• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 Kerangka Teori .1 Implementasi .1 Implementasi

2.2.8 Kegiatan/Layanan PAUD Holistik Integratif (HI)

Institusi anak usia dini umumnya hanya memberikan layanan kepada anak usia dini secara terbatas periode waktu. Sehingga pada tahun 2013 pemerintah telah diatur dalam Peraturan Presiden No. 60 tahap awal perkembangan masa kecil melalui pendekatan "Integratif Holistik", yaitu anak usia dini tidak hanya menekankan aspek pendidikan saja, tetapi mencakup aspek layanan gizi, memelihara kesehatan, pengasuhan anak, dan perlindungan anak. Dengan pendekatan ini, anak dapat memperoleh pendidikan layanan utuh, kontinuitas dan kualitas serta penggunaan sumber daya energi yang lebih efisien, dana, fasilitas dan infrastruktur yang dibutuhkan menurut Yuniarto & Khasanah (2014).

Selanjutnya Rohita, Fitria & Nurfadilah (2016) dalam penelitian menyatakan layanan PAUD Holistik Integratif berupa layanan pendidikan, layanan perawatan, kesehatan layanan, layanan perlindungan dan layanan kesejahteraan. Dengan kata lain, bahwa perkembangan seorang anak akan membutuhkan upaya yang lengkap (holistik) untuk menjadikan anak muda generasi dengan kualitas unggul dimungkinkan. Lebih lanjut dijelaskan dalam peraturan bahwa HI diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan

masyarakat untuk mengikuti ketentuan norma, standar, prosedur dan kriteria, yang meliputi pelaksanaan pengawasan, advokasi dan latihan.

Dari uraian penjelasan diatas secara khusus dapat diketahui bahwa kegiatan /layanan PAUD Holistik Integratif berupa layanan gizi, memelihara kesehatan, pengasuhan anak, dan perlindungan dan kesejahteraan anak.

Adapun kegiatan/layanan PAUD Holistik Integratif Berintegritas yang berjalan di Lembaga PAUD Kabupaten Kupang khususnya TK Marsudirini Fioretti mempunyai layanan holistik pada masing-masing program 3K yaitu Kebun kebutuhannya untuk memenuhi layanan gizi anak dari tanaman lokal yang dapat diolah menjadi makanan untuk para siswa PAUD, serta Kesejahteraan anak dan lembaga dengan hasil kebun dapat dijual untuk bahan mentah sebagai makanan tambahan dikantin dan kebutuhan biaya keberlanjutan PAUD HI, sedangkan Kantin kebutuhananya untuk layanan gizi, memelihara kesehatan dan kesejahteraan anak melalui penyajian makanan sehat dari bahan lokal yang ditanam, bahan-bahan yang dikelola dikantin juga tidak boleh berbahan pengawet, pewarna dan penyedap rasa,tempat yang disediakan juga terjamin kebersihannya, makanan an minuman yang dikelola di kantin PAUD juga bisa dijual ke orang tua atau masyarakat untuk penghasilan tambahan bagi PAUD HI, kemudian Koperasi kebutuhanya yang diberikan adalah perlindungan dan kesejahteraan PAUD Holistik Integratif jadi prinsip koperasi PAUD HI adalah dari, oleh dan untuk anggota, dimana seluruh anggota menikmati bersama-sama keuntungan serta manfaatnya bagi kesejahteraan bersama, koperasi PAUD HI adalah koperasi primer dan tidak berbadan hukum dengan tujuan utamanya adalah menjual dan

memberikan jasa yang dibutuhkan siswa, guru, pengelola orang tua maupun masyarakat sekitar.

2.2.9 Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) 2.2.9.1 Program 3K (Kebun)

Halaman Lembaga PAUD merupakan salah satu tempat belajar yang mendukung dan ideal untuk bisa dimanfaatkan dalam kegiatan proses belajar mengajar, khususnya mengenai lingkungan. Selama ini halaman Lembaga PAUD belum dikelola dengan serius, penataannya masih terbatas pada pemenuhan alat permainan, di sisi lain, masih adanya kekurangan pengetahuan guru PAUD dalam memanfaatkan lingkungan halaman PAUD sebagai ekoedukasi (hardskill dan softskill), khususnya yang berbasis pertanian menurut Widyastuti dkk (2016:55).

Kebun sekolah didefinisikan sebagai sebidang tanah yang terletak di sekitar sekolah yang pada umumnya dimanfaatkan sebagai taman. Keindahan, keasrian, media untuk berkomunikasi dan berinteraksi merupakan manfaat dari keberadaan Kebun sekolah. Melalui Kebun sekolah siswa didorong untuk menggunakan semua panca indera untuk mempelajari keadaan lingkungan sekitar, Child dalam Prastiwi dkk (2015) Kegiatan Pertanian berupa Kebun dimulai dengan menentukan letak Kebun, yang perlu diperhatikankan adalah lahan medapat sinar matahari sepanjang hari dan tidak ternaungi. Jika mungkin, pemilihan lahan harus yang tanahnya subur dan pengaliran airnya (drainase) baik. Jika tanahnya tidak subur, dapat diperbaiki dengan pemupukan atau penambahan bahan-bahan untuk memperbaiki sifat tanah (misalnya kompos, kapur, dan sebagainya) Kegiatan

Kebun sekolah ini melibatkan juga guru-guru pada masing-masing sekolah, tetapi peran mereka sebagai pendamping dan pemberi motivasi, Kuntariningsih (2018:29).

Kebun sekolah melambangkan pendukung kesuksesan intervensi nutrisi pada anak berbasis aktivitas, didorong oleh teori, diimplementasikan di lingkungan sekolah dan melibatkan orang tua dan masyarakat luas, salahsatu kegiatan paling awal belajar di taman sekolah, kebun sayur meningkatkan identifikasi sayuran dan buah, identifikasi pilihan camilan 'terbaik' dan peningkatan kemauan anak-anak dalam mencicipi sayuran dan buah-buahan Davis, J. N., Spaniol, M. R., & Somerset, S. (2015).

Dapat disimpulkan bahwa Kebun sekolah sangat berguna bagi lembaga PAUD karena merupakan salahsatu pemilihan sarana belajar yang tepat. Hal tersebut sesuai dengan salah satu peran Kebun sekolah yaitu membantu anak dalam mengenalkan dan memahami lingkungan sehingga akan membentuk siswa yang sadar terhadap lingkungan.

Adapun Kebun sekolah yang terkait dalam penelitian ini adalah Kebun di TK Marsudirini yang kegiatannya didalamnya menanam berbagai jenis sayuran yang bermanfaat untuk mengenalkan jenis sayur-mayur seperti sawi, pitsai, kangkung, mangga, wortel, bayam, marungga, kacang-kacangan berupa kacang hijau, kacang nasi, kacang tanah, umbi-umbian berupa singkong, ubi jalar, jagug, dan buah-buahan berupa pepaya, pisang, kelapa, nangka, mangga, jeruk, sirsak, alpukat pada anak, meningkatkan minat anak untuk mengkonsumsi sayuran, kacang, umbian serta buah-buahan untuk mengurangi pengeluaran membeli makanan

kurang bergizi serta mengajak anak sejak dini untuk merawat sayuran yang telah ditanam.

2.2.9.2 Program 3K (Kantin)

Makanan yang tidak sehat dan tidak aman bisa berasal dari bahan pangan yang tercemar, proses pengolahan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis, atau proses penyajian dan kemasan yang kurang baik. Kantin sekolah berperan penting dalam penyajian makanan yang sehat dan aman untuk siswa dan warga sekolah lainnya. Pengembangan Kantin sehat di sekolah perlu dilakukan karena menurut survey pada 640 SD dari 20 provinsi, sebanyak 40% sekolah belum memiliki Kantin. Sedangkan 60% dari sekolah yang diteliti, 84,3% Kantin belum memenuhi syarat sanitasi dan higienitas (Ditjen Bina Gizi dan KIA, 2011).

Keberadaan Kantin memegang peranan penting dalam pengembangan budaya makan sehat karena Kantin sebagai penyedia utama makanan di sekolah selain itu pembiasaan makan makanan yang sehat untuk usia anak sekolah dapat dimulai darisekolah (Patricia et.al., 2014) dalam RR. Nugraheni Suci Sayekti dkk (2014:50).

Menurut Hikmah, Syamsulhuda & Cahyo (2017) Kantin sekolah berfungsi untuk menyediakan makanan yang sehat yakni yang bergizi dan aman untuk dikonsumsi anak serta mendorong anak untuk memilih makanan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman, penggunaan bahan tambahan pangan pada makanan menentukan sehat dan amannya makanan yang dikonsumsi. Kantin sekolah berhubungan erat dengan penyediaan makanan

jajanan sehat untuk anak, untuk itu Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) berperan penting dalam memenuhi kecukupan energi dan zat gizi anak sekolah Wiraningrum dkk (2015). Senada dengan pendapat Sayekti, Istikomayanti &

Mitasari (2017) Kantin sekolah berfungsi sebagai pembentuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tolak ukurnya bisa dilihat dari derajat kesehatan di dalam kantin tersebut, Kantin pun berperan sebagai sentral dalam pembentukan karakter siswa, bagaimana mereka membelanjakan uang dan memilih apa yang akan mereka konsumsi bisa dimulai dari kantin sekolah

Dapat disimpulkan Kantin adalah penyedia utama makanan di sekolah selain itu pembiasaan makan makanan yang sehat untuk usia anak sekolah dapat dimulai dari PAUD serta kantin pun berperan sebagai sentral dalam pembentukan karakter siswa,.

Adapun Kantin yang terkait dalam penelitian ini adalah Kantin sekolah yang berada pada lembaga PAUD formal yaitu Taman Kanak-Kanak Marsudrini Fioretti di Kabupaten Kupang-NTT yang kegiatannya adalah sebagai sarana bagi anak PAUD untuk mendapat makanan tambahan atau jajanan di sekolah yang bersih, sehat dan bergizi. Lembaga PAUD menyediakan makanan hasil olahan dari kebun berupa jagung rebus, ubi rebus, sayur yang dibuat beragam, buah-buahan jadi jenis makanan yang diolah adalah bahan lokal dengan komposisi bergizi beragam dan berimbang (3B) tidak mengandung pengawet, pewarna dan penyedap rasa kimiawi dilarang keras disajikan didalam kantin.

2.2.9.3 Program 3K ( Koperasi)

Koperasi merupakan salah satu organisasi ekonomi yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi Indonesia memiliki dasar konstitusional yang kuat, sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yang berbunyi,

“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”Sukidjo, Muhson, & Mustofa (2016). Menurut Nurbudiyani (2013) Koperasi Sekolah adalah suatu koperasi yang dibentuk di lingkungkan sekolah, baik lembaga pendidikan formal maupun non formal, dimana anggotanya adalah para siswa di sekolah tersebut.

Menurut Arikunto (2009:50) terdapat beberapa jenis Koperasi yang ada dimasyarakat. Kegiatan Koperasi adalah mengusahakan sesuatu sesuai dengan jenis Koperasi yang bersangkutan agar dapat memuaskan pelanggan. Jika jenis progamnya Koperasi simpan- pinjam maka yang dimaksudkan dengan pelanggan adalah anggota yang menyimpan dan anggota yang meminjam uang. Wujud kepuasannya berbeda-beda, pihak yang menyimpan uangnya di Koperasi akan merasa puas jika pembukuan Koperasi beres dan terbuka.

Selain itu menurut Suyati (2016:89) koperasi yang berada di sekolah belum dapat diterbitkan badan hukum koperasi, dalam statistik perkoperasian dalam posisi seperti itu, tentu harapan yang yang diletakkan pada koperasi sekolah, tidak membawa siswa menjadi pengusaha atau pencari untung. Siswa adalah siswa, dengan misi pokok sebagai pelajar yang harus menuntut ilmu. Keberadaan koperasi sekolah. Sebagai wahana

pembelajaran, sehingga memiliki alternatif bagi kepentingan dimasa depan. Koperasi sekolah merupakan wadah kegiatan ekonomi siswa di sekolah.

Dapat disimpulkan bahwa Koperasi sekolah adalah satu organisasi ekonomi yang tidak berbadan hukum namun kegiatannya berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan, jenis progamnya Koperasi simpan- pinjam maka yang dimaksudkan dengan pelanggan adalah anggota yang menyimpan dan anggota yang meminjam uang.

Adapun Koperasi yang terkait dalam Penelitian ini adalah Koperasi Primer yang beranggotakan masyarakat TK Marsudirini kegiatannya adalah menjual dan memberikan jasa yang dibutuhkan siswa, guru, pengelola, orang tua maupun masyarakat untuk membantu pendanaan keperluan lembaga PAUD dan kebutuhan anggotanya. Koperasi primer ini tidak berbadan hukum dengan tujuan utamanya adalah menjual dan memberikan jasa yang dibutuhkan anak, guru, pengelola orang tua maupun masyarakat disekitar, modal utama kegiatan koperasi adalah iuran wajib dan sukarela anggota, sumbangan pihak ketiga, hasil penjualan kebun, kantin dan tabungan wajib anak-anak PAUD.

Dokumen terkait