• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERI DAN METODE

3. Kecernaan dan Fermentabilitas Silase

Kecernaan dan fermentabilitas silase diukur secara in Vitro dengan peubah yang diamati adalah:

a. Fermentabilitas yaitu Produksi VFA total (Steam distillation), Konsentrasi NH3 (mikrodifusi Conway) dan Produksi gas (Menke et al., 1979).

b. Kecernaan yaitu Kecernaan bahan kering (KCBK) dan Kecernaan bahan organik (KCBO) (Tilley and Terry, 1963) dan Estimasi Kecernaan bahan organik dan Metabolisme energi (Menke et al., 1979).

Rancangan Percobaan

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor dengan 5 taraf dengan 3 kali ulangan untuk fermentasi silase, dengan:

Onngok = Daun rami (1 kg) + onggok (20% w/w) Jagung = Daun rami (1 kg) + tepung jagung(20% w/w) Pollard = Daun rami (1 kg) + pollard (20% w/w) Gaplek = Daun rami (1 kg) + gaplek (20% w/w) Dedak = Daun rami (1 kg) + dedak (20% w/w)

Model analisa sidik ragam yang digunakan adalah sebagai berikut : Yij = μ + τi + εij

Keterangan:

Yij = hasil pengamatan pengaruh jenis aditif ulangan ke-j

μ = Rataan umum

τi =Pengaruh jenis aditif ke-i

Εij = pengaruh acak pada jenis aditif ke-I ulangan ke-j

Fermentabilitas dan kecernaan in vitro menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan cairan rumen sebagai kelompok. Model matematik untuk RAK adalah:

Yij = μ + τi + βj + εij

Keterangan:

Yij = hasil pengamatan jenis aditif ke-i dan kelompok ke-j

μ = rataan umum

τi = pengaruh jenis aditif ke-i

βj = pengaruh kelompok ke-j

Εij = pengaruh acak pada jenis aditif ke-i, dan kelompok ke-j.

Perbedaan nilai tengah perlakuan dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) diikuti dengan uji Duncan untuk perbedaan antar perlakuan dengan menggunakan SPSS versi 13.

Prosedur Analisa

Pengukuran BK Silase

Silase yang telah melalui proses ensilasi selama 5 minggu dikeluarkan dari plastik dan ditimbang sebagai berat awal, kemudian dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 60o C selama 3-7 hari kemudian ditimbang sebagai berat kering oven 60o C. Setelah dikeringkan pada suhu 60o C, sampel digiling sampai halus. Kemudian sampel di timbang kedalam cawan porselen sebanyak 2-3 gram dan dimasukkan kedalam oven 105o C sampai berat konstan. Setelah kering silase ditimbang sebagai berat akhir dan dihitung menggunakan rumus:

100% x a x c b x d BK %  Keterangan

a : Berat daun rami segar + zat aditif b : Berat silase rami oven 60o C c : Berat sampel sebelum oven 105o C d : Berat sampel setelah oven 105o C Pengukuran pH

Silase yang baru dibuka ditimbang sebanyak 10 gram dan dicampur dengan 100 ml aquadest dengan cara diblender pada kecepatan sedang selama 30 detik. pH cairan silase diukur menggunakan Pocket pH meter yang telah dikalibrasi. Pembacaan pH dilakukan setelah screen stabil atau setelah 30 detik.

Pengukuran WSC (Water Soluble Carbohydrat) (Metode Fenol)

Silase sebanyak dua gram yang ditambahkan aquadest yang telah dipanaskan sebanyak 20 ml, kemudian digerus menggunakan mortal selama ± 10 menit. Setelah itu disaring untuk memisahkan cairan dan padatan sampel. Sampel yang berbentuk cairan dipipet sebanyak 2 ml dan dimasukan kedalam tabung reaksi 10 ml, kemudian tambahkan 0,5 ml larutan fenol homogenkan dengan menggunakan vortex. Larutan asam sulfat ditambahkan dengan cepat sebanyak 2,5 ml dan divortex, biarkan larutan sampai dingin dan ukur absorbannya menggunakan spektrofotmeter pada 490 nm. Pengukuran NH3 silase

1 ml sampel yang sama dengan sampel pengukuran pH ditempatkan pada salah satu ujung jalur cawan Conway yang telah diolesi vaselin kemudian 1 ml larutan Na2CO3 ditempatkan pada sisi yang bersebelahan dengan sampel. Asam borat berindikator sebanyak 1 ml ditempatkan didalam cawan kecil yang ada dibagian tengah cawan Conway kemudian tutup rapat cawan Conway. Supernatan dan larutan Na2CO3 dicampur hingga rata dengan cara cawan Conway dimiringkan. Diamkan selama 24 jam pada suhu kamar dan setelah 24 jam asam borat berindikator dititrasi menggunakan H2SO4 sampai terjadi perubahan warna dari biru menjadi merah. Kemudian kadar NH3 dihitung dengan rumus:

sampel BK × sampel gr 1000 × 4 SO 2 H N × 4 SO 2 H ml = (mM) 3 NH N

Perhitungan Nilai Fleigh

Nilai Fleigh dihitung menggunakan rumus: NF = 220 + (2 x BK (%) – 15) – (40 x pH) Keterangan:

NF = Nilai Fleigh BK = Bahan Kering (%) Pengukuran NH3 rumen

Pakan difermentasi menggunakan cairan rumen menggunakan (General Laboratory Procedure, 1966). Sebanyak 0,5 gram silase daun rami yang sudah dikeringkan, digiling dan disaring menggunakan saringan berukuran 0,5 mm. Sampel

itu dimasukkan ke dalam tabung fermentor bervolume 50 ml, kemudian ditambahkan 40 ml larutan buffer McDougall dan 10 ml cairan rumen lalu diaduk dengan gas CO2

selama 30 detik dan ditutup rapat dengan prop karet yang berventilasi, kemudian diinkubasi selama 6 jam di dalam shaker water bath bersuhu 390 C. Setelah inkubasi, ditambahkan 2 - 3 tetes HgCl2 jenuh ke dalam tabung fermentor untuk menghentikan aktivitas mikroba, kemudian tabung fermentor disentrifuge dengan kecepatan 10000 rpm selama 10 menit. Kemudian tampung supernatannya.

Cawan Conway diolesi dengan vaselin kemudian 1 ml supernatan ditempatkan pada salah satu ujung alur cawan Conway kemudian 1 ml larutan Na2CO3 ditempatkan pada sisi yang bersebelahan dengan sampel. Asam borat berindikator sebanyak 1 ml ditempatkan didalam cawan kecil yang ada dibagian tengah cawan Conway kemudian tutup rapat cawan Conway. Supernatan dan larutan Na2CO3 dicampur hingga rata dengan cara cawan Conway dimiringkan. Diamkan selama 24 jam pada suhu kamar dan setelah 24 jam asam borat berindikator dititrasi menggunakan H2SO4 sampai terjadi perubahan warna dari biru menjadi merah. Kemudian kadar NH3 dihitung dengan rumus:

sampel BK × sampel gr 1000 × 4 SO 2 H N × 4 SO 2 H ml = (mM) 3 NH N Pengukuran VFA

Supernatan yang telah disiapkan menggunakan prosedur yang sama dengan penggukuran NH3 rumen sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung destilasi, lalu segera ditambahkan dengan 1 ml H2SO4 15 % dan ditutup dengan tutup karet yang mempunyai lubang dan dapat dihubungkan dengan labu pendingin. Tabung destilasi dimasukkan ke dalam labu penyulingan yang berisi air mendidih (dipanaskan terus selama destilasi). Uap air panas akan mendesak campuran supernatan dan H2SO4 dan akan terkondensasi dalam labu pendingin. Air yang terbentuk ditampung dalam labu erlenmeyer yang berisi 5 ml NaOH 0,5 N hingga sampel menjadi 300 ml, kemudian ditambahkan dengan indikator PP (Phenol pthaline) sebanyak 2 - 3 tetes dan dititrasi dengan HCl 0,5 N sampai warna titrat berubah dari merah jambu menjadi tidak berwarna. Produksi VFA total dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

 

sampel BK sampel gr 5 1000 NHCl b -a (mM) VFA total     Keterangan:

a = volume titran blanko (ml) b = volume titran contoh (ml)

Laju Degradasi Bahan Organik Silase

Degradasi bahan organik silase dalam rumen diukur menggunakan metode Gas test (Menke et al., 1979) dengan pengamatan produksi gas pada berbagai interval waktu. Sampel ditimbang sebanyak 0,23 gram kemudian dimasukkan ke dalam syringe kemudian ditambah 30 ml campuran buffer dan cairan rumen dengan imbangan 2:1. Syringe diinkubasi pada rotor yang ditempatkan pada inkubator bersuhu 39o. Komposisi penyusun larutan buffer adalah: cairan rumen sebanyak 400 ml yang tetap terjaga pada suhu 390 C, 400 ml aquadest, 0,1 ml larutan mikromineral (13,2 g CaCl2, 10,0 g MnCl2. 4H2O, 1,0 g CoCl2. 6H2O, 8,0 g FeCl2. 6H2O dan 100 ml aquadest), 200 ml larutan buffer rumen (4,0 g NH4CO3, 35,0 g NaHCO3, dan 1000 ml aquadest), 200 ml larutan makromineral (5,7 g Na2HPO4 anhudrous, 6,2 g KHPO4, 0,6 g MgSO4.7H2O dan 1000 ml aquadest), 1,0 ml larutan resazurine (0,1 g resazurine dan 100 ml aquadest), dan 40 ml larutan reduksi (4,0 ml NaOH 1 N, 0,625 g Na2S.9H2O, dan 95 ml aquadeast) disiapkan terlebih dahulu. Campuran tersebut diaduk diiringi dengan pemberian gas CO2. Syringe yang berisi sampel dan 30 ml campuran buffer dan cairan rumen diinkubasi di dalam inkubator bersuhu 390 C. Pengamatan produksi gas dilakukan pada 0, 4, 8, 12, 16, dan 24 jam. Produksi gas dapat dihitung menggunakan rumus:

Gb (ml/200mg BK,t jam) = [(Gbt-Gb0)*200*((FH+FC)]/BK bahan

Keterangan

Gb0 = Posisi piston pada 0 jam Gbt = Posisi piston setelah t jam FH = faktor koreksi hijauan FC = faktor koreksi konsentrat

Pengukuran KCBK dan KCBO

Pengukuran KCBK dan KCBO mengikuti metode Tilley and Terry (1963) sebagai berikut:

1. Pencernaan Fermentatif

Sebanyak 0,5 gram sampel pakan dimasukkan kedalam tabung fermentor, ditambahkan 10 ml larutan buffer McDougall dan 40 ml cairan rumen lalu diaduk dengan gas CO2 selama 30 detik dan ditutup rapat. Tabung fermentor ditempatkan pada suhu 39o dan fermentasi dibiarkan berlangsung selama 48 jam. Setiap 6 jam, tabung diaduk dengan gas CO2.

2. Pencernaan Hidrolisis

Setelah diinkubasi selama 48 jam, kedalam tabung fermentor ditambahkan 2-3 tetes HgCl2 jenuh untuk menghentikan aktivitas mikroba. Campuran tersebut disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit dan supernatannya dibuang, kedalam tabung ditambahkan 50 ml larutan pepsin HCl 0,2%. Pencernaan enzimatis berlangsung aerob selama 48 jam. Hasil pencernaan hidrolisis (residu) disaring menggunakan kertas Whatman no 41 yang dibantu dengan pompa vakum. Kemudian residu tersebut dimasukkan kedalam cawan porselen dan dipanaskan di dalam oven suhu 1050 C selama 24 jam untuk menentukan BK residu. Selanjutnya residu BK dimasukan dalam tanur 600o C selama 6 jam untuk mendapatkan residu bahan organik. Kemudian KCBK dihitung berdasarkan rumus:

100% x inkubasi BK residu BK -inkubasi BK = %KCBK Keterangan:

KCBK= Koefisien Cerna Bahan Kering BK = Bahan kering

Sedangkan KCBO dihitung dengan rumus:

100% x inkubasi BO residu BO inkubasi BO = %KCBO  Keterangan:

KCBO= Koefisien Cerna Bahan Organik BO = Bahan organik

Estimat OMD dan ME

Estimat OMD dan ME dapat dihitung berdasarkan produksi gas 24 jam dan kandungan proksimat bahan mengikuti formula sebagai berikut:

OMD (%) = 14,88 + 0,889PG + 0,045 PK + 0,065 XA Keterangan

OMD = Organic matter Digestibility (%) PG = Produksi gas (ml)

PK = Protein kasar (g/kg BK) XA = abu (g/kg BK)

Sedangkan ME dihitung menggunakan rumus:

ME (MJ kg- DM) = 2,20 + 0,136 GP + 0,057 CP + 0,0029 CP2 Keterangan

ME = Energi metabolis GP = Produksi gas (ml) CP = Protein kasar (g/kg BK)

Dokumen terkait