2.3 KONSEP DASAR NIFAS .1 PENGERTIAN NIFAS
2.3.7 Kebutuhan Dasar Masa Nifas 1. Nutrisi dan Cairan
Perubahan pola hidup semasa hamil yang wajib dipertahankan dimasa postpartum adalah pola makan yang baik dan benar.
Makanan ―tidak asal masuk‖, dan ―tidak asal mengenyangkan‖, nutrisi yang baik dan penting untuk pemulihan pasca persalinan, menjaga kesehatan yang optimal agar dapat menjalan tugas sebagai ibu, menjaga produksi dan kualitas ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu harus mengandung karbohidrat, tinggi protein, zat besi, vitamin, dan mineral untuk mengatasi anemia, cairan dan serat untuk memperlancar sekresi. Ibu nifas dan menyusui membutuhkan tambahan kalori ± 700 kaloripada 6 bulan pertam untuk memberikan ASI eksklusif dan bulan selanjutnya kebutuhan kalori
menurun ± 500 kalori, karena bayi telah mendapatkan makanan pendamping ASI. Berikut zat-zat yang dibutuhkan dalam diet ibu pasca persalinan.
a. Penuhi diet berimbang, terdiri atas protein, kalsium, mineral, vitamin, sayuran hijau, dam buah.
b. Mengkonsumsi tambahan kalori sesuai kebutuhan. Menyusui 500-700 kalori.
c. Kebutuhan cairan sedikitnya 3 liter/hari yang dapat diperoleh dari air putih, sari buah, susu, atau sup.
d. Vitamin A (200.000 unit) selain untuk ibu, vitamin A dapat diberikan kepada bayi melalui ASI.
e. Untuk mencegah anemia konsumsi tablet zat besi selama masa nifas (Marliandiani, 2015:38).
2. Eliminasi
a) Buang air kecil
Pengeluaran urine akan meningkat pada 24-48 jam pertama sampai hari kelima postpartum karena volume darah ekstra yang dibutuhkan waktu hamil tidak diperlukan lagi setelah persalinan. Sebaiknya, ibu tidak menahan buanmg air kecil ketika ada rasa sakit pada jahitan karena dapat menghambat uterus berkontraksi dengan baik sehingga menimbulkan perdarahan yang berlebihan. Dengan mengosongkan kandung
kemih secara adekuat, tonus kandung kemih biasanya akan pulih kembali dalam 5-7 hari postpartum.
b) Buang air besar
Kesulitan buang air besar (konstipasi) dapat terjadi karena ketakutan akan rasa sakit, takut jahitan terluka, atau karena hemoroid. Kesulitan ini dapat dibantu dengan mobilisasi dini,mengonsumsi makan tinggi serat, dan cukup minum sehingga bisa buang air besar dengan lancar. Sebaiknya pada hari kedua ibu sudah bisa buang air besar. Jika pada hari ketiga ibu masih belum bisa buang air besar, ibu bisa menggunakan pencahar berbentuk supositoria sebagai pelunak tinja. Ini penting untuk menghindarkan gangguan pada kontraksi uterus yang dapat menghambat pengeluaran cairan vagina. Dengan melakukan pemulangan dini pun diharapkan ibu dapat segera BAB (Kumalasari, 2015:162).
c) Personal Hygiene
Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan diri ibu postpartum adalah sebagi berikut.
1) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum.
2) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasihati ibu untuk membersihkan vulva setiap kali selesei buang air kecil atau besar.
3) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 2 kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan balk dan dikeringkan di bawah matahari dan disetrika.
4) Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
5) Jika ibu luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah tersebut (Saleha, 2009:73-74).
d) Ambulasi Dini (Early Ambulation)
Membimbimbing ibu selekas mungkin turun dari tempat tidur setelah persalinan akan membantu ibu cepat pulih asal dilakukan secara bertahap, hati-hati, dan seizin dokter.
Ambulasi dini tidak wajib dilakukan pada ibu yang mengalami komplikasi nifas dan riwayat persalinan patologis.Penelitian membuktikan bahwa ambulasi dini dapat mencegah terjadinya
sumbatan pada aliran darah. Tersumbatnya aliran darah bisa menyebabkan terjadinya trombosis vens dalam (deep vein thrombosis) dan dapat menimbulkan infeksi pada pembuluh darah. Adapun keuntungan dari ambulasi dini, antara lain : 1) Ibu merasa lebih sehat dan lebih kuat.
2) Faal usus dan kandung kemih menjadi lebih baik.
3) Memungkinkan bidan untuk memberikan bimbingan maupun pendidikan kepada ibu mengenai cara perawatan bayi sehari- hari.
4) Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (lebih ekonomis).
Langkah- langkah mobilisasi dini yang dapat dilakukan untuk turun dari tempat tidur adalah sebagai berikut.
(a) Awali dengan mengatur panas, miring kiri, miring kanan, dan duduk.
(b) Duduk dengan tubuh di tahan dengan tangan, geserkan kaki ke sisi ranjang dan biarkan kaki menggantung sebentar.
(c) Dengan bantuan orang lain, perlahan- lahan ibu berdiri dan masih berpegangan pada tempat tidur.
(d) Jika terasa pening, duduklah kembali. Stabilkan diri beberapa menit sebelum melangkah (Marliandiani, 2015: 38-39).
e) Istirahat dan Tidur
Menurut Maritalia,(2012:52-53), kebutuhan istirahat sangat diperlukan ibu beberapa jam setelah melahirkan. Proses persalinan yang lama dan melelahkan dapat membuat ibu frustasi bahkan depresi apabila kebutuhan istirahatnya tidak terpenuhi. Masa nifas sangat erat kaitannya dengan gangguan pola tidur yang dialami ibu, terutama segera setelah melahirkan. Pada 3 hari pertama dapat merupakan hari yang sulit bagi ibu akibat menumpuknya kelelahan karena proses persalinan dan nyeri yang timbul pada luka perineum, dan akan kembali mendekati normal dalam 2-3 minggu setelah persalinan.Pada ibu nifas kurang tidur mengakibatkan :
1) Berkurangnya produksi ASI.
2) Memperlambat proses involusi uterus dan meningkatkan perdarahan.
3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
f) Seksual
Secara fisik, aman untuk melakukan hubungan seksual begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanta rasa nyeri. Banyak budaya dan agama yang melarang untuk melakukan hubungan seksual sampai masa waktu tertentu, misalnya 40 hari atau 6 minggu
setelah kelahira. Keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan (Sulistyawati, 2009:103).
g) Latihan/Senam Nifas
Menurut Saleha, (2009:75-76), setelah persalinan terjadi involusi pada hampir seluruh organ tubuh wanita. Involusi ini sangat jelas terlihat pada alat-alat kandungan. Sebagai akibat kehamilan dinding perut menjadi lembek dan lemas disertai adanya striae gravidarum yang membuat keindahan tubuh akan sangat terganggu. Oleh karena itu, mereka akan selalu berusaha untuk memulihkan dan mengencangkan keadaan dinding perut. Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas.
Untuk itu beri penjelasan pada ibu tentang beberapa hal berikut:
1) Diskusikan pentingnya otot-otot perut dan panggul agar kembali normal, karena hal ini akan membuat ibu merasa kuat dan ini juga menjadikan otot perutnya menjadi kuat, sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.
2) Jelakan bahwa latihan tertentu beberapaenit setiap hari sangat membantu.
(a) Dengan tidur telentang dan lengan disamping, tarik otot perut selagi menarik nafas, tahan napas dalam,
angkat dagu ke dada, tahan mulai hitungan 1-5. Rileks dan ulangi sebanyak 10 kali.
Gambar 2.10 Senam Nifas Sumber : Siti Saleha, 2009:76
(b) Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul lakukanlah latihan Keagel.
(c) Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot bokong dan pinggul, tahan sampai 5 hitungan.
Relaksasi otot dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
(d) Mulai mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.