BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
JUMLAH JUMLAH KET
19 KECAMATAN UNGARAN TIMUR
BEJI 136 490
LEYANGAN 131 439
KALONGAN 536 1.642
KAWENGEN 990 3.317
KALIKAYEN 343 925
MLUWEH 480 1.218
SUSUKAN 236 634
KALIREJO 83 251
SIDOMULYO 51 203
GEDANGANAK 124 478
Jumlah Total 3.110 9.597
TOTAL KABUPATEN 73.595 244.194
Sumber: Basis Data Terpadu TNP2K, 2016
2.3.2 Fokus Kesejahteraan Sosial 2.3.2.1 Aspek Pendidikan
2.3.2.1.1 Angka Melek Huruf (AMH)
Untuk mengukur dimensi pengetahuan penduduk digunakan Angka Melek Huruf (AMH). Angka Melek Huruf diukur melalui proporsi penduduk yang berusia 10 tahun ke atas yang mampu membaca dan menulis. Untuk perhitungan indeks pendidikan, batasan dipakai sesuai kesepakatan beberapa negara. Batas maksimum untuk angka melek huruf adalah 100 sedangkan batas minumum 0.
Hal ini menggambarkan kondisi 100 persen atau semua masyarakat mampu membaca dan menulis, dan nilai nol mencerminkan kondisi sebaliknya.
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 47 Gambar 2.7
Perkembangan Angka Melek Huruf di Kabupaten Semarang Tahun 2010-2015
Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, 2015
Menurut indeks perhitungan pendidikan, angka melek huruf di Kabupaten Semarang hampir mencapai 100% yang artinya masyarakat di Kabupaten Semarang hampir semua dapat membaca dan menulis. Terdapat penurunan angka buta aksara mulai Tahun 2010 sampai Tahun 2015 sebesar 0,30%
2.3.2.1.2 Angka Rata-Rata Lama Sekolah
Metode lama dalam menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dibentuk dengan rata-rata hitung dari tiga komponen yaitu kesehatan melalui Angka Harapan Hidup (AHH), pengetahuan melalui Angka Melek Huruf (AMH) dan rata-rata lama sekolah Mean Years of Schooling (MYS), serta standard hidup layak (Pengeluaran per kapita disesuaikan). Sejak Tahun 2015, BPS menghitung IPM dengan metode baru melalui tiga komponen yaitu kesehatan (Angka Harapan Hidup), pengetahuan(harapan lama sekolah/Expected years of schooling (EYS)) dan rata-rata lama sekolah (Mean Years of Schooling (MYS)) serta standard hidup layak(pengeluaran per kapita disesuaikan).
Rata-rata lama sekolah penduduk di Kabupaten Semarang sampai dengan Tahun 2015 dengan metode penghitungan baru, sebesar 7,34 dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.37
Perkembangan rata-rata lama sekolah di Kabupaten Semarang Tahun 2010–2015*)
Uraian Metode Baru
2010 2011 2012 2013 2014 2015*) Rata-Rata Lama Sekolah 7,12 7,20 7,24 7,28 7,31 7,34 Sumber: BPS Kabupaten Semarang, 2015
*) Angka sementara
2.3.2.1.3. Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM)
Angka Partisipasi kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu.
APK disemua jejang pendidikan telah menunjukkan peningkatan sesuai dengan 99,98
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 48 yang ditargetkan, hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.
Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. APM juga mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir, namun untuk capaian di jenjang SMP/MTs masih perlu ditingkatkan karena sampai dengan Tahun 2015 APM baru mencapai 81,81%. Meskipun dalam lima tahun setiap tahunnya mengalami kenaikan.
Perkembangan APK dan APM Kabupaten Semarang selama kurun waktu 2010-2015 tersaji dalam Tabel 2.38 sebagai berikut
Tabel 2.38
Perkembangan APK dan APM Tahun 2010 – 2015 Di Kabupaten Semarang (%)
Jenjang pendidikan
APK APM
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2010 2011 2012 2013 2014 2015 SD/MI 103.30 105.01 105.01 105.02 105.00 104,51 94.98 95.03 95.05 95.09 95.15 95.16 SMP/MTs/Pa
ket B 95.82 95.87 95.88 95.95 96.00 96,28 81.56 81.63 81.70 81.75 81.80 81.81 APK
SMA/SMK/MA
/ Paket C 47.91 49.23 51.02 57.32 58.64 69,09 39.12 39.35 40.03 40.05 40.10 43,41 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang,2015
2.3.2.1.4. Angka Pendidikan Yang Ditamatkan (APT)
APT merupakan persentase jumlah penduduk baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi, menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan. APT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah, juga berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja, terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah. Perkembangan Angka Pendidikan yang Ditamatkan di Kabupaten Semarang dapat dilihat pada Tabel 2.39 di bawah ini:
Tabel 2.39
Angka Pendidikan yang Ditamatkan Tahun 2010 – 2015 (%)
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 SD/MI/SDLB/Paket A 29.27 27.24 26.24 27.45 29,45 30,81 SMP/MTs/SMPLB/Paket B 21.18 21.16 21.14 21.35 19,19 23,31 SMA/SMK/MA/Paket C 21.24 18.99 20.49 21.55 20,76 16,10 Sumber: BPS Kabupaten Semarang,2015
2.3.2.1 Aspek Kesehatan 2.3.2.2.1 Angka Kematian Bayi
Penyebab kematian terbesar dari tahun ke tahun adalah Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan asfiksia (keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas dengan teratur dan spontan), yang disebabkan karena prematuritas sehingga organ belum matang atau belum siap bertahan hidup.
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 49 Upaya yang telah dilakukan untuk menurunkan AKB antara lain memberikan Pemberian Makanan Tambahan kepada ibu hamil KEK agar tidak terlahir bayi dengan kondisi BBLR. Selain itu dilakukan sosialisasi tentang cara perawatan bayi, pemberian ASI eksklusif, dan membentuk Satgas Penurunan AKB serta mengoptimalkan jenjaring dan Nomor Telepon/Call Center. Penurunan AKB sejak Tahun 2012 sampai dengan 2014 juga dikarenakan meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan petugas dalam tata laksana BBLR dan asfiksia serta telah dilakukan pelatihan tata laksana neonatal bagi dokter, bidan dan perawat. Namun demikianj Angka Kematian Bayi sampai dengan Tahun 2015 mengalami kenaikan menjadi sebesar 11,18%. Persentase Angka Kematian Bayi selama 2010-2015 dapat dilihat pada Tabel 2.40 sebagai berikut :
Tabel 2.40 Angka Kematian Bayi
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Angka Kematian Bayi (per 1.000 KH)
10,46 13,37 13,19 11,95 10,25 11,18
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2015
2.3.2.2.2 Angka Harapan Hidup (AHH)
Angka Harapan Hidup saat Lahir didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. AHH mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat yang dihitung dari hasil sensus dan survei kependudukan. AHH di Kabupaten Semarang dari Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2015 cenderung meningkat, hal ini menunjukkan meningkatnya derajat kesehatan masyarakat serta keberhasilan pembangunan kesehatan secara umum. Perkembangan AHH selama Tahun 2010-2015 dapat dilihat pada tabel 2.41 sebagai berikut :
Tabel 2.41
Angka Harapan Hidup (Tahun) Menggunakan metode baru
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Angka Harapan Hidup 75,40 75,42 75,45 75,48 75,50 75,50 Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah, 2015
2.3.2.2.3 Angka Kematian Ibu
Persentase Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Semarang secara umum masih perlu dilakukan usaha yang lebih keras guna menurunkannya.
Peningkatan AKI pada Tahun 2011 dan 2014 disebabkan karena terjadinya peningkatan kasus pendarahan dan eklampsi pada ibu hamil serta adanya risiko tinggi ibu hamil seperti penyakit jantung dan hipertensi. AKI pada Tahun 2015 sebesar 120,4% atau sebanyak 17 kasus menurun dibandingkan Tahun 2014 dimana AKI sebesar 144,31% atau sebanyak 20 kasus.
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 50 Beberapa program telah dilakukan sebagai usaha menurunkan AKI antara lain terlaksananya program M3 (Maternal and Infant Mortality Meeting) dari tingkat Kabupaten sampai desa, upaya jejaring ibu bayi selamat dengan memperbaiki sistem rujukan, upaya deteksi dini ibu hamil dengan program P4K dan ANC (Ante Natal Care) terintegrasi, serta peningkatan ketrampilan dan pengetahuan petugas dengan berbagai pelatihan termasuk APN (Asuhan Persalinan Normal) dan PPGDON(Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan Obstetric dan Neonatus) serta optimalisasi Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar). Selain itu juga dibentuk SATGAS Penurunan AKI, mengoptimalkan jejaring dan Nomor Telepon Call Center untuk penanganan kasus kelahiran. AKI di Kabupaten Semarang selama Tahun 2010-2015 dapat dilihat pada Tabel 2.42 sebagai berikut:
Tabel 2.42
Angka Kematian Ibu (per 100.000 KH)
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Angka Kematian Ibu (per 100.000 KH)
101,92 146,24 78,01 120,20 144,31 120,34
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang 2015 2.3.2.2.4. Persentase Balita Gizi Buruk
Persentase Balita Gizi Buruk sejak Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2015 cenderung naik turun. Pada Tahun 2010 sebesar 0,06%; Tahun 2011 sebesar 0,12%; tahun 2012 sebesar 0,06%; tahun 2013 sebesar 0,08% dan Tahun 2014 sebesar 0,09%, sedangkan pada Tahun 2015 tercapai 0,08% atau lebih rendah dari target yang ditetapkan sebesar 0,11%. Jumlah balita gizi buruk pada Tahun 2015 sebanyak 60 balita menurun dibandingkan Tahun 2014 sebanyak 64 balita. Upaya yang telah dilakukan untuk menekan kasus gizi buruk pada balita antara lain dengan dilakukannya pemantauan pertumbuhan tiap bulan dan bila terjadi penurunan berat badan 2 kali maka secepatnya dirujuk ke tenaga kesehatan dan dilakukan intervensi berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan minimal 90 hari sehingga balita yang semula berstatus gizi buruk meningkat ke status gizi kurang. Persentase Balita Gizi Buruk dari Tahun 2010-2015 dapat dilihat pada Gambar 2.8 sebagai berikut:
Gambar 2.8
Persentase Balita Gizi Buruk Tahun 2010-2015
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang,2015
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 51 2.3.2.1.5 Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin
Capaian Indikator Pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin Jamkesmas dari Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2013 mengalami peningkatan dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan mulai Tahun 2014 bergabung menjadi satu dengan askes di BPJS kesehatan, dimana pasien BPJS kesehatan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu pasien PBI (Penerima Bantuan Iuran) yaitu Jamkesmas dan pasien Non PBI (Askes dan peserta mandiri).
Pasien PBI pada Tahun 2014 sebesar 15.946 pasien dan pada Tahun 2015 sebanyak 26.594 pasien. Sementara untuk pasien Jamkesda dari Tahun 2010 hingga Tahun 2015 mengalami kenaikan. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 2.43
Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat MiskinTahun Tahun 2010-2015
Indikator
Kinerja Satuan Realisasi Tahun
2010 2011 2012 2013 2014 2015 *)