BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Teori Rekrutmen
4. Kegiatan atau Proses Rekrutmen
Kegiatan atau proses rekrutmen menurut Syuhadak dalam Harbani Pasolong (2002) bukan hanya meliputi pada saat Pengadaan Pegawai, tetapi bahkan sebelum itu sudah ada perencanaan kebutuhan pegawai, analisis jabatan, formasi barulah sampai kepada pengadaan pegawai.
Proses panjang yang dilalui oleh pemerintah ini bertujuan agar Pemerintah mampu berjalan sesuai dengan kerangka cita-cita reformasi yang telah dilalui oleh Negara. Adapun penjelasan lebih lanjut yang dimaksud oleh Syuhadak dijelaskan sebagai berikut:
a. Perencanaan kebutuhan pegawai
Syuhadak dalam Harbani Pasolong (2002) mengatakan bahwa perencanaan kebutuhan pegawai adalah suatu proses yang sistematis dan kontinu untuk menganalisis kebutuhan sumber daya manusia bagi suatu organisasi, dalam kondisi dan kebijakan personalia yang berkembang untuk efektivitas organisasi jangka panjang. Perencanaan Kebutuhan Pegawai bisa dilakukan apabila sebelumnya telah melakukan analisis beban kerja, menghitung persediaan Pegawai
Negeri Sipil. Kemampuan keuangan daerah dan faktor lainnya.
Pendapat syuhadak tersebut bisa dilihat pada PERKA BKN No. 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Penyusunan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil. Berdasarkan Laporan Kinerja Instansi Pemerintahan Tahun 2019, Badan Kepegawaian Daerah Sulsel memberikan usulan ke Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membutuhkan sebanyak 543 formasi dengan rincian; CPNS sebanyak 241 formasi dan PPPK sebanyak 302 formasi.
Berikut akan diberikan contoh mengenai penggunaan perhitungan kebutuhan pegawai dengan menggunakan 4 model pendekatan, yaitu:
1) Pendekatan Hasil Kerja
a) Metode penghitungan formasi dengan mengidentifikasi beban kerja dari hasil kerja jabatan.
b) Metode ini dipergunakan untuk jabatan yang hasil kerjanya fisik atau bersifat kebendaan, atau non fisik tetapi dapat dikuantifisir.
c) Metode ini efektif dan mudah digunakan untuk jabatan yang hasil kerjanya hanya satu jenis.
Contoh:
Jabatan = Pengentri Data Hasil = Data Entrian
Beban = 200 data entrain Standar = 30 data per hari
Rumus : Beban Kerja x 1 Orang = 200 x 1 : 30 = 6,67 = 7 orang Standar kemampuan
2) Pendekatan Objek Kerja
Metode ini dipergunakan untuk jabatan yang beban kerjanya bergantung dari jumlah objek yang harus dilayani dalam pelaksanaan pekerjaannya.
Contoh =
Jabatan = Dokter Objek Kerja = Pasien Beban Kerja = 80 Pasien
Standar Kemampuan = 25 Pasien perhari
Rumus : Jumlah Objek Kerja (Beban Kerja) x 1 orang = hasil Standar Kemampuan
: 80 x 1 : 25
: 3,2 atau 3 Dokter 3) Pendekatan Peralatan Kerja
Pendekatan ini untuk Jabatan yang beban kerjanya tergantung pada peralatan kerjanya atau peralatan yang digunakan dalam bekerja.
Contoh =
Jumlah dan Satuan alat kerja = 20 bis
Jabatan yang diperlukan mengoperasikan alat kerja = 1 Supir & 1 Kernet/Bis dan 1 Montir untuk 5 bis
Rumus = Jumlah peralatan kerja (Beban Kerja) x 1 orang Rasio penggunaan alat kerja
= 20 bis x 1 supir + 20 bis x 1 Kernet + 20 bis ; 1 Montir
= 1 bis 1 bis 1 bis
= 20 Supir + 20 Kernet + 4 Montir 4) Pendekatan tugas pertugas
a) Hasil kerjaAbstrak atau beragam (banyak jenisnya) b) Uraian jabatan tersusun rapi
c) Info yang diperlukan dalam perhitungan:
1. Uraian tugas beserta jumlah beban untuk setiap tugas 2. Waktu Penyelesaian
3. Jumlah Waktu Kerja efektif per hari rata-rata Rumus = Beban Kerja x Waktu penyelesaian x 1 orang
Waktu kerja efektif
Keterangan: Informasi yang di perlukan dalam perhitungan melalui model pendekatan tugas pertugas dapat di lihat pada bagian Lampiran.
b. Analisis Jabatan
Pada dasarnya analisa jabatan merupakan manajemen Pegawai Negeri Sipil yang harus selalu dilakukan sebelum menyusun kebutuhan formasi Pegawai Negeri Sipil dan menata kelembagaan.
Berdasarkan Peraturan Menpan RB Nomor 1 Tahun 2020 menjelaskan bahwa analisis jabatan adalah proses pengumpulan, pencatatan, pengolahan, dan penyusunan data menjadi informasi jabatan yang dimana dalam Bab 2 Pasal 3 menjelaskan bahwa Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja di lingkungan pemerintah provinsi dilaksanakan oleh unit JPT Pratama yang secara fungsional membidangi Analisi Jabatan dan Analisis Beban Kerja. Analisis jabatan tersebut dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun sekali atau adanya pembentukan lembaga pemerintahan yang baru yang mengharuskan adanya tugas baru.
Analisa jabatan tersebut kemudian melalui 17 poin analisa jabatan yang diatur dalam PERKA BKN Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Analisis Jabatan dan Permenpan Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pedoman Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja.
Oleh karena itu sebelum melakukan penyusunan kebutuhan formasi CPSN maka akan dilaksanakan analisis jabatan-analisis beban
kerja agar setiap pelamar Pegawai Negeri Sipil dapat memilih satu lowongan formasi jabatan yang kosong yang sesuai berdasarkan kompentensi, kualifikasi dan kemampuan yang dimilkinya dalam informasi jabatan.. Berdasarkan Laporan Kinerja Instansi Pemerintahan Tahun 2019, diketahui bahwa Kinerja Badan Kepegawaian Provinsi Sulawesi selatan menetapkan standar target yang harus dicapai dalam menempatkan pegawai yang sesuai dengan kompetensinya hanya mencapai Angka 60%. Meskipun demikian target yang telah dicapai mencapai angka 99,79%.
c. Formasi
Formasi menurut Peraturan Pemerintah Nomor. 54 Tahun 2003 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil menjelaskan bahwa Formasi Pegawai Negeri Sipil adalah penentuan jumlah dan susunan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperlukan untuk menjalankan tugas pokok yang dtetapkan oleh pejabat yang berwenang.
Formasi Pegawai Negeri Sipil lebih lanjut di laksanakan dan ditetapkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi sesuai dengan apa yang di atur dalam PP Nomor 11 Tahun 2017 pasal 12 tentang penetapan kebutuhan. Pada Tahun 2021 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengusulkan kebutuhan CPNS dan PPPK yang berjumlah 1013 formasi, dengan rincian Tenaga Kesehatan CPNS 112 Formasi, tenaga Teknis CPNS 389 formasi.
Sementara untuk kebutuhan PPPK, Pemprov Sulsel mengusulkan guru agama sebanyak 91 formasi, tenaga kesehatan sebanyak 36 formasi dan tenaga teknis sebanyak 385 formasi. Diluar dari usulan tersebut Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga menyiapkan kuota tenaga guru honorer untuk PPPK sebanyak 9493 formasi.
d. Pengadaan pegawai
Pengadaan PNS telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor.
11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil Pasal 15.
Pengadaan PNS di Instansi Pemerintahan ini dilakukan berdasarkan pada penetapan kebutuhan PNS pada pasal 12 bahwa;
1) Kebutuhan PNS secara Nasional ditetapkan oeh Menteri pada setiap tahun, setelah memperhatikan pendapat menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan dan pertimbangan teknis Kepala BKN.
2) Pertimbangan teknis Kepala BKN sebagaimana dimaksud diatas disampaikan kepada Menteri paling lambat akhir bulan Juli tahun sebelumnya.
3) Berdasarkan pertimbangan teknis kepala BKN sebagaimana dimaksud pada pada nomor 2, Menteri menyusun rencana pemenuhan kebutuhan PNS berdasarkan prioritas pembangunan Nasional.
4) Rencana pemenuhan kebutuhan PNS sebagaimana dimaksud pada nomor 3 disampaikan oleh Menteri kepada menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan untuk dimintakan pendapat paling lambat akhir bulan April untuk rencana pemenuhan kebutuhan PNS tahun berikutnya.
5) Pendapat menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan sebagaimana dimaksud pada nomor 4 dsampaikan kepada Menteri paling lambat akhir Bulan Mei tahun berikutnya.
6) Penetapan kebutuhan PNS pada setiap Instansi Pemerintahan setiap tahun ditetapkan oleh Menteri paling lambat akhir bulan Mei tahun berjalan.
7) Penetapan kebutuhan Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada nomor 2 dilakukan berdasarkan usul dari:
a) PPK Instansi Pusar; dan
b) PPK Instansi Daerah yang dikoordinasikan oleh Gubernur.
Selanjutnya Badan Kepegawaian Negara memberikan petunjuk teknis tentang pengadaan PNS melalui Peraturan BKN No. 14 Tahun 2018 melalui 7 Tahapan yaitu:
1) Perencanaan.
2) Pengumuman lowongan.
3) Pelamaran.
4) Seleksi.
5) Pengumuman Hasil Seleksi.
6) Pengangkatan calon PNS dan masa percobaan calon PNS.
7) Pengangkatan menjadi PNS