• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMENANG

B. Kekuatan Hukum Risalah Lelang Sebagai Perlindungan

1. Faktor Penyebab Gugatan Atas Risalah Lelang

Umumnya dalam hal terjadinya gugatan atas risalah lelang, penggugat adalah orang/badan hukum yang kepentingannya berupa kepemilikan atas barang objek lelang dirugikan oleh pelaksanaan lelang diantaranya201:

a. Debitor yang menjadi pokok perkaranya adalah terkait harga lelang yang terlalu rendah, pelaksanaan lelang atas kredit macet dilaksanakan sebelum jatuh tempo perjanjian kredit, tata cara/prosedur pelaksanaan lelang yang

201Purnama Tioria Sianturi, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Barang Jaminan Tidak Bergerak Melalui Lelang , (Jakarta : Mandar Maju, 2013), hal 15.

tidak tepat, misalnya pemberitahuan lelang yang tidak tepat waktu, pengumuman tidak sesuai prosedur dan lain-lain;

b. Pihak ketiga pemilik barang baik yang terlibat langsung dalam penandatanganan perjanjian kredit ataupun murni sebagai penjamin hutang yang menjadi pokok perkaranya adalah pada pokoknya hampir sama dengan debitur yaitu harga lelang yang terlalu rendah/jika yang dilelang barang jaminannya sendiri, pelaksanaan lelang atas kredit macet dilaksanakan sebelum jatuh tempo perjanjian kredit;

c. Ahli waris terkait masalah harta waris, proses penjaminan yang tidak sah;

d. Salah satu pihak dalam perkawinan, terkait masalah harta bersama, proses penjaminan yang tidak sah;

e. Pembeli lelang terkait hak pembeli lelang untuk dapat menguasai barang yang telah dibeli/pengosongan.

f. Adapun pihak tergugat diantaranya bank kreditor, PUPN, Kantor Lelang, pembeli lelang, debitor yang menjaminkan barang, dan pihak-pihak lain yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang termuat dalam dokumen persyaratan lelang, antara lain, kantor pertanahan yang menerbitkan sertipikat, notaris yang mengadakan pengikatan jaminan.

Jika lelang telah dilaksanakan dan kemudian pemenang lelang juga telah ditentukan yang dibuktikan dengan risalah lelang, namun ada pihak yang menggugat maka gugatan tersebut setidaknya harus memenuhi syarat yaitu terjadinya Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dalam proses lelang. Dalam kasus yang dibahas terjadinya gugatan dari pihak ketiga terhadap pemenang lelang disebabkan karena lelang tetap dilaksanakan walaupun telah diajukan permohonan dari pihak ketiga untuk menunda ataupun menghentikan proses lelang yang dikuatkan dengan putusan pengadilan yang menyatakan bahwa status objek lelang adalah status quo.

2. Pembatalan Risalah Lelang Atas Eksekusi Jaminan Hak Tanggungan

Berdasarkan vide pasal 24 Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor:

93/PMK.06/2010 jo PMK Nomor:106/PMK.06/2013, lelang yang akan dilaksanakan hanya dapat dibatalkan dengan permintaan penjual atau penetapan provisional atau

putusan dari lembaga peradilan umum. Dalam pasal 25 ayat (1) disebutkan bahwa pembatalan lelang dengan putusan/penetapan pengadilan disampaikan secara tertulis dan harus sudah diterima oleh pejabat lelang paling lama sebelum lelang dimulai.

Ayat (2), pembatalan tersebut harus diumumkan oleh penjual dan pejabat lelang kepada peserta lelang pada saat pelaksanaan lelang.

Pembatalan lelang sebelum pelaksanaan lelang diluar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 dilakukan oleh Pejabat Lelang dalam hal:202

a. SKT (Surat Keterangan Tanah) untuk pelaksanaan lelang tanah atau tanah dan bangunan belum ada;

b. Barang yang akan dilelang dalam status sita pidana, khusus lelang eksekusi;

c. Terdapat gugatan atas rencana pelaksanaan lelang eksekusi

d. Berdasarkan Pasal 6 UUHT dari pihak lain selain debitor/suami atau istri debitor/tereksekusi;

e. Barang yang akan dilelang dalam status sita jaminan/sita eksekusi/sita pidana, khusus Lelang Noneksekusi;

f. Tidak memenuhi legalitas formal subyek dan objek lelang karena terdapat perbedaan data pada dokumen persyaratan lelang;

g. Penjual tidak dapat memperlihatkan atau menyerahkan asli dokumen kepemilikan kepada Pejabat Lelang;

h. Penjual tidak hadir pada saat pelaksanaan lelang, kecuali lelang yang dilakukan melalui internet;

i. Pengumuman Lelang yang dilaksanakan Penjual tidak dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan;

j. Keadaan memaksa (force majeur)/kahar;

k. Nilai Limit yang dicantumkan dalam Pengumuman Lelang tidak sesuai dengan surat penetapan Nilai Limit yang dibuat oleh Penjual/Pemilik Barang;

l. Penjual tidak menguasai secara fisik barang bergerak yang dilelang.

Apabila lelang tetap dilaksanakan meskipun telah terjadi gugatan dan kemudian pemenang lelang juga telah ditentukan yang dibuktikan dengan risalah lelang, apabila pihak ketiga tetap mengajukan gugatan untuk pembatalan risalah

202Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, Pasal 27.

lelang, maka gugatan tersebut setidaknya harus memenuhi syarat yaitu terjadinya Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dalam atas lelang yang telah dilaksanakan.

Menurut Munir Fuady bahwa PMH haruslah mengandung unsur-unsur203: 1) Adanya suatu perbuatan

Perbuatan yang dimaksud adalah aktif yaitu berbuat sesuatu ataupun pasif yaitu tidak berbuat sesuatu padahal orang tersebut mempunyai kewajiban hukum untuk melakukannya, kewajiban mana timbul dari hukum yang berlaku (karena ada juga kewajiban yang timbul dari pelaksanaan suatu kontrak),sehingga terhadap perbuatan melawan hukum, tidak ada unsur persetujuan atau kata sepakat atau tidak ada unsur causa yang diperbolehkan sebagaimana yang terdapat dalam kontrak. Perbuatan yang dilakukan semata-mata kehendak pribadi yang bersangkutan dan melawan hukum, melanggar kesusilaan, kesopanan, keagamaan yang berakibat kerugian pada pihak lain dan dalam skala luas menimbulkan kegoncangan pada individu/masyarakat.

2) Perbuatan tersebut melawan hukum

Perbuatan yang dilakukan tersebut haruslah melawan hukum. Sejak tahun 1919, unsur melawan hukum diartikan dengan seluas-luasnya, yaitu terkait dengan pelaksanaan lelang PMH dalam lelang mencakup pengertian perbuatan melawan hukum dalam arti luas dan sempit. Gugatan kebanyakan didasarkan pada PMH karena melanggar suatu peraturan hukum. Setiap kegiatan dalam prosedur lelang mempunyai aturan yang menjadi dasar hukumnya, karenanya perbuatan melawan hukum yang berhubungan dengan dokumen persyaratan lelang, dapat diartikan perbuatan melawan hukum dalam pengertian sempit, karena langsung melanggar suatu peraturan hukum tertulis, sebagai akibat cacat hukum dalam pembuatan dokumen persyaratan lelang yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Gugatan perkara dalam lelang, yang didasarkan PMH dalam pengertian luas, misalnya harga yang terbentuk menurut penggugat terlalu rendah/tidak realistis sehingga bertentangan dengan kepatutan dan melanggar hak pemilik barang serta bertentangan dengan kewajiban hukum si penjual untuk mengoptimalkan harga jual lelang, yang akhirnya bertentangan dengan kepatutan dalam masyarakat.

3) Adanya kesalahan dari pihak pelaku

Agar dapat dikenakan pasal 1365 KUHPerdata tentang perbuatan melawan hukum, undang-undang dan yurisprudensi mensyaratkan agar pada pelaku haruslah mengandung unsur kesalahan (sculdelement) dalam melaksanakan perbuatan tersebut. Karena itu, tanggung jawab tanpa kesalahan (strict liability) tidak termasuk tanggung jawab berdasarkan kepada pasal 1365

203Munir Fuadi, Perbuatan Melawan Hukum-Pendekatan Kontemporer, (Bandung : PT.Citra Aditya Bakti, 2013), hal 10-11

KUHPerdata. Jikapun dalam hal tertentu dibelakukan tanggung jawab tanpa kesalah tersebut (strict liability), hal tersebut tidaklah didasari atas padal 1365 KUHPerdata, tetapi didasarkan kepada undang-undang lain. Dalam gugatan perkara perbuatan melawan hukum dalam lelang pengggugat selalu mendalilkan adanya kesalahan dalam pembuatan dokumen persyaratan lelang atau dalam pelaksanaan lelang, baik karena kealpaan maupun kesengajaan, yang mengakibatkan kerugian si penggugat. Tergugat dipersalahkan atas kerugian yang ditimbulkannya, oleh karenanya si tergugat harus mempertanggungjawabkannya.

4) Adanya kerugian (schade) bagi korban juga merupakan syarat agar gugatan berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata dapat dipergunakan. Berbeda dengan kerugian karena wanprestasi yang hanya mengenai kerugian materil, maka kerugian karena perbuatan melawan hukum disamping kerugian materiil, yurispridensi juga mengakui konsep kerugian immaterial, yang juga akan dinilai dengan uang.

5) Adanya hubungan klausal antara perbuatan dengan kerugian.

Hubungan kausal antara perbuatan yang dilakukan dengan kerugian yang diderita juga merupakan syarat dari suatu perbuatan melawan hukum. Untuk hubungan sebab akibat ada dua macam teori, yaitu teori faktual dan teori penyebab kira-kira. Hubungan sebab akibat secara faktual (conditions in fact) hanyalah merupakan masalah fakta atau apa yang secara faktual telah terjadi.

Setiap penyebab yang menyebabkan timbulnya kerugian dapat merupakan penyebab secara faktual, asalkan kerugian (hasilnya) tidak akan pernah terdapat tanpa penyebabnya dan sering disebut dengan istilah but for atau sine qua non.

Perbuatan Melawan Hukum dalam konteks lelang dapat terjadi, namun unsur tersebut lebih berpotensi dilakukan oleh pejabat lelang baik dengan penjual ataupun pejabat lelang dengan pembeli lelang melalui cara konspirasi.204Antara pejabat lelang dengan pembeli lelang seperti memenangkan salah satu pembeli lelang sementara dengan penjual lelang, pejabat lelang melaksanakan lelang tanpa meneliti keabsahan dokumen maupun kelengkapan dokumen tidak terpenuhi dan penjual lelang melakukan lobbi dengan pejabat lelang untuk tetap melaksanakan lelang dengan memberikan imbalan.

204Wawancara Ramson Damanik, Kasi Hukum & Inf, KPKNL Batam Tanggal 24 Juni 2015

Sesuai dengan kewenangan dan syarat-syarat untuk menjadi pejabat lelang, maka seyogianya, pejabat lelang harus menjunjung tinggi akhlak dan moral serta tidak melanggar kode etik jabatan terlebih pejabat lelang yang diangkat oleh negara dalam hal ini adalah pejabat lelang yang bertugas di KPKNL. Apabila terdapat peluang terjadinya pelanggaran atas aturan lelang, maka pejabat lelang dapat menggunakan kewenangannya dalam hal205:

a) Menegur atau mengeluarkan peserta atau pengunjung lelang apabila b) Melanggar tata tertib lelang;

c) Menghentikan pelaksanaan lelang untuk sementara waktu;

d) Mengesahkan atau membatalkan surat penawaran lelang;

e) Mengesahkan Pembeli Lelang; dan

f) Membatalkan pembeli lelang yang wanprestasi

Apabila terjadi kesalahan prosedur mengenai kelengkapan dokumen atas objek lelang yang tidak terpenuhi, maka kesalahan tersebut dapat dikategorikan sebagai Perbuatan Melawan Hukum, terlebih jika kesalahan tersebut merupakan unsur kesengajaan atau penjual lelang memiliki itikad tidak baik untuk memaksakan proses lelang berjalan sementara penjual lelang mengetahui bahwa objek lelang tersangkut dalam sengketa dimana telah ada perlawanan hukum sebelumnya dari pihak lain.

3. Kekuatan Hukum Risalah Lelang Sebagai Perlindungan Hukum Bagi Pemenang Lelang

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 40/PMK.07/2006 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, pasal 52 dan pasal 58 Peraturan Menteri Keuangan tersebut

205Pasal 16 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 305/KMK.01/2002 Tentang Pejabat Lelang

menyatakan, setiap pelaksanaan lelang maka pejabat lelang membuat risalah lelang yang terdiri dari bagian kepala, bagian badan dan bagian kaki, dalam bahasa Indonesia dan diberi penomoran. Penandatanganan risalah lelang dilakukan oleh:

a. Pejabat Lelang pada setiap lembar di sebelah kanan atas dari risalah lelang kecuali lembar yang terakhir;

b. Pejabat Lelang dan Penjual/Kuasa Penjual pada lembar terakhir dalam hal lelang barang bergerak; dan

c. Pejabat Lelang, Penjual/Kuasa Penjual dan Pembeli/kuasa Pembeli pada lembar terakhir dalam hal lelang barang tidak bergerak.

Pembuatan risalah lelang atau berita acara lelang yang diperintahkan oleh Pasal 35 bersifat imperative. Pejabat Lelang dalam melaksanakan kewajibannya untuk membuat akta risalah lelang disetiap pelaksanaan lelang yang dilakukan pada tempat kedudukannya harus sesuai dengan bentuk yang telah ditetapkan dalam peraturan lelang (VR) bahwa risalah lelang adalah berita acara pelaksanaan. Artinya apa yang tertuang dalam Pasal 35 tersebut memberi sifat memerintah atau dengan kata lain bersifat mengatur dan wajib untuk dilaksanakan.206

Pelaksanaan penjualan lelang yang dilakukan pejabat lelang tanpa risalah lelang tidak sah (invalid) karena pelaksanaan lelang tersebut tidak memberi kepastian hukum atas hal-hal yang telah terjadi karena sesuatu yang tidak tercatat akan menimbulkan ketidakpastian. Demi untuk menyempurnakan pengaturan tentang risalah lelang, aktualisasinya telah dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan

206I Made Soewandi, Tanggapan Terhadap Makalah Tentang Pokok-Pokok Pikiran Penataan Organisasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, (Jakarta : Gramedia, 1999), hal 77.

Nomor 93/PMK.06/2010 (Bab V, Pasal 77-78) dan Peraturan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor : Per-03/KN/2010 (bagian kedelapan, pasal 40-47).

Risalah lelang yang merupakan dasar untuk melindungi pemenang lelang dari gugatan pihak lain, namun apabila dikemudian hari terjadi gugatan maka pada pelaksanaannya risalah lelang ternyata tidak memberikan perlindungan hukum bagi pembeli/pemenang lelang eksekusi hak tanggungan, begitu juga dengan pejabat lelang sebagai pembuat risalah lelang tidak bertanggung jawab dengan cara berlindung pada klausa risalah lelang atas kebenaran keterangan-keterangan dalam proses lelang eksekusi hak tanggungan yang terdapat dalam risalah lelang. Hal ini terlihat dalam klausa risalah lelang yang menyatakan bahwa207:

“Pejabat lelang/KPKNL tidak menanggung atas kebenaran keterangan-keterangan-keterangan yang diberikan secara lisan pada waktu penjualan tentang keadaan sesungguhnya dan keadaan hukum atas barang yang dilelang tersebut, seperti luasnya, batas-batasnya, perjanjian sewa menyewa dan menjadi resiko pembeli Penawar/pembeli dianggap sungguh-sungguh telah mengetahui apa yang telah ditawar olehnya. Apabila terdapat kekurangan/kerusakan baik yang terlihat ataupun yang tidak terlihat, maka penawar/pembeli tidak berhak untuk menolak atau menarik diri kembali setelah pembelian disahkan dan melepaskan segala hak untuk meminta kerugian atas sesuatu apapun juga.”

Demikian juga halnya dalam peraturan lelang hanya disebutkan tentang kewajiban penjual. Pasal 16 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK/06/ 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan lelang dinyatakan bahwa penjual/pemilik barang bertanggung jawab terhadap keabsahan kepemilikan barang, keabsahan dokumen persyaratan lelang, penyerahan barang bergerak dan/atau barang tidak bergerak; dan dokumen kepemilikan kepada pembeli. Penjual/pemilik barang bertanggung jawab

207Pasal

terhadap gugatan perdata maupun tuntutan pidana yang timbul akibat tidak dipenuhinya peraturan perundang-undangan di bidang lelang. Penjual/pemilik barang juga bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi terhadap kerugian yang timbul karena ketidakabsahan barang dan dokumen persyaratan lelang.

Aturan tersebut menunjukkan bahwa seluruh tanggung jawab dibebankan terhadap penjual lelang, sementara apabila tanggung jawab menjadi kabur terjadi kesalahan administrasi yang menyangkut objek lelang yaitu mengenai kelengkapan dokumen namun lelang tetap dilaksanakan oleh pihak KPKNL sehingga terjadi lelang atas milik orang lain seperti pembahasan kasus sebelumnya. Hal ini lebih diperburuk bahwasannya risalah lelang dibatalkan dan sudah semestinyalah pihak KPKNL juga harus turut bertanggungjawab atas gugatan dari pihak ketiga.

C. Perlindungan Hukum Terhadap Pemenang lelang Atas Barang Lelang