BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Kecernaan Bahan Kering (KcBK %)
(KcBO) Jerami Sorgum Fermentasi Secara In Vitro
Kecernaan pakan oleh ruminansia sangat dipengaruhi oleh aktivitas mikroba di dalam rumen. Estimasi kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan
organik pada penelitian ini diperoleh dengan mengukur residu substrat yang diinkubasi selama 24 jam. Hasil pengukuran KcBK dan KcBO dapat dilihat pada Gambar 7. 46.5 45 42 40.5 39
44.787
43.587
45.422
42.001
45.494
42.053
46.384
44.236
KcBK KcBO A0 A1 A2 A3 PerlakuanA0 = Jerami sorgum (JS) + urea 0,3% A2 = JS + urea 0,3% + Starter 0,5% A1 = JS + urea 0,3% + Starter 0,25% A3 = JS + urea 0,3% + Starter 0,75%
Gambar 7 . Hasil pengukuran KcBK dan KcBO jerami sorgum fermentasi
setelah inkubasi selama 24 jam.
Pada Gambar 7, pengaruh perlakuan terhadap KcBK dan KcBO memiliki nilai yang bervariasi. Nilai rata-rata kecernaan bahan kering mulai yang tertinggi adalah perlakuan A1 diikuti perlakuan A3, A0, dan A2 yaitu 45,422 %, 44,236 %, 43,587 %, dan 42,053 %. Nilai rata-rata kecernaan bahan organik mulai yang tertinggi adalah perlakuan A3 diikuti dengan perlakuan A2, A0 dan A1 yaitu 46,384 %, 45,494 %, 44,787 %, dan 42,001 %.
Hasil pengukuran KcBK dan KcBO menunjukkan bahwa, antar perlakuan memiliki nilai yang tidak berbeda nyata (Lampiran 4.1 dan 4.2), baik yang ditambahkan dengan starter maupun tanpa penambahan starter. Perbedaan
kecernaan bahan kering dan bahan organik disebabkan oleh pemanfaatan BK dan BO oleh mikroba untuk hidup dan berkembang biak selama proses fermentasi.
Penambahan starter sebesar 0,75% ke dalam proses fermentasi jerami sorgum (A3) menghasilkan nilai KcBO maksimal, walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan lain (F<0,05). Hal ini mungkin disebabkan karena jumlah penambahan starter dan sumber nutrisi seperti karbohidrat yang terkandung di dalam jerami sorgum serta penambahan urea, dapat mencukupi kebutuhan mikroba dalam proses fermentasi, sehingga mikroba dapat mencerna pakan secara optimal.
Daya cerna bahan makanan sangat dipengaruhi oleh kandungan karbohidrat, jenis serat, jenis hewan, laju jalannya makanan di dalam saluran pencernaan serta mikroba yang mendegradasi (Suryadi dkk, 1998). Bahan kering dan bahan organik juga sangat mempengaruhi proses kecernaan. Adapun nilai bahan kering (BK) dan bahan organik (BO) setelah fermentasi jerami sorgum ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Nilai BK (%) dan BO (%) jerami sorgum setelah proses fermentasi selama 21 hari.
Rataan Perlakuan BK (%) BO (%) A0 91.27 87.85 A1 93.00 86.99 A2 90.46 87.22 A3 91.69 87.10 37
Kandungan bahan kering pada tabel di atas menunjukkan bahwa nilai yang tertinggi pada perlakuan A1 diikuti perlakuan A3, A0 dan A2, urutan ini sesuai dengan nilai KcBK (%) pada Gambar 7. Hal ini menguatkan bahwa kecernaan bahan kering sangat dipengaruhi oleh kandungan bahan keringnya. Menurut Tillman dkk, (1989) bahwa daya cerna berhubungan erat dengan komposisi kimia bahan pakan dan serat kasar terutama pengaruh terhadap kecernaan. Antara 70 sampai 80 % dari total bahan kering yang dikonsumsi digunakan ternak sebagai sumber energi (Maynard, 1979 dalam Suryadi dkk, 1998).
Pada perlakuan A1 memiliki kandungan bahan organik paling rendah yaitu 86,99 %, yang diikuti dengan rendahnya kecernaan bahan organik (Gambar 7). Begitu juga dengan perlakuan A2 yang memiliki kandungan bahan kering paling rendah yaitu 90,46 %, yang diikuti dengan rendahnya kecernaan bahan kering.
Perlakuan A0, walaupun memiliki Bahan Organik (BO) tertinggi (Tabel 2) yaitu sebesar 87,85% tetapi menghasilkan nilai KcBK dan KcBO rendah diantara perlakuan lain yaitu sebesar 43,59% dan 44,79% kecuali perlakuan A2 pada KcBK dan perlakuan A1 pada KcBO. Hal ini mungkin disebabkan keberadaan mikroba yang kurang serta pemanfaatan BK dan BO oleh mikroba untuk hidup dan berkembangbiak selama proses fermentasi kurang optimal. Hasil ini juga kemungkinan disebabkan tiga hal, yaitu kurang terpenuhinya karbohidrat mudah larut, kurangnya unsur nitrogen serta keberadaan tanin pada jerami sorgum yang menghambat kerja mikroba rumen dalam mendegradasi pakan (Kusumawardhani, 2003 dalam Nurvianty, 2006).
Karbohidrat mudah larut seperti monosakarida (glukosa dan fruktosa) dapat cepat terfermentasi. Penambahan karbohidrat mudah larut dapat
meningkatkan nilai kecernaan bahan pakan, produksi biomassa mikroba, serta efisiensi penggunaan nitrogen pakan oleh mikroba rumen untuk pembentukan biomassa mikroba (Kurniawati, 2007). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penambahan karbohidrat mudah larut dan protein secara bersamaan mampu meningkatkan degradasi bahan organik pakan dan meningkatkan pertumbuhan mikroba rumen yang berimplikasi terhadap peningkatan produksi ternak (Oldham dkk, 1988 dalam Kurniawati, 2007).
Tanin secara alami merupakan senyawa polyphenolic yang dapat berikatan dengan protein atau polimer lainnya seperti selulosa, hemiselulosa dan pektin, serta beberapa mineral di dalam bahan pakan. Tanin umumnya terikat dengan protein pakan membentuk ikatan kompleks yang stabil. Tanin melindungi protein dari degradasi di rumen dan menghambat kerja enzim protease dan selulase, mengakibatkan laju degradasi protein menurun, sehingga protein lolos dari degradasi dan masuk ke dalam usus halus. Dengan kata lain, senyawa tanin merupakan faktor anti-nutrisi yang dapat menurunkan palabilitas dan kecernaan pakan (Makkar dkk, 1995 dalam Nurvianty, 2006). Selain dampak negatif , tanin memiliki dampak positif yaitu meningkatkan by-pass protein (Sugoro, 2004).
4.3. Produksi Massa Mikroba
Massa mikroba merupakan indikasi dari banyaknya jumlah mikroba yang terdapat di dalam cairan rumen, dimana mikroba tersebut berperan dalam mendegradasi pakan. Produksi massa mikroba diperoleh dari pengurangan residu
Apparent digestibility dengan residu Trully digestibility, sehingga melalui
pengurangan residu terdegradasi semu yang masih mengandung mikroba dengan
0.1044 0.1121
0.0896 0.0829
A0 = Jerami sorgum (JS) + urea 0,3% A2 = JS + urea 0,3% + Starter 0,5% A1 = JS + urea 0,3% + Starter 0,25% A3 = JS + urea 0,3% + Starter 0,75%
residu terdegradasi asli akan didapatkan produksi biomassa mikroba (Blummel dan rckov, 1993). Hasil analisis produksi massa mikroba dapat dilihat pada Gambar 8. 0.15 0.1 0.05 0 A0 A1 A 2 A3 Pe rlak uan
A0 = Jerami sorgum (JS) + urea 0,3% A2 = JS + urea 0,3% + Starter 0,5% A1 = JS + urea 0,3% + Starter 0,25% A3 = JS + urea 0,3% + Starter 0,75%
Gambar 8. Produksi massa mikroba (g)
Gambar 8 menunjukkan hasil pengukuran produksi massa mikroba tiap perlakuan A0, A1, A2 dan A3 masing-masing sebesar 0,0896 g, 0,0829 g, 0,1044 g dan 0,1121 g. Penambahan starter pada perlakuan mampu meningkatkan massa mikroba, walaupun tidak berbeda nyata (F<0,05), kecuali perlakuan A1.
Produksi massa mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan A3, peningkatan ini sejalan dengan tingginya konsentrasi amonia serta tingginya bahan organik yang tercerna, sehingga dapat mengoptimalkan pertumbuhan mikroba. Pada perlakuan lainnya yaitu A2, A1 dan A0 lebih rendah produksi massa mikrobanya dibandingkan dengan perlakuan A3, walaupun tidak berbeda nyata. Hal ini mungkin disebabkan oleh terdegradasinya karbohidrat menjadi VFA sehingga sintesis sel mikroba berkurang, yang ditandai dengan tingginya
7.1
7.08 7.08
7.03
konsentrasi VFA pada perlakuan A2, A1 dan A0. Berdasarkan penelitian Nurvianty (2006) produksi massa mikroba menurun akibat tingkat keasaman cairan rumen yang semakin meningkat akibat terdegradasinya karbohidrat membentuk VFA, sehingga sintesis sel mikroba menurun.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi massa mikroba yaitu ketersediaan sumber nutrisi serta faktor lingkungan seperti pH, temperatur dan tekanan osmotik (Tim Mikrobiologi FK UNBRAW, 2005). Efisien pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh keseimbangan jumlah protein dan karbohidrat yang terfermentasi dalam rumen (Leng, 1993).