Berbicara mengenai kekuasaan dalam pendidikan, tidak pernah terlepas
dari konsep hegemoni ala Gramsci. Gramsci menganggap bahwa ketidaksadaran
atas dominasi yang dilakukan oleh suprastruktur disebut hegemoni. Hubungan
antara guru sejarah dengan negara dan institusi yang berkaitan dengan wacana 65
menunjukkan bagaimana negara mengatur sedemikian rupa nilai-nilai sejarah
pada generasi berikutnya. Wacana sejarah dibuat dalam satu versi, yaitu versi
Orde Baru yang mengakar melalui pendidikan, dan guru sebagai penghubung
antara institusi dan murid menjadi figur penting dalam menentukan sikap.
Sesungguhnya ada rantai besar yang membelit dalam wacana 65, yaitu
kepentingan kekuasaan telah mendominasi pendidikan dan mengendalikan publik
lewat media massa dan teks. Institusi yang berdiri dibawah negara kemudian
menetapkan kurikulum yang telah diatur oleh negara. Akhirnya, rantai yang tidak
dialogis juga membuat guru tertekan dan mau tidak mau harus melaksanakan
guru sejarah yang bersifat terbuka terhadap wacana-wacana sejarah 65 dan
membimbing para siswa untuk bersikap kritis terhadap bentuk-bentuk wacana
yang bersumber dari buku teks. Jika menengok dari gagasan Gramsci yang
berpendapat bahwa memperjuangkan kelas tertindas adalah tugas dari pemikir-
pemikir yang bisa mempengaruhi perjuangan mereka dengan tidak menghasilkan
kepentingan sepihak karena memperjuangkan kelas diperlukan war of position,
yaitu memperebutkan kekuasaan atas suprastruktur negara dengan menciptakan
hegemoni tandingan.17
Meninjau kembali teori hegemoni Gramsci bahwa hegemoni selalu
melibatkan pendidikan. Bagi Gramsci kajian budaya mengadopsi makna-makna
yang menyokong kelompok sosial tertentu makna konsep-konsep hegemoni pun
menjadi relevan bagi gerakan sosial kebudayaan dalam pendidikan.18 Pemikiran
Gramsci menempatkan analisa kebudayaan dan perjuangan ideologis yang
akhirnya menjadikan kajian budaya yang relevan bagi mereka yang ingin
membuat perubahan sosial. Pemikirannya memberikan tempat khusus bagi kaum
intelektual yang menghubungkan mereka dengan peserta perjuangan idelogis
17
Hegemoni tandingan (counter hegemony) adalah suatu bentuk perlawanan terhadap kekuasaan kelompok elit atau negara. Hegemoni tandingan ada karena kesadaran individu untuk menciptakan kebebasan dalam berideologi, berpikir dan bertindak.
18
lainnya. Disini pembedaan Gramsci antara “intelektual tradisional” dan
“intelektual organik”.19 Begitu pula dalam hal pendidikan, kajian budaya
Gramscian memimpikan sang “intelektual organik” yang memegang peran kunci
dalam penyiapan kaum intelektual dan gerakan yang kontrahegemonik.
Bagaimana hegemoni berlangsung dalam dunia pendidikan yang bernama
sekolah? Hegemoni dalam pengertian Gramsci yang dikutip oleh Livingstone
(1976:235) adalah:
A social condition in which all ascpects of social reality are dominated by or supportive of a single class.
Konsep hegemoni dipakai sebagai alat analisis untuk memahami mengapa
kelompok-kelompok dibawah suprastruktur mau berasimilasi ke dalam pandangan
rejim yang dominan, yang membuat pelanggengan kekuasaan terus terjadi. Dalam
pendidikan sejarah di sekolah, hegemoni Gramscian mempersoalkan kaitan
kebenaran dan sistem kekuasaan yang menentukan sejarah itu sendiri. Hegemoni
menyebabkan kalangan dalam ranah basis menerima penindasan sebagai sesuatu
yang wajar dan tak dapat diubah.
19
Intelektual tradisional adalah mereka yang menempati berbagai posisi ilmiah dalam masyarakat. Sebaliknya, intelektual organik yang disebut oleh Gramsci adalah bagian dari perjuangan kelas yang terlibat dalam pemikiran pengorganisasian berbagai elemen kelas kontrahegemoni. Pozzoloni, 2006. Pijar-pijar Pemikiran Gramsci. Yogyakarta: Resist Book.
Sepintas mungkin terlihat tidak ada hubungannya antara pendidikan dan
kekuasaan. Bahkan sejak masa Perang Dunia II, ketika muncul negara-negara
baru akibat hilangnya kolonialisme, orang mulai melihat betapa besar kekuasaan
pendidikan untuk mengubah kebudayaan suatu bangsa. Pada saat rejim Orde Baru
hegemoni menyusupi kegiatan-kegiatan pendidikan dalam berbagai bentuk.
Hegemoni tersebut masuk melalui media populer dan sekolah yang secara tidak
disadari telah mengarahkan kegiatan-kegiatan pendidikan yang disebut dengan
hidden curriculum.
Menurut H.A.R. Tilaar, hubungan hegemoni dan kekuasaan dalam
pendidikan mempunyai empat poin, yakni: 1) Domestifikasi dan stupidifikasi
pendidikan; 2) Indoktrinasi; 3) Demokrasi dalam pendidikan; 4) Integrasi sosial.
Proses domestifikasi adalah proses penjinakan dengan membunuh kreativitas dan
menjadikan manusia sebagai robot-robot yang sekedar menerima transmisi nilai-
nilai kebudayaan yang ada. Proses domestifikasi menhasilkan stupidifikasi yaitu
pembodohan karena tidak mengajak manusia berpikir analitis dan mempelajari
wacana alternatif karena harus mengikuti satu kebenaran yang mutlak.20
20
Tilaar, H. A. R. 2003. Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dan Perspektif Studi Kultural. Magelang: Indonesia Tera, hal. 92.
Proses indoktrinasi dalam pendidikan masuk melalui kurikulum. Semua
aspek-aspek kurikulum yang sudah diatur sedemikian rupa sesuai dengan proses
domestifikasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Maka apa yang terjadi dalam
proses pendidikan sebenarnya adalah suatu proses mentransmisikan ilmu
pengetahuan secara paksa.21 Tidak mengherankan apabila banyak menyimpulkan
bahwa pemerintah Orde Baru mempunyai kepentingan untuk menguasai
pendidikan dan kurikulum sejarah, karena rejim tersebut mempunyai kepentingan-
kepentingan politik yang melatarbelakangi. Melalui kurikulum inilah terjadi
proses indoktrinasi, yaitu proses untuk mengekalkan struktur kekuasaan yang ada.
Bertolak dari permasalahan hegemoni dalam pendidikan, poin ketiga
adalah solusi untuk mengatasi indoktrinasi dalam kekuasaan metode pengajaran
tersebut, yakni proses pendidikan demokrasi, yaitu suatu prinsip yang
membebaskan manusia dari berbagai ikatan. Masuknya demokrasi ke dalam dunia
pendidikan memberi banyak pengakuan kepada sumber-sumber kekuasaan yang
baru, yaitu kekuasaan yang memihak kepada kepentingan rakyat banyak.22 Dalam
konteks Tragedi Kemanusiaan 1965, wacana demokrasi muncul melalui versi-
versi alternatif di luar versi resmi Orde Baru. Tidak hanya berhenti disitu saja,
21
Ibid. hlm: 93 22 Ibid. hlm: 96.
versi sejarah alternatif juga bisa diakses oleh semua pihak terutama pelaku dan
subjek pendidikan.
Solusi kedua untuk menghapus indoktrinasi pendidikan adalah integrasi
sosial. Solusi ini sangat dibutuhkan dalam pendidikan demokrasi. Integrasi sosial
hanya dapat ditumbuhkan dari bawah dan mengesampingkan kekuasaan dari
atas.23 Integrasi sosial juga mengacu pada masalah-masalah setempat dimana para
peserta didik merasa dekat dengan peristiwa yang dipelajarinya. Wacana Tragedi
Kemanusiaan 1965 menjadi sangat disintegrasi jika yang dipelajari hanya sekadar
membaca dari buku teks pelajaran sekolah. Sebaliknya, wacana sejarah yang
cukup sensitif tersebut harus dipelajari dengan menggunakan media yang cukup
dekat dengan generasi muda, atau bisa juga dengan bertemu langsung dengan
pelaku dan korban sejarah sehingga apa yang mereka pelajari merupakan kapital
lokal yang mudah dipahami.
Hubungan kekuasaan kedua adalah hubungan kekuasaan subjek antara
guru dengan pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud disini adalah bentuk
wacana sejarah yang telah dilanggengkan oleh rejim Orde Baru. Dalam buku
Surveiller et Punir, Foucault mengatakan bahwa kekuasaan bekerja melalui sifat
23Ibid. hlm: 99
normalisasi, tidak hanya terjadi di penjara namun juga bekerja melalui
mekanisme-mekanisme sosial yang dibangun untuk menjamin kesehatan,
pengetahuan dan kesejahteraan.24 Kekuasaan yang dimaksud Foucault bukan
hubungan kausalitas melainkan lebih ke kerangka tujuan dan sasaran. Wacana
sejarah menjadi pengetahuan yang melahirkan kekuasaan terhadap mekanisme
pengajaran yang dilakukan oleh guru dengan tujuan-tujuan tertentu, yaitu
melahirkan kekuasaan oleh rejim Orde Baru. Hubungan kekuasaan disini bukan
hanya satu arah atau pendominasian satu pihak, melainkan menunjukkan posisi
subjek guru sebagai mereka yang didominasi.
Bentuk kekuasaan sejarah di kurikulum sekolah juga merupakan bentuk
disiplin dan panoptisme. Artinya, ada bentuk pengawasan terhadap guru untuk
memperoleh ketaatan dan keteraturan. Guru sejarah pada masa Orde Baru sangat
taat kepada institusi dan pengetahuan sejarah, mereka tidak mengajar versi sejarah
di luar versi resmi karena ada pengawasan dari institusi dan negara untuk yang
sifatnya “mendukung” jalannya rejim. Kekuasaan antara guru dan sejarah pada
masa itu terlihat langgeng karena subjek memperlihatkan kepatuhan terhadap
dominasi negara.
24
Haryatmoko. Kekuasaan Melahirkan Anti-Kekuasaan. Majalah Basis Nomor 01-02, Tahun ke 51, Januari-Februari 2002.