V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.5 Kebijakan Perdagangan Indonesia
Prosedur perdagangan internasional yang harus diikuti oleh eksportir pada umumnya yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan dapat dilihat pada Lampiran 1. Persyaratan ekspor perikanan agak berbeda dengan persyaratan ekspor umum yang dibedakan dalam dua bentuk yaitu produk ekspor perikanan sebagai komoditas perikanan yang tunduk terhadap persyaratan administrasi perdagangan internasional dan produk ekspor perikanan sebagai komoditas perikanan yang memiliki persyaratan khusus terkait pemenuhan aturan teknis sebagai produk dengan tujuan untuk konsumsi manusia. Alur prosedur dan persyaratan dokumen pendukung untuk keperluan ekspor hasil perikanan dapat digambarkan pada Gambar 16.
Sumber : Direktorat Pemasaran Luar Negeri DKP, 2007.
Gambar 16. Alur Proses Ekspor Hasil Perikanan Indonesia
Kebijakan pemerintah dalam pengembangan ekspor hasil perikanan bertumpu pada 2 (dua) aspek pengembangan, yakni (1) kebijakan pengembangan
• IUP (Provinsi)
• PMA dan Tenaga Kerja Asing (Pusat)
• CITES (Dephut)
• IUP (Pemda dan Depperindag)
• SKA (Dinas Perdagangan/Depdag)
• PEB (Bea Cukai – Depkeu)
• Eksportir Agen (Cargo/Forwarder)
• Eksportir Pedagang (Trader)
• Eksportir Produsen/ Pengolah
• Good Manufacturing Practices/SKP (Ditjen P2HP DKP)
• HACCP-based Integrated Quality Management Programme (Ditjen P2HP-DKP)
• Approval Number (Ditjen P2HP – DKP khusus Eropa)
• Health Certificate (LPPMHP di Provinsi)
• DS 2031 (LPPMHP, khusus USA)
• Stasiun Karantina Ikan di Provinsi (Pusat Karantina Ikan, DKP)
Penangkapan/
Pembudidayaan
Ekspor
• IUP dan SIPI (DKP)
• ABK Asing (Depnaker)
• Ijin Kapal, dll (Dephub)
produk dan pasar, dan (2) kebijakan pengembangan mutu. Kebijakan pertama berorientasi pada “market base development” melalui diversifikasi produk dan pasarnya. Kebijakan pengembangan mutu produk dilakukan melalui sistem yang disebut sebagai sistem pembinaan dan pengawasan mutu hasil perikanan.
Upaya pemerintah untuk menjawab tantangan peraturan negara-negara importir utama hasil perikanan seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa yang memiliki persyaratan yang cukup ketat mengenai standar mutu dan keamanan pangan, maka diterapkan peraturan mulai dari proses (penangkapan atau budidaya), pengolahan, hingga pemasaran. Undang-Undang (UU) Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan merupakan konsepsi pokok. Yang dapat menjadi rujukan kebijakan dari aspek legal. Dalam UU tersebut diberikan arahan
kewajiban bagi pemasukan produk pangan ke wilayah Indonesia (impor) maupun proses pengeluaran produk tersebut (ekspor) dan tanggung jawab atas keamanan, mutu, persyaratan label, dan atau gizi pangan. UU No 31 tahun 2004 tentang Perikanan sebagai pengganti dari UU No 9/1985 tentang Perikanan yang pada pasal 20-23 secara spesifik menyatakan bahwa proses pengolahan ikan dan
produk perikanan wajib memenuhi persyaratan kelayakan pengolahan ikan, sistem manajemen mutu dan keamanan hasil perikanan yang selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). PP No 28/2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan untuk melaksanakan ketentuan UU No 7 tahun 1996 tentang pangan memberikan pertanggungjawaban atas keamanan pangan (produk perikanan dan budidaya) kepada Departemen Perikanan (Boccas et al, 2006).
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI KEP.01/MEN/2004 tentang sistem pengawasan dan pengendalian mutu hasil perikanan untuk pasar Uni Eropa yang memperhatikan sistem pengawasan dan pengendalian mutu hasil perikanan yang berlaku di Uni Eropa sebagaimana diatur dalam Council Directive Nomor 91/493/EEC. Peraturan ini meliputi persyaratan, penerapan, dan sanksi
administrasi yang dikeluarkan pada tanggal 9 Juni 2004. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI PER.01/MEN/2007 tentang persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan pada meliputi pengaturan tentang kelembagaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan pengendalian jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan pada
setiap tahapan/proses produksi primer, pengolahan, dan distribusi hasil perikanan.
Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan RI KEP.01/MEN/2007 tentang persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan pada proses produksi, pengolahan, dan distribusi meliputi kapal penangkap dan pengangkut ikan, tempat pendaratan ikan, tempat pelelangan ikan (TPI), unit pengolahan ikan (UPI), sarana distribusi hasil perikanan, pelatihan, dan sanksi. Sebagai Otoritas Kompeten yang dipilih oleh Uni Eropa yaitu Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan PER 03A/DJ-P2HP/2007 tentang Operasional Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan sebagai strategi langkah operasional dalam proses pengendalian mutu komoditas ekspor (Ditjen P2HP, 2007).
Peraturan lainnya untuk meningkatkan mutu perikanan Indonesia yaitu:
1. Kepmen Perikanan KEP. 02/MEN/2006 tentang cara budidaya ikan yang baik.
2. Permen Perikanan PER. 02/MEN/2006 Tentang Monitoring Residu Obat, Bahan, Kimia, Bahan Biologi, dan Kontaminan Pada Pembudidayaan Ikan 3. Keputusan Menteri (Kepmen) Pertanian No 41 Tahun 1998 mengenai sistem
manajemen mutu terpadu.
4. Kepmen Perikanan KEP 01/MEN/2002 tentang sistem manajemen mutu terpadu hasil perikanan. Bertujuan untuk mencapai tingkat pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan secara berdaya guna dan berhasil guna serta untuk melindungi konsumen dari hal-hal yang merugikan dan membahayakan kesehatannya. Dilaksanakan sesuai dengan konsepsi HACCP.
5. Kepmen Perikanan KEP 21/MEN/2004 tentang sistem pengawasan mutu hasil perikanan untuk pasar Uni Eropa. Keputusan ini dimaksudkan untuk mengakomodasikan kebijakan pasar Uni Eropa dalam kebijakan pengawasan mutu produk perikanan di Indonesia dan mengakomodasikan CD No
91/493/EEC. Secara material merupakan penajaman dari KEP.
01/MEN/2002.
6. Kepmen Kelautan dan Perikanan 45/MEN/2004 tentang penyediaan dan penyebaran pakan (kesehatan pakan).
7. Kepmen Kelautan dan Perikanan 28/MEN/2004 (Petunjuk umum budidaya udang air tawar) tentang Good Aquaculture Practices (GAP).
8. Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan No 14128/Kpts/IK.130/XII/1998 tentang petunjuk pelaksanaan sistem manajemen mutu terpadu hasil perikanan.
Keputusan ini berisi tentang persyaratan memperoleh Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP), Sertifikat Mutu dan atau Sertifikat Kesehatan, Prosedur dan tata cara pemberian sertifikat PMMT, pengangkatan Pengawas Mutu Hasil Perikanan, prosedur dan tata cara pelaksanaan pemeriksaan dan pelaporan, serta biaya pelaksanaan atau implementasi atas keputusan ini.
9. Keputusan Dirjen Perikanan 3511/DPT.0/PI.320.S4/VII/2004 tentang
persyaratan higienis di kapal penangkap ikan yang hasil tangkapannya untuk pasar Uni Eropa. Keputusan ini berisikan tentang persyaratan umum higienis penanganan ikan di atas kapal.
10. Keputusan Dirjen Budidaya 745/DPB.5/TU.110.D5/II/2005 tentang pembentukan tim untuk menanggulangi kasus antibiotik pada udang.