• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberadaan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afrika

ORGANISASI INTERNASIONAL DAN KELOMPOK LORD’S RESISTANCE ARMY

A. Perserikatan Bangsa-Bangsa

A.2 Keberadaan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afrika

Benua Afrika merupakan benua yang dipenuhi dengan konflik dan masalah sosial. Berbeda dengan benua-benua lainnya yang ada, negara-negara dalam benua

68 Afrika kerap dihadapkan dengan konflik yang berbentuk konflik etnis, konflik agama, hingga konflik yang menyangkut kelompok pemberontak dan pemerintahan. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh dunia internasional dalam usahanya mengatasi berbagai konflik yang terjadi di Afrika, kadang menghasilkan keberhasilan, kadang gagal. Merupakan obligasi organisasi-organisasi internasional dalam memberi asistensi negara-negara, yang telah tidak mampu mengatasi masalah sosial ataupun perang yang terjadi dalam internal negara. Dalam konflik-konflik yang terjadi di Afrika, masalah yang lebih rumit terjadi dibanding konflik-konflik yang biasanya terjadi di benua lainnya.

Keadaan konflik yang berlangsung secara terus menerus menimbulkan banyak masalah sosial di masa depan negara-negara Afrika. Ancaman pembunuhan dan penculikan yang berbagai kelompok lakukan terhadap masyarakat-masyarakat di Afrika, menyebabkan banyak terjadinya pengungsi yang mengungsi hingga ke perbatasan-perbatasan negara. Internally Displaced Persons (IDP) juga akan meningkat drastis ketika konflik-konflik terjadi. Permasalahan utama yang terjadi adalah krisis kemanusiaan sebagai akibat dari konflik-konflik tersebut, yaitu ketika masyarakat mulai kehilangan kapasitas untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasarnya, seperti tempat berlindung, makanan, hingga akses terhadap minuman.

Dasar keadaan ekonomi masyarakat Afrika yang tergolong miskin secara keseluruhan memperparah keadaan ketika konflik terjadi.

Dari segi keamanan, Uni Afrika dan Dewan Keamanan PBB memiliki obligasi dalam usaha perdamaian di negara-negara Afrika. PBB menganggap bahwa

69 benua Afrika merupakan benua yang dilanda krisis konflik secara terus-menerus.

Sekilas PBB menganggap Afrika sebagai prioritas, dengan memberi asistensi melawan Apartheid di Afrika Selatan, dukungan aktif dalam kemerdekaan Namibia, hingga asistensi perdamaian melalui UN Peacekeeping Missions (Operasi Pasukan Perdamaian PBB) di 25 konflik aktif yang berlokasi di berbagai wilayah Afrika.82

Secretary-General (pempinan/ketua umum) dari PBB sejak tahun 1990an, telah menyerukan kepada negara-negara Afrika untuk tidak menggunakan cara kekerasan sebagai bentuk dari penyelesaian konflik. Diserukan agar negara-negara Afrika menggunakan metode poltik dan damai seperti negosiasi, dalam resolusi sebuah konflik yang terjadi antar 2 pihak. Meski demikian, hingga kini PBB memegang peranan aktif dalam usaha penyelesaian konflik di berbagai negara di Afrika. Beberapa contoh yang terjadi di tahun 2010, yakni perpanjangan mandat operasi Pasukan Perdamaian PBB Cote D’Ivore, Demokratis Republik Congo, Sierra Leone, dan Sudan. Pada tahun yang sama, PBB juga memerintahkan peranan aktif berbagai aktor dalam mengatasi perompak Somalia yang sering beroperasi di wilayah Gulf of Aden.83

Pertama, kontribusi keamanan PBB di wilayah East Africa (Afrika Timur).

Konflik Sudan merupakan konflik yang telah berlangsung, bahkan sejak kemerdekaan Sudan di 1 Januari 1956. Pemerintahan Sudan yang merupakan mayoritas dari agama Islam, menerapkan kebijakan yang secara spesifik fokus

82 United Nations Department of Public Information, Basic Facts About the United Nations, United Nations, New York, 2011, Hal. 71.

83 Peter Eichstaedt, Pirate State; Inside Somalia’s Terrorism at Sea, Lawrence Hill Books, USA, 2010, hal. 153.

70 terhadap pembentukan negara Islam dan isolasi terhadap agama-agam selain Islam (termasuk Kristen). Berbagai kelompok pemberontakan seperti SPLA/M (Sudan People’s Liberation Army/Movement) merupakan salah satu kelompok yang berjuang demi perebutan sumber daya alam, kekuasaan, agama, dan tentunya kemerdekaan.

Konflik terus berlanjut antara pihak pemberontak dan pemerintahan Sudan, hingga Dewan Keamanan PBB di tahun 2005, membentuk United Nations Mission in the Sudan (UNMIS), yang memiliki mandat untuk mendukung implementasi salah satu hasil perjanjian perdamaian, yaitu CPA (Comprehensive Peace Agreement). UNMIS memegang peranan penting dalam referendum Sudan 2011, yang pada akhirnya menghasilkan lahirnya negara Sudan Selatan di tahun yang sama.84

Selain itu, Darfur juga menjadi pusat perhatian Dewan Keamanan PBB di tahun 2007. Omar Al Bashiir yang di tahun itu melakukan pembunuhan massal terhadap warga Kristen di Darfur melalui kelompok-kelompok yang dibayar oleh Omar Al Bashiir, mendapatkan perhatian sebab besarnya angka kematian akibat perintah tersebut. Dewan Keamanan PBB di tahun 2007, kemudian membentuk operasi perdamaian terbesar yang pernah dikirim oleh PBB, yaitu The African Union-United Nations Hybrid Operation in Darfur (UNAMID) yang menyatukan kekuatan PBB yang berjumlah 22.000 personil, dan 3,000 pasukan Uni Afrika, dalam sebuah misi untuk membawa perdamaian melalui perlindungan warga sipil di Darfur (Sudan Barat).85

84 Mansour Khalid, War and Peace in Sudan, Routledge, New York, 2010, hal. 330.

85 Ibid, hal. 331.

71 Somalia merupakan contoh lain dari keterlibatan PBB dalam konflik-konflik di Afrika. Somalia merupakan salah satu negara gagal yang ada di dunia hingga kini, akibat banyaknya konflik perang sipil dan kehadiran Perompak Somalia yang tidak terkendali. Perang sipil yang pecah di tahun 1991 akibat kudeta militer, mengundang respon aktif Dewan Keamanan PBB yang akhirnya membentuk United Nations Operation in Somalia I (UNOSOM I) pada tahun 1992 yang dilanjutkan menjadi UNOSOM II pada tahun 1993. Eskalasi konflik yang terjadi membuat kesulitan bagi pasukan perdamaian PBB dalam mengendalikan situasi kacau yang terjadi saat itu, sehinggga Dewan Keamanan PBB memberikan mandat kepada Uni Afrika di tahun 2007 untuk mengirimkan pasukan perdamaian, yang kemudian dikenal sebagai African Union Mission in Somalia (AMISOM).86

Eritrea dan Ethiopia merupakan 2 negara terakhir di wilayah Afrika Tengah dan Afrika Timur yang mendapatkan bantuan dari Dewan keamanan PBB. Jatuhnya pemerintahan militer Ethiopia di tahun 1991, memunculkan banyak aspirasi masyarakat yang menginginkan kemerdekaan Eritrea dari negara Ethiopia.

Memastikan netralitas dan kemurnian referendum yang berlangsung nantinya, PBB mengirim misi United Nations Observer Mission to Verify the Referendum in Eritrea (UNOVER), yang memiliki mandat untuk melakukan observasi terhadap referendum

86 Jean-Marc Coicaud, Beyond the National Interest; The Future of UN Peacekeeping and

Multilateralism in an Era of US Primacy, United States Institute of Peace, Washington, 2007, hal. 27.

72 yang berlangsung saat itu. Eritrea kemudian mendeklarasikan kemerdekaannya di tahun 1993.87

Dalam perjalanan pembentukan negara Eritrea, sering terjadi konflik dengan Ethiopia masalah perbatasan. Pertama kali tejadi di tahun 1998, dimana konflik dilatar belakangi oleh adanya sengketa wilayah. Konflik berlanjut selama 2 tahun, hingga kedua negara menyetujui perjanjian perdamaian. Asistensi transisi menuju perdamaian dibantu oleh PBB, melalui pengiriman 4,200 pasukan yang dikenal sebagai United Nations Mission in Ethiopia and Eritrea (UNMEE). UNMEE tersebut diberikan mandat untuk melakukan observasi dan memastikan bahwa kedua negara tetap berpegang teguh terhadap perjanjian yang kedua pihak setujui di tahun 2000.

Patroli dilakukan oleh UNMEE dan pasukan Eritrea dan Ethiopia di beberapa zona konflik. Hubungan kedua negara perlahan membaik, dan pada akhirnya Ban Ki-Moon menghentikan dan membubarkan mandat UNMEE tersebut di tahun 2008.88

Kedua, kontribusi keamanan PBB di wilayah West Africa (Afrika Barat).

Sierra Leone merupakan salah satu konflik yang terjadi di kawasan tersebut. Negara ini dihadapkan dengan konflik pemberontakan dan kudeta militer sejak tahun 1990an.

Tahun 1992 merupakan awal mula kasus tersebut, dimana pasukan militer melakukan kudeta terhadap presiden Sierra Leone waktu itu. Negosiasi aktor ketiga oleh OAU (Organization of African Unity) berhasil membuat pemerintahan yang dikuasi oleh militer, untuk dikembalikan kepada pemerintahan berbasis masyarakat. Pemilihan

87 James J. Sutterlin, The United Nations and the Maintenance of International Security; A Challenge to be Met (2nd ed), Greenwood Publishing Group Inc., USA, 2003, hal. 48.

88 Ibid, hal. 49.

73 umum dilaksanakan tahun 1996, namun kembali terjadi kudeta militer di tahun 1997.

Berbagai kejadian tersebut mengundang respon Dewan Keamanan PBB dengan cara pembentukan United Nations Observer Mission in Sierra Leone (UNOMSIL) dengan mandat untuk melakukan observasi terhadap gencatan senjata dan pembentukan ulang militer Sierra Leone, dan observasi keadaan keamanan di Sierra Leone.89

Namun 2 tahun kemudian, eskalasi konflik terjadi akibat gabungan kelompok pemberontak dan bekas militer Sierra Leone yang kemudian menguasai wilayah yang lebih luas, menyebabkan 700.000 warga kehilangan rumah, dan 450.000 pengungsi.

Dewan Keamanan PBB merespon dengan membentuk United Nations Mission in Sierra Leone (UNAMSIL) sebagai pengganti UNOMSIL, dengan mandat melindungi warga sipil, dan asistensi pemerintahan dalam melawan kelompok pemberontak.

Proses perdamaian di Sierra Leone kemudian berjalan, dan UNAMSIL dibubarkan pada tahun 2005, dengan meninggalkan sebuah pencapaian besar dalam asistensi Sierra Leone kepada perdamaian.90

Liberia merupakan negara lainnya di Afrika Barat yang menghadapi masalah keamanan dan mendapat bantuan dari PBB. Setalah menjalani prosesi pemilihan umum di tahun 1997, konflik kembali pecah pada tahun 1999.91 Terdapat 2 kelompok pemberontakan di Liberia waktu itu, yakni Liberians United for Reconciliation and Democracy (LURD) dan Movement for Democracy in Liberia (MODEL). Kedua

89 Jean E. Krasno, The United Nations; Confronting the Challenges of a Global Society, Lynne Rienner Publishers Inc., USA, 2004, hal. 239.

90 Ibid

91 United Nations Department of Public Information, Basic Facts About the United Nations, United Nations, New York, 2011, hal. 75.

74 kelompok pemberontak atau freedom fighter tersebut melakukan pemberontakan hingga di tahun 2003, dan segala negosiasi yang berusaha dilakukan oleh organisasi regional, tidak menghasilkan resolusi yang memuaskan bagi ketiga pihak.

Eskalasi konflik dan kegagalan aktor negara dan organisasi internasional dalam mengatasi konflik yang terjadi, membuat Dewan Keamanan PBB membentuk United Nations Mission in Liberia (UNMIL) pada September, 2003. Misi tersebut terdiri atas 15,000 pasukan militer dengan mandat melakukan pengamatan gencatan senjata, pengamatan terhadap demobilisasi dan reintegrasi dari semua pasukan bersenjata, serta perlindungan terhadap institusi-institusi pemerintahan.92

Cote d’Ivore merupakan negara terakhir yang dilanda dengan konflik, jika berbicara wilayah Afrika Barat. Konflik di Cote d’Ivore terjadi pada Desember 1999, saat terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh General Robert Guei. Kebijakan radikal untuk tetap bertahan sebagai presiden dilakukan oleh Guei, yang menimulkan protes masif di tahun 2000. Guei kemudian melarikan diri dari Cote d’Ivore, dan Gbagbo mendeklerasikan dirinya sebagai presiden baru. Dewan Kemanan PBB melihat ketidakjelasan dalam pemerintahan Cote d’Ivore akibat konflik antar pemberontakan, sehingga Dewan Keamanan membentuk United Nations Operation in Cote d’Ivore (UNOCI) di tahun 2004. UNOCI diberikan beberapa mandat oleh Dewan Keamanan PBB, yakni mengamati dan memastikan berjalannya beberapa perjanjian perdamaian

92 Ibid, hal. 76.

75 yang pemerintahan Cote d’Ivore telah setujui dengan beberapa kelompok pemberontak.93

Ketiga adalah kontribusi keamanan PBB di wilayah Central Africa (Afrika Tengah). Republik Demokratis Congo adalah salah satu negara, yang hingga kini terus mendapatkan bantuan keamanan dalam bentuk pasukan perdamaian, dalam menjalin kestabilan keamanan di Republik Demokratis Congo. Setelah genosida di Rwanda tahun 1994, terdapat 1,2 juta pengungsi yang menuju ke Republik Demokratis Congo. Provinsi-provinsi tempat pengungsi korban genosida Rwanda, mulai terbentuk beberapa gerakan pemberontakan sejak tahun 1996. Uganda dan Rwanda yang mendukung pemberontakan tersebut, membuat kelompok pemberontak yang bernama Congolese Rally for Democracy ini, membuat Republik Demokratis Congo kesulitan dalam mengembalikan wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kelompok tersebut.94

Terdapat sebuah perjanjian perdamaian antara pihak-pihak yang dianggap mengambil peran dalam konflik yang terjadi di Republik Demokratis Congo tersebut.

Republik Demokratis Congo, Angola, Namibia, Rwanda, Uganda dan Zimbabwe menandatangani Perjanjian Gencatan Senjata Lusaka di tahun 1999. Pada tahun yang sama, Dewan Keamanan PBB membentuk United Nations Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUC) untuk memberi asistensi dalam implementasi.

Republik Demokratis Congo tidak pernah sejak itu berada dalam keadaan yang

93 Thomas Turner, The Congo Wars; Conflict, Myth and Reality, Zed Books Ltd., London, 2007, hal.

156.

94 Alex J. Bellamy dan Paul Williams, Understanding Peacekeeping, Polity Press, Cambridge, 2010, hal. 155.

76 damai, namun kehadiran MONUC telah setidaknya mengurangi ancaman pembunuhan sebagai akibat dari perang militer melawan kelompok pemberontakan tersebut. Beberapa perang tetap terjadi di berbagai wilayah yang ada di Republik Demokratis Congo, sehingga Dewan Keamanan PBB memperluas mandat yang diberikan kepada MONUC, dan mengubah nama misinya menjadi United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO) di tahun 2009.95

Republik Afrika Tengah merupakan salah satu negara lainnya yang dihadapkan dengan beberapa konflik di masa lalu, dengan campur tangan PBB.

Muncul pasukan bersenjata yang melakukan pemberontakan di beberapa wilayah Republik Afrika Tengah pada tahun 1990an. Respon Dewan Keamanan PBB dalam kasus tersebut adalah pembentukan United Nations Mission in the Central African Republic (MINURCA) di tahun 1998. Mandat yang diberikan kepada MINURCA adalah untuk membantu pemerintah Republik Afrika Tengah untuk meningkatkan kapasitas keamanan Republik Afrika Tengah. Kesulitan banyak dihadapi oleh MINURCA, sebab sejak adanya pasukan PBB di Republik Afrika Tengah, terdapat 2 kali usaha kudeta oleh 3 kelompok pemberontak yang ada di Republik Afrika Tengah. Meskipun demikian, MINURCA memiliki peran yang sangat besar dalam

95 Alex J. Bellamy dan Paul Williams, Understanding Peacekeeping, Polity Press, Cambridge, 2010, hal. 157.

77 memediasi perjanjian perdamaian 2008 antara pemerintah Republik Afrika Tengah dan 3 kelompok pemberontak utama yang ada di Republik Afrika Tengah tersebut.96

Beberapa contoh resolusi Dewan Keamanan PBB yang membentuk sebuah pasukan yang akan memberi asistensi kepada aktor negara di atas, hanya beberapa dari sekian banyak pasukan perdamaian PBB yang telah dikirim oleh Dewan Keamanan PBB. Benua Afrika sebagai benua yang masih banyak terdapat konflik aktif dalam bentuk konflik asimetris dan simetris, membuat Dewan Keamanan PBB bekerja keras dalam usahanya mengatasi, atau setidaknya berkontribusi terhadap prosesi penyelesaian konflik tersebut. Hingga kini, masih terdapat beberapa operasi dan misi keamanan PBB di beberapa negara Afrika.