• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kehamilan Sebelum Menikah (Married by Accident) terhadap Pernikahan Dini

memberikan informasi mengenai pernikahan dini. Hal ini menyebabkan kurangnya pengetahuan remaja mengenai pernikahan dini serta dampaknya bagi mereka.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Wahid (2007) bahwa kemudahan seseorang untuk memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Yang artinya kemudahan remaja untuk memperoleh informasi akan mempercepat remaja mendapatkan pengetahuan yang baru.

5.7 Kehamilan Sebelum Menikah (Married by Accident) terhadap Pernikahan Dini

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan informan mengenai pernah atau tidaknya informan melakukan hubungan seksual sebelum menikah sampai terjadinya kehamilan sebelum menikah, semua informan mengaku telah melakukan hubungan seksual terlebih dahulu sebelum menikah, baik berciuman, berpelukan sampai melakukan hubungan suami istri. Seperti yang dinyatakan oleh informan berikut :

“Hahaha ciuman lah paling, meluk lah juga. Namanya juga pacaran kan hahaha.

Nggak lah sampai hamil duluan, masih mikirkan orangtua juga kan, maulah mati di tempat sempat anaknya kek gitu.”

Dari ke 7 informan, 2 informan mengaku telah hamil terlebih dahulu sebelum menikah :

“Aduh kak, kayak mana yaa ceritainnya…. Aku dulu sering kali pergi -pergi gitu sama cowokku kak, awalnya yaa biasa lah, ciuman, trus bablas lah kak, makanya pun ini karna hamilnya nikah aku, sebetulnya kan kak nggaknya mau nikah aku, tapi maulah di usir betulan aku sama bapakku kalau nggak kawin awak sama cowok awak itu. Makanya berhenti aku sekolah pas kelas 2 itu lah.”

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa terkadang pernikahan diusia muda terjadi sebagai solusi untuk kehamilan yang terjadi diluar nikah. Menurut Sarwono (2003) pernikahan diusia muda banyak terjadi pada masa pubertas, hal ini terjadi karena remaja sangat rentan terhadap prilaku seksual yang membuat mereka melakukan aktiivitas seksual sebelum menikah. Hal ini juga terjadi karena adanya kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja, dengan mudah bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari dan juga karena adanya faktor dari media massa yang sering mempertontonkan porno aksi maupun pornografi.

Hasil penelitian Syamsulhuda (2010) Pornografi dapat mempengaruhi remaja untuk melakukan satu bentuk perilaku, baik secara sadar maupun tidak disadari telah mengubah persepsi bahkan perilaku hidup remaja sehari-hari terutama dalam hal seksualitas.

Hal yang sama sesuai juga dengan penelitian Ahmad (2014) Akibat terlalu bebasnya para remaja dalam berpacaran sampai kebabalasan, sehingga para remaja sering melakukan sex pranikah dan akibat dari sex pranikah tersebut

adalah kehamilan, yang kemudian solusi yang diambil pihak keluarga adalah dengan menikahkan mereka.

5.8 Peran Orangtua/Keluarga terhadap Pernikahan Dini

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan informan mengenai peran orangtua/keluarga dalam pengambilan keputusan untuk menikah dini, sebagian besar informan melakukan pernikahan dini dengan kemauan sendiri tanpa paksaan orangtua namun semua informan menyatakan bahwa orangtua mereka mendukung untuk menikah dini, seperti yang dinyatakan oleh informan berikut ini :

“Aku sih, mamakku engge-engge wae aja nya.

Mendukung, nggak ada juga dilarang supaya jangan nikah dulu. Nggak ada, baru aku sih.”

Namun ada juga informan yang menikah karena peran orangtua akibat latar belakang keluarganya yaitu ibu dan kakak informan yang pernah menikah dini :

“Mamakku yang nyuruh kak, dia pun yang ngebet kali ntah kenapa. Mendukung kali pun kak, malah senang kayaknya. Kakakku lah kak, mamakku pun juga dulu katanya.”

Menurut Duvall dan Logam (1986) Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga.

Dari hasil penelitian dapat diketahui sebagian besar orangtua/keluarga informan tidak mengambil alih hak anak mereka untuk segera menikah atau tidak.

Keputusan sepenuhnya berada pada informan, namun orangtua/keluarga informan mendukung jika anak mereka menikah walaupun masih usia dini.

Hal ini berbeda dengan penelitian oleh Ahmad (2010) Orangtua/keluarga sangat berperan dalam keputusan untuk menikah dini, dimana keluarga dan orangtua akan segera menikahkan anaknya jika sudah menginjak masa dewasa. Hal ini merupakan hal yang sudah biasa atau turun-temurun. Sebuah keluarga yang mempunyai anak gadis tidak akan merasa tenang sebelum anak gadisnya menikah. Orang tua akan merasa takut apabila anaknya jadi perawan tua dan takut apabila anaknya akan melakukan ha-hal yang tidak diinginkan yang akan mencemari nama baik keluarganya.

6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

1. Karateristik dari 7 informan dapat diketahui bahwa umur informan sewaktu menikah dini bervariasi antara 16-19 tahun dengan pendidikan yang berbeda-beda Dari 7 informan, 3 informan menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat SMA, 2 informan menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat SMP dan 2 informan terputus pendidikannya di tingkat SMA.

2. Faktor yang lebih dominan terhadap tingginya angka pernikahan dini di Kecamatan Siantar Martoba Kota Pematangsiantar yaitu Kehamilan Sebelum Menikah. Terlalu bebasnya pergaulan remaja menyebabkan remaja tidak dapat mengontrol keinginan atau nafsu mereka untuk melakukan seks pranikah. 3. Faktor yang juga memengaruhi terhadap tingginya angka pernikahan dini di

Kecamatan Siantar Martoba Kota Pematangsiantar yaitu faktor ekonomi. Rendahnya tingkat ekonomi keluarga menyebabkan anak tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ini menjadi alasan informan untuk menikah dini.

4. Rendahnya pengetahuan tentang pernikahan dini serta dampaknya juga sangat mempengaruhi tingginya angka pernikahan dini di Kecamatan Siantar Martoba Kota Pematangsiantar. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan informan yang rendah dan juga kurangnya informasi mengenai pernikahan

dini dari media massa baik cetak maupun elektronik. Sehingga informan tidak mengetahui dampak apa yang mungkin dapat terjadi jika menikah di usia dini. 5. Adanya dukungan dari orangtua/keluarga untuk menikah dini merupakan salah satu faktor dominan remaja melakukan pernikahan dini. 4 informan menyatakan bahwa orangtua/keluarga mereka yang mengambil keputusan agar menikah di usia dini.

6.2 Saran

Saran yang dapat disampaikan sehubungan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi orangtua agar dapat menjalin komunikasi yang baik dengan anak.

2. Bagi Puskesmas dan Dinas Kesehatan Pematangsiantar agar bekerjasama untuk meminimalisir terjadinya pernikahan usia dini dengan melakukan penyuluhan tentang usia perkawinan yang ideal dan dampak negatif terhadap pernikahan pada usia.

3. Bagi Pemerintah dan Kantor Pemberdayaan Perempuan Kota Pematangsiantar agar lebih peduli dan tegas menegakkan hukum dengan adanya pemalsuan identitas (KTP) penambahan umur yang tidak sesuai pada tempatnya dan sering digunakan untuk alasan menikah. Serta meningkatkan sosialisasi program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan program PUP (Pendewasaan Usia Perkawinan) melalui kegiatan-kegiatan karang taruna dan pengajian remaja mesjid. Demikian juga dengan program “Tanamkan 8 Fungsi Keluarga” terutama fungsi ke-5 yaitu fungsi reproduksi yang diharapkan dapat menurunkan angka pernikahan dini.