Coda Kebangsaan
5.1. Keaslian dan Kebangsaan
Di lain sisi, tidak bisa dipungkiri juga jika lagu Indonesia Raya menjadi hafalan sambil lalu bagi kebanyakan orang Indonesia. Ia tak lebih sebuah syarat un-tuk membuka acara-acara resmi di instansi pemerintah, upacara rutin mau-pun upacara peringatan hari besar. Pun banyak kali di berbagai ruang media sosial sempat muncul polemik apakah benar Indonesia Raya itu karya asli W.R.
Soepratman. Karenanya memang diperlukan puluhan atau bahkan mungkin ratusan halaman untuk menjelaskan apa, mengapa, dan bagaimana sia Raya dari berbagai macam sudut pandang. Ini demi menetapkan Indone-sia Raya sebagai bagian dari kehidupan bangsa IndoneIndone-sia dan bukan sekadar tinta di atas segel bermeterai pemerintah, ataupun tinta paten keaslian lagu Indonesia Raya.
Kerangka dasar untuk mengerti Indonesia Raya, untuk adanya kejelasan ten-tang Indonesia Raya, adalah pemahaman bahwa lagu Indonesia Raya adalah hasil karya perjuangan rakyat Indonesia di dalam mewujudkan kemerdekaannya.
Tentunya pertanyaan kemudian muncul, “Bukannya W.R. Soepratman yang bikin lagu itu?”. Benar, tidak ada yang salah dengan W.R. Soepratman.
Teta-pi bagaimana lagu tersebut menjadi bagian dari gerak perjuangan rakyat Indonesia, itu bukan hasil karya W.R. Soepratman seorang. Mulai dari ide menciptakan lagu Indonesia Raya, sampai dengan bagaimana Indonesia Raya itu lalu menjadi masalah bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan penetapannya kemudian sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia, se-muanya adalah kerja banyak orang, kerja rakyat Indonesia. W.R. Soeprat-man tidak mungkin iseng-iseng membuat lagu tersebut, karena fakta se-jarah menunjukkan bahwa dirinya terpikat dengan semacam ‘sayembara’
menulis lagu di sebuah surat kabar di masa itu. Pada saat ingin menampil-kan lagu itu di Kongres Pemuda Kedua pada 1928, W.R. Soepratman perlu berbicara dengan Soegondo Djojopoespito, salah satu tokoh pergerakan nasional di masa itu. Ini mengingat syair lagu tersebut banyak menggu-nakan kata ‘Indonesia’ dan ‘merdeka’, sehingga timbul kekhawatiran akan membuat masalah terhadap jalannya kongres (penghentian) maupun pe-serta kongres (penangkapan). Begitu juga ketika lagu tersebut mulai bere-dar di pasaran melalui perusahaan rekaman piringan hitam Yo Kim Tjan, dan kemudian para pandu menyiul-nyiulkannya untuk mengolok-olok aparat keamanan kolonial, semuanya adalah bagian dari kehendak rakyat untuk Merdeka.
Akan tetapi, kritik ataupun keraguan terhadap Indonesia Raya sebagai se-buah karya musik bukannya tidak pernah muncul. Tidak lama setelah lagu Indonesia Raya diperdengarkan di tahun 1928, muncul kritik dari para mu-sisi Jawa yang sudah lama berinteraksi dengan sejumlah seniman Eropa.
Salah satu kritiknya mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya terlalu bernu-ansa Eropa, kurang membawa nilai-nilai ketimuran. Kritik tersebut bisa di-mengerti, karena situasi musik klasik dunia pada masa itu sedang bergerak ke arah nasionalisme musik. Keterpikatan Debussy pada suara gamelan Jawa saat tampil di Paris, hingga komponis Leopold Godowsky berkunjung ke tanah Jawa dan membuat komposisi The Java Suite yang semacam ‘me-nerjemahkan’ gamelan ke dalam piano, semuanya membesarkan hati para seniman musik Jawa. Tetapi perlu juga dipahami bahwa W.R. Soepratman bermusik dengan disiplin musik Eropa melalui karya-karya Chopin, Bee-thoven, Liszt, Tchaikovsky dan sebagainya, yang dipelajarinya saat berla-tih biola. Karenanya tidak mungkin juga menuntut W.R. Soepratman mem-buat lagu kebangsaan yang bernada Jawa, sementara para musisi Jawa itu tidak turut dalam sayembara membuat lagu kebangsaan.
Keraguan yang selanjutnya muncul dari komponis Amir Pasaribu di tahun 1950-an. Beliau menduga lagu kebangsaan Indonesia Raya mengambil
ba-nyak nada dari lagu Pinda Pinda Lekka Lekka, sehingga kurang elok jika lagu tersebut dipertahankan sebagai lagu kebangsaan. Komponis Kusbini yang kemudian menyampaikan kritik Amir Pasaribu kepada Presiden Sukarno, dan Sukarno menjawab, “Sebaiknya yang sudah diputuskan secara politis jangan dianulir karena hal yang estetis.”
Dua bentuk keraguan di muka adalah representasi dari semacam polemik tentang makna sosial dari musik. Aras pertama adalah yang menghendaki esensi musik harus mencerminkan suara-suara yang khas dari nasion atau bahkan etnis tertentu (nasionalisme musik), sementara yang kedua adalah yang menegaskan pada fungsi sosial dari musik. Setiap pilihan dari kedua aras itu membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Berpihak pada aras pertama memiliki konsekuensi musik menjadi tidak mudah dipahami oleh massa rakyat. Dalam sejarah politik musik klasik Rusia, ada sukses Aram Katchaturian yang berhasil memadukan nada-nada Armenia ke dalam komposisi musik klasik Eropa. Tetapi itu menjadi sulit bagi komponis Dmi-tri Shostakovich yang berpikir bahwa musik adalah capaian seni manusia yang harus dikembangkan ke titik optimalnya, karena berhadapan dengan rezim Stalin yang menuntutnya membuat lagu-lagu berirama mars seba-nyak mungkin. Demikian marahnya Shostakovich sehingga dirinya mem-buat sebuah komposisi yang menggambarkan suara dentuman bom dan penderitaan akibat perang sebagaimana yang tampak dalam Simfoni Lenin-grad. Sebuah komposisi yang tidak mudah dinikmati kendati memiliki nilai estetika yang luar biasa.
Sementara pilihan pada aras kedua, ada konsekuensi nilai estetis dari musik menjadi runduk, dengan pilihan-pilihan nada yang sederhana, ritmis yang sederhana, pun harmoni yang begitu-begitu saja. “Harmoni tiga jurus,”
kata salah seorang veteran pengajar musik Institut Kesenian Jakarta. Yang dimaksud beliau adalah harmoni akor C, F, G, dan variasi minornya yaitu akor Am, Dm, Em yang digunakan secara silih berganti dalam sebuah lagu.
Tetapi itu bukan masalah bagi para komponis lagu-lagu perjuangan rakyat, karena yang lebih penting adalah apakah lagu tersebut membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang atau tidak.
W.R. Soepratman yang terdidik oleh disiplin musik klasik Eropa, dan ber-main musik untuk sebuah klub jazz, pasti paham dengan pilihan-pilihan dari kedua aras di muka. Beliau mencoba membuat komposisi dengan va-riasi permainan melodi yang menggambarkan semacam panorama seseo-rang yang hendak meloncat terbang bebas. Itulah sebabnya lagu Indonesia
Raya, jika diperhatikan, didengarkan lamat-lamat adalah yang serupa gra-dasi dari nada-nada tengah ke nada-nada tinggi.
Barangkali W.R. Soepratman mengambil nada-nada Indonesia Raya dari lagu Pinda Pinda Lekka Lekka, pun barangkali dari segi ritmis beliau mengambil contoh dari Simfoni 40 Mozart. Bahkan mungkin refrein lagu Indonesia Raya adalah gambaran kemarahan seorang ibu terhadap anaknya, sebagaimana
“Der Holle Rache” dalam komposisi opera Die Zauberflote (The Magic Flute).
Tetapi, apa pun pilihan W.R. Soepratman semuanya ditujukan untuk mem-bangun semangat berjuang rakyat Indonesia. Semua komposisi yang dicip-ta oleh W.R. Soepratman adalah lagu-lagu perjuangan untuk rakyat Indo-nesia hingga akhir hayatnya di tahun 1938.
Sayang sesudah kritik Amir Pasaribu terhadap Indonesia Raya, tidak ada komponis ataupun peneliti musik lain yang mencoba mengajukan kera-guan yang lebih tajam, ataupun memeriksa karya-karya W.R. Soepratman yang lain. Setidaknya dari sana bisa dilihat secara lebih mendalam bagaima-na Indonesia Raya dan karya-karya W.R. Soepratman yang lain berperan di dalam membentuk kesadaran politik anti kolonialisme, sekalian menguji pengetahuan musik yang terdapat dalam karya-karya W.R. Soepratman.
Ini agar terdapat garis batas yang cukup tegas antara W.R. Soepratman dengan Chrisye yang diduga menjiplak lagu Footlose karya Kenny Logins, melalui lagu Hip Hip Hura; ataupun dengan Fahmi Shahab diduga mencon-tek lagu Coffee Rumba untuk lagu Kopi Dangdut.