• Tidak ada hasil yang ditemukan

2006 I 16.34 3.55 II 16.23 -0.67 III 16.00 -1.42 IV 15.35 -4.06 2007 I 14.70 -4.23 II 14.08 -4.22 III 13.56 -3.69 IV 13.11 -3.32 2008 I 12.94 -1.30 II 12.95 0.08 III 13.50 4.25 IV 15.01 11.19 2009 I 15.10 0.60 II 14.67 -2.85 III 14.31 -2.45 IV 13.91 -2.80 2010 I 13.66 -1.80 694.69 -72.87 Rata-rata 16.16 -1.69

Sumber : Laporan Statistik Ekonomi dan Keuangan Bank BI (diolah) dalam Sofia (2011)

2.7. Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai kelapa sawit sudah banyak dilakukan, baik mengenai

dampak kebijakan, industri hilir, ataupun industri hulunya. Novindra (2011),

meneliti dengan judul dampak kebijakan domestik dan perubahan faktor eksternal

terhadap kesejahteraan produsen dan konsumen minyak sawit di Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi

penawaran dan permintaan minyak sawit di pasar domestik dan dunia,

mengevaluasi dampak kebijakan domestik dan perubahan faktor eksternal

terhadap kesejahteraan pelaku industri minyak sawit Indonesia dan penerimaan

kesejahteraan pelaku industri minyak sawit Indonesia dan penerimaan devisa

tahun 2012-2016.

Model penawaran dan permintaan minyak sawit Indonesia yang dibangun

dalam penelitian ini merupakan sistem persamaan simultan, yang terdiri dari 3

blok yaitu blok perkebunan kelapa sawit, blok minyak sawit, dan blok minyak

goreng sawit. Model yang telah dirumuskan terdiri dari 39 persamaan atau 39

variabel endogen (G), dan 46 predetermined variable terdiri dari 28 variabel eksogen dan 18 lag endogenous veriable, sehingga total variabel endogen dalam model (K) adalah 85 variabel. Kemudian diketahui bahwa jumlah variabel

endogen dan eksogen yang termasuk dalam satu persamaan tertentu dalam model

(M) adalah maksimum 8 variabel. Berdasarkan criteria order condition disimpulkan setiap persamaan struktural yang ada dalam model adalah over identified. Selanjutnya, metode estimasi model yang digunakan adalah 2SLS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga minyak sawit domestik lebih

responsif terhadap perubahan jumlah permintaan minyak sawit domestik daripada

permintaan ekspor minyak sawit, maka pengembangan industri hilir minyak sawit

domestik (seperti industri minyak goreng sawit, oleokimia, sabun, margarin, dan

biodiesel) akan meningkatkan jumlah permintaan minyak sawit sehingga dapat

meningkatkan harga yang diterima produsen minyak sawit domestik; kebijakan

domestik berupa pembatasan ekspor minyak sawit dengan penetapan pajak ekspor

minyak sawit sebesar 20 persen dapat meningkatkan kesejahteraan netto yang

lebih besar dibandingkan dengan kebijakan kuota domestik (peningkatan

dampak negatif bagi kesejahteraan netto. Hal ini dikarenakan peningkatan

penawaran minyak sawit domestik belum didukung dengan perkembangan

industri hilir minyak sawit selain industri minyak sawit terlebih dahulu. Hal

tersebut menyebabkan peningkatan penawaran minyak sawit domestik hanya akan

mengakibatkan harga minyak sawit dan harga minyak goreng sawit domestik

mengalami penurunan.

Suharyono (1996), melakukan analisis dampak kebijakan ekonomi pada

komoditas minyak sawit dan hasil industri yang menggunakan bahan baku minyak

sawit di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor

yang berpengaruh terhadap perubahan keragaan ekonomi komoditas minyak

sawit, minyak goreng sawit, margarin, dan sabun, serta besarnya pengaruh

perubahan faktor-faktor itu. Kemudian menganalisis dampak kebijakan ekonomi

deregulasi perdagangan minyak sawit, devaluasi nilai tukar rupiah, penurunan

tingkat bunga, peningkatan harga pupuk, peningkatan upah tenaga kerja,

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder dalam

runtun waktu (time series), periode 1969-1993. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model ekonometrika persamaan simultan yang diduga

dengan metode pangkat dua terkecil tiga tahap Linier Three Stages Least Squares (LTSLS). Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa selama kurun waktu

1969-1993 telah terjadi perkembangan yang cukup berarti dalam industri minyak sawit

Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan luas areal produktif, produksi,

dan permintaan minyak sawit domestik, yang masing-masing mengalami

pertumbuhan rata-rata per tahun 11.52 persen, 13.27 persen, dan 18.90 persen.

Indonesia rata-rata meningkat 8.33 persen pertahun yang sebagian besar

disebabkan oleh meningkatnya volume ekspor minyak sawit Indonesia ke pasar

MEE sebesar 7.89 persen per tahun. Disisi lain selama kurun waktu 1984-1993,

volume impor minyak sawit oleh Indonesia mengalami penurunan rata-rata 6.80

persen per tahun.

Luas areal produktif tidak responsif terhadap permintaan minyak sawit

dunia, sedangkan produksi minyak goreng sawit domestik responsif terhadap

teknologi dan permintaan minyak sawit domestik. Disamping itu produksi

margarin dan sabun baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang responsif

terhadap teknologi, sementara untuk produksi sabun dalam jangka panjang juga

responsif terhadap permintaan sabun. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh

perubahan teknologi bagi produk hasil industri ternyata lebih besar dibandingkan

untuk produk hasil pertanian. Demikian juga untuk perkembangan

permintaan.permintaan minyak sawit domestik responsif terhadap permintaan

minyak goreng sawit domestik. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan

permintaan minyak sawit oleh industri minyak goreng sawit akan besar

pengaruhnya bagi permintaan minyak sawit domestik secara keseluruhan.

Permintaan minyak goreng sawit, margarin, dan sabun baik dalam jangka

pendek maupun jangka panjang responsif terhadap perubahan pendapatan

nasional. Khusus untuk permintaan minyak goreng sawit, dalam jangka panjang

juga dipengaruhi oleh harga minyak goreng sawit dan harga minyak goreng

kelapa. Hal ini menunjukan bahwa dalam jangka panjang hubungan minyak

Peubah trend (teknologi) ternyata mampu memberikan pengaruh yang

besar pada perubahan penawaran minyak goreng sawit domestik, margarin, dan

sabun. Hal ini tidak terjadi pada penawaran minyak sawit domestik. Namun

demikian harga minyak sawit domestik hanya memberikan dampak yang besar

pada penawaran minyak sawit domestik. Perubahan harga minyak sawit dunia

dalam jangka panjang akan memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan

harga ekspor minyak sawit Indonesia. Harga ekspor minyak sawit Indonesia

kepasar Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) ternyata memberikan pengaruh yang

besar pada perubahan volume ekspor komoditas itu kepasar MEE.

Selama kurun waktu 1969-1993 ternyata tidak terjadi perkembangan

teknologi yang cukup berarti. Hal ini terlihat dengan tidak resposifnya perubahan

harga, baik minyak sawit, minyak goreng sawit, margarin maupun sabun terhadap

perubahan teknologi. Kebijakan ekonomi yang dinilai paling ideal, karena mampu

meningkatkan total surplus produsen domestik, total surplus konsumen domestik

dan total surplus devisa, baik dalam pasar terkendali maupun yang bebas adalah

kebijakan penurunan tingkat bunga sebesar tiga persen dari tingkat bunga

tertinggi, kebijakan peningkatan harga pupuk sebesar lima puluh persen dari harga

pupuk rata-rata dan kebijakan peningkatan pendapatan nasional.

Bona (2008), meneliti dengan judul pengaruh ekspor CPO terhadap harga

minyak goreng sawit di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan

faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor CPO dan harga minyak goreng sawit

Indonesia, menganalisis keterkaitan ekspor CPO dengan pasar minyak goreng

sawit dan mengkaji pengaruh kebijakan pajak ekspor yang dilakukan pemerintah.

analisis Two Stages Least Square (2SLS). Adapun model yang dirumuskan terdiri dari empat persamaan struktural dan satu persamaan indentitas.

Hasil analisis menunjukkan ekspor CPO Indonesia secara signifikan

dipengaruhi oleh produksi CPO (QCPO) pada tingkat kepercayaan 85 persen,

harga domestic CPO (PDCPO) 75 persen, pajak ekspor (PE) 90 persen, dan nilai

tukat (ER) dengan tingkat kepercayaan 80 persen.secara ekonomi, terdapat satu

variabel yang memiliki perbedaan interpretasi dengan hipotesis yang telah

ditetapkan sebelumnya, yaitu harga CPO domestik (PDCPO). Model yang

dibangun dapat menjelaskan keragaman dari ekspor CPO sebesar 9.20 persen.

Peubah produksi MGS secara signifikan dipengaruhi oleh harga MGS

(PMGS), jumlah CPO yang diserap industri MGS (CCPO), dan ekspor CPO satu

tahun yang lalu (XCPO1) dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Variabel

produksi minyak goreng satu tahun lalu (QMGS1) pun menghasilkan nilai yang

signifikan dengan tingkat kepercayaan 90 persen. Terdapat dua variabel yang

tidak signifikan yaitu harga domestic CPO dan impor CPO (MCPO). Model dapat

menjelaskan keragaman produksi MGS sebesar 79.4 persen dengan 20.6 persen

sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor di luar model. Nilai F-hit menunjukkan

signifikansi model pada tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Prilaku konsumen MGS domestik dipengaruhi secara signifikan oleh

pendapatan nasional bruto (GNP) dengan tingkat kepercayaan 90 persen, nilai

tukar (ER) sebesar 95 persen,dan konsumsi MGS sebelumnya (CMGS1) sebesar

89 persen, hanya variabel harga MGS yang memberikan hasil yang tidak

Pembentukan harga minyak goreng sawit dipengaruhi secara signifikan

oleh harga domestik CPO (PDCPO) dengan tingkat kepercayaan 95 persen, harga

CPO dunia (PWCPO) 80 persen, pajak ekspor (PE) 75 persen, dan harga pada

tahun sebelumnya (PMGS1) dengan tingkat kepercayaan 85 persen. Hanya

variabel nilai tukar (ER) yang belum memberikan hasil yang signifikan. Selain

itu, model yang dibangun dapat menjelaskan keragaman dari harga MGS sebesar

56.86 persen dimana sekitar 43.14 persen dijelaskan oleh variabel-variabel diluar

model dengan tingkat kepercayaan sebesar 90 persen.

Berdasarkan simulasi pada kenaikan harga CPO dunia (PWCPO) sebesar

sepuluh persen, kenaikan tersebut berdampak pada peningkatanseluruh variabel.

Perubahan terbesar ada pada variabel harga minyak goreng sawit, dimana

kenaikan harga CPO dunia sebesar sepuluh persen akan mengakibatkan naiknya

harga minyak goreng sawit sebesar 3.364 persen. Presentasi perubahan terendah

ada pada variabel XCPO, dimana perubahannya sebesar 0.189 persen.

Peningkatan PE sebesar satu persen ternyata mengakibatkan semua

veriabel mengalami penurunan. Perubahan terbesar terjadi pada variabel PMGS,

dimana peningkatan sebesar satu persen dari PEakan mengakibatkan penurunan

PMGS sebesar 0.335 persen. Hasil ini dapat menggambarkan bahwa kebijakan PE

ternyata memang memilikidampak terhadap penurunan PMGS. Namun, kenaikan

PE ini ternyata juga mengakibatkan penurunan dari sisi produksi dan konsumsi

MGS.

Dokumen terkait