SEJARAH BERDIRINYA IKIP GUNUNGSITOLI
3.1 Latar Belakang Pembangan
3.1.1 Falsafah Masyarakat Nias
3.1.2.1 Kekurangan Guru
Hadirnya pendidikan formal di Nias berawal dari datangnya misionaris Kristen.
Mereka mendirikan sekolah sebagai tempat mendidik calon guru untuk kepentingan penyebaran Agama Kristen di daerah Nias. Misionaris yang datang atas permintaan pemerintah Belanda di Nias untuk mengembangkan Agama Kristen yang kemudian didirikannyalah sekolah-sekolah Misionaris yaitu sekolah anak-anak, sekolah seminari dan sekolah pendeta.30 Tujuan dari pendirian ini adalah untuk menghasilkan tenaga penginjil dan tenaga pengajar untuk menyebarluaskan agama Kristen
Sistem pendidikan di Indonesia saat ini bercikal bakal dari sistem pendidikan yang diberlakukan Belanda pada saat menguasai Indonesia. Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan perkembangan dari sitem pendidikan semasa kependudukan Belanda. Belanda mendirikan sekolah di Indonesia bukan karena mereka peduli dengan kondisi pendidikan anak-anak Indonesia, pendirian sekolah ini semata-mata bertujuan untuk kepentingan Belanda sendiri. Mereka mendirikan sekolah dengan bersifat diskriminasi rasial, adanya pengotak-kotakan sekolah untuk anak Belanda, sekolah untuk priyayi dan sekolah untuk pribumi. Tujuan mereka memberi pendidikan bagi anak-anak Indonesia adalah untuk menggeruk keuntungan sendiri. Sekolah-sekolah
30Felix Yanto Ziliwu, “Peranan Misionaris Jerman Dalam Perkembangan Pendidikan Di Pulau Nias”. Tesis, Medan: FIS Unimed, 2016 hal. 4
38 tersebut diharapkan dapat menghasilkan para pegawai yang bekerja untuk pemerintahan kolonial di Indonesia dan diharapkan anak-anak Indo-Belanda memiliki rasa nasionalisme mereka terhadap Belanda yang akan menguntungkan pihak Belanda. Permasalahan pengotak-kotakan ini juga terjadi pada penyediaan guru, guru di sekolah anak Belanda didatangkan dari negeri Belanda sedangkan untuk pribumi diambil dari warga-warga desa yang bisa membaca dan menulis. Perkembangan pendidikan terus berlanjut hingga menyentuh “politik etis” yaitu politik untuk mensejahterakan kehidupan tanah jajahan dengan didirikan sarana-sarana pendidikan juga tidak berdampak banyak. Sekolah-sekolah umum yang dibuka untuk anak-anak Indonesia mulai ada sejak Belanda tidak lagi fokus untuk menyebarkan agama Kristen. Sekolah umum seperti Sekolah Desa (Volksschol), Holland Inlands School (HIS), Meer Uitgebberied Lager Onderwijs (MULO), Hogere Burger School (HBS) dan Algeme Middelbere School (AMS) telah dibuka di Pulau Jawa dan beberapa daerah lainnya, namun tetap dibedakan kelas bagi pribumi dan anak-anak Belanda.
Untuk daerah Nias belum diketahui pasti kapan terbentuknya sekolah umum.
Pada masa Liberal (1816-1891) kurikulum sekolah mengalami perubahan, masyarakat menaruh kepercayaan akan kekuasaan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian ilmiah empiris. Tujuan pendidikan bukan lagi sekedar memupuk rasa takut akan Tuhan dan pusat studi bukan lagi Kitab Injil. Pendidikan ditujukan kepada kemampuan intelektual, nilai-nilai rasional dan sosial dan usaha mencapai
39 tujuan-tujuan sekuler lainnya.31 Sehingga dapat dipastikan bahwa sekolah di Nias yang didirikan oleh para Misionaris berubah menjadi sekolah umum. Sekolah-sekolah umum ini kemudian mendapat tenaga pengajar dari Kwewkschool Tano Bato yang datang ke Gunungsitoli.32 Yang kemudian setelah kemerdekaan terus mengalami perkembangan sehingga pada tahun 1980, Gunungsitoli memilki 78 SD, 15 SMP dan 9 SMA.
Untuk memenuhi kebutuhan guru di Kabupaten Nias dihadirkan guru-guru luar orang Nias ataupun lulusan dari luar Nias. Hal ini disebabkan tidak adanya sarana yang memadai dalam Kabupaten Nias yang dapat mencetak guru-guru yang baik.
Pada awalnya memang sudah terbentuk Sekolah Profesi Guru (SPG) sebelum didirikannya IKIP Gunungsitoli, lulusan sekolah profesi ini satu-satunya guru yang terpelajar yang dapat dipekerjakan sebagai tenaga guru di Kabupaten Nias di luar dari guru-guru yang diambil dari luar daerah.33 Namun lulusan Sekolah Profesi Guru (SPG) ini pun tidak serta merta mau jadi guru, mereka berpendidikan SPG hanya karena ingin diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) lalu ketika telah diangkat para lulusan ini berlomba-lomba bekerja di perkantoran Dinas bidang pendidikan. Alasan paling besar mengapa mereka tidak mau jadi guru adalah karena kondisi sekolah yang terpencil, yang harus berjalan kaki, penuh lumpur belum lagi dengan rampok, ini
31S. Nasution, Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2018 hal. 9
32Masjkuri, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Utara. Medan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980 hal. 34
33Wawancara; Sokhiwolo’o Telaumbanua. Desa Sisaumbalahe, Kota Gunungsitoli pada tangga;
26 Oktober 2020
40 menjadi pertimbangan bagi mereka untuk berlomba kerja di kantor dinas yang berada di kota.
Kekurangan guru di Nias bukan saja kekurangan secara kuantitas namun juga secaara kualitas. Terdapatnya guru-guru pembantu/honorer dari warga desa yang syaratnya hanya bisa membaca dan menulis tidak dapat diharapkan untuk memajukan pendidikan. Guru bertanggungjawab menstraferkan ilmunya. Mereka diharapkan profesional dalam cara mengajar dan memiliki wawasan yang luas. Guru tidak hanya mampu mengajari anak didiknya menulis dan membaca namun juga dapat memberi wawasan kepada anak didiknya bagaimana perkembangan-perkembangan yang terjadi di luar daerah mereka. Begitu halnya dengan lulusan Sekolah Profesi Guru (SPG). Lulusan SPG ini tidak mampu berbuat banyak dalam hal mengajar karena tingkat pendidikannya setara dengan sekolah menengah atas, ilmunya masih sedikit dibanding dengan lulusan perguruan tinggi. Belum lagi sikap acuh tak acuh mereka.
Guru kadang datang sekali seminggu, bahwa ada yang sekali sebulan karena memang motivasinya belajar di SPG bukanlah menjadi guru namun untuk mendapatkan pekerjaan.34 Hal-hal di atas yang makin memperburuk keadaan guru di Kabupaten Nias.
34Wawancara; Sokhiwolo’o Telaumbanua. Desa Sisaumbalahe, Kota Gunungsitoli pada tanggal 26 Oktober 2020
41 Untuk mensuplai guru yang profesional maka dirasa perlu untuk mendirikan sarana yang dapat mencetak guru-guru profesional. Profesional dalam arti memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari pendidikan sekolah menengah atas sederajat.