• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

4. Kedudukan Guru dalam Pendidikan

26

Undang-Undang Guru Pasal 2 ayat (1) berbunyi, “ Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan perundang-undangan.”lebih lanjut dalam Pasal 4, Menjelaskan mengenai fungsi kedudukan guru yang berbunyi “ kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1 berfungsi meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran dan berfungsi meningkatkan mutu pendidikan nasional.” Penjelasan Pasal 4 dalam Undang –Undang ini menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent ) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator,pemacu, perekayasa pembelajaran dan pemberi inspiransi belajar bagi peserta didik.

Pembelajaran yang berkualiatas adalah pembelajaran yang mampu meletakan posisi guru dengan tepat sehingga guru dapat memainkan perannya sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

Sebagai fasilitator, guru tidaklah mengajar, tetapi melayani peserta didik untuk belajar.sebagai motivator,guru mendorong peserta didik untuk belajar. Sebagai pemacu, guru menyentuh faktor-faktor belajar agar kompetensi peserta didik meningkat. Sebagai perekayasa guru memanfaatkan segala media dan sumber belajar agar peserta didik mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Sebagai pemberi inspiransi, guru mengubah pandangan dan kehidupan peserta didik menjadi lebih baik.27

a. Guru sebagai fasilitator

Dewasa ini teori belajar konstruktivisme telah populer dalam dunia pendidikan.konstruktivisme telah menetapkan teori-teori sebelumnya dan memberikan pemecahan terhadap konsep belajar. Teori ini telah mengubah paradigma belajar yang tadinya berpusat pada guru (teacher centred learning) kemudian beralih kearah

27

Barnawi & Mohammad Arifin, Etika & profesi kependidikan (jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2012) hal 69-70

paradigma belajar yang berpusat pada peserta didik (student centred learning ). Pembelajaran memang harus berpusat pada peserta didik karena peserta didik tidak akan belajar apabila dalam kondisi pasif. Peserta didik akan belajar apabila ia diberi kesempatan aktif berbuat dalam proses pembelajaran.

b. Guru sebagai motivator

Motivasi dapat diartikan daya pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah tujuan tertentu. Motivasi mengandung tiga komponen, yaitu menggerakkan, mengarahkan, dan memompang tingkah laku manusia.

1. Menggerakkan berarti menimbulkan kekuatan pada individu, memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.misalnya kekuatan dalam hal ingatan,respon-respon efektif dan cenderung mendapat kesenangan. 2. Motivasi juga mengarahkan atau menyalurkan tingkah

laku dengan demikian, ia menyediakan suatu orientasi tujuan, tingkah laku individu diarahkan terhadap sesuatu. 3. Untuk menjaga dan menompang tingkah laku, lingkungan

sekitar harus menguatkan intensitas arah dorongan-dorongan,dan kekuatan individu.

c. Guru sebagai pemacu belajar

Belajar adalah kewajiban peserta didik.akan tetapi, tidak semua peserta didik mempunyai kesadaran yang sama untuk belajar. Terkadang ada yang bersikap santai dalam belajar dan ada pila yang belajar apabila memang ada tugas dari guru saja sehingga hasil belajarnya berada di bawah kemampuan yang sebenarnya ia miliki. Kondisi seperti ini tidak boleh di biarkan, peserta didik harus dipacu semangat belajarnya agar potensi yang dimiliki dapat tergali secara optimal.

Untuk memacu belajar, guru harus memahami faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua

golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.

Faktor intern terbagi menajdi 3 kelompok, yaitu faktor jasmaniah, faktor psikologis, faktor kelelahan.berikut uraiannya.

1. Faktor jasmaniah

Faktor jasmaniah mencakup kesehatan dan kondisi peserta didik yang cacat. Kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam belajar. Tidak mungkin peserta didik dapat belajar dengan baik apabila badannya tidak fit.

2. Faktor psikologis

Sekuarng kuarngnya ada tujuh faktor yang tergolong dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Pertama intelektual adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi, dan mempelajari denngan cepat. Kedua, perhatian .perhatian merupakan aktivitas mental pada suatu objek. Belajar akan berhasil apabila peserta didik memilki perhatian terhadap materi pembelajaran. ketiga, minat. Minat berbeda dengan perhatian. Perhatian bersifat sementara dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang, sedangkan minat cenderung permanen dan pasti diikuti perasaan senang.

Keempat, bakat. Bakat atau aptitude. Bakat adalah

kemampuan untuk belajar. Kelima, motif ialah segala sesuatu yang mendorong manusia untuk berfikir,merasa,dan bertindak sesuatu.

Keenam,kematangan. Seperti yang telah disinggung

sebelumnya bahwa kematangan berkaitan erat dengan umur. Implikasi terhadap pembelajaran ialah peserta didik

tidak boleh diberikan materi yang melampau batas kemampuannya, baik kemampuan secara fisik, psikis, maupun kongnitifnya. Ketujuh, kesiapan. Kesiapan merupakan kesediaan memberi respon atau bereaksi.kesiapan peserta didik erat kaitannya dengan kematangan.

3. Faktor kelelahan

Kelelahan pada seseorang dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan ruhani. Kelelahan jasmani dapat diketahui apabila kondisi tubuh seseorang lemah dan tidak berdaya. Kelelahan ruhani ditandai dengan menurunnya semangat hidup. Kelelahan ruhani dapat terjadi karena menghadapi masalah yang sangat berat, kebosanan pada rutinitas, keterpaksaan, dan kehilangan makna hidup.28

Selain faktor intern, faktor ekstern juga sangat mempengaruhi peserta didik untuk belajar. Faktor ekstern terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.

1) Faktor keluarga

Faktor ekstern yang paling dekat dengan peserta didik ialah faktor keluarga. Peserta didik yang belajar akan memperoleh pengaruh dari keluarga yang berupa cara orang tua dalam mendidik, suasana rumah dan latar belakang budaya.

2) Faktor sekolah

Faktor sekolah adalah faktor luar yang memrngaruhi belajar peserta didik yang mencangkup guru, proses pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum, hubungan antarwarga sekolah, dan tanggung jawab warga sekolah.

3) Faktor masyarakat

28

Faktor masyarakat adalah faktor ekstern yang ikut memengaruhi belajar peserta didik. Faktor masyarakat meliputi pergaulan peserta didik, aktivitas dalam masyarakat, media massa, dan kehidupan masyarakat sekitar.29

d. Guru sebagai prekayasa pembelajaran

Rekayasa pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk menerapakan kaidah-kaidah ilmu pembelajaran untuk mendorong peserta didik agar belajar. Penerapan mencakup tahapan perencanaan dan pelaksanaan pebelajaran. Jadi kompetensi yang harus dimilki seorang guru sebagai perekayasa ialah mampu menyusun desain pembelajaran dan mengaplikasikan dalam proses pembelajaran. desain pembelajaran disusun dengan memanfaatkan berbagai macam sumber dan media agar peserta didik mencapai kompetensi yang telah ditentukan.

e. Guru sebagai pemberi inspiransi

Insfiratif adalah upaya memberikan stimulus bagi peserta didik agar termotivasi dan menimbulkan kemauan yang baru. Guru yang mampu memengaruhi dan mengubah jalan hidup para peserta didiknya untuk menjadi lebih baik disebut sebagai guru insfiratif . Guru inspiratif ialah guru yang mampu memberikan stimulus kepada peserta didik untuk mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik.

Guru yang sedikit mengajar tetapi mampu menginspirasi peserta didiknya itu lebih baik dibandingkan dengan guru yang banyak berceramah tetapi tidak memberi makna apa-apa. William A Ward pernah mengatakan. “ the mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.” Artinya “ Guru yang biasa-biasa saja, memberi tahu. Guru yang baik, menjelaskan. Guru yang sangat baik, mendemonstrasikan. Guru yang luar biasa, ialah guru yang

29

memberi inspirasi.” Guru inspiratiflah guru yang terbaik.30

Guru sebagai social worker (pekerja sosial).sangat dibutuhkan oleh masyarakat.namun,kebutuhan masyarakat akan guru belum seimbang dengan sikap sosial masyarakat terhadap profesi guru.rendahnya pengakuan masyarakat terhadap guru menurut Nana Sudjana, disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :31

1. Adanya pandangan sebagai masyarakat bahwa siapa pun dapat menjadi guru, asalkan ia berpengetahuan,walaupun tidak mengerti didaktif metodik.

2. Kekurangan tenaga guru didaerah terpencil memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai kewenangan profesiona untuk menjadi guru.

3. Banyak tenaga guru sendiri yang belum menghargai profesinya sendiri, apalagi mengembangkan profesi tersebut.

Salah satu hal yang menarik pada ajaran Islam ialah penghargaan yang tinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan itu sehingga menetapkan kedudukan guru setingkat dibawah kedudukan Nabi dan Rosul. Karena guru adalah bapak ruhani (spiritual father) bagi anak didik yang memberi santapan jiwa dengan ilmu pengetahuan.

Guru adalah sumber ilmu. Mereka dengan ikhlas mengajar dan mendidik. Mereka adalah pahlawan tanpa jasa. Tanpa mereka, engkau tidak akan menjadi apa- apa. Jasa mereka sungguh tiada tara. 32 Menurut Al-Ghazali menukil beberapa hadist Nabi tentang keutamaan seorang guru. Ia berkesimpulan bahwa guru disebut sebagai orang yang besar aktivitasnya dan lebih baik . Guru merupakan pelita segala zaman. Orang yang hidup bersamanya akan memperoleh pancaran nur keilmiahan. Andaikata dunia tidak ada guru, niscaya manusia seperti binatang, sebab guru berupaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan kepada sifat insaniyah.

30

Ibid. hal 96-97 31

Op.cit . Muhamad, Nurdin , hal 192 32

Akbar, Zainudin, Ketika Sukses Berawal dari Pesantren ( Bekasi : MJWBook , 2014) h.35

Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan hewan. Hewan juga “belajar”,

tetapi lebih ditentukan oleh instink. Sedangkan bagi manusia, belajar

berarti rangkaian kegiatan menuju “pendewasaan” guna menuju kehidupan

yang lebih berarti. 33

Kedudukan guru dalam Islam dihargai tinggi bila orang itu mengamalkan ilmunya. Mengamalkan ilmu dengan cara mengajarkan ilmu kepada orang lain adalah suatu pengalaman yang paling dihargai dalam Islam.kedudukan guru dalam Islam memang berbeda dengan kedudukan guru di dunia barat.hubungan guru dengan anak didik juga berbeda.hubungannya hanya sebatas pemberi dan menerima saja.

proses pendidikan yang berjalan selama ini. pada umumnya pendidikan sekarang orang menganggap bahwa anak dalam konsep diri masih tergantung, sedang orang dewasa itu sudah memiliki otonomi. Asumsi semacam ini membawa akibat bahwa pendidikan menjadi lebih berpusat pada guru. Dan keadaan semacam ini belajar menjadi pasif. Anak hanya menjadi peniru, penghafal, dan tukang pengingat yang tidak menyentuh lubuk hatinya. pendidikan semacam ini sebagai pendidikan yang menekan martabat manusia, pendidikan yang memperkuat sistem penindasan.

Paulo Freire seorang tokoh pendidikan dari Brazil dalam bukunya yang termashur Peadagogy of the Opressed antara lain berpendapat bahwa hendaknya guru hanyalah membantu dalam anak menempuh proses belajar menemukan dirinya. Freire dengan keras mengkritik proses pendidikan yang berjalan selama ini. Menurutnya pada umumnya pendidikan sekarang orang menganggap bahwa anak dalam konsep diri mash tergantung, sedang orang dewasa itu sudah memiliki otonomi. Asumsi semacam ini membawa akibat bahwa pendidikan menjadi lebih berpusat pada guru. Dan keadaan semacam ini belajar menjadi pasif. Anak hanya menjadi peniru, penghafal, dan tukang pengingat yang tidak

33

Muslih,Usa, Pendidikan Islam Di Indonesia Antara Cita Dan Fakta ( Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya) h.27

menyentuh lubuk hatinya. Freire menganggap pendidikan semacam ini sebagai pendidikan yang menekan martabat manusia, pendidikan yang memperkuat sistem penindasan.

Digambarkan lebih jauh olehnya, bahwa pendidikan yang sekarang ini pada umumnya bersifat :

a) Guru mengajar murid belajar.

b) Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak mengetahui apa-apa. c) Guru berfikir, murid yang dipikirkan.

d) Guru berbicara, murid mendengarkan dengan tenang. e) Guru mengatur , murid diatur.

f) Guru memilih dan memaksakan pilihan, murid hanya menyetujui g) Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan

gurunya.

h) Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid menyesuaikan diri dengan pelajaran .

i) Gurumencampuradukan kewenangan ilmu dan jabatan untuk menghalangi kebebasan murid.

j) Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah hanya obyek.34 Dalam pengajaran atau proses belajar mengajar, guru memegang peranan sebagai sutradara sekaligus aktor artinya pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah.

Guru adalah sebagai pembimbing untuk membawa anak kearah kedewasaan, pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak menurut sekehendaknya.

Disamping guru harus bisa ditiru, menjadi teladan bagi anak didiknya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Ahzab ayat 21 :

Artinya :

"Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah SAW itu suri

34

Muslih,Usa, Pendidikan Islam Di Indonesia Antara Cita Dan Fakta ( Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya) h.33

tauladan yang baik . ...(Q.S. Al Ahzab : 21) 35

Banyak ragam pendapat tentang posisi dan status guru dalam pendidikan. Bagi penulis sendiri, dari mana pun kita melihat, guru itu memang ada (eksis), dan sekali lagi apakah ia sentral atau tidak dalam pendidikan, yang jelas guru merupakan salah satu faktor pendidikan. Tentu saja kita tetap berangkat dan asumsi bahwa pendidikan merupakan suatu sistem yang apabila kehilangan salah satu unsurnya ia akan pincang dalam mekanisme proses sistemik tersebut.

B. Kemandirian

1. Pengertian Kemandirian

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kebiasaan anak, karakter dan sifat-sifatnya bisa dibentuk oleh orang tuanya sendiri. Berbagai kebiasaan anak, karakter, sifat dan sebagainya tidak mutlak merupakan turunan dan orang tua. Meski pun ada pada sebagian anak lain.

Didikan orang tua kepada anak sejak kecil amat berpengaruh besar sekali. Seorang filsuf yang bernarna John Locke pemah mengemukakan teorinya yang disebut tabularasa. Yaitu sebuah teori yang mengatakan bahwa segala pengalaman manusia itu sendiri setelah dewasa.36 Anak merupakan kain putih bersih, yang akan diisi pengalaman pertama kali oleh orang tuanya sendiri. Dan berbagai pengalaman yang masuk pada anak itu senantiasa teringat. Seolah-oleh pengalaman masa kecil itu benar-benar terendap di dalam ingatannya. Sebagai catatan yang sulit luntur dan kelak setelah anak dewasa akan terekspresikan berbagai pengalaman masa kecilnya itu.

Menumbuhkan kemandirian pada individu sejak usia dini sangat penting karena dengan memilki kemanandirian sejak dini, anak akan terbiasa mengerjakan kebutuhan sendiri. Menurut Yusuf : secara naluriah, anak mempunyai dorongan untuk berkembang dari posisi dependent (ketergantungan ) keposisi independent (bersikat mandiri ). Anak yang

35

Departemen Agama RI Al – Hikmah Al-Qur’an dan Terjamah ( Bandung : Diponegoro, 2010 ) h. 420

36

mandiri akan bertindak dengan penuh rasa percaya diri dan tidak selalu mengandalkan bantuan orang dewasa dalam bertindak.

Kemandirian di artikan sebagai suatu sikap yang ditandai dengan adanya kepercayaan diri dan terlepas dari ketergantungan, selanjutnya Benson dan Grove menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kemandirian adalah kemampuan individu untuk memutuskan sendiri dan tidak terus menerus berada dibawah kontrol orang lain.37

Kemandirian merupakan suatu sikap, dan sikap merupakan suatu yang dipelajari, sikap yang dalam bahasa Inggris disebut Attitude“Sebagai sikap dan kesedian bereaksi terhadap suatu hal”.kepribadian yang dipakai untuk menandakan penampilan seseorang yang sikap dan perbuatannya penuh dengan kemandirian.38

Artinya bahwa kita tidak dilahirkan dengan dilengkapi sikap-sikap, tetapi sikap-sikap itu tumbuh bersama-sama dengan pengalaman yang kita peroleh. Jadi dapat disimpulkan bahwa kemandirian itu tidaklah terjadi dengan begitu saja, namun sikap ini tertanam pada seorang anak secara bertahap seirama dengan perkembangan dan lingkungannya.

Dari beberapa definisi diatas, dapat penulis tarik kesimpulan bahwa anak yang kemandirian adalah anak yang mampu melakukan aktivitasnya sendiri tanpa banyak bergantung kepada orang lain.

Dokumen terkait