BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.3 Penyajian Data Hasil Wawancara
4.3.2 Kecukupan Infrastruktur untuk Kesiapan dalam
Hasil Wawancara mendalam kepada sumber informasi mengenai kecukupan infrastruktur untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chiek Ditiro Sigli dikelompokkan atas kecukupan prasarana rumah sakit dan sarana peralatan medis rumah sakit.
1. Kecukupan Prasarana Rumah Sakit
Hasil wawancara dengan sumber informasi tentang kecukupan prasarana untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chiek Ditiro Sigli, diperoleh informasi bahwa fasilitas yang ada sudah memenuhi standar minimal namun perlu peningkatan.
Prasarana gedung seperti ruang tunggu perlu perhatian karena ada keluhan dari pasien maupun keluarga pasien bahwa ruang tunggu panas karena tidak ada AC dan ventilasi udara sangat kurang. Begitu juga ruang kamar inap khususnya untuk pasien JKN dan ruang rawat inap di Poli Kebidanan perlu penambahan. Sebagaimana diungkapkan berikut ini.
“mengenai fasilitas seperti gedung untuk ruang tunggu dan ruang kamar untuk rawat inap bila ditinjau dari banyaknya pasien di era JKN memang perlu penambahan. Khususnya kamar rawat inap sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk kategori kelas rumah sakit B. Namun karena banyaknya pasien rujukan dari puskesmas di wilayah kerja rumah sakit maka perlu penambahan lagi.
Dan saat ini sedang disusun rencana pengusulannya ke pihak atasan” (Sumber Informasi I)
“dari pantauan kami bahwa ruang tunggu perlu pembenahan karena kondisinya sudah tidak nyaman tanpa AC, sehingga banyak pasien atau keluarga pasien yang resah menunggu”. (Sumber Informasi II)
“Sejak diberlakukannya JKN bulan Januari 2014, pasien yang berkunjung ke Poli Kebidanan meningkat, sehingga ruang rawat inap yang tersedia tidak mencukupi termasuk ruang untuk bayi. Pernah terjadi pasien ditempatkan di lorong ruangan” (Sumber Informasi VI)
Sumber informasi lain juga memberi informasi tentang keterbasan prasarana berupa depo obat. Depo obat yang ada hanya di ruang farmasi sehingga pengaturan dan penyimpanan obat belum tertata rapi dan aman. Sementara depo obat di ruang perawatan belum ada. Rencana ke depannya akan dibuat depo obat di setiap ruang perawatan. Sumber informasi lain melaporkan kurangnya kamar rawat inap untuk Poli Kebidanan. Seperti diungkapkan berikut ini:
“Untuk rawat inap sedikit terkendala karena kita belum ada depo obat untuk setiap ruangan. Jadi obat di ruangan tidak dapat kita kendalikan tanpa ada depo. Untuk depo sendiri sudah kita rencanakan setiap ruangan. Mungkin tahun depan kita sudah direalisasikan.” (Sumber Informasi V)
Sumber informasi lain memberitahukan bahwa depo obat di ruang bedah belum ada, sehingga penataan obat masih disusun menompang pada rak/lemari lainnya yang bukan khusus untuk obat. Seperti diungkapkan berikut ini:
“kalau peralatan medis sudah memadai hanya depo obat di ruang bedah belum ada…” (Sumber Informasi VII)
2. Kecukupan Sarana Peralatan Medis Rumah Sakit
Hasil wawancara dengan sumber informasi tentang kecukupan sarana peralatan medis untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chiek Ditiro Sigli, diperoleh informasi bahwa peralatan medis yang dirasa masih kurang adalah CT-scan sehingga untuk kasus besar seperti trauma kepala harus dirujuk ke rumah sakit tersier. Seperti diungkapkan berikut ini:
“Untuk menangani kasus besar seperti trauma kepala rumah sakit ini masih belum didukung dengan tersedianya ct-scan. Dan masih banyak sarpras yang harus kami sediakan. Ini juga pernah disinggung oleh tim visitasi peningkatan tipe bahwa mainan spesialisnya masih kurang.” (Sumber Informasi I)
Sumber informasi lain memberitahukan bahwa peralatan medis sudah memadai seperti alat endoskopi sudah tersedia. Seperti diungkapkan berikut ini:
“untuk peralatan medis sudah cukup Pak, khususnya di Poli Penyakit Dalam ini alat endoskopi sudah ada….” (Sumber Informasi VIII)
Sumber informasi lain juga memberi informasi tentang prasarana untuk Poli Gigi sudah memadai, hanya dibutuhkan alat sarana peralatan medis berupa rongent panoromik untuk mengetahui keadaan gigi pada saluran akar gigi. Seperti diungkapkan berikut ini:
“kalau masalah fasilitas atau sarana prasarana rumah sakit yah sudah cukup… apalagi di Poli Gigi, sudah ada 4 dental unit…. Hanya kendala ada pada peralatan medis berupa rongent panoromik…. Untuk mengetahui keadaan gigi pada saluran akar……” (Sumber Informasi IX)
3. Kecukupan Obat
Hasil wawancara dengan sumber informasi tentang kecukupan obat untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chiek Ditiro Sigli, diperoleh informasi bahwa pengadaan obat sesuai e-catalog dilakukan langsung, sedang untuk obat yang tidak ada tercantum dalam e-catalog melalui proses lelang.
Kekurangan obat kadang terjadi dan diatasi dengan mencari di apotik di luar rumah sakit. Seperti diungkapkan berikut ini:
“untuk pengadaan obat yang ada di e-catalog kita mengadakan langsung. Tapi untuk obat yang tidak ada di e-catalog kita melalui proses lelang.”
“Manajemen pengelolaan obat di rumah sakit dilakukan oleh instalasi farmasi. Pertama obat dari pengadaan di terima oleh gudang farmasi rumah sakit. Setelah itu sesuai kebutuhan apotik rumah sakit mengamprah obat di gudang. Apotik yang medistribusikan obat kepada pasien sesuai dengan resep dokter.” “kekurangan pernah ada, namun langsung kita atasi dengan mencari obat di apotik luar untuk mencukupinya. Namun itu tidak sering. Karena kita juga sudah disusun formolarium obat RS.” (Sumber Informasi V)
BAB 5 PEMBAHASAN
Pelaksanaan program JKN yang digelar Badan Penyelenggara Jaminan Sehat (BPJS) Kesehatan diyakini akan membawa perubahan besar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan disosialisasikannya JKN melalui BPJS kepada manajemen, dokter dan karyawan merupakan salah satu bentuk kesiapan rumah sakit di era baru layanan kesehatan di Indonesia. Seluruh jajaran Rumah Sakit perlu menyiapkan diri dalam menyongsong era JKN ini. Rumah sakit merupakan unsur paling utama pada sistem pembagunan kesehatan yang mempunyai peran sangat penting, sekaligus sebagai kunci dari pembangunan kesehatan itu sendiri (Ady, 2014).
Rumah sakit sebagai salah satu organisasi kesehatan harus memiliki kesiapan di era JKN sebagaimana menurut Lehman (2005) bahwa kesiapan suatu organisasi antara lain dapat dideteksi dari beberapa variabel seperti variabel motivasional, ketersediaan sumber daya, nilai-nilai dan sikap positif yang dikembangkan para karyawan, serta iklim organisasi yang mendukung perubahan.
Dalam konteks rumah sakit, ketersediaan sumber daya dapat dikategorikan antara lain ketersediaan tenaga kesehatan dan infrastruktur. Sebagaimana di dalam penelitian ini bahasan difokuskan pada sumber daya yaitu ketersediaan tenaga kesehatan dan kecukupan infrastruktur untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chiek Ditiro Sigli.
Penelitian Geswar tahun 2014 tentang kesiapan stakeholder dalam pelaksanaan program JKN di Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan metode pengumpulan data dengan teknik indepth interview, observasi, dan telaah dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan JKN belum optimal.
5.1 Ketersediaan Tenaga Kesehatan untuk Kesiapan dalam Menghadapi Era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli Kabupaten Pidie
BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli baru beralih dari rumah sakit kelas C menjadi kelas B. Dengan peralihan ini nyata diperlukan ketenagaan yang memenuhi standar rumah sakit kelas B baik tenaga medis, paramedic, dan tenaga non medis.
Disamping untuk penyesuaian dengan standar kelas B juga dengan diberlakukannya JKN, rumah sakit ini akan menjadi rujukan tindak lanjut.
Dalam penelitian ini, ketersediaan tenaga kesehatan dimaksudkan bagaimana jumlah tenaga kesehatan yang tersedia untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli yang dibagi atas: a)tenaga medis mencakup dokter spesialis, dokter umum, dan dokter gigi; b)tenaga paramedis mencakup perawat dan bidan; c) tenaga kefarmasian mencakup apoteker dan asisten apoteker, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi, tenaga keterapian medis, dan tenaga keteknisian medis.
5.1.1 Ketersediaan Dokter Spesialis
Hasil wawancara dengan sumber informasi tentang ketersediaan dokter spesialis untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, diperoleh informasi bahwa ketersediaan dokter spesialis sebanyak 26 orang.
Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit pasal 32-34 dinyatakan ketersediaan sumber daya manusia khusus dokter spesialis Rumah Sakit Umum kelas B paling sedikit terdiri atas 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis dasar, 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis penunjang, 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis lain, 1 (satu) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik subspesialis, 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis gigi mulut belum memenuhi persyaratan.
Dapat dilihat bahwa walau dari segi jumlah, ketersediaan dokter spesialis untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sudah berlebih namun belum memenuhi persyaratan sesuai Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014, karena belum ada dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik, belum ada dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis gigi mulut, belum ada dokter spesialis bedah saraf dan belum ada dokter spesialis jantung. Sampai akhir tahun 2014, Kekurangan ini disikapi dengan dengan cara melakukan kerjasama dengan rumah sakit/instansi terkait lainnya yang ada di sekitar wilayah Kabupaten Pidie seperti RSUZA Banda Aceh dan Fakultas Kedokteran Unsyiah Banda Aceh. Baik dengan cara merujuk pasien dengan kasus besar misalnya
pasien dengan trauma di kepala yang tidak bisa ditangani karena tidak adanya dokter spesialis maupun dengan mengundang dokter bedah untuk praktek di rumah sakit ini.
Namun berdasarkan wawancara ada perencanaan pengadaannya di tahun 2015.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan dokter spesialis untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, belum memenuhi standar minimal untuk rumah sakit kelas B. Ketenagaan rumah sakit kelas B adalah cukupnya bagian spesialis dan beberapa subspesialis. Untuk itu, tenaga medis perlu direncanakan dan diusulkan pengadaannya antara lain seperti tenaga bedah saraf, dan beberapa dokter subspesialis. Hal ini mengingat rumah sakit ini terletak di jalan raya utama dimana sering terjadi kecelakaan sehingga diperlukan tenaga spesialis bedah saraf dan subspesilis. Mengenai tenaga medis lainnya perlu direncanakan dan diusulkan pengadaannya sesuai dengan standar rumah sakit kelas B.
Ketersediaan dokter spesialis standar pada Permenkes NO. 56 Tahun 2014 adalah tidak ideal. Kita sama mengetahui permasalahan penempatan dokter spesialis ini berpusat di kota besar dan informasi pengangkatan pegawai apalagi dokter spesialis sangat minim. Menurut peneliti tenaga yang sudah ada dapat dioptimalkan antara lain dengan imbalan terutama dari daerah tersebut agar ia tetap mau bekerja sambil mengembangkan keterampilan.
5.1.2 Ketersediaan Dokter Umum
Dalam rumah sakit kelas B, peran dokter umum bersifat lebih kearah
banyak dalam penegakan non teknis medis, dan ia antara lain dapat ditempatkan pada poli umum IGD (triase) atau pada instalasi pelayanan medis.
Berdasarkan hasil wawancara dengan sumber informasi, ketersediaan dokter umum untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sudah memenuhi kebutuhan. Berdasarkan data sekunder diketahui bahwa jumlah dokter umum yang tersedia di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sebanyak 15 orang.
Bila dibandingkan dengan persyaratan jumlah dokter umum menurut Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014 untuk rumah sakit kelas B sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit terdiri atas 12 (dua belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar, jumlah ini sudah memenuhi bahkan sudah berlebih 3 (tiga) dokter umum.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan dokter umum untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, sudah memenuhi standar minimal untuk rumah sakit kelas B. Karena rumah sakit kelas B merupakan rumah sakit dengan pelayanan spesialis yang luas, maka keberadaan dokter umum kurang dibutuhkan dalam pelayanan spesialis. Keberadaan dokter umum dapat diberdayakan dalam pelayanan kegiatan dapat diberi kewenangan spesialis, di IGD (triase) atau instalasi pelayanan.
Sumber daya diposisikan sebagai input dalam organisasi sebagai suatu sistem yang mempunyai implikasi yang bersifat ekonomis dan teknologis. Secara ekonomis, sumber daya bertalian dengan biaya atau pengorbanan langsung yang dikeluarkan
oleh organisasi yang merefleksikan nilai atau kegunaan potensial dalam transformasinya ke dalam output. Sedang secara teknologis, sumber daya bertalian dengan kemampuan transformasi dari organisasi (Tachjan dalam Winarno, 2007).
5.1.3 Ketersediaan Dokter Gigi
Melihat peralatan yang ada, tenaga dokter gigi memadai hanya diperlukan tambahan tenaga dokter gigi spesialis seperti bedah mulut untuk menunjang pelayanan perorangan kasus kecelakaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan sumber informasi, ketersediaan dokter gigi untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sudah memenuhi standar kebutuhan rumah sakit. Demikian juga berdasarkan data sekunder diketahui bahwa jumlah dokter gigi yang tersedia di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sebanyak 4 orang.
Sesuai dengan Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014 yang menyatakan dokter gigi untuk rumah sakit kelas B sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit terdiri atas 3 (tiga) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut.
Maka jumlah dokter gigi umum untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli dari segi jumlah sudah melebihi. Namun sebagaimana dijelaskan di atas, khusus untuk dokter gigi spesialis dan subspesialis belum ada.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan dokter gigi umum untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, sudah memenuhi standar minimal untuk rumah sakit kelas B. Namun belum memenuhi untuk dokter gigi spesialis dan subspesialis.
Menurut Edwards III dalam Agustino (2006), sumberdaya merupakan hal penting dalam implementasi kebijakan yang baik. Salah satu indikator yang digunakan untuk melihat sejauh mana sumber daya mempengaruhi implementasi kebijakan termasuk kebijakan pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah sumber daya manusia kesehatan. Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan, salah satunya disebabkan oleh staf/pegawai yang tidak cukup memadai, mencukupi, ataupun tidak kompeten dalam bidangnya. Penambahan jumlah staf dan implementor saja tidak cukup menyelesaikan persoalan implementasi kebijakan, tetapi diperlukan sebuah kecukupan staf dengan keahlian dan kemampuan yang diperlukan (kompeten dan kapabel) dalam mengimplementasikan kebijakan.
5.1.4 Ketersediaan Perawat dan Bidan
Analisis kebutuhan tenaga keperawatan di rumah sakit harus betul-betul direncanakan dengan baik agar tidak dilakukan berulang-ulang karena akan membutuhkan waktu, biaya, tenaga sehingga tidak efektif dan efisien. Berdasarkan hasil wawancara diketahui ketersediaan perawat untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, belum mendukung pemberian pelayanan kepada pasien sesuai kebutuhan rumah sakit bila ditinjau secara rasio tempat tidur sebanyak 239 tempat tidur. Hal ini diperkuat dari data sekunder bahwa jumlah perawat yang tersedia sebanyak 281 orang yang merupakan PNS. Untuk menyikapi kondisi ini, pihak rumah sakit merekrut tenaga keperawatan honorer dan menerima tenaga keperawatan untuk magang (outsourcing) di rumah sakit ini. Jumlah tenaga keperawatan di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sudah mencakup bidan.
Selain tenaga medis perlu ketersediaan tenaga paramedis keperawatan dan paramedic non keperawatan. Tenaga paramedis keperawatan yang ada saat ini sebanyak 281 orang, sedangkan jumlah tempat tidur sebanyak 239. Dari standar Depkes RI No. 262 dibutuhkan tenaga keperawatan untuk 1 tempat tidur 3 tenaga perawat, sehingga untuk 239 tempat tidur diperlukan 717 tenaga perawat, sehingga masih dibutuhkan banyak tenaga paramedis keperawatan. Untuk ketersediaan tenaga paramedis non keperawatan dan non medis hendaknya disesuaikan dengan standar rumah sakit kelas B.
Selain salah satu alternatif pengadaan tenaga kerja kontrak (outsourcing), di setiap perusahaan, baik perusahaan jasa termasuk rumah sakit maupun bukan jasa dituntut untuk berusaha meningkatkan kinerja usahanya melalui pengelolaan organisasi yang efektif dan efisien. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mempekerjakan tenaga kerja seminimal mungkin untuk dapat memberi kontribusi maksimal sesuai sasaran melalui sistem outsourcing (PPM Manajemen, 2008).
Sebagaimana menurut Rivai & Mulyadi (2009), sebuah organisasi akan diharapkan pada lingkungan yang dinamis dan berubah yang kemudian menuntut agar organisasi tersebut berubah. Hampir semua organisasi akan menyesuaikan diri dengan lingkungan multibudaya. Salah satu kekuatan untuk perubahan organisasi adalah kekuatan sumber daya manusia. Sumber daya manusia harus berubah dalam mempertahankan angkatan kerja yang beragam. Dalam mengubah sumber daya manusia tersebut, suatu perusahaan harus mengadakan pendidikan dan pelatihan
5.1.5 Ketersediaan Tenaga Kefarmasian
Hasil wawancara dengan sumber informasi, ketersediaan tenaga kefarmasian untuk apoteker untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, belum memenuhi standar kebutuhan, sedangkan untuk tenaga teknis kefarmasian/asisten apoteker sudah melebihi kebutuhan. Berdasarkan data sekunder diketahui bahwa jumlah apoteker sebanyak 5 orang dan asisten apoteker sebanyak 23 orang.
Menurut Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014 bahwa tenaga kefarmasian ayat (1) huruf b paling sedikit terdiri atas:
h. 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
i. 4 (empat) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian;
j. 4 (empat) orang apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian;
k. 1 (satu) orang apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh minimal 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian;
l. 1 (satu) orang apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian;
m. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit; dan
n. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.
Dari uraian persyaratan tenaga kefarmasian di rumah sakit kelas B sesuai Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014 di atas dapat ditotal dibutuhkan sebanyak 13 apoteker dan tenaga kefarmasian (asisten apoteker) sebanyak 20 orang. Sementara tenaga kefarmasian (apoteker) di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli dikatakan belum cukup (5 orang). Dari pengamatan penelitian hal ini dikarenakan pembagian tugas yang kurang jelas dan sistem pelayanan kefarmasiannya dirasakan mereka kurang.
Menurut peneliti perlu ditetapkan pembagian tugas yang jelas, siapa yang bertanggungjawab dalam penyusunan e-catalog obat, siapa yang bertanggungjawab dalam peralatan.
Mengenai sistem pelayanannya, menurut peneliti sebaiknya secara desentralisasi u ntuk mempermudah pelayanan obat ke pasien mengingat pasien cukup banyak (BOR >95%). Walau dalam Permenkes No. 56 tahun2 014 diperlukan banyak tenaga kefarmasian namun tidaklah mungkin didapat mengingat pengangkatan kepegawaian sulit. Jadi sistem pembagian tugas dan sistem pelayanan kefarmasian serta letak satu unit pelayanan dengan unit lainnya perlu kebijakan yang diambil.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jumlah apoteker masih kurang
ketersediaan apoteker untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli belum mendukung.
5.1.6 Ketersediaan Tenaga Kesehatan Masyarakat
Tenaga kesehatan masyarakat lebih diperlukan untuk kegiatan PKRS sebagai salah satu instalasi dan rumah sakit pemerintah. Tenaga kesehatan masyarakat ini juga dapat dipakai sebagai tenaga pembantu dalam kegiatan konseling dan kegiatan pada instasi apalagi di era JKN.
Hasil penelitian diketahui bahwa jumlah tenaga kesehatan masyarakat sebanyak 30 terdiri dari 26 tenaga kesehatan masyarakat berstatus PNS dan 4 status sedang magang. Jumlah tenaga kesehatan masyarakat untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, sudah memenuhi standar kebutuhan rumah sakit.
Jumlah tenaga kesehatan masyarakat ini jika ditinjau dari kebutuhan BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli terutama untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN sudah sesuai dengan kebutuhan rumah sakit. Sebagaimana menurut Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014 Pasal 34 bahwa “Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) huruf d dan e disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.”
5.1.7 Ketersediaan Tenaga Gizi
Hasil penelitian diketahui bahwa diketahui bahwa jumlah tenaga gizi untuk kesiapan dalam menghadapi era JKN di BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli sebanyak 7 orang, dan jumlah ini masih kurang bila dikaitkan dengan kebutuhan rumah sakit (9
orang). Sebagaimana menurut Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014 Pasal 34 bahwa
“Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) huruf d dan e disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.”
5.1.8 Ketersediaan Tenaga Keterapian Fisik
Dengan menghitung kasus kecelakaan dan tingginya kasus hipertensi diperlukan ketenagaan keterapian fisik yang khusus seperti speech therapy dan sebagainya. Hasil penelitian diketahui bahwa jumlah tenaga keterapian fisik sebanyak 11 orang dan seluruhnya berstatus PNS. Jumlah ini sudah memenuhi kebutuhan rumah sakit. Apalagi pada masa-masa tertentu ada tenaga keterapian fisik yang melakukan magang di rumah sakit ini, sehingga bisa dimanfaatkan untuk membantu tugas-tugas pelayanan terapi kepada pasien.
Jumlah tenaga keterapian fisik ini jika ditinjau dari kebutuhan BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli terutama dalam mendukung kesiapan rumah sakit di era JKN sudah sesuai dengan kebutuhan rumah sakit. Sebagaimana menurut Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014 Pasal 34 bahwa “Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) huruf d dan
Jumlah tenaga keterapian fisik ini jika ditinjau dari kebutuhan BLUD RSU Tgk Chik Ditiro Sigli terutama dalam mendukung kesiapan rumah sakit di era JKN sudah sesuai dengan kebutuhan rumah sakit. Sebagaimana menurut Permenkes RI Nomor 56 Tahun 2014 Pasal 34 bahwa “Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) huruf d dan