METODE PENELITIAN
5.2 Keanekaragaman Nepenthes
10 m), seragam, ukuran batang dan daun kecil, serta cabang dan ranting tumbuh rapat pada setiap pohon. Namun demikian sinar matahari masih dapat masuk ke dalam hutan. Selain itu hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi di dalam Rimba terdapat banyak jalan yang dapat dilalui oleh sepeda motor. Biasanya jalan tersebut digunakan masyarakat untuk masuk ke dalam kawasan hutan (Gambar 4). Hal ini menyebabkan sinar matahari masih dapat masuk ke dalam hutan.
Gambar 4 Kondisi vegetasi di Rimba.
5.1.3 Hutan kerangas sekunder (Bebak)
Hutan kerangas sekunder (Bebak) merupakan hutan yang tumbuh diatas lahan milik masyarakat setempat. Bebak tersebut adalah lahan bekas ladang yang telah ditingggalkan oleh masyarakat dengan kurun waktu yang cukup lama yaitu sekitar 10 atau 20 tahun dan sedang mengalami suksesi menuju proses klimaks (Fakhrurrozi 2001). Hal ini menyebabkan kondisi vegetasi di Bebak lebih jarang dan lebih terbuka dibandingkan dengan vegetasi di Rimba (Gambar 5).
Gambar 5 Kondisi vegetasi di Bebak.
5.2 Keanekaragaman Nepenthes
Hasil analisis vegetasi di tiga lokasi menunjukkan bahwa jumlah spesies
Nepenthes yang ditemukan yaitu empat spesies yang berbeda. Spesies tersebut
reinwardtiana Miq. dan Nepenthes rafflesiana Jack. Spesies Nepenthes paling
banyak ditemukan yaitu di Rimba dan Bebak dengan jumlah 3 spesies sedangkan jumlah spesies yang paling sedikit ditemukan di Padang yaitu 1 spesies (Tabel 4). Tabel 4 Spesies-spesies Nepenthes yang ditemukan di lokasi penelitian
No Spesies Lokasi
Padang Bebak Rimba
1 Nepenthes ampullaria - √ - 2 Nepenthes gracilis √ √ √
3 Nepenthes rafflesiana - √ √ 4 Nepenthes reinwardtiana - - √
Seluruh spesies yang ditemukan merupakan spesies murni (non-hybrid). Clarke (1997) menjelaskan bahwa Nepenthes merupakan tumbuhan berumah dua, dimana bunga jantan dan betina tidak berada dalam satu individu yang sama. Hal ini menyebabkan dapat terjadi persilangan secara alam (natural hybrid) antar spesies Nepenthes. Namun pada lokasi penelitian tidak ditemukan spesies
Nepenthes silangan alam (natural hybrid). Hal ini disebabkan karena lokasi
ditemukan antar spesies relatif jauh sehingga persilangan antar spesies sulit terjadi. Selain itu menurut Mansur (2006), umumnya waktu berbunga untuk satu spesies Nepenthes berbeda-beda, sehingga peluang terjadinya proses penyerbukaan silang sangat kecil.
Clarke (2000) diacu dalam Saputri (2009) mengungkapkan bahwa seluruh spesies hibrid alami Nepenthes yang diamati bersifat fertil, walaupun belum diketahui apakah tingkat fertilisasi semua spesies hibrid alami tersebut sama atau berbeda dengan tetuanya. Hal ini menyebabkan spesies Nepenthes hasil hibrid alami sering sekali gagal bertahan dan mencapai jumlah populasi yang besar dan mandiri.
5.2.1 Nepenthes di Padang
Nepenthes yang ditemukan di Padang hanya satu spesies yaitu Nepenthes gracilis. Namun demikian jumlah populasi Nepenthes gracilis di Padang sangat
banyak yaitu mencapai 803 individu/ha. Rendahnya keanekaragaman spesies
Nepenthes yang ditemukan di Padang disebabkan oleh kondisi vegetasinya yang
22
naungan untuk dapat bertahan hidup dan hanya spesies-spesies tertentu saja yang dapat bertahan pada kondisi dengan sinar matahari yang penuh. Salah satu spesies
Nepenthes yang memerlukan sinar matahari yang banyak untuk bertahan hidup
yaitu Nepenthes gracilis (Untung et al. 2006). Menurut Hidayat et al. (2003)
Nepenthes gracilis akan tumbuh lebih baik dan sempurna pada kondisi sinar
matahari yang penuh, tetapi pada tanah yang cukup lembab. Mansur (2006) juga menambahkan bahwa Nepenthes gracilis akan tumbuh cepat jika berada pada tempat terbuka dan menjalar di pasir kwarsa hutan kerangas.
Nepenthes gracilis dapat tumbuh di berbagai kondisi habitat. Hal ini dapat
diketahui dengan ditemukannya Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak yang kondisi vegetasinya rapat dan ternaungi. Menurut Mansur (2006) Nepenthes
gracilis merupakan spesies yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap
lingkungan lebih tinggi daripada spesies Nepenthes lain. Oleh karena itu
Nepenthes gracilis memiliki wilayah sebaran yang cukup luas.
Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba dan Bebak memiliki lebar
kantong yang relatif kecil yaitu 0,66-0,92 cm, tinggi kantong 5,73-6,67 cm dan berwarna polos (Gambar 6), sedangkan Nepenthes gracilis yang ditemukan di Padang memiliki ukuran dan warna yang beranekaragam (Gambar 7). Hal ini disebabkan oleh jumlah individu yang ditemukan di Padang lebih banyak.
Gambar 6 Nepenthes gracilis di Bebak.
Perbedaan ukuran kantong dan warna kantong pada Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba, Bebak dan Padang disebabkan oleh kondisi vegetasi tempat tumbuh. Pada kondisi dengan kerapatan yang tinggi Nepenthes gracilis tumbuh dengan ukuran yang kecil dan warna kantong yang polos (Mansur 2006). Selain itu produksi jumlah kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak lebih sedikit dibandingkan dengan di Padang. Jumlah individu Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak hanya 2 individu/ha sedangkan di Padang ditemukan 803 individu/ha. Hal ini disebabkan karena kondisi vegetasi di Rimba dan Bebak lebih rapat daripada di Padang. Kondisi tersebut menyebabkan lokasi di Rimba dan Bebak menghasilkan serasah yang lebih banyak. Menurut Nasoetion (1990) diacu dalam Raharjo (2006) serasah merupakan lapisan teratas dari permukaan tanah yang mungkin terdiri dari lapisan tipis sisa tumbuhan. Serasah tersebut mampu menutupi tanah dan menjadi pupuk alami sehingga menjadikan tanah di Rimba dan Bebak lebih subur dibandingkan dengan di Padang.
Nepenthes akan mengembangkan dan menghasilkan kantong lebih banyak
pada kondisi tanah yang miskin hara sebagai alat untuk memenuhi kekurangan suplai nutrisi dari tanah. Nepenthes tidak seperti tumbuhan pada umumnya yang akan tumbuh baik pada kondisi tanah yang subur. Hal tersebut merupakan upaya adaptasi Nepenthes untuk bertahan hidup. Menurut Mansur (2006), hidup di tanah yang miskin hara menjadikan Nepenthes mengembangkan kantongnya sebagai alat untuk memenuhi kekurangan suplai nutrisi dari tanah.
5.2.2 Nepenthes di Rimba
Hasil analisis vegetasi di Rimba diperoleh 3 spesies Nepenthes yaitu
Nepenthes reinwardtiana, Nepenthes gracilis dan Nepenthes rafflesiana. Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis hanya ditemukan di jalur 1 pada
plot pertama.. Kondisi plot tersebut terbuka dan terletak di samping jalan, sehingga menyebabkan sinar matahari dapat menembus lantai hutan (Gambar 8). Kondisi tersebut sangat mendukung Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes
gracilis untuk tumbuh dan menghasilkan kantong. Menurut Adam et al. (1991) Nepenthes reinwardtiana umumnya tumbuh di semak-semak pinggir jalan yang
terbuka, tanah yang gundul, di lereng yang curam atau di tempat pembuangan minyak. Mansur (2007) juga menambahkan bahwa Nepenthes reinwardtiana dan
24
Nepenthes gracilis dapat tumbuh pada tempat-tempat terbuka atau agak
terlindung. Namun demikian jumlah kantong yang dihasilkan sedikit yaitu dua kantong untuk setiap spesies Nepenthes.
Gambar 8 Kondisi habitat Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis di Rimba.
Nepenthes rafflesiana ditemukan di jalur 5 pada plot ke-10, jalur 6 pada
plot ke-6, 7 dan 8, serta jalur 7 pada plot ke-3. Jumlah individu Nepenthes
rafflesiana yang ditemukan di Rimba yaitu 31 individu/ha. Nepenthes rafflesiana
ditemukan umumnya tidak menghasilkan kantong. Dari keseluruhan Nepenthes
rafflesiana yang ditemukan hanya satu individu yang menghasilkan kantong. Hal
ini disebabkan karena Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di Rimba berada pada kondisi yang ternaungi. Menurut Untung et al. (2006), pembentukan kantong dipengaruhi oleh cahaya matahari. Kondisi vegetasi Rimba yang rapat menyebabkan sinar matahari yang masuk ke dalam hutan terbatas. Meskipun ada beberapa Nepenthes yang tidak menyukai cahaya matahari secara langsung namun kekurangan cahaya matahari akan berpengaruh terhadap pertumbuhan. Nepenthes yang kekurangan cahaya matahari umumnya menghasilkan jumlah kantong yang sedikit bahkan hingga tidak menghasilkan kantong.
5.2.3 Nepenthes di Bebak
Spesies Nepenthes yang ditemukan di Bebak yaitu Nepenthes rafflesiana
Nepenthes ampullaria, dan Nepenthes gracilis. Nepenthes rafflesiana yang
ditemukan di Bebak lebih banyak dibandingkan dengan di Rimba yaitu 37 individu/ha. Hal ini disebabkan karena kondisi vegetasi di Bebak lebih terbuka sehingga sinar yang masuk lebih banyak. Selain itu di Bebak juga terdapat suatu genangan air (Amau) (Gambar 9). Menurut Handayani dan Syamsudin (1998)
Nepenthes rafflesiana menyukai tempat-tempat yang terbuka, daerah semak
belukar atau hutan-hutan payau. Clarke (2001) menambahkan bahwa Nepenthes
rafflesiana lebih menyukai habitat berupa semak belukar yang terbuka, tempat
yang basah, rawa, tanah berpasir dan hutan kerangas.
Gambar 9 Genangan air (Amau) di Bebak.
Nepenthes rafflesiana yang menghasilkan kantong hanya 5 individu.
Selain itu kantong yang ditemukan umumnya masih tertutup. Hal ini menunjukkan bahwa kantong yang dihasilkan tersebut masih tergolong muda. Menurut Mansur (2006), cairan yang terdapat dalam kantong yang masih tertutup dapat digunakan sebagai obat mata, batuk dan mengobati kulit yang terbakar.
Jumlah Nepenthes ampullaria yang ditemukan di Bebak yaitu 82 individu/ha. Umumnya Nepenthes ampullaria ditemukan di sekitar genangan air (Amau). Menurut Handayani (2001), Nepenthes ampullaria lebih menyukai tempat yang lembab atau basah dengan vegetasi semak belukar atau hutan sekunder. Adam dan Wilcock (1990) diacu dalam Adam dan Hafiza (2007) juga menjelaskan bahwa Nepenthes ampullaria tumbuh di hutan sekunder atau di pinggir rawa. Hal ini menyebabkan Nepenthes ampullaria tidak ditemukan di Rimba dan Padang.