BAB I : PENDAHULUAN
E. Keaslian Penelitian
Penulis menegaskan bahwa tesis ini merupakan karya asli dan dapat dipertanggung jawabkan.
Berikut penelitian yang pernah dilakukan, yaitu :
a.Tesis atas nama Anda Nuranim NIM 067005047 dengan judul : Peran Polri Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Kota Medan, rumusan masalah sebagai berikut :
17Soerjono Soekanto Dalam Ediwarman, Monograf Metodologi Penelitian Hukum / Panduan Penulisan Skripsi, Tesis, Dan Disertasi,(Medan: PT. Softmedia,2015), Hal 88.
1. Bagaimanakah Peran POLRI dalam menanggulangi tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Kota Medan?
2. Hambatan-hambatan apakah yang dihadapi POLRI dalam upaya menanggulangi tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Kota Medan?
3. Bagaimanakah solusi bagi POLRI dalam upaya menanggulangi tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kota Medan pada masa depan?
b. Tesis atas nama Fitriani NIM 137005031 dengan judul Tindak Pidana Penelantaran Rumah Tangga Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor : 467 K/Pid.Sus/2013), rumusan masalah sebagai berikut :
1. Perbuatan apa saja yang dikategorikan ke dalam lingkup rumah tangga dengan cara penelantaran rumah tangga?
2. Jenis pidana apakah yang tepat dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana penelantaran rumah tangga?
3. Bagaimana pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana penelantaran rumah tangga menurut putusan Mahkamah Agung Nomor : 467 K/Pid.Sus/2013?
Dilihat dari judul penelitian yang ditemukan di perpustakaan dengan judul penelitian yang diteliti belum pernah dilakukan dalam topik dan permasalahan yang sama. Penelitian ini dapat disebut asli sesuai dengan asas-asas keilmuan yaitu jujur, rasional, dan objektif serta terbuka. Semua ini merupakan implikasi etis dari proses menemukan kebenaran ilmiah. Sehingga penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara ilmiah.
F. Kerangka Teori Dan Konsepsional 1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori mengenai suatu kasus atau permasalahan (problema)yang menjadi bahan pertimbangan, pegangan teoritis.18Kerangka teori merupakan landasan berpikir yang digunakan untuk mencari pemecahan suatu masalah. Setiap penelitian membutuhkan titi tolak atau landasan untuk memecahkan dan membahasmasalahnya, untuk perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari mana masalah tersebut di amati.19
Teori bertujuan untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi, dan suatu kerangka teori harus diuji untuk menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan kebenarannya.20Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis dari penulisan dan ahli hukum di bidangnya yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin disetujui atau tidak disetujui yang merupakan masukan eksternal bagi penulisan tesis.21 Teori memberikan penjelasan dengan cara mengorganisasikan dan mensistematisassikan masalah yang dibicarakan dan teori bisa juga mengandung subjektivitas, apalagi berhadapan dengan suatu fenomena yang cukup kompleks seperti hukum ini.22 Adapun 3 tugas teori hukum yaitu :23
a. Menganalisis dan menerapkan konsep hukum dan konsep-konsep yuridis (rechtsleer),
b. Hubungan hukum dengan logika, c. Metodologi Hukum.
18 M. Solly lubis, Filsafat Ilmu Dan Penelitian,(Bandung:Mandar Maju, 1994), Hal.80.
19Hadari Nawawi, “Metode Penelitian Bidang Sosial”,(Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press,2003), Hal.39-40.
20Wuisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial,Asas-Asas,(Jakarta: FE UI,1996), Hal.203.
21Ibid, Hal.16.
22 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung : PT.Citra Aditya Bakti,2010), Hal.259.
23 D.H.M Meuwissen, Teori Hukum, Jurnal Hukum Pro Justita, Tahun XII, No.2 April 1994, Pendidikan Hukum, Ilmu Hukum & Penelitian Hukum Di Indonesia Sebuah Reorientasi, Salatiga : Pustaka Pelajar, 2013), Hal 79.
Teori sebagai pisau analisis yang digunakan untuk dijadikan panduan dalam melakukan analisis, dengan memberikan penilaian terhadap penemuan fakta atau peristiwa hukum yang ada.Berdasarkan uraian mengenai teori hukum maka teori hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori penegakan hukum dan teori kebijakan kriminal.
a. Teori Penegakan Hukum
Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Penegakan hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide. Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman pelaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Penegakan hukum merupakan usaha untuk mewujudkan ide-ide dan konsep-konsep hukum yang diharapkan rakyat menjadi kenyataan. Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal.24
Menurut Soerjono Soekanto, penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah/pandangan nilai yang mantap dan mengejewantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. Penegakan Hukum secara konkret adalah berlakunya hukum positif dalam praktik sebagaimana seharusnya patut dipatuhi. Oleh karena itu, memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan hukum in concreto dalam mempertahankan dan menjamin di taatinya hukum materiil dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal.25
Menurut Satjipto Raharjo, Penegakan hukum merupakan usaha untuk mewujudkan ide dan konsep-konsep tentang keadilan,kebenaran,kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Penegakan hukum mewujudkan nilai-nilai atau kaedah-kaedah yang memuat keadilan dan kebenaran, penegakan hukum bukan hanya menjadi tugas
24Dellyana,Shant,Konsep Penegakan Hukum,(Yogyakarta:Liberty, 1998), Hal.32
25Ibid, Hal.33
dari para penegak hukum yang sudah di kenal secara konvensional, tetapi menjadi tugas dari setiap orang. Meskipun demikian, dalam kaitannya dengan hukum publik pemerintahlah yang bertanggung jawab.Penegakan hukum dibedakan menjadi dua, yaitu:26
1. Ditinjau dari sudut subyeknya.
Dalam arti luas, proses penegakkan hukum melibatkan semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma hukum yang berlaku, berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum. Dalam arti sempit, penegakkan hukum hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum berjalan sebagaimana seharusnya.
2. Ditinjau dari sudut obyeknya.
Dalam arti luas, penegakkan hukum yang mencakup pada nilai-nilai keadilan yang di dalamnya terkandung bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang ada dalam bermasyarakat. Dalam arti sempit, penegakkan hukum itu hanya menyangkut penegakkan peraturan yang formal dan tertulis.
b. Teori Kebijakan kriminal (Criminal Policy)
Ruang lingkup hukum pidana dapat dilihat dari segi pengertian kebijakan hukum pidana itu sendiri. Barda Nawawi Arief mengemukakan kebijakan hukum pidana sebagai berikut:
Istilah “kebijakan” diambil dari istilah “policy” atau “politiek” (Belanda).
Bertolak dari kedua istilah asing ini, maka istilah “kebijakan hukum pidana” dapat pula disebut dengan istilah “politik hukum pidana”. Dalam kepustakaan bahasa asing
“politik hukum pidana” ini sering dikenal dengan berbagai istilah, antara lain “penal policy”’ “criminal law policy” atau “strafrechtspolitiek”.27
26Ibid, Hal.34
27Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana,(Bandung:Citra Aditya Bakti,1996), Hal. 27
Pengertian dari kebijakan atau politik hukum pidana dapat dilihat dari pengertian tentang politik hukum maupun dari politik kriminal. Politik kriminal menurut Sudarto adalah sebagai berikut:28
a. Usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat
b. Kebijakan dari Negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki yang diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dan untuk mencapai apa yang dicita-citakan.
Setiap upaya dan kebijakan untuk membentuk suatu peraturan hukum pidana yang baik pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan kejahatan. Kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian dari politik kriminal, dengan cara lain bahwa dilihat dari sudut politik kriminal, politik hukum pidana identik dengan kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana.29 Usaha penanggulangan kejahatan lewat bantuan pembuat undang-undang hukum pidana pada hakekatnya juga merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat (social defence) dan usaha mencapai kesejahteraan masyarakat (social welfare). Kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dari kebijakan atau politik sosial (social policy). Kebijakan sosial dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat.30
Keseluruhan kebijakan yang ditempuh di dalam rangka menanggulangi kejahatan pada hakikatnya juga merupakan bagian integral dari rencana pembangunan nasional. Permasalahan besar yang dihadapi dalam kebijakan kriminal melalui sarana penal tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kerangka yang lebih besar yaitu kebijakan sosial khususnya kebijakan pembangunan nasional. Kebijakan kriminal dapat diartikan menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional yang bertujuan dan berorientasi pada tujuan pembangunan nasional itu sendiri. Upaya untuk menetapkan perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana inilah
28Ibid,
29Ibid, Hal.29
30Ibid,
yang disebut dengan kriminalisasi. Sehubungan dengan pentingnya kriminalisasi dari perbuatan tersebut, Soedarto mengemukakan untuk diperhatikan hal-hal sebagai berikut:31
a. Penggunaan hukum pidana harus memperhatikan tujuan pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material spiritual berdasarkan Pancasila, sehubungan dengan ini maka (penggunaan) hukum pidana bertujuan untuk menanggulangi kejahatan dan mengadakan penguguran terhadap tindakan penanggulangan itu sendiri, demi kesejahteraan dan pengayoman masyarakat.
b. Perbuatan yang diusahakan untuk mencegah dengan hukum pidana hukum pidana harus merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki, yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian (material dan atau spiritual) atas warga masyarakat.
c. Penggunaan hukum pidana hukum harus pula memperhitungkan prinsip biaya dan hasil.
d. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari badan-badan penegak hukum, yaitu jangan sampai ada kelampauan beban tugas.
Kebijakan kriminalisasi merupakan kebijakan penyusunan perbuatan yang semula bukan merupakan tindak pidana menjadi perbuatan yang diancam dengan pidana dalam perundang-undangan. Kebijakan kriminalisasi ini penekanannya terletak pada upaya pemilihan perbuatan mana dan sanksi apa dalam suatu perundang-undangan yang baik, artinya suatu perundang-undangan yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu baik sekarang maupun yang akan datang menampung rasa keadilan masyarakat.
Kebijakan penanggulangan kejahatan (criminal policy) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pendekatan penal (penerapan hukum pidana) dan pendekatan non penal (pendekatan diluar hukum pidana). Berbicara mengenai masalah kebijakan, pada hakekatnya kebijakan hukum pidana tidak dapat dipisahkan dengan
31Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana,(Bandung:Alumni,1997), Hal.44-48
kebijakan kriminal32 (criminal policy) yaitu upaya rasional untuk menanggulangi kejahatan. Usaha rasional untuk menanggulangi kejahatan, kebijakan kriminal atau politik kriminal mempunyai tiga pengertian yaitu dalam arti sempit, luas, dan arti yang paling luas. Kebijakan kriminal dalam arti sempit merupakan seseluruhan asas dan metode yang menjadi dasar dari realisasi terhadap pelanggaran hukum yang perupa pidana. Kebijakan kriminal dalam arti luas, adalah keseluruhan fungsi aparatur penegak hukum termasuk di dalamnya cara kerja dari pengadilan, dan polisi, sedangkan dalam arti yang paling luas adalah keseluruhan kebijakan, yang dilakukan melalui pembentukan undang-undang dan tindakan dari badan-badan resmi, yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral dari masyarakat.33
Kebijakan kriminal substansinya adalah pembatasan (limitation) kekuasaan baik yang dimiliki rakyat maupun kekuasaan/penguasa penegak hukum untuk berjalan dan berfungsi sebagaimana mestinya. Secara lebih detail kebijakan kriminal menyangkut ruang lingkup, serangkaian proses mulai dari kongkretisasi, aplikasi, fungsionalisasi dengan tahap sebagai berikut:34
1. Kebijakan formulasi/legislatif yaitu tahap perumusan, penyusunan hukum pidana.
2. Kebijakan aplikatif/yudikatif yaitu tahap penerapan hukum pidana.
3. Kebijakan administratif/eksekutif yaitu tahap pelaksanaan hukum pidana.
2. Landasan Konsepsional
Landasan konsepsional digunakan di dalam penelitian mulai dari judul hingga permasalahan yang diteliti untuk menghindari penafsiran dan pemahaman yang berbeda-beda. Landasan konsepsional ini terdiri dari beberapa istilah dan defenisi diantaranya sebagai berikut :
32Sudarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat Kajian Terhadap Pembaharuan Hukum Pidana,(Bandung:Alumni,1997), Hal. 43
33Sudarto, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung:Alumni, 1981), Hal.113-114
34Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Op.cit,Hal.1
a. Kewenangan adalah kekuasaan yang berasal dari kekuasaan yang diberikan oleh undang-undang,meliputi kekuasaan membuat keputusan, memerintah dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain.35
b. Oditurat Militer adalah badan di lingkungan Militer (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) atau sekarang bernama Tentara Republik Indonesia dan Polisi Republik Indonesia yang melakukan kekuasaan Pemerintah Negara di bidang penuntutan dan penyidikan berdasarkan pelimpahan dari Panglima.36
c. Tindak Pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana.37
d. Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. 38
e. Anggota Tentara Nasional Indonesia adalah seorang prajurit yang diberi wewenang berupa tugas pengabdian terhadap Negara untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia baik ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar negeri.39
G. Metode Penelitian
Dalam penelitian harus menggunakan metode yang tepat agar para pembaca dapat menerima, memahami, dan menelaah tentang sumber penelitian, sifat dan jenis penelitian maupun manfaat penelitian untuk tujuan dari penelitian tersebut.Maka penulis melakukan kegiatan penelitian mulai dari pengumpulan sampai pada analisis
35Ateng Syafrudin, Menuju Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Yang Bersih dan Bertanggung Jawab,(Bandung:Alumni, 2000),Hal.22
36Darwan Prinst, Peradilan Militer, (Bandung:Citra Aditya Bakti, 2003), Hal.26
37Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana,(Jakarta: Prenadamedia Group),2014, Hal 84.
38Undang-Undang No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Pasal 1 ayat (1).
39Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia,Pasal 1 Angka 7.
data sesuai yang terkandung ilmu metode penelitian. Adapun penelitian yang digunakan penulis adalah sebagai berikut :
1. Jenis Dan Sifat Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif. Pendekatan yuridis normatif dilakukan dengan mempelajari, melihat dan menelaah mengenai beberapa hal yang bersifat teoritis yang menyangkut asas-asas hukum, konsepsi, pandangan, doktrin-doktrin hukum, peraturan hukum dan sistem hukum yang berkenaan dengan permasalahan penelitian ini.
Sifat penelitian dalam tesis ini adalah bersifat deskriptif analitis. Sifat penelitian ini merupakan suatu penelitian yang menggambarkan, menelaah, menjelaskan, dan menganalisis suatu peraturan hukum.40 Dalam hal ini, penelitian ini akan menggambarkan bagaimana hukum acara pidana militer,khususnya hal kewenangan Oditur Militer dalam menangani kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh anggota Tentara Nasional Indonesia.
2. Sumber Data
Di dalam penelitian ini terdapat 3 jenis sumber data, yaitu data primer,data sekunder dan data tersier. Untuk mengumpulkan data penelitian ini, penulis menggunakan tiga jenis bahan hukum, yaitu:
a. Sumber Bahan Hukum Primer
Adalah bahan hukum yang mempunyai kekuatan hukum tetap secara langsung pada objek penelitian lapangan yang menjadi data pokok dari permasalahan tentang pertanggungjawaban pidana terhadap anggota Tentara Nasional Indonesia yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terdiri dari :
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
2. Undang-Undang No.1 Tahun 1964 Tentang Hukum Pidana atau yang disebut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
3. Undang-Undang No.8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana atau yang disebut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
4. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
40Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta:Universitas Indonesia Press,2005), Hal.6
5. Undang-Undang No.23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
6. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer 7. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Militer
8. Undang-Undang No.34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia 9. Undang-Undang No.3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara
10. Undang-Undang No.31 Tahun 1997 Tentang Peradilan Militer 11. Undang-Undang No.25 Tahun 2014 Tentang Hukum Disiplin Militer
12. Undang-Undang No.26 Tahun 1997 Tentang Hukum Disiplin Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
13. Putusan pengadilan yang berkaitan dengan penelitian ini
b. Sumber Bahan Hukum Sekunder
Adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer yang penulis gunakan untuk menganalisis dan memahami penelitian, terdiri dari peraturan-peraturan dan ketentuan yang diperoleh dari literatur-literatur sebagai referensi seperti buku, jurnal hukum, makalah, internet dan yang berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana yang dilakukan terhadap anggota Tentara Nasional Indonesia yang melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
c. Sumber Bahan Hukum Tersier
Adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan, pengertian dan pemahaman terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dalam mendukung bahan hukum lainnya. Bahan hukum yang digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamus hukum dan bahan hukum yang terkait dengan permasalahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dilakukan oleh anggota Tentara Nasional Indonesia.
3. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan dua cara yaitu :
1. Studi Pustaka
Studi Pustaka adalah prosedur yang dilakukan dengan serangkaian kegiatan seperti membaca, menelaah, dan mengutip dari buku-buku literatur serta melakukan pengkajian terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan terkait dengan permasalahan.
2. Studi Lapangan
Studi Lapangan adalah prosedur yang dilakukan dengan kegiatan observasi, wawancara (interview) kepada responden penelitian sebagai usaha mengumpulkan berbagai data dan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Wilayah Hukum Pengadilan Militer I-02 Medan.
4. Analisis Data
Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk pengolahan data bersifat kualitatif yaitu dengan cara penelitian yang mengacu terhadap norma-norma, teori-teori, asas-asas, doktrin, pasal-pasal dan putusan pengadilan serta peraturan perundang-undangan dalam disiplin ilmu hukum khususnya hukum pidana militer yang menjadi panduan dan dasar penelitian. Data tersebut dianalisis secara logika dan sistematis sesuai permasalahan yang dibahas yaitu pertanggungjawaban pidana yang dilakukan terhadap anggota tentara nasional indonesia yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga untuk mempermudah proses analisa dan menjelaskan hubungan antara berbagai jenis data.
Penelitian yang dilakukan untuk memecahkan topik permasalahan terkait menggunakan metode deskriptif yakni penulis mengemukakan fakta-fakta atau gejala-gejala agar permasalahan tersebut dapat dianalisis dalam berbagai aspek secara intens antara korelasi yang satu dengan yang lainnya.
BAB II
ATURAN HUKUM ODITUR MILITER DALAM MENANGANI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA TENTARA NASIONAL INDONESIA
A. Oditur Militer Dalam Menangani Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Oditurat adalah badan di lingkungan Militer (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) atau sekarang Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia yang melakukan kekuasaan Pemerintah Negara di bidang penuntutan dan penyidikan berdasarkan pelimpahan dari panglima (Pasal 1 angka 2). Oditurat (Pasal 49) terdiri dari :
a. Oditurat Militer
Merupakan badan penuntutan pada Pengadilan Militer.
b. Oditurat Militer Tinggi
Merupakan badan penuntutan pada Pengadilan Militer Tinggi c. Oditurat Jenderal
Merupakan badan Penuntut tertinggi di lingkungan Militer atau Angkatan Bersenjata (TNI dan Polri)
d. Oditurat Militer Pertempuran41
Merupakan Penuntut pada Pengadilan Militer Pertempuran menurut Pasal 50 susunan organisasi dan prosedur Oditurat ditetapkan dengan Keputusan Panglima. Dalam daerah hukum Oditurat Militer dapat dibentuk unit pelaksana teknis sesuai kebutuhan. Pembentukannya terutama didasarkan pada pertimbangan luas daerah hukum dan banyaknya perkara.
Guna kecepatan penyelesaian perkara dan pendekatan pelayanan hukum bagi satuan Militer (Angkatan Bersenjata).42
Oditurat di lingkungan Peradilan Militer adalah 1 (satu) dan tidak terpisah- pisah. Pembinaannya secara teknis yustisia berada di bawah Oditur Jenderal, sementara secara organisatoris dan administratif berada di bawah
41UU No.31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer, Pasal 45.
42 Darwan Prinst, Loc.Cit,
Panglima. Oditur di lingkungan Peradilan Militer berwenang melakukan penyidikan
terhadap perkara tertentu atas perintah Oditur
Jenderal, melengkapi berkas perkara dengan melakukan pemeriksaan tambahan sebelum perkara diserahkan kepada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, dan untuk melaksanakan pengawasan dan pengadilan dalam bidang penyidikan, penyerahan perkara, penuntutan dan pelaksanaan putusan pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.
Oditur Militer, Oditurat Militer Tinggi dan Oditur Jenderal adalah pejabat fungsional yang melaksankan kekuasaan perintah negara dibidang Penuntutan dan Penyidikan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan, bahwa Oditurat itu adalah lembaganya, sementara Oditur itu adalah sebutan untuk pejabatnya.Sama seperti Kejaksaan adalah nama instansi/lembaga dan Jaksa adalah pejabat-pejabat yang bekerja dilembagaKejaksaan itu.
Oditur Jenderal berada di ibu kota Negara Republik Indonesia dan daerah hukumnya meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia. Sedangkan menyangkut nama, tempat kedudukan, dan daerah hukum Oditur Militer, Oditur Militer Tinggi ditetapkan dengan Keputusan Panglima.43 Sedangkan Oditur Militer Pertempuran bersifat mobil mengikuti gerakan pasukan dan berkedudukan serta berdaerah hukum didaerah pertempuran.
Oditur Militer, Oditur Militer Tinggi dan Oditur Jenderal adalah pejabat fungsional yang dalam melaksanakan penuntutan ber- tindak untuk dan atas nama masyarakat, Pemerintah dan negara serta bertanggung jawab menurut hierarki. Oleh karena itu, jabatan Oditur Militer, Oditur Militer Tinggi dan Oditur Jenderal terkait dengan fungsinya yang secara khusus dijalankan oleh Oditur dan Oditur Jenderal dalam bidang penuntutan, sehingga memungkinkan organisasi Oditurat menjalankan tugasnya.44
Menjalankan jabatan fungsional di bidang penuntutan bertindak sebagai wakil dari kesatuan, masyarakat, pemerintah, dan negara. Oleh
Menjalankan jabatan fungsional di bidang penuntutan bertindak sebagai wakil dari kesatuan, masyarakat, pemerintah, dan negara. Oleh