BAB III PENJAMINAN KREDIT DALAM UKM
B. Kedudukan Lembaga Penjamin Kredit Daerah dalam
Masalah penjaminan pinjaman sesungguhnya merupakan bentuk kegiatan yang termasuk dalam lingkup hukum privat atau perdata. Artinya kegiatan penjaminan ini akan mengikuti prinsip-prinsip yang diatur menurut hukum privat atau perdata yang berlaku. Idealnya mengikuti lingkup hukumnya, maka kegiatan penjaminan pinjaman tersebut dilakukan oleh subjek hukum privat dengan subjek hukum privat lainnya.46
Namun demikian dengan perkembangan ruang lingkup kerja dari Badan Hukum Publik, diantaranya Pemerintah Daerah, maka kerap kali Pemerintah Daerah juga bertindak atau melakukan perbuatan-perbuatan yang termasuk dalam lingkup kegiatan hukum privat atau perdata. Terhadap hal yang demikian ini, sebagian ahli hukum berpandangan bahwa posisi Pemerintah Daerah pada kegiatan tersebut tidak bertindak sebagai penguasa, tetapi bertindak seperti halnya subjek hukum privat lainnya. Namun demikian, apakah dengan posisi yang
46
Kuncoro, Mudrajat dan Abimanyu, Anggito (1995) “Struktur dan Kinerja Industri Indonesia dalam Era Deregulasi dan Globalisasi”, Kelola, No. 10/IV.
demikian tersebut, serta merta mengakibatkan hukum privat atau perdata akan mengatur secara penuh tindakan atau perbuatan keperdataan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah tersebut?
Terhadap pertanyaan tersebut di atas, jawabnya tentu tidak sepenuhnya tindakan atau perbuatan Pemerintah Daerah tersebut dapat diatur atau tunduk pada hukum privat atau perdata, karakteristik dari Badan Hukum Publik tersebut mensyaratkan bahwa apabila tindakan atau perbuatan keperdataan yang dilakukan oleh Badan Hukum Publik tersebut belum diatur oleh hukum publik, Pemerintah Daerah dapat tunduk pada hukum privat atau perdata, tetapi apabila telah ada hukum publik yang mengaturnya terutama berkaitan dengan syarat dan prosedur, maka dalam tindakan atau perbuatan keperdataan tersebut, Pemerintah Daerah wajib tunduk pada aturan hukum publik tersebut.
Mengikuti bentuknya sebagai bentuk tindakan atau perbuatan keperdataan, maka kegiatan penjaminan sesungguhnya lahir berdasarkan adanya perjanjian terlebih dahulu. Pasal 1320 KUHPerdata menyatakan bahwa syarat sahnya perjanjian yaitu “sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu hal tertentu, dan suatu sebab yang halal”. Apabila syarat-syarat tersebut diatas terpenuhi dalam suatu perjanjian maka perjanjian tersebut akan berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya (Pasal 1338 KUHPerdata). Pengaturan tentang syarat sahnya perjanjian maka perjanjian yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah tersebut tentu juga harus mengikuti ketentuan yang disyaratkan oleh Pasal 1320 KUHPerdata tersebut. Kalaupun ada penambahan syarat dan prosedur tertentu (didasarkan atas
karakteristik dari Pemerintah Daerah sebagai bahan hukum publik) hal tersebut tetap dimungkinkan untuk dilakukan.47
47
Kuncoro, Mudrajat “Otonomi Daerah dalam Transisi”, pada Seminar Nasional Manajemen Keuangan Daerah dalam Era Global, (12 April, Yogyakarta. 1997)
Namun demikian, bagaimana halnya dengan perjanjian penjaminan pinjaman pihak ketiga (dalam hal ini UKM) yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah? Apakah secara hukum dimungkinkan dilakukan? Apakah apabila Pemerintah Daerah, pemberi pinjaman (kredit) dan UKM sepakat untuk mengadakan perjanjian tersebut, maka perjanjian tersebut dimungkinkan untuk berlaku secara sah sebagai undang-undang bagi para pihak tersebut? Secara keperdataan jawabnya dimungkinkan untuk dilakukan. Namun demikian dikarenakan adanya pengaturan (hukum publik) yang memberikan larangan terhadap perbuatan atau tindakan penjaminan pinjaman pada Pemerintah Daerah tersebut, yaitu ketentuan Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah, yang menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah dilarang memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain”, maka konsekuensi hukumnya Pemerintah Daerah tidak dimungkinkan untuk melakukan perjanjian penjaminan pinjaman pihak ketiga. Termasuk dalam hal ini apabila Pemerintah Daerah mendirikan suatu Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (LPKD) yang secara struktural dan permodalan berada di bawah Pemerintah Daerah, maka pendirian dan aktivitas lembaga tersebut secara hukum telah bertentangan dengan ketentuan yang secara tegas diatur menurut Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005.
Mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2007 tersebut diketahui bahwa tindakan yang dilakukan yaitu meliputi:
a. Menata kembali sistem penjaminan kredit bagi UKM;
b. Memperkuat modal dan perluasan jangkauan pelayanan Perum Sarana Pengembangan Usaha (SPU) dan PT. Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo).
Kedua tindakan di atas, berdasarkan instruksi tersebut dibebankan menjadi tanggung jawab dari Menteri Keuangan untuk tindakan pertama, dan Menteri Keuangan, Menteri Negara BUMN, dan berkoordinasi dengan Gubernur Bank Indonesia untuk tindak kedua. Atas dasar tersebut, maka secara tegas dapat dinyatakan bahwa kehendak untuk peningkatan peran Lembaga Penjaminan Kredit bagi UKM tersebut disadari oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono merupakan tanggung jawab dari Pemerintah Pusat untuk melakukannya. Dalam posisi yang demikian ini penulis menilai bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyadari bahwa Pemerintah Daerah tidak dimungkinkan untuk melakukan penjaminan kredit bagi UKM, karena memang secara hukum berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005, Pemerintah Daerah dilarang memberikan jaminan tersebut. Oleh karenanya beban tanggung jawab untuk melakukan peningkatan peran Lembaga Penjaminan Kredit bagi UKM tersebut tidak dibebankan kepada Pemerintah Daerah (Gubernur, Bupati, atau Walikota) tetapi dibebankan pada Menteri Keuangan, Menteri Negara BUMN, dan berkoordinasi dengan Gubernur Bank Indonesia. Atas dasar tersebut di atas, maka secara hukum diketahui bahwa Instruksi
Presiden Nomor 6 Tahun 2007 menurut pandangan penulis tidak bertentangan dengan apa yang telah diatur secara tegas dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005. Pendirian beberapa Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (LPKD) oleh beberapa Pemerintah Daerah yang disertai dengan penyertaan modal pada lembaga tersebut, menurut pandangan penulis telah jelas-jelas bertentangan dengan apa yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005.
Oleh karenanya upaya hukum pembatalan terhadap lembaga tersebut dimungkinkan untuk dilakukan sebagai upaya penegakan hukum terhadap tindakan atau perbuatan Pemerintah Daerah yang keliru. Lebih jauh apabila mengacu pada ketentuan Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, diketahui bahwa keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Oleh karenanya tindakan penjaminan pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (yang dalam hal ini termasuk dalam lingkup kegiatan pengelolaan keuangan daerah) harus berlandaskan pada ketentuan Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tersebut. Sehingga sepanjang larangan bagi Pemerintah Daerah untuk memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain tersebut belum dicabut, maka upaya pelanggaran terhadap ketentuan larangan tersebut merupakan bentuk tidak taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karenanya tepat kirannya apabila Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2007
tersebut tidak membebankan adanya peningkatan peran Lembaga Penjaminan Kredit bagi UKM tersebut kepada Pemerintah Daerah.
Apabila Pemerintah Daerah secara hukum tidak dimungkinkan untuk mendirikan atau terlibat dalam penyertaan modal dalam pendirian Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (LPKD), pertanyaan yang muncul adalah bagaimana peluang pembentukan lembaga tersebut.
Pemerintah Daerah dalam hal ini, tidak dalam posisi untuk ikut serta sebagai Lembaga Penjaminan Kredit Daerah, tetapi sebagai tindakan yang dapat dilakukan lainnya yaitu misalnya dengan membantu mempermudah dan mempercepat upaya peningkatan sertifikasi tanah untuk memperkuat penjaminan kredit bagi UKM. Hal yang demikian ini dimungkinkan untuk dilakukan oleh Pemerintah Daerah sebagai upaya membantu tanggung jawab yang dibebankan oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM, Menteri Dalam Negeri, dan Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Dalam KUHPerdata pada BAB XVII bagian kedua, dimana tanggung jawab (borg) pada dasarnya bersifat Isubsidair, yang pokok adalah kewajiban debitur utama terhadap kreditur. Hal ini sesuai Pasal 1931 KUHPerdata yang menyatakan si penanggung tidaklah diwajibkan membayar kepada si berpiutang, selain jika si berutang lalai. Sedangkan benda-benda si berutang ini harus dahulu disita dan dijual untuk melunasi hutangnya.
Pada prinsipnya dalam Pasal 1931 KUHPerdata, si pembuat Undang- Undang ada memberikan hak utama kepada Borg, yaitu pada saat ia digugat di Pengadilan dapat memenuhi kewajiban debitur utama yang telah wanprestasi. Bila
hal ini terjadi maka dapat ditangkis dengan mengemukakan bantahan agar harta kekayaan debitur utama diekesekusi dahulu untuk diambil pelunasan, tangkisan ini disebut juga tangkisan dilatoir.
Masalah penjaminan pinjaman sesungguhnya merupakan bentuk kegiatan yang termasuk dalam lingkup hukum privat atau perdata. Artinya kegiatan penjaminan ini akan mengikuti prinsip-prinsip yang diatur menurut hukum privat atau perdata yang berlaku. Idealnya mengikuti lingkup hukumnya, maka kegiatan penjaminan pinjaman tersebut dilakukan oleh subjek hukum privat dengan subjek hukum privat lainnya. Namun demikian dengan perkembangan ruang lingkup kerja dari Badan Hukum Publik, diantaranya Pemerintah Daerah, maka kerap kali Pemerintah Daerah juga bertindak atau melakukan perbuatan-perbuatan yang termasuk dalam lingkup kegiatan hukum privat atau perdata. Terhadap hal yang demikian ini, sebagian ahli hukum berpandangan bahwa posisi Pemerintah Daerah pada kegiatan tersebut tidak bertindak sebagai Penguasa, tetapi bertindak seperti halnya subjek hukum privat lainnya.
Bentuknya sebagai bentuk tindakan atau perbuatan keperdataan, maka kegiatan penjaminan sesungguhnya lahir berdasarkan adanya perjanjian terlebih dahulu. Pasal 1320 KUHPerdata menyatakan bahwa syarat sahnya perjanjian yaitu “sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu hal tertentu, dan suatu sebab yang halal”. Apabila syarat- syarat tersebut diatas terpenuhi dalam suatu perjanjian maka perjanjian tersebut akan berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya (Pasal 1338 KUHPerdata).
Namun demikian dikarenakan adanya pengaturan (hukum publik) yang memberikan larangan terhadap perbuatan atau tindakan penjaminan pinjaman pada Pemerintah Daerah tersebut, yaitu ketentuan Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah, yang menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah dilarang memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain”, maka konsekuensi hukumnya Pemerintah Daerah tidak dimungkinkan untuk melakukan perjanjian penjaminan pinjaman pihak ketiga. Termasuk dalam hal ini apabila Pemerintah Daerah mendirikan suatu Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (LPKD) yang secara struktural dan permodalan berada di bawah Pemerintah Daerah, maka pendirian dan aktivitas lembaga tersebut secara hukum telah bertentangan dengan ketentuan yang secara tegas diatur menurut Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005..
Pemerintah Daerah dalam hal ini, tidak dalam posisi untuk ikut serta sebagai Lembaga Penjaminan Kredit Daerah, tetapi sebagai tindakan yang dapat dilakukan lainnya yaitu misalnya dengan membantu mempermudah dan mempercepat upaya peningkatan sertifikasi tanah untuk memperkuat penjaminan kredit bagi UKM. Hal yang demikian ini dimungkinkan untuk dilakukan oleh Pemerintah Daerah sebagai upaya membantu tanggung jawab yang dibebankan oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM, Menteri Dalam Negeri, dan Kepala Badan Pertanahan Nasional.
C. Tanggung Jawab Lembaga Penjamin Kredit Daerah dalam Pemberian