• Tidak ada hasil yang ditemukan

kecakapan dasar anak

Dalam dokumen jurnal No24 Thn14 Juni2015 (Halaman 93-99)

Pemanfaatan Media Pembelajaran di Sekolah Dasar

dan menggunakan obyek yang kongkrit merupakan sarana yang tepat untuk membel- ajarkan matematika, karena kemampuan berpikir siswa SD masih dalam tahap operasio- nal konkrit. Suatu konsep diangkat melalui manipulasi dan observasi terhadap obyek kongkrit, kemudian dilakukan proses abstraksi dan idealisasi. Jadi, penggunaan media/alat peraga untuk memahami suatu konsep atau prinsip sangat penting dilakukan dalam proses pembelajaran matematika di SD.

Sesuai tingkat perkembangan intelektual siswa, matematika yang disajikan dalam jenjang pendidikan juga menyesuaikan dalam kekom- plekan semestanya. Semakin meningkat perkem- bangan intelektual siswa, semesta matema- tikanya semakin diperluas. Tingkat keabstrakan matematika menyesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual siswa. Di SD untuk memahami materi pelajaran dimungkinkan untuk mengkongkritkan obyek-obyek matema- tika. Akan tetapi, hal ini berbeda untuk jenjang sekolah yang lebih tinggi. Semakin tinggi jenjang sekolah, tingkat keabstrakannya semakin tinggi pula.

Kegiatan menghitung dan menulis pada siswa usia dini sudah diperkenalkan karena tuntutan orang tua. Namun, ketika siswa masuk kelas 1 SD konsep menghitung dan menulis bilangan sudah lupa karena sewaktu membelajarkan konsep menghitung, guru kurang memahami pola pikir dan perkembangan siswa. Guru jarang menggunakan benda kongkrit untuk menghitung, umumnya menggu- nakan kartu yang mempunyai gambar dan bilangan. Lalu siswa dilatih menulis bilangan 1-10. Siswa menjadi cepat lupa karena menghi- tung dan menulis bilangan mengguna-kan pikiran abstrak, sedangkan siswa tersebut masih berada pada pikiran kongkrit. Oleh karena itu penggunaan media sangat diperlukan dalam membelajarkan konsep berhitung. Melalui berbagai macam permainan dengan menggu- nakan media di siswa ajak menghitung. Siswa cepat ingat tapi cepat lupa merupakan karakteristik siswa usia 6-8 tahun. Oleh karena itu, konsep bermain hitung dengan media dilakukan berulang-ulang. Jika sudah paham, anakdiajak menggambarkan benda yang

dihitung pada kartu atau buku. Lakukan berulang-ulang dengan benda yang berbeda dan jumlahnya berbeda-beda. Setelah siswa paham maka lanjutkan dengan menulis bilangan sesuai dengan jumlah benda yang dhitung. Siswa menggambar benda lalu menuliskan bilangan- nya. Tahap akhir yang dianggap paling sulit oleh siswa adalah menuliskan bilangan saja karena itu abstrak. Oleh karena itu, siswa kelas 1 SD harus mengulang konsep berhitung yang sudah diajarkan di PAUD dan setelah siswa ingat dan paham baru melangkah pada simbol bilangan.

IPA merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena alam. IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan mengguna-kan metode ilmiah. Pada hakikatnya, IPA merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip dan hukum yang teruji kebenarannya melalui rangkaian kegiatan ilmiah. IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan. Bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai hasil eksperimen dan observasi bermanfaat untuk eksperimen dan observasi lebih lanjut (Depdiknas, 2006).

Sesuai dengan karakteristiknya, IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta pengembangan lebih lanjut dalam kehidupan sehari-hari. Cakupan IPA yang dipelajari di sekolah tidak hanya berupa kumpulan fakta tetapi juga proses perolehan fakta yang didasarkan pada kemampuan menggunakan pengetahuan dasar IPA untuk memprediksi atau menjelaskan berbagai fenomena yang berbeda. Cakupan dan proses belajar IPA disekolah sebagai berikut.

Pertama, proses belajar IPA melibatkan hampir semua alat indra, seluruh proses berpikir, dan berbagai macam gerakan otot. Contoh, untuk mempelajari pemuaian pada benda, kita perlu melakukan serangkaian kegiatan yang melibatkan indra penglihat untuk mengamati perubahan ukuran benda (panjang, luas, atau volume), melibatkan gerakan otot untuk melakukan pengukuran dengan menggunakan

Pemanfaatan Media Pembelajaran di Sekolah Dasar

alat ukur yangsesuai dengan benda yang diukur dan cara pengukuran yang benar, agar diperoleh data pengukuran kuantitatif yang akurat.

Kedua, belajar IPA dilakukan dengan menggunakan berbagai macam cara (teknik). Misalnya, observasi, eksplorasi, dan eksperimen.

Ketiga, belajar IPA memerlukan berbagai macam alat, terutama untuk membantu pengamatan. Hal ini dilakukan karena kemam- puan alat indra manusia itu sangat terbatas. Selain itu, ada hal-hal tertentu bila data yang kita peroleh hanya berdasarkan pengamatan dengan indra, akan memberikan hasil yang kurang obyektif, sementara itu IPA mengutama- kan obyektivitas. Contoh : pengamatan untuk mengukur suhu benda diperlukan alat bantu pengukur suhu.

Keempat, belajar IPA merupakan proses aktif. Belajar IPA merupakan sesuatu yang harus anak lakukan, bukan sesuatu yang dilakukan untuk anak. Dalam belajar IPA, siswa mengamati obyek dan peristiwa, mengajukan pertanyaan, memperoleh pengetahuan, menyusun penje- lasan tentang gejala alam, menguji penjelasan tersebut dengan cara-cara yang berbeda, dan mengkomunikasikan gagasannya pada pihak lain. Keaktifan secara fisik saja tidak cukup untuk belajar IPA, siswa juga harus memperoleh pengalaman berpikir melalui kebiasaan berpikir dalam belajar IPA. Para ahli pendidikan dan pembelajaran IPA menyatakan bahwa pembelajaran IPA seyogianya melibatkan siswa dalam berbagai ranah, yaitu rana kognitif, psikomotorik,dan afektif. Keaktifan dalam belajar IPA terletak pada dua segi, yaitu aktif bertindak secara fisik atau hands-on dan aktif berpikir atau mind-on(NCTM, 1973:20). Hal ini dikuatkan dalam kurikulum IPA yang menganjurkan pembelajaran IPA di sekolah melibatkan siswa dalam penyelidikan yang berorientasi inkuiri, dengan interaksi antara siswa dengan guru dan siswa lainnya. Melalui kegiatan penyelidikan, siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan ilmiah yang ditemukannya pada berbagai sumber, siswa menerapkan materi IPA untuk mengajukan pertanyaan, siswa menggunakan pengetahuannya dalam pemeca- han masalah, perencanaan, membuat keputus-

an, diskusi kelompok, dan anak memperoleh asesmen yang konsisten dengan suatu pendekatan aktif untuk belajar.

Contoh kegiatan pembelajaran tata surya di SD akan menarik dan bermakna jika diputarkan film tentang tata surya sehingga anak tidak miskonsepsi satu dengan lainnya. Siswa akan terbayang posisi bumi, matahari, dan bulan melalui tayangan film. Namun, bisa digunakan media lain seperti bola ukuran besar (bumi) yang disorot oleh lampu senter (matahari) dan bola kecil (bulan). Tiga orang siswa memegang benda tersebut lalu atur posisi siswa dan setiap siswa berputar ke arah kanan. Kegiatan ini menyimulasikan gerhana matahari, gerhana bulan atau posisi yang teratur pada tata surya terjadi. Setelah siswa paham konsep tata surya melalui media maka siswa dapat menggam- barkan pada buku dan menjelaskan secara lisan atau tulisan. Media pembelajaran menjembatani siswa dari berpikir kongkrit ke abstrak .

Agar proses pendidikan bermutu, pelaksa- naanya dilakukan sesuai dengan Permen No. 41/2006 tentang Standar Proses yang menya- takan, proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memoti- vasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Salah satu sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk membantu proses pembelajaran yang berasaskan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) tersebut dengan memanfaatkan media pembelajaran yang ada lingkungannya. Tujuan memanfaatkan media pembelajaran di kelas menurut Sukayati (2009: 89) adalah antara lain untuk meningkatkan motivasi belajar anak sehingga siswa tertantang belajar dari berbagai media untuk menjawab rasa ingin tahu yang besar.

Media pembelajaran selalu berkaitan dengan kompetensi dasar di kurikulum. Oleh karena itu, dalam memilih, memanfaatkan dan merancang media pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang tertuang dalam kurikulum. Media pembelajaran yang tidak memenuhi kriteria dapat menye-

Pemanfaatan Media Pembelajaran di Sekolah Dasar

babkan kegagalan dalam penggunaannya. Beberapa kriteria media pembelajaran antara lain ekonomis, praktis, mudah diperoleh, fleksibel (dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan intruksional dan tidak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, nilai, budaya, dan lain-lain), terkait dengan kurikulum (kompetensi dasar, strategi pembelajaran, sistem evaluasi yang digunakan), sesuai dengan karakteristik siswa, dan kondisi pembelajaran.

Pembelajaran merupakan aktivitas dan proses yang sistematis dan sistemik yang terdiri atas beberapa komponen yaitu : guru, kurikulum, siswa , fasilitas dan administrasi. Masing- masing komponen tidak bersifat parsial (terpisah) atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung, dan berkesinambungan. Untuk itu diperlukan rancangan dan pengelolaan belajar yang baik yang dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Para guru dituntut agar mampu menggu- nakan media yang digunakan dalam pembelajaran dan menggembangkan keteram- pilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia di sekolah. Dalam menyusun perencanaan pembelajaran beberapa langkah yang perlu diperhatikan oleh guru.

1. Merumuskan tujuan khusus.  Dengan cara identifikasi dan analisa kurikulum yang berlaku selanjutnya susun indikator yang akan dicapai. Untuk pembelajaran tematik di SD perlu mengkaji dari beberapa mata pelajaran yang dikaitkan. Misalnya mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PPKN, dan SBDK agar tujuan pembelajaran berkesinambungan dan utuh. 2. Memilih pengalaman belajar. Guru perlu memilih dan menentukan materi yang akan disajikan sesuai dengan minat, perkem- bangan dan kematangan siswa yang akan belajar. Untuk siswa SD yang senang bermain, melatih motorik kasar dan halus, mencari konsep diri untuk membiasakan diri menjadi sebuah karakter perlu pengalaman yang melibatkan langsung.

3. Menentukan kegiatan belajar mengajar.

Siswa SD berkarakteristik senang bergerak

artinya akan cepat bosan jika duduk, mencatat dan mendengar ceramah dari guru saja. Oleh karena itu perlu didesain sebuah kegiatan pembelajaran yang memotivasi dan menantang siswa agar mereka mau belajar. Guru perlu mempertimbangkan metode pembelajaran dan media yang digunakan saat siswa belajar. Hal ini terkait dengan sumber belajar, fasilitas dan kondisi siswa. Contohnya di area pantai dan area persawahan, sumber belajar yang tersedia akan berbeda karena budaya, mata pencaharian, kekayaan alam yang berbeda. Intinya guru dapat menfasilitasi belajar siswa sehingga tujuan belajar anak tercapai maksimal.

4. Menentukan orang yang akan terlibat

membantu dalam proses pembelajaran serta

memilih dan menentukan media yang tepat. 

Dalam mempersiapkan media pembelajaran guru perlu mempertimbangkan bagaimana mempersiapkannya. Mengorganisasikan semua sumber daya yang ada adalah tugas guru. Sekaligus guru menyeleksi media yang sesuai digunakan saat pembelajaran. Pemanfaatan media pembelajaran yang tepat dan digunakan secara benar diharapkan dapat mempermudah abstraksi, memperbaiki, atau meningkatkan penguasaan konsep atau fakta, memberikan motivasi, memberikan variasi pembelajaran, meningkatkan efisiensi waktu, dan meningkatkan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Menurut Ruseffendi (dalam

Pujiati, 2009a) penggunakan media

pembelajaran tidak selamanya membuahkan hasil belajar yang lebih meningkat, lebih menarik, dan sebagainya. Adakalanya menyebabkan hal yang sebaliknya, yaitu menyebabkan kegagalan anak dalam belajar. Kegagalan itu akan nampak apabila generalisasi konsep abstrak dari representasi hal-hal yang kongkrit tidak tercapai, media yang digunakan hanya sekedar sajian yang tidak memiliki nilai-nilai yang tidak menunjang konsep-konsep yang diajarkan, tidak disajikan pada saat yang tepat, memboroskan waktu, diberikan pada siswa yang sebenarnya tidak memerlukannya, dan tidak menarik dan mempersulit konsep yang dipelajari.

Pemanfaatan Media Pembelajaran di Sekolah Dasar

Simpulan

Kesimpulan

Globalisasi menuntut masyarakat untuk berpikir kreatif dan kritis. Masyarakat yang produktif akan menghasilkan produk bermutu sehingga dapat bersaing dengan negara lain. Untuk menghadapi tantangan zaman tersebut diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kepribadian yang seimbang daya cipta, karsa, dan karya untuk dapat bersaing dan unggul. Salah satu cara untuk membentuk SDM yang bermutu melalui pemanfaatan media pembelajaran dalam dunia pendidikan. Penggunaan media pembelajaran sangat berguna melengkapi pemahaman siswa terutama siswa SD terhadap materi yang dipelajari dan prinsipnya untuk meningkatkan efektivitas dan kelancaran proses belajar

Mata pelajaran yang diajarkan pada siswa SD seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, PPkn, IPA, IPs, SBDK, dan Penjas memiliki karakteristik berbeda namun semua mata pelajaran tersebut bertujuan menum- buhkan kematangan berpikir, emosional dan spirituil pada siswa. Kompetensi dasar yang ingin dicapai oleh setiap mata pelajaran berbeda- beda namun proses pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna berlaku pada setiap mata pelajaran. Oleh karena penggunaan media pembelajaran sebagai jembatan untuk mempermudah siswa berpikir dari kongkrit ke abstrak serta meningkatkan motivasi siswa belajar.

Keberhasilan penggunaan media

pembelajaran sangat tergantung pada ketepatan pemilihannya yang harus mengacu pada tuntutan kurikulum (kompetensi dasar, strategi pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar), karakteristik bahan pembelajaran, karakteristik siswa , serta lingkungan pembelajaran.

Saran

Guru sebagai agent transfer of knowledge yang ingin mendapatkan hasil pembelajaran yang baik hendaknya selalu berusaha memperbaiki proses pembelajarannya dengan mengoptimal- kan dan menciptakan ide kreatif melalui media sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan

optimal dan mencapai hasil maksimal.Cara dan macam penggunaan setiap media memang berbeda sesuai dengan konsep materi yang harus dipahami oleh siswa dan disesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan. Guru harus paham dan terampil dalam pengelola alat peraga matematika yang digunakan. Jangan sampai terjadi penggunaan media malah mengacaukan jalannya pembelajaran yang ditangani. Guru harus pula tahu apakah media tersebut untuk penanaman konsep atau pembinaan keterampilan. Dalam fungsi pendidikan (PP 17/2010 dalam pasal 67), dalam membekali siswa pengetahuan, keterampilan dan sikap pengalaman belajar siswa sangatlah penting. Pengalaman tersebut akan membentuk suatu pemahaman apabila ditunjang dengan alat bantu belajar, yang berfungsi untuk mengkongkritkan materi-materi yang bersifat abstrak. Oleh karena itu guru harus terus belajar melalui baca buku, mengikuti seminar workhop, mendisain media pembelajaran selanjutnya didiskusikan dengan teman sejawat, membuka pikiran (open minded) ketika ada masukan/saran yang sifatnya membangun; melakukan PTK.

Daftar Pustaka

Arikunto, Agus. (2007). Pemanfaatan alat peraga matematika di SD. Yogyakarta: PPPPTK Matematika

Arsyad, Azhar. (2011). Media pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press

Branson. (1999). Theory of civic education: A forth coming education. Canada: Sherbrooke Depdiknas. (2006). Standar pendidikan nasional.

Jakarta: Pusat Kurikulum

Estiningsih, E. (1994).Landasan teknik pengajaran hitung SD. Yogyakarta: PPPG Matematika Bell, Frederich H,.(1978). Teaching and learning mathematics. Iowa : Brown Company Publisher

Hamalik, Oemar. (2011). Dasar-dasar

pengembangan kurikulum. Bandung: Rosda Karya

Hudojo, H. (1998). Mengajar belajar matematika. Jakarta: Depdikbud

Ibrahim, H, dkk. (2000). Media pembelajaran. Malang: Universitas Negeri Malang

Pemanfaatan Media Pembelajaran di Sekolah Dasar

Kitson, Neil, & Merry, Roger. (1997). Teaching in the primary school. London: Routledge Kurjono. (2010). Proses belajar mengajar dengan

aspek-aspeknya: Panduan bagi para pendidik, maha anak dan para praktisi pendidikan. Bandung: ProgramStudi Pendidikan Akuntansi: Tidak diterbitkan

Latuhera. (1988). Media pembelajaran. Jakarta: Gramedia

Mulyasa, E. (2011). Kurikulum tingkat satuan pelajaran. Bandung: Rosda Karya. NCTM (1973). Instructional AIDs in mathematics:

Virginia (Thirty Year Book)

Pujiati. 2009a. Pemanfaatan alat peraga sebagai media pembelajaran matematika SD.

Makalah tidak dipublikasikan.

Yogyakarta: PPPPTK Matematika Pujiati. 2009b. Pembuatan alat peraga matematika.

Makalah tidak dipublikasikan. Yogyakarta: PPPPTK Matematika

Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010

tentang Pengelolaan dan

Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta Permendiknas 41/2007 tentang Standar Proses

Tim PPPPTK Matematika. 2008a. Petunjuk

penggunaan alat peraga matematika untuk guru. Yogyakarta: Empat Pilar

Tim PPPPTK Matematika. 2008b. Petunjuk

penggunaan alat peraga matematika untuk murid. Yogyakarta: Empat Pilar

Sadiman, Arif.(2007). Media pendidikan:

Pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Saud, Udin. (2009). Pengembangan profesi guru. Bandung: Alfabeta

Sudjana, Nana dan Rivai, Ahmad. (2009). Media

pengajaran. Jakarta: Sinar Baru Algesindo Sudrajat. (2005). Memanajemen pembelajaran.

Bandung:Pustaka Setia

Sukayati, Agus Suharjana. (2009). Pemanfaatan alat peraga matematika dalam pembelajaran di SD. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika

Supandi.(1992). Strategi belajar mengajar.

Bandung: Rosda karya

Syah, Muhibbin. (2009). Psikologi belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Syaodih, Erlina. (2011). Perkembangan anak.

Bandung: Rosda karya

Warsita, Bambang. (2008). Teknologi pembelajaran. Jakrta: Rineka Cipta

Widyadani, SB. (2008). Media dan

Penggunaan Fun Multiplication Beads

Penggunaan Fun Multiplication Beads Untuk

Dalam dokumen jurnal No24 Thn14 Juni2015 (Halaman 93-99)