• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN MONETER Suku Bunga

triwulan II-2009. Selain karena faktor eksternal yang kondusif, penguatan rupiah juga

KEBIJAKAN MONETER Suku Bunga

Perkembangan likuiditas di pasar uang antar bank yang longgar mendorong suku bunga PUAB O/N bergerak di bawah BI Rate.

Kondisi likuiditas di pasar uang yang longgar tampak pada posisi FASBI yang cenderung meningkat. Selain itu, kontraksi Pemerintah sampai dengan Juni 2009 yang lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya turut berdampak positif bagi likuiditas perbankan. Akibatnya, selama triwulan II-2009, rata-rata suku bunga PUAB O/N turun signifikan sebesar 106 bps, lebih besar dari penurunan BI Rate sebesar 75 bps. Perkembangan tersebut juga diikuti oleh volatilitas suku bunga PUAB O/N yang juga semakin menurun sejalan dengan semakin menyempitnya spread antara suku bunga tertinggi dan terendah.

Perkembangan pada suku bunga PUAB O/N diikuti oleh suku bunga PUAB dengan tenor yang lebih panjang. Pada Juni 2009,

rata-rata penurunan suku bunga PUAB untuk tenor di atas O/N mencapai 112 bps dari rata-rata Maret 2009. Penurunan suku bunga PUAB tenor di atas O/N yang terbesar terjadi pada tenor di atas 30 hari. Dengan perkembangan tersebut maka struktur suku bunga PUAB berbagai tenor menjadi semakin menurun dan landai. Kondisi demikian juga terefleksi pada rata-rata kuotasi JIBOR yang juga terus menurun. Hal itu berimplikasi pada rata-rata spread JIBOR-OIS yang semakin menyempit. Spread antar tenor 1, 3 dan 6 bulan JIBOR-OIS juga semakin tipis, mengindikasi persepsi terhadap likuiditas antar waktu yang semakin membaik.

Transmisi penurunan BI Rate direspons oleh penurunan suku bunga deposito dan kredit. Pada triwulan II-2009 (April – Mei 2009), rata-rata tertimbang suku bunga deposito

1 bulan untuk seluruh kelompok bank turun sebesar 65 bps, lebih besar dari penurunan BI Rate (50 bps). Penurunan tersebut khususnya ditopang oleh pelaku bank asing dan bank swasta nasional. Sementara itu, rata-rata suku bunga deposito berbagai tenor lainnya juga 1 Kisaran tersebut merupakan rata-rata inflasi tahunan (yoy) dari tahun 2003-2007, namun dengan mengeluarkan tahun 2003 ketika terjadi favorable supply shocks dan Okt 2005-Sept 2006 ketika dampak kenaikan harga BBM memberikan dampak lanjutan pada kenaikan barang lainnya termasuk pangan.

Grafik 3.13 Indeks Produksi Sektor Industri Pengolahan (SP) ������ ������������������������������������������ ��� ��� ��� �� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � ���� ���� ���� ���� ���� Grafik 3.14 Kapasitas Produksi Terpakai Industri Pengolahan (SP) ��������������������������������������������� ��� �� �� �� �� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � ���� ���� ���� ���� ����

mengalami penurunan namun dengan besaran yang lebih terbatas dibandingkan dengan suku bunga deposito 1 bulan. Rata-rata penurunan suku bunga deposito berbagai tenor lainnya pada April dan Mei 2009 masing-masing tercatat sebesar 21 bps dan 8 bps.

Sepanjang triwulan II-2009 (April - Mei 2009), suku bunga dasar kredit (base lending

rate) mengalami penurunan sebesar 29 bps. Berdasarkan penggunaannya, suku bunga kredit modal kerja (KMK) dan suku bunga kredit investasi masing-masing turun sebesar 31 bps dan 11 bps 2. Sementara itu, suku bunga kredit konsumsi justru masih naik sebesar 11 bps 3. Kondisi ini mencerminkan masih tingginya minat masyarakat pada kredit konsumsi sehingga kurang elastis terhadap perubahan suku bunga. Berdasarkan kelompok bank, penurunan suku bunga kredit terbesar selama periode laporan terjadi pada bank asing dan campuran.

Lambatnya penurunan suku bunga kredit antara lain terkait upaya perbankan dalam mengantisipasi risiko peningkatan NPL. Beberapa bank melakukan penambahan

pencadangan dalam bentuk PPAP yang pada gilirannya menyebabkan biaya overhead bank meningkat. Hal tersebut dilakukan untuk menutup kemungkinan pemburukan NPL sebagai akibat dari efek perlambatan ekonomi pada sektor riil. Selain itu, kenaikan biaya overhead bank juga disebabkan oleh masih tingginya cost of fund karena berlanjutnya kompetisi (persaingan) suku bunga yang ditawarkan untuk menarik deposan besar (prime customer). Berbagai hal tersebut menyebabkan sulit turunnya suku bunga kredit walaupun premi risiko sudah menunjukkan perbaikan.

Dana, Kredit, dan Uang Beredar

Lemahnya kondisi ekonomi dan penyaluran kredit cukup berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan dana. Sampai dengan Mei 2009, posisi Dana Pihak Ketiga

2 Data dari April sampai dengan Mei 2009. 3 Data dari April sampai dengan Mei 2009

Apr Juni Juli Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni

Suku Bunga (%) 2008 2009

Tabel 3.1

Perkembangan Berbagai Suku Bunga

BI Rate 8,00 8,50 8,75 9,00 9,25 9,50 9,50 9,25 8,75 8,25 7,75 7,50 7,25 7,00 Penjaminan Deposito 8,00 8,25 8,25 8,75 8,75 10,00 10,00 10,00 9,50 9,00 8,25 7,75 7,75 7,50 Dep 1 bulan (Weighted Average) 6,86 7,19 7,51 8,04 9,26 10,14 10,40 10,75 10,52 9,88 9,42 9,04 8,77 n.a Dep 1 bulan (Counter Rate) 6,85 7,01 7,18 7,42 7,77 8,32 8,67 8,69 8,66 8,38 8,03 7,72 7,64 7,44 Base Lending Rate 12,75 12,8 12,95 13,21 13,29 13,65 14,07 14,16 14,18 13,98 13,94 13,78 13,64 n.a Modal Kredit Kerja (KMK) 12,93 12,99 13,14 13,42 13,93 14,67 15,13 15,22 15,23 15,08 14,99 14,82 14,68 n.a Kredit Investasi (KI) 12,47 12,51 12,61 12,86 13,32 13,88 14,28 14,40 14,37 14,23 14,05 14,05 13,94 n.a Kredit Konsumen (KK) 15,74 15,71 15,73 15,78 15,87 16,05 16,24 16,40 16,46 16,53 16,46 16,48 16,57 n.a

Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan II-2009

(DPK) masih berada dalam kecenderungan yang meningkat. Namun, peningkatan tersebut tidak terlalu besar sehingga pertumbuhannya mengalami koreksi. Kondisi itu diindikasi terkait dengan kondisi makro yang berimbas pada lemahnya pendapatan masyarakat dan penyaluran kredit. Posisi DPK pada Mei 2009 tercatat mencapai Rp1,783 triliun atau tumbuh 18,5% (yoy) (Grafik 3.15). Dari segi komposisinya, baik DPK Rupiah maupun valas mengalami penurunan pertumbuhan. Hal yang sama juga terjadi pada DPK berdasar jenis. Bahkan untuk giro rupiah mencatatkan pertumbuhan yang sangat rendah.

Pertumbuhan kredit masih sangat minimal. Kondisi tersebut

ditengarai masih terkait dengan lemahnya perekonomian dan perilaku bank yang lebih berhati-hati dalam penyaluran kredit. Lemahnya permintaan kredit dikonfirmasi oleh terus naiknya undisbursed loan baik secara level maupun rasio terhadap penyaluran kredit. Dengan perkembangan tersebut, posisi total kredit pada Mei diperkirakan tidak banyak mengalami perubahan berarti, bahkan dapat lebih rendah dari akhir triwulan I-2009. Pada Mei 2009, posisi kredit tercatat mencapai Rp1,339 triliun atau hanya tumbuh sebesar 17,7% (yoy, termasuk channeling). Dengan perkembangan ini, penyaluran kredit perbankan selama tahun 2009 sampai dengan bulan Mei 2009 masih mencatat kontraksi sebesar 1,1% (ytd). Dari sisi valuta, kontraksi yang terjadi pada kredit valas selain terkait dengan penguatan nilai tukar, juga mencerminkan preferensi perbankan untuk mengurangi tingkat eksposurnya dalam pemberian kredit berdenominasi valas. Sementara itu berdasarkan penggunaannya, kredit modal kerja masih menjadi penyumbang terbesar pada penurunan posisi kredit total. Adapun dari sisi sektoral, beberapa sektor tertentu seperti seperti perdagangan, listrik, air, dan gas, serta pengangkutan tampaknya masih cenderung menikmati kenaikan penyaluran kredit.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi yang cenderung melambat, kondisi likuiditas perekonomian mulai meningkat terbatas. Perkembangan M1 dan M2

Rupiah yang meningkat terbatas mengindikasikan potensi masih berlanjutnya perlambatan ekonomi ke triwulan II-2009. Sampai dengan Mei 2009, posisi M1, M2, dan M2 rupiah terus meningkat masing-masing mencapai Rp467,7triliun, Rp1.917,1triliun, dan Rp1.633,8 triliun. Namun demikian, pertambahan yang terjadi masih relatif lambat, sehingga pada April dan Mei pertumbuha M1 dan M2 menjadi masing-masing 6,7% dan 17,2% dari triwulan sebelumnya sebesar 9,3% dan 20,4% (Grafik 3.16).

Pasar Keuangan

Kinerja IHSG terus menunjukan perbaikan walaupun sedikit tertahan pada akhir triwulan II-2009. Peningkatan kinerja pasar modal tersebut didorong oleh membaiknya

kondisi eksternal, antara lain ekspektasi positif akan perbaikan ekonomi dan pasar keuangan

Grafik 3.15 Perkembangan Dana vs Kredit �� �� �� �� �� �� �� �� �� �� �� �� �� �� �� �������� ������������������������������ ��������� ������������ ������������������ ���������������� ��� ������ ��� ������ ��� ��������� ������ ��� ������ ��� ������ ��� ��������� ������ ���� ���� ���� ���� ���� Grafik 3.16 Pertumbuhan Nominal M1 dan M2 �� �� �� �� �� �� �� � � � � ��� � � � � ��� � � � � � �� � � � � ��� � � � � � �� � � � � ��� � � � � � �� � � � � ��� � � � � � ��� � ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� �� �� ����� �������

global. Optimisme tersebut kemudian mendorong investor global untuk kembali mencari high yielding asset dengan menempatkan dananya di pasar keuangan negara berkembang. Pasar modal kawasan Asia, termasuk Indonesia, menguat tajam. IHSG ditutup pada level 2026,8 atau meningkat sebesar 41,3% dibandingkan posisi penutupan triwulan I-2009. Searah dengan hal itu, kapitalisasi pasar meningkat sebesar Rp462 triliun menjadi sebesar Rp1553,7 triliun. Namun pada akhir triwulan, meningkatnya kekhawatiran imbas pelemahan ekonomi di negara-negara maju terhadap kinerja perusahaan mendorong terjadinya pembalikan dana asing sehingga menyebabkan IHSG sedikit terkoreksi pada akhir triwulan II-2009.

Selain membaiknya kondisi eksternal, penguatan IHSG juga ditopang oleh kondisi domestik yang kondusif diantaranya kebijakan moneter yang cenderung longgar dan cukup kuatnya fundamental mikro perusahaan. Penurunan BI Rate sepanjang

triwulan II-2009 semakin mendorong peningkatan aktifitas perdagangan di pasar modal. Sementara itu, dari sisi mikro perusahaan, kemampuan emiten yang tergabung dalam LQ-45 untuk membukukan pendapatan dan laba bersih pada triwulan I–2009 memperkuat keyakinan investor akan ketahanan fundamental mikro perusahaan.

Kembalinya aliran modal asing ke emerging markets meningkatkan likuiditas pasar saham. Masuknya investor asing menumbuhkan kembali

kepercayaan investor domestik yang pada akhirnya meningkatkan nilai perdagangan pasar secara keseluruhan. Nilai perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia secara rata-rata harian pada triwulan II-2009 meningkat menjadi sebesar Rp5,3 triliun per hari dibandingkan posisi triwulan I-2009 sebesar Rp1,6 triliun per hari (Grafik 3.17). Kondisi ini bahkan lebih baik dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2008, dimana rata-rata harian perdagangan saham mencapai Rp4,41 triliun per hari. Sejalan dengan kembalinya aliran modal asing sampai dengan pertengahan Juni 2009, net beli asing pada triwulan II-2009 tercatat sebesar Rp5,2 triliun, dibandingkan net beli asing pada triwulan I-2009 yang hanya Rp0,09 triliun (Grafik 3.18).

Sejalan dengan kinerja pasar modal, perbaikan kinerja juga terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Berlanjutnya penurunan BI Rate dan masuknya aliran modal asing

menjadi faktor pendorong meningkatnya kinerja SBN. Hal itu terindikasi dari penurunan yield SUN pada hampir seluruh tenor yang secara rata-rata turun sebesar 215bps hingga mencapai 9,8% pada triwulan II-2009, dibandingkan dengan akhir triwulan I-2009 yang mencapai 12,0%. Namun, penurunan yield SUN lebih lanjut tertahan akibat aksi profit taking pelaku pasar dan melemahnya kembali pasar keuangan global pada akhir triwulan laporan.

Perbaikan kondisi eksternal serta kuatnya fundamental ekonomi domestik menopang penurunan yield SBN. Dari sisi eksternal beberapa faktor yang mendorong

Grafik 3.17 IHSG dan Nilai Perdagangan �� ����� ����� ����� ����� ����� ��� ���������������������� ���������� ���������� � � � � � � � � � ���� �� � � � � � � � � � ���� �� � � � � � � ���� ���� ���� Grafik 3.18 IHSG dan Net Beli Asing ��� ��� ��� ����� ����� ����� ����� ����� ��� ����������������������� ���������� ���������� � � � � � � � � � ���� �� � � � � � � � � � ���� �� � � � � � � ���� ���� ����

Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan II-2009

kinerja SUN antara lain (i) optimisme pasar atas recovery perekonomian global, (ii) masih tingginya yield SBN yang ditawarkan walaupun spread antara UST-Bond dan suku bunga domestik semakin menipis (iii) CDS terus menunjukan penurunan, dan (iv) apresiasi nilai tukar. Sementara dari sisi domestik, faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain: (i) prospek pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, (ii) inflasi yang rendah menyebabkan yield SBN secara riil4 menarik, (iii) ekspektasi masih berlanjutnya tren penurunan BI Rate serta (iv) sustainabilitas fiskal yang masih relatif terjaga ditengah kembali naiknya harga minyak dunia.

Kembali meningkatnya peran asing turut berperan dalam perbaikan kondisi SBN. Selama triwulan II-2009, tambahan net beli

oleh investor asing tercatat sebesar Rp6,4 triliun, sedangkan pada triwulan I-2009 investor asing masih membukukan net jual sebesar Rp7,8 triliun. Sebagai counterparty penjualan SBN tersebut adalah bank rekap, dana pensiun, sekuritas dan perorangan. Dengan perkembangan tersebut, pada akhir triwulan II-2009 posisi SBN menjadi sebesar Rp555,9 triliun.

Searah dengan arus modal non residen di pasar SBN yang meningkat, likuiditas pasar SBN terus membaik. Rata-rata harian

volume perdagangan SBN pada triwulan II-2009 tercatat sebesar Rp3,7 triliun atau naik dari rata-rata perdagangan triwulan sebelumnya sebesar Rp2,9 triliun (Grafik 3.19). Hal yang sama ditunjukan pula oleh frekuensi rata-rata harian perdagangan SBN. Pada triwulan II-2009, rata-rata harian frekuensi perdagangan SBN berkisar 280 kali atau naik dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 192 kali per hari (Grafik 3.20). Berbagai kondisi tersebut merupakan indikasi bahwa kepercayaan pelaku pasar yang mulai pulih. Dalam perkembangannya, tren kenaikan volume dan frekuensi perdagangan SBN, khususnya SUN, terus terjadi hingga Juni 2009.

Bergairahnya kembali pasar SUN berdampak positif terhadap lelang SBN yang dilakukan oleh Pemerintah. Pada dua kali lelang SBN yang dilakukan pada bulan Juni 2009,

terjadi oversubscribed. Dari penawaran yang masuk pada 9 Juni sebesar Rp.12,4 triliun, Pemerintah hanya memenangkan sebesar Rp 2.99 triliun. Sementara itu, dari penawaran yang masuk pada 23 Juni sebesar Rp.6.32 triliun, Pemerintah hanya memenangkan sebesar Rp 2.2 triliun. Namun demikian aksi beli SBN oleh non residen yang terjadi secara merata untuk seluruh tenornya, masih didominasi oleh lembaga keuangan asing.

Dari sisi kepemilikan, sama halnya dengan perkembangan triwulan sebelumnya, lembaga keuangan asing masih menempati porsi terbesar pada investor non residen dan memiliki persepsi yang kuat sebagai market maker. Sementara itu, SBN yang dimiliki

real money investor seperti asuransi dan dana pensiun yang memiliki karakteristik portofolio

4 Yield secara riil merupakan spread antara yield secara nominal dengan koreksi faktor inflasi

Grafik 3.19 Volume Perdagangan & Yield SBN (seluruh tenor) �� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � ������� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � ���� ���� ���� ���� ���� �� �� �� �������������������������������������� ������������������� ����������� Grafik 3.20 Rata-rata Harian Frekuensi Perdagangan SBN �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� � � � � � � � � � �� �� �� � � � � � � � � � �� ���� � � � � � � ���� ���� ���� ������������� �������

hold to maturity masih tergolong stabil. Dengan perkembangan

tersebut, risiko pembalikan arus modal asing masih perlu dicermati sejalan dengan masih belum sustainable-nya penurunan risiko global. Pada akhir periode laporan, terjadi koreksi kinerja SBN yang diikuti oleh menurunnya aktivitas beli asing di pasar.

Di pasar reksadana, penurunan suku bunga simpanan dan membaiknya kinerja underlying asset sepanjang triwulan II-2009, mendorong peningkatan NAB reksadana. Hampir seluruh

jenis reksadana baik reksadana saham, pendapatan tetap maupun campuran memberikan kontribusi yang besar. Reksadana pasar saham telah memberikan kontribusi NAB mencapai Rp.29.5 triliun, diikuti oleh NAB reksadana pendapatan tetap sebesar Rp.13.2 triliun dan reksadana campuran sebesar Rp.12,4 triliun. Peningkatan NAB reksadana per Mei 2009 meningkat menjadi Rp.92,1 triliun dibandingkan dengan NAB triwulan I-2009 sebesar Rp77,3 triliun (Grafik 3.21). Kedepan, dengan adanya pengenaan PPH final sebesar 0% untuk bunga dan diskonto atas obligasi yang diperoleh pada 2009-2010 diharapkan dapat terus meningkatkan kinerja reksadana. Hal ini juga sejalan dengan tren penurunan suku bunga deposito yang diperkirakan masih terus berlanjut.

Grafik 3.21 Perkembangan NAB Reksadana ���� ���� ����� ����� ������ ����� ����� ����� ����� ����� ���� ����� ����� ����� �� �� �� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ������������������� ���������� ���������������������������������������

Perekonomian Indonesia ke Depan

4. Perekonomian Indonesia ke Depan

Perkembangan terkini menunjukkan bahwa kinerja perekonomian Indonesia secara umum lebih baik dari prakiraan semula. Meskipun demikian, perkembangan tersebut tetap perlu disikapi secara lebih berhati-hati karena masih tingginya ketidakpastian di perekonomian global. Krisis ekonomi global telah memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui anjloknya ekspor. Namun, berbeda dengan negara lain di kawasan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan tetap positif. Dampak penurunan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia diperkirakan tidak separah berbagai negara eksportir lainnya di kawasan. Keuntungan komparatif Indonesia diantaranya adalah relatif kuatnya peranan permintaan domestik dalam struktur perekonomian. Namun, sejumlah tantangan juga harus dihadapi dari perekonomian domestik terutama di sisi pembiayaan perekonomian. Berdasarkan perkembangan tersebut, pertumbuhan

ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengalami perlambatan dari 6,1% di tahun 2008 menjadi 3,5%-4,0% pada tahun 2009. Apabila efektifitas stimulus moneter dan

fiskal dapat ditingkatkan pada triwulan-triwulan ke depan, pertumbuhan ekonomi

diperkirakan dapat mencapai batas atas 4% pada 2009.

Dari sisi harga, berbagai faktor positif seperti produksi yang memadai, distribusi bahan makanan yang lancar, ekspektasi inflasi yang terus membaik, kapasitas produksi terpakai yang masih rendah, serta kebijakan pemerintah di bidang harga yang minimal diperkirakan merupakan faktor utama di balik penurunan inflasi. Dengan berbagai faktor tersebut, inflasi IHK diprakirakan berada di sekitar 5%

pada tahun 2009 dengan kecenderungan ke bawah yang cukup besar, dan berada

dalam koridor target inflasi IHK 2009 sebesar 4,5±1%. Bank Indonesia akan terus menjalankan kebijakan moneter yang tetap diarahkan untuk mengakomodir pertumbuhan ekonomi namun dengan tetap berhati-hati pada pencapaian inflasi.

ASUMSI DAN SKENARIO YANG DIGUNAKAN

Dokumen terkait