• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Pemerintah Terhadap Supply dan Demand Sapi Potong Sapi Potong

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SAPI POTONG DI INDONESIA

4.3. Kebijakan Pemerintah Terhadap Supply dan Demand Sapi Potong Sapi Potong

Peraturan perundangan dikeluarkan dalam rangka mengatur harmonisasi masyarakat dalam tatanan kenegaraan. Begitu pula dengan dikeluarkannya peraturan perundangan mengenai sapi dan daging sapi ditujukkan dalam rangka mengatur harmonisasi tersebut. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait sapi dan daging sapi dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu kebijakan terhadap supply dan kebijakan terhadap demand.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah mengeluarkan kebijakan-kebijakan mengenai peternakan dan kesehatan hewan dalam rangka mendorong peternak untuk meningkatkan populasi ternak, termasuk sapi potong. Pada pembangunan Jangka Menengah Tahun 2015 – 2019, ada beberapa kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pasokan/supply sapi dan daging sapi, seperti pada Tabel 9.

Tabel 9. Kebijakan Pemerintah atas Pasokan dan Demand Sapi dan Daging Sapi Tahun 2015 – 2019

No. Peraturan Perundangan Bahasan Pasal-pasal terkait

A Kategori Kebijakan Supply Sapi

1. Peraturan Menteri Pertanian No. 02 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49/Permentan/Pk.440/10/20 16 Tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia a. Rasio Impor Induk dan bakalan (1:5) - Pasal 7 (1) a jumlah Indukan dan Bakalan minimal 1:5 ekor, bagi Pelaku Usaha - Pasal 7 (1) b jumlah Indukan dan Bakalan minimal 1:10 ekor, bagi Koperasi Peternak dan Kelompok Peternak b. Perubahan besaran berat rata-rata bakalan impor dari 350 kg menjadi 450 kg. Umur maksimal dari 2 tahun menjadi 4 tahun. Waktu Penggemuk an paling cepat 4 bulan - Pasal 15 (1) a. berat badan rata-rata maksimal 450 kilogram berdasarkan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) - Pasal 15 (1) b.

berumur maksimal 48 (empat puluh delapan) bulan yang dibuktikan dengan surat keterangan dari Negara Asal - Pasal 15 (2)

Bakalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib

digemukkan dalam jangka waktu paling cepat 4 (empat) bulan sejak selesai dilakukan tindakan karantina hewan 2 Peraturan Menteri Pertanian

Republik Indonesia No.

Peningkatan populasi

No. Peraturan Perundangan Bahasan Pasal-pasal terkait

48/Permentan/PK.210/10/20 16 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting dengan Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) B Kebijakan Supply Daging

Sapi/Kerbau

1. Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2016 tentang

Pemasukan Ternak Dan/Atau Produk Hewan Dalam Hal Tertentu Yang Berasal Dari Negara Atau Zona Dalam Suatu Negara Asal Pemasukan Pemasukan produk ternak/daging dari negara atau zona dalam suatu negara yang belum bebas penyakit endemis, seperti PMK, dalam hal tertentu (bencana, kurangnya ketersediaan daging; dan/atau tingginya harga daging yang memicu inflasi dan mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional) Pasal 6 (1) c negara yang belum bebas penyakit mulut dan kuku dan telah memiliki program pengendalian resmi penyakit mulut dan kuku yang diakui oleh badan kesehatan Hewan dunia

2. Peraturan Menteri Pertanian No.

17/Permentan/PK.450/5/201 6 Tentang Pemasukan Daging Tanpa Tulang Dalam Hal Tertentu Yang Berasal Dari Negara Atau Zona Dalam Suatu Negara Asal Pemasukan

Kontra dengan Permentan

Pasal 2 (1) Dalam Hal Tertentu, dapat dilakukan pemasukan Produk Hewan ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia yang berasal dari negara atau Zona Dalam Suatu Negara yang telah memenuhi persyaratan dan tata

No. Peraturan Perundangan Bahasan Pasal-pasal terkait

No.

34/Permentan/PK.210/7/201 6 tentang Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan, Dan/Atau Olahannya Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia, pada pasal 9 pemasukan harus dari negara asal yang bebas dari penyakit zoonosis dan penyakit menular.

Permentan ini tidak menyebutkan zona dari suatu negara cara Pemasukan Produk Hewan. 3. Peraturan Menteri Perdagangan No. 59/M-DAG/PER/8/2016 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan Kontra dengan Permentan 139 Tahun 2014 tentang Pemasukan Karkas, Daging, Dan/Atau Olahannya Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia, pada pasal 32 (2) Tujuan penggunaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf j terhadap karkas dan/atau daging dari jenis selain lembu, serta produk daging olahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 untuk hotel, restoran, katering, industri, keperluan khusus lainnya, dan pasar modern Daging beku dapat masuk ke pasar, termasuk pasar tradisional, yang memiliki fasilitas rantai dingin Pasal 19 produk hewan yang diimpor untuk tujuan

penggunaan dan distribusi bagi industry, hotel, restoran,

catering, pasar yang memiliki fasilitas rantai dingin, dan keperluan khusus lainnya

Kebijakan pemerintah dari sisi demand lebih mengedepankan kepada kebijakan penurunan harga daging sapi menjadi Rp 80 ribu/kg. Kebijakan ini sering dikenal dengan istilah kebijakan

memerintahkan kepada jajaran menterinya, terutama Menteri Pertanian untuk mampu meredam gejolak harga daging sapi yang terus meningkat sebelum hari Raya Idul Fitri. Presiden menetapkan agar daging sapi berada di harga Rp 80 ribu/kg. Kegiatan turunan dengan adanya kebijakan tersebut menyebabkan pemerintah melakukan Operasi Pasar yang dimotori oleh Bulog. Pada tahun itu juga pemerintah menunjuk Bulog untuk mengimpor daging beku dari India. Kemudian dilanjutkan dengan mengimpor daging kerbau beku dari India sebanyak 70 ribu ton karena daging kerbau lebih murah dibandingkan dengan daging sapi. Namun, kebijakan tersebut belum mampu menurunkan harga daging sapi di pasaran yang masih di atas Rp 110.000/kg. P0 Pd D S P Q Q0 Q1 Q2 120 ribu 80 ribu DWL Shortage Supply P1 Gambar 24

Kebijakan Floor Price pada Harga Daging Sapi

Berdasarkan teori supply demand, apabila pemerintah melakukan kebijakan floor price atau penetapan harga dasar untuk suatu komoditas, maka kondisi supply demandnya dapat dilihat pada Gambar 24 Berdasarkan Gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa harga daging sapi yang terjadi sekarang ini adalah Rp 120 ribu per kg. Pemerintah melakukan kebijakan

floor price (Pd) dengan cara menurunkan harga daging sapi di

harga Rp 80 ribu/kg, maka:

• Produsen hanya mampu memproduksi daging sapi di Q1, jika harga diturunkan

• Sementara itu, konsumen mengingikan daging sapi di Q2 • Dengan demikian, terjadilah apa yang disebut dengan

shortage supply, yaitu di mana pemerintah harus mampu

menyediakan supply daging sapi sampai di titik Q2 sebagai konsekuensi dari penetapan kebijakan tersebut.

• Dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan tersebut adalah: a. Terjadi kehilangan ekonomi (death weight lost = DWL)

sebesar sebesar ¼* (P1-Pd)*(Q2-Q1)

b. Pemerintah harus mampu menutup kebutuhan demand yang cukup besar. Kebijakan yang dapat dilakukan adalah melakukan operasi pasar dan impor daging sapi besar-besaran.

Sebenarnya, pemerintah telah memiliki perangkat peraturan dalam menjaga stabilitas harga daging sapi. Perangkat peraturan tersebut adalah Peraturan Menteri Perdagangan No. 699/M-DAG/KEP/7/2013 tentang Stabilitas Harga Daging Sapi. Pada peraturan tersebut dinyatakan bahwa dalam rangka stabilitas harga daging sapi perlu menjaga ketersediaan daging sapi di seluruh Indonesia, perlu menambah pasokan sapi dengan mengimpor sapi dalam jumlah yang cukup dan dilakukan secara bertahap. Inilah solusi yang dilakukan pemerintah sebelumnya dalam meredam tingginya daging sapi.

4.4. Dampak Kebijakan Pemerintah atas Pengembangan