di pagi hari, sambil menunggu menjemur padi dan menjemur pakaian, atau aktivitas-aktivitas seperti mengasuh anak, sambil menunggu toko di rumah, sambil menunggu memasak air, dan menjemur pakaian.
Peran perempuan di sektor publik juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Telah dibuktikan bahwa peran perempuan dapat menjadi penyelamat keluarga dan penyelamat bangsa di masa krisis ekonomi dengan keuletannya dalam beraktivitas mencari tambahan uang bagi keluarganya. Berbagai data dan bukti telah menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi penyangga ekonomi keluarga, mulai dari tingkatan sederhana sampai ke tingkatan profesional. Berikut ini disajikan contoh peran serta perempuan dalam menjalankan aktivitas ekonomi di pedesaan.
LKPP
Proyek Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil (P4K) adalah salah satu program pemerintah dari Departemen Pertanian yang dirancang untuk pengentasan kemiskinan. P4K telah berjalan selama 24 tahun yang terdiri atas Fase I dimulai pada tahun 1979 – 1985. Fase II dimulai pada tahun 1989 – 1998, dan Fase III dimulai pada tahun 1998 – 2005. P4K mulanya adalah sebuah pilot proyek di seluruh Jawa, Bali, dan Lombok, tetapi kemudian berkembang di 12 propinsi. P4K dilaksanakan bersama-sama oleh Departemen Pertanian, BRI, IFAD, dan ADB. Perempuan terlibat hampir di semua jenis usaha-usaha mikro KPK (kelompok petani dan nelayan kecil) yang meliputi usaha agribisnis (on and off farm), dan usaha non farm (bakulan, industri rumah tangga, dan jasa). Peran perempuan pada proyek P4K ini, walaupun skala usahanya masih rendah dan sederhana, namun hasilnya dapat meningkatkan kontribusi dalam mensejahterahkan keadaan sosial ekonomi keluarganya dengan bukti-bukti sebagai berikut :
1. Mendapatkan atau meningkatkan modal usaha keluarga, dari mulai tidak ada modal sampai dengan meningkatkan omset penjualan.
2. Mengembangkan usaha tambahan keluarga seperti menambah usaha ojeg untuk suaminya.
3. Meningkatkan tabungan keluarga dan memotivasi keluarga untuk mempunyai budaya menabung yang baik, sehingga uang tabungan dapat digunakan untuk membeli berbagai macam keperluan keluarga, misalnya membeli perabotan rumah, barang pecah belah, dan perbaikan rumah.
4. Menyekolahkan anak dan membayar biaya sekolah secara rutin.
5. Memberikan semangat dan motivasi hidup keluarga untuk menatap kehidupan dengan lebih baik.
Upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan petani/peternak telah ditempuh melalui berbagai program pembangunan. Salah satunya adalah
LKPP
pengembangan Usahatani dan ternak di Kawasan Timur Indonesia (PUTKATI). Implementasi program tersebut tidak saja melibatkan kaum laki-laki dewasa (bapak tani), akan tetapi juga melibatkan anggota keluarga lainnya yakni istri dan anak-anaknya, baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Pendekatan seperti ini dilakukan untuk mencapai keberhasilan program yang optimal dalam meningkatkan pendapatan usaha tani. Telah banyak studi yang menyatakan bahwa wanita memberikan kontribusi nyata di bidang pertanian, baik yang berbasis tanaman maupun ternak. Perbedaan gender sesungguhnya tidak akan menjadi masalah sepanjang hal itu tidak melahirkan ketidakadilan gender. Akan tetapi menurut Harsoyo, dalam prakteknya perempuan tetap saja merupakan pihak yang kurang beruntung dibandingkan dengan laki-laki. Dipertegas oleh Suhaeti, bahwa kondisi demikian kurang menguntungkan karena adanya ketidakseimbangan atas dasar perbedaan hak tersebut, merupakan hambatan bagi suatu produktivitas masyarakat yang dapat mengakibatkan melambatnya perkembangan ekonomi.
Menurut penelitian Hendayana dan Wahyuni yang membahas mengenai dimensi peran gender dalam pembangunan usaha ternak rakyat di Kawasan Timur Indonesia, di dalam praktek pemeliharaan ternak, yang terlibat bukan hanya bapak tani (para laki-laki), akan tetapi juga pihak perempuan (istri dan anak perempuan) serta anak laki-laki. Bahkan jika dilihat ketersediaan sumber tenaga kerja keluarga di lokasi penelitian, potensi tenaga kerja laki-laki dan perempuan lebih dari sekedar suami dan istri. Ada laki-laki dewasa lain dan perempuan deasa lain selain suami dan istri. Secara umum profil kegiatan dikelompokkan pada tiga kegiatan yaitu kegiatan produktif, reproduktif dan sosial. Kegiatan produktif adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mencari nafkah sehingga kegiatan ini akan memberikan penghasilan berupa uang. Kegiatan reproduktif adalah kegiatan yang tidak menghasilkan uang tetapi
LKPP
menunjang anggota keluarga lainnya untuk dapat melakukan pekerjaan produktif, sedangkan kegiatan sosial adalah kegiatan yang dilakukan seseorang berkaitan dengan kegiatan sosial dan tidak menghasilkan uang.
Berdasarkan hasil penelitian Hendayana dan Wahyuni bahwa secara umum kegiatan sosial di dua lokasi sangat menonjol disbanding dengan kegiatan produktif dan reproduktif baik yang dilakukan oleh kaum laki-laki maupun kaum perempuan. Kegiatan produktif dalam satu hari hanya dilakukan kurang dari 5 jam kerja atau sekitar 30% dari kegiatan sosial. Jika ditelaah lebih jauh partisipasi wanita (dewasa dan anak-anak), menunjukkan gambaran yang normatif. Artinya jumlah jam kerja laki-laki relatif lebih banyak di banding perempuan dalam kegiatan yang sifatnya produktif. Sementara itu, kaum perempuan dominan dalam kegiatan yang sifatnya reproduktif. Sementara itu, dalam bidang kegiatan sosial, partisipasi kaum laki-laki dan wanita di dua lokasi penelitian menunjukkan keragaman yang seimbang. Gambaran menarik dari alokasi waktu adalah peran dari anak laki-laki dan anak perempuan yang tampaknya lebih tertarik melakukan aktivitas bidang sosial ketimbang membantu ayah dan ibunya dalam kegiatan produktif. Hal itu tercermin dari tingginya alokasi waktu anak-anak dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan dalam usaha ternak merupakan bagian dari kegiatan produktif yang meliputi kegiatan penyediaan (mencari) pakan, memberi pakan, melakukan vaksinasi, membersihkan (memandikan), mengawinkan, menjual hasil dan melakukan pembersihan kandang ternak. Pembagian kerja di antara anggota keluarga dalam tiap kegiatan tersebut, pertimbangannya lebih banyak ditekankan pada bobot kegiatan.
Mengingat kegiatan yang dilakukan dalam usaha ternak lebih berat, maka secara tidak langsung mengindikasikan bahwa dominan kerja dalam usaha ternak kecenderungannya masih terfokus pada peranan laki-laki. Kondisi
LKPP
demikian seirama dengan pendapat Sayogyo, bahwa pola pembagian kerja antara pria dan wanita yang didasarkan atas pertimbangan biologis, konsekuensinya akan mendudukkan laki-laki pada posisi dan peranan instrumental dalam arti kata produktif, manajerial dan publik, sedangkan wanita didudukkan pada posisi mengolah dan mengurus pekerjaan rumah tangga serta kegiatan reproduksi (aspek ekspresif dari kehidupan keluarga).
Dalam kehidupan sehari-hari, pembagian kerja antara pria dan wanita dalam keluarga, rumah tangga dan masyarakat luas tampak pada kebiasaan lelaki mencari nafkah di luar rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan wanita mengurus pekerjaan rumah tangga. Pembagian kerja pria dan wanita dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan kultural, sosial, ekonomis dan politik. Hal ini berarti bahwa baik pria maupun wanita mempunyai peran ganda yakni dalam mencari nafkah dan mengurus rumah tangga.
Berdasarkan hasil penelitian Hendayana dan Wahyuni, di Sulawesi Utara curahan waktu kerja perempuan relatif seimbang dengan curahan waktu kerja laki-laki yakni 5,75 jam berbanding 7,25 jam.hari sedangkan di Sulawesi Selatan curahan waktu kerja perempuan relatif lebih rendah yakni 3,75 jam berbanding 8,25 jam/hari. Bervariasinya curahan waktu kerja dalam usaha tani karena berdasarkan daerah dan strata. Kegiatan yang relatif berat (beresiko tinggi) seperti penyediaan pakan, vaksinasi, memandikan dan mengawinkan, menjadi tanggungjawab kaum laki-laki dan selebihnya dikerjakan bersama atau hanya oleh perempuan. Peran meninjol dari perempuan dalam pemeliharaan ternak adalah dalam pemberian pakan. Dalam melakukan kegiatan tersebut mereka dibantu oleh anak-anaknya yang laki-laki maupun perempuan. Anak laki-laki membantu bapak/ibu mencari pakan, memandikan ternak dan membersihkan kandang sedangkan anak perempuan membantu ibu/bapak dalam hal memberikan makan ternak.
LKPP
Selain itu, secara umum sumbangan wanita tani dalam penghasilan keluarga cukup besar, baik dengan bekerja di lahan sendiri atau sebagai buruh tani, bekerja di luar sektor pertanian seperti mengerjakan kerajinan, berdagang, menjadi buruh musiman kota, maupun berkecimpung di dalam pekerjaan yang tidak langsung memberikan penghasilan yaitu pekerjaan mengurus rumah tangga. Dengan demikian wanita mempunyai potensi dan peranan strategis dalam meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan keluarga tani. Besar tidaknya sumbangan wanita dalam penghasilan keluarga dipengaruhi oleh peran yang dimainkan wanita itu sendiri. Apakah ia berperan hanya sebagai istri petani, sebagai anggota keluarga tani, kepala keluarga tani, pengusaha tani, anggota atau sebagai ketua kelompok tani.
Oleh karena itu, berdasarkan kesimpulan hasil penelitian Hendayana dan Wahyuni bahwa keberhasilan usaha ternak di Kawasan Timur Indonesia pada dasarnya tidak terlepas dari andil perempuan. Dari segi pendapatan, sumbangan perempuan terhadap total pendapatan rumah tangga di Sulawesi Utara adalah sekitar 10% sedangkan di Sulawesi Selatan mencapai 32%. Dengan demikian peran gender dalam pengembangan usaha tani ternak cukup berarti. Untuk lebih meningkatkan peran gender dalam usaha ternak, diperlukan komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk melibatkan partisipasi perempuan dalam kegiatan usaha ternak semenjak dari perencanaan.
PENUTUP Soal Perlatihan
1. Apa perbedaan antara seks dengan gender ?
2. Bagaimana proses sehingga terlahir istilah kesetaraan gender ? 3. Bagaimana peran gender dalam pembangunan peternakan ?
LKPP
Daftar Bacaan
Adiwibowo, S. 2007. Ekologi Manusia. Fakultas Ekonomi Manusia, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Hendayana, R dan Wahyuni. Dimensi Peran Gender dalam Pengembangan Usaha Ternak Rakyat di Kawasan Indonesia Timur. Journal, Vol.24
No.1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Bogor, Bogor.
Murdiyatmoko, J. 2004. Sosiologi Memahami dan Mengkaji Masyarakat.
Grafindo Media Pratama, Jakarta.
Murniati, A.N.P. 2004. Getar gender: buku 1. Perempuan Indonesia dalam perspektif sosial, politik. PT. Gramedia Pustaka, Jakarta.
Sunarto, K. 2004. Pengantar Sosiologi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Jakarta.
Staggenborg, S. 2003. Gender, Keluarga, dan Gerakan-Gerakan Sosial.
Mediator, Jakarta.
LKPP
BAB X