KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Pustaka
2.1.10. Kebijakan pemerintah terhadap keberadaan PKL
PKL di kota besar keberadaannya selalu dipermasalahkan karena ada beberapa alasan, yaitu diantaranya : 1). Penggunaan ruang publik bukan untuk fungsi semestinya karena ada yang dapat membahayakan orang lain maupun PKL itu sendiri. 2). PKL membuat tata ruang kota menjadi kacau. 3).Keberadaan PKL tidak sesuai dengan visi kota yaitu yakni dilihat dari aspek kebersihan, keindahan, dan kerapihan kota. 4). Pencemaran lingkungan yang sering dilakukan oleh PKL 5). PKL menyebab kerawanan sosial, karena terjadinya persaingan tidak sehat
antara pengusaha dengan pedagang sektor informal dalam aktifitas ekonomi di masyarakat dapat terjadi.
Berkembangnya PKL dipicu oleh kegagalan pemerintah membangun ekonomi yang terlihat dari rendah dan lambatnya pertumbuhan ekonomi. Seharusnya pemerintah berkomitmen untuk mensejahterakan masyarakat dengan menyiapkan dana sebagai modal bagi PKL yang direlokasi ke pasar “Kotak”. Sebagai upaya untuk mencegah pengangguran karena gagalnya sektor riil. Saat ini diprediksi ada 40 juta orang menganggur di negara kita. (BPS, 2011).
Peraturan perundangan yang berkaitan dengan langsung PKL yakni Perda No:14/ tahun 2012 tentang kewajiban warga bidang kebersihan di tempat-tempat umum, dijelaskan di pasal 5 dan pasal 6 adalah sebagai berikut :
(1) Pasal 5 : Setiap orang berjualan menetap atau berkeliling sebagai pedagang kaki lima dan para pedagang di tempat umum wajib menyediakan tempat sampah dan buangan air, dan selanjutnya PKL wajib membuang sampah ke tempat pembuangan atau tempat penampungan sampah dan buangan air yeng telah disediakan. Pasal 6 : Selain kewajiban sebagaimana dimaksud pasal 5. PKL yang berjualan secara menetap hanya diperbolehkan menempati lokasi yang telah ditentukan. (2) Lokasi penempatan PKL ditetapkan melalui keputusan Walikota Madiun dengan memperhatikan: (a) rencana umum tata ruang kota.(b). kepentingan pemakai jalan.(c) aspek lingkungan.(d) aspek sosial ekonomi.
Sedangkan untuk ketentuan larangan tertuang dalam pasal 7 ayat c dan d. yaitu : a. Menempati lokasi pada bahu jalan atau trotoar jalan dengan atau tanpa mendirikan bangunan dari bahan apapun, baik yang bersifat sementara atau permanent yang dimaksudkan untuk melakukan kegitan usaha.
b. Berjualan atau melakukan usaha dalam bentuk lainnya, di jalan-jalan umum, diperempatan jalan maupun bagian jalan lainnya yang dapat menganggu arus lalu lintas, pejalan kaki yang menggunakan trotoar untuk aktivitas.
Sejumlah dana telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat untuk, provinsi dan kabupaten/ kota untuk menata, mengatur, menertibkan, membina PKL. Oleh karena sangat wajar sekali, fenomena sosial PKL merupakan dampak dari sulit sosial ekonomi rakyat Indonesia. PKL merupakan pelarian untuk mendapatkan pekerjaan karena sulit mencari kebutuhan hidup. PKL tingkat pendidikan rendah, kemampuam ekonomi rendah, lapangan kerja secara definitive dan permanent tidak ada. PKL, pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari untuk membiayai keluarga, anak isteri, mereka harus berdagang menjadi PKL, karena sektor informal tersebut mereka mampu bekerja sesuai dengan kemampuan, ilmunya, modal yang dimiliki.
Masalah-masalah sosial yang ditimbulkan PKL dianggap menyulitkan dan menghambat pemerintah kota untuk mewujudkan sebuah kota yang bersih, indah, dan tertib. Untuk keperluan tersebut pemerintah kota membuat peraturan daerah (perda) untuk menata, menertibkan, mengatur PKL, perda tersebut adalah Perda No 14/ tahun 2012. Di kota Madiun saat ini terjadi adanya perlawanan pedagang, karena tindakan pemerintah merelokasi PKL dari jalan Batanghari, Jalan Nori,
dan Jalan Barito. Pendekatan persuasif telah dilakukan pemkot agar bersedia di relokasi, karena tempat lama menyalahi Perda, dan digunakan untuk membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH). PKL enggan pindah karena sudah puluhan tahun berjualan di tempat tersebut dan pembeli, pelanggan, konsumen sudah banyak. Lokasi PKL di tempat baru pasar “Kotak” lokasinya sepi, pembeli, pelanggan hilang, akhirnya susah dapat uang karena tidak ada yang membeli.
Pemerintah Kota menata, menertibkan ke lokasi baru yang lebih tersentral untuk pedagang sektor informal yakni pasar “kotak” dengan maksud dan tujuan :
1. PKL dipindah lokasikan ke tempat yang telah tersedia.
2. Kios-kios tersebut disediakan gratis, untuk menampung seluruh PKL yang saat ini tersebar di pusat kota, pusat keramaian, jalan-jalan protokol.
3. Setiap kios gratis selama masa percobaan 3-4 tahun, selanjutnya diatur penataan kios pedagang sesuai dengan dinamika yang ada..
4. Bagi pedagang yang tidak bersedia pindah dikenai sanksi, tidak diijinkan berdagang di kota.
5. Memudahkan pembinaan, penataan, menertibkan PKL.
Pemerintah kota, menganggap kebijakan relokasi merupakan tindakan yang terbaik bagi PKL, karena seluruh PKL terkumpul menjadi satu di pasar “Kotak” dimana lokasi nya dekat dengan pusat perbelanjaan, perdagangan yakni,
Sun City, Carefour, pasar burung, pasar Loak Besi Jaya. Nama pasar “Kotak”
Kecamatan Kartoharjo, lebih-lebih bagi pendatang yang bukan orang Madiun. Menurut Kepala kelurahan Rejomulyo Roch sebagai berikut :
Pasar Kotak relatif pasar baru dibandingkan dengan pasar Jaya, pasar Loak Jaya, juga pasar burung Jaya, Pasar Loak Jaya. Pasar burung Jaya, yang lebih dahulu dikenal masyarakat seantero Jawa Timur, keduanya menjadi tempat jujugan para pedagang, pembeli, untuk menjajakan barang dagangannya ke masyarakat. Sedangkan pasar Burung Jaya, pasar Loak sudah terkenal sejak dahulu. Pasar “Kotak” merupakan lokasi baru yang dibangun pemerintah daerah untuk menampung para pedagang sektor Informal yang selama ini berkeliaran dijalan-jalan pusat Kota.
Sedangkan menurut Dan, kepala Disperindagkoppar Kota Madiun, bahwa:
Pasar “Kotak” menjadi pusat kegiatan pedagang informal di kota bukan hanya penduduk di kawasan pasar “Kotak”, tetapi juga penduduk dan PKL masyarakat sekitarnya yang telah lama berdagang. Namun demikian, sebagaimana telah dijelaskan, dalam penelitian ini membatasi pengertian pasar “Kotak” hanya terbatas pada lokasi berdagang bagi PKL hasil relokasi pedagang di jalan Batanghari, jalan Barito, Jalan Nori (pusat kota) Madiun.
Menurut Did, Kabag.TU Disperindagkoppar Kota, mengatakan bahwa :
Alasannya karena pasar “Kotak” bertempat di kompleks pasar burung dan pasar Loak Jaya, Rejomulyo Kota Madiun. Menurut sejarahnya pasar “Kotak” Rejomulyo Kartoharjo Kota Madiun dulu bagian dari pasar Burung Jaya, lokasi tersebut sepi karena tempat nya di pojok barat pasar burung, dekat ‘kuburan. Sebelum nya lokasi ini sangat sepi, dibelakangnya merupakan sawah bengkok desa Rejomulyo yang subur ditanami padi oleh penggarap sawah, sebelum tempat tersebut dibangun menjadi pusat perbelanjaan modern yakni Sun City, super market/ mall, hotel, taman bermain modern seperti saat ini, sehingga pasar “Kotak” yang dahulu tidak dikenal, kedepan menjadi tempat strategis bagi pedagang untuk jualan. Kebijakan walikota untuk menempatkan PKL, hasil relokasi dari pusat kota ke pasar “Kotak” sangat tepat untuk berdagang karena kedepan lokasi tersebut sangat strategis.
Berdasarkan catatan data tentang sejarah Pasar “Kotak” dan juga oral
history yang berkembang dalam penelitian ini, peneliti dapat mengambil
kesimpulan bahwa pemerintah Kota bermaksud baik. Untuk mengumpulkan seluruh PKL di satu tempat penampungan di pasar “Kotak” kompleks “Jaya” Rejomulyo. Tujuannya agar pembinaannya mudah, pengawasan pedagang effektif, kebersihan, keamanan mudah dikontrol masyarakat Kota maupun dari luar Kota. Disamping itu bila seluruh pedagang informal di tempatkan di pasar “Kotak”mudah untuk mencari dimana pusat berdagangnya PKL di Kota.
Perlawanan antara aparat satpol PP pemerintah Kota dengan PKL dalam relokasi dapat terhindarkan, karena mereka pada posisi berlawanan, disatu pihak satpol.PP menegakkan peraturan sebagai aparat penegak Perda. PKL sebagai rakyat mencari nafkah demi anak dan keluarga. PKL berjualan dengan lokasi yang menurut mereka legal berdagang di semua tempat, asal ramai, ada pembeli, selama di tempat strategis.
Menurut Ralf Dahrendorf, salah satu tokoh teori konflik berpendapat bahwa : Dalam setiap masyarakat beberapa nggoutanya akan menjadi menjadi korban pemaksaan oleh anggouta lainnya. Artinya bahwa konflik kelas merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari sehingga perubahan sosial tidak dapat terelakkan.(2010: 4)
Peraturan undang-undang tidak demikian aturannya, ada lokasi yang boleh untuk jualan dan ada tempat yang dilarang, perbedaan pemahaman antara aparat satpol PP dengan PKL merupakan sumber perlawanan. Untuk itu diperlukan komunikasi sosial yang effektif serta sosialisasi intensif kepada PKL baik secara individu maupun kelompok, melalui organisasi yang menaungi PKL, yakni
“Paguyuban Pedagang Kaki Lima Kota Madiun”. Selama ini pemerintah kota belum maksimal sosialisasi tentang perda penataan, penertiban PKL. Karena tingkat pendidikan pedagang, waktu terbatas, untuk itu secara persuasif komunikasi, sosialisasi Perda No : 14 tahun 2012. harus dilakukan seefektif mungkin oleh Disperindag Kota Madiun.