• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Peran Kelompok Tani

5.2.1 Kelas Belajar

Persepsi Pengurus Kelompok Tani dalam Kelas Belajara Untuk mengetahui peran kelompok tani dalam kelas belajar khususunya pengurus kelompok, terdapat 10 indikator yang perlu dicapai.

Untuk mengetahui tercapainya indikator tersebut, peneliti

mengembangkan 10 indikator tersebut dalam bentuk pertanyaan dan melakukan proses wawancara pada 18 orang responden. Hasil wawancara yang diperoleh memiliki skor, kemudian dikategorikan.

Adapun indidkator dan jawaban pengurus kelompok tani dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 16. Persepsi Pengurus Kelompok Tani Terhadap Peran Kelompok Tani Sebagai Kelas Belajar di Desa Awolagading, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No Kelas Belajar Kategori Jumlah

Responden Tinggi Rendah

1 Menggali dan merumuskan kebutuhan

belajar 10 8 18

2 Merencanakan dan mempersiapkan

kebutuhan belajar 18 - 18

3 Menumbuhkan kedisiplinan dan motifvasi

anggota 18 - 18

4 Proses pembelajaran dan pertemuan

kondusif dan tertib 18 - 18

5 Menjalin kerjasama dengan sumber

informasi 18 - 18

6 Menciptakan lingkungan belajar yang

sesuai 18 - 18

7 Berperan aktif dalam proses

belajar-mengajar 18 - 18

8

Mengemukakan dan memahami keinginan, pendapat maupun masalah yang dihadapi

11 7 18

9 Merumuskan kesepakatan bersama 13 5 18

10 Merencanakan dan melaksanakan

pertemuan berkala 9 9 18

Table 16 menunjukkan jawaban yang sama disetiap indikator.

Untuk indikator pertama menggali dan merumuskan kebutuhan belajar 10 orang memilih kategori tinggi dan 8 orang memilih kategori rendah. Ada dua kelompok yang belum paham mengenai kelompok tani karena baru terbentuk pada tahun 2017 sehingga belum bisa menggali dan merumuskan kebutuhan belajar mereka, dua kelompok tersebut masih dalam bimbingan penyuluh.

“Kelompok Mappideceng dan Maccolliloloe baru terbentuk pada tahun 2017 sehingga belum pernah menggali dan merumuskan kebutuhan belajar bersama dengan pengurus maupun anggota”.

(Alang dan Amir, wawancara, Agustus 2017).

Merencanakan dan mempersiapkan kebutuhan belajar. Semua pengurus kelompok tani memilih kategori tinggi.

“Sebelum melaksanakan kegiatan kelas belajar pengurus kelompok tani di Desa Awolagading mempersiapkan dengan baik kebutuhan-kebutuhan dalam kelangsungan kegiatan kelas belajar seperti penentuan jadwal, tempat, undangan, dan kesiapan penyuluh atau lembaga pertanian untuk ikut mendukung jalannya kelas belajar”.

(Darwis, wawancara, Agustus 2017).

Menumbuhkan kedisiplinan dan motifvasi anggota. Semua pengurus kelompok tani memilih kategori tinggi. Pengurus kelompok tani telah menumbuhkan kedisiplinan dan motivasi anggota agar ikut aktif pada kegiatan kelompok.

“Memotivasi anggota dengan terus mengajaknya ikut serta dalam kelas belajar untuk kesusksesa usahataninya”. (Darwis, Wawancara, Agustus 2017). “Menyampaikan pada anggota bahwa kegiatan kelas belajar adalah tempat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam usahatani dan dapat memperoleh bantuan kebutuhan usahatani agar mereka dapat termotivasi”. (Darisa, wawancara, Agustus 2017).

Proses pembelajaran dan pertemuan kondusif dan tertib. Semua pengurus kelompok tani memilih kategori tinggi.

“kelas belajar terlaksana secara kondusif karena setiap diadakannya kelas belajar semua masalah-masalah yang dimiliki mendapatkan solusi yang dibutuhkan dan berjalan dengan tertib”. (Darwis, wawancara, Agustus 2017).

Menjalin kerjasama dengan sumber informasi. Semua pengurus kelompok tani memilih kategori tinggi. Kelompok telah menjalin kerjasama dengan sumber-sumber informasi seperti penyuluh dan lembaga pertanian.

“Kelompok tani Desa Awolagading menjalin kerjasama untuk memperoleh informasi dengan penyuluh yang cukup sering berkunjung ke Desa Awolagading” (Abdullah, wawancara, Agustus 2017).

Menciptakan lingkungan belajar yang sesuai. Semua pengurus kelompok tani memilih kategori tinggi. Untuk pelaksanaan kelas belajar telah tersedia tempat khusus.

“Untuk melaksanakan kegiatan kelas belajar telah disediakan tempat khusus kegiatan kelompok tani” (Baharuddin, Darwis dan Abdullah, wawancara, Agustus 2017).

Berperan aktif dalam proses belajar-mengajar. Semua pengurus kelompok tani memilih kategori tinggi. Skor indicator ini tinggi karena pengurus kelompok telah mendatangkan dan berkonsultasi dengan penyuluh.

“Bereperan aktif dalam proses belajar-mengajar dengan mendatangkan dan berkonsultasi kepada kelembagaan penyuluh pertanian”. (Darwis, wawancara, Agustus 2017).

Mengemukakan dan memahami keinginan, pendapat maupun masalah yang dihadapi. 13 orang memilih tinggi, 5 orang memilih rendah.

”Masalah yang dihadapi oleh petani di Desa Awolagading hampir sama, jadi terkadang hanya beberapa orang yang menyampaikan dan memaparkan masalah tersebut, contohnya masalah yang pernah dialami bersama yaitu banyaknya hama tikus yang menyerang tanaman padi, maka penyuluh memberikan solusi

dengan membuat alat penangkar tikus”. (Baharuddin, wawancara, Agustus 2017).

Merumuskan kesepakatan bersama. 13 orang memilih kategori tinggi dan 5 orang memilih rendah.

”Hal ini diakibatkan karena ada beberapa pengurus tidak dapat terus menerus ikut serta dalam merumuskan kesepakatan, beberpa pengurus juga memiliki lahan pertanian di daerah lain sehingga mereka tidak dapat menghadiri pertemuan apabila penentuan waktu pertemuan bertepatan dengan kepergian mereka yang harus menetap dalam kurung waktu berbulan-bulan, hingga saat ini juga belum ada yang bersedia untuk menggantikan tanggung jawab mereka. (Abdullah, wawancara, Agustus 2017).

Merencanakan dan melaksanakan pertemuan berkala. 9 orang memilih kategori tinggi dan 9 orang memilih rendah.

” Pertemuan dilakukan hanya sekali setahun apabila telah mendekati musim tanam, pertemuan di Desa Awolagading belum dilakukan secara berkala untuk poktan, antar poktan atau dengan instansi terkait, namun ketua kelompok tani biasanya mengikuti pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan oleh lembaga pertanian kemudian ilmu yang diperoleh di sampaikan ke anggota, dari anggota satu ke anggota lainnya tanpa melakukan pertemuan”. (Darisa, wawancara, 2017).

Secara umum persepsi pengurus kelompok tani terhadap peran kelompok tani sebagai kelas belajar dapat dikatakan tinggi, karena dalam sepuluh indikator yang harus dicapai hanya empat indikator yang memiliki kategori rendah yaitu menggali dan merumuskan kebutuhan belajar, mengemukakan dan memahami keinginan pendapat maupun masalah, merumuskan kesepakatan bersama, dan merencanakan pertemuan berkala. Indikator yang memiliki kategori tinggi yaitu merencanakan dan mempersiapkan kebutuhan belajar, menumbuhkan kedisiplinan dan

motivasi anggota, proses pembelajaran dan pertemuan kondusif dan tertib, menjalin kerjasama dengan sumber informasi, menciptakan lingkungan belajar yang sesuai, dan berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Tingkat peran kelompok tani dalam kelas belajar untuk pengurus kelompok tani di Desa Awolagading dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Tingkat Peran Kelompok Tani dalam Kelas Belajar Menurut Persepsi Pengurus Kelompok di Desa Awolagading, Kecamatan awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No. Skor Interval Jumlah Responden

(orang) Persentase (%)

1. Rendah (11-16) 0 0

2. Tinggi (17-22) 18 100

Jumlah 18 100

Tabel 17 menunjukkan bahwa semua pengurus kelompok tani menyatakan peran kelompok tani dalam kelas belajar tergolong tinggi sebanyak 18 orang (100%). Dapat dikatakan bahwa persepsi tentang tingkat kelas belajar di Desa Awolagading sudah tergolong tinggi karena sebagian besar pengurus kelompok tani telah merencanakan dan mempersiapkan kebutuhan belajar, menumbuhkan kedisiplinan, menghadiri kelas belajar, menjalin kerjasama dengan sumber informasi, menciptakan iklim belajar yang layak, dan ikut aktif dalam proses belajar-mengajar.

Persepsi Anggota Kelompok Tani dalam Kelas Belajar

Untuk mengetahui peran kelompok tani dalam kelas belajar khususunya anggota kelompok, terdapat 10 indikator yang perlu dicapai.

Untuk mengetahui tercapainya indikator tersebut, peneliti mengembangkan 10 indikator tersebut dalam bentuk pertanyaan dan

melakukan proses wawancara pada 42 orang responden. Hasil wawancara yang diperoleh memiliki skor, kemudian dikategorikan.

Adapun indidkator dan jawaban anggota kelompok tani dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 18. Persepsi Anggota Kelompok Tani Terhadap Peran Kelompok Tani Sebagai Kelas Belajar di Desa Awolagading, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No Kelas Belajar Kategori Jumlah

Responden Tinggi Rendah

1 Menggali dan merumuskan kebutuhan

belajar 6 36 42

2 Merencanakan dan mempersiapkan

kebutuhan belajar - 42 42

3 Menumbuhkan kedisiplinan dan motifvasi

anggota 25 17 42

4 Proses pembelajaran dan pertemuan

kondusif dan tertib 25 17 42

5 Menjalin kerjasama dengan sumber

informasi 25 17 42

6 Menciptakan lingkungan belajar yang

sesuai 25 17 42

7 Berperan aktif dalam proses

belajar-mengajar 25 17 42

8

Mengemukakan dan memahami keinginan, pendapat maupun masalah yang dihadapi

12 30 42

9 Merumuskan kesepakatan bersama 23 19 42

10 Merencanakan dan melaksanakan

pertemuan berkala - 42 42

Berdasarkan table 18, terdapat 6 orang memilih kategori tinggi dan 36 orang memilih rendahi untuk indikator menggali dan merumuskan kebutuhan belajar.

“Tidak pernah ikut serta dalam menggali dan merumuskan kebutuhan belajar, kami hanya disampaikan jadwal pelaksanaan pertemuan”. (Samire, wawancara, Agustus 2017). “Terkadang saya menyampaikan secara langsung masalah saya kepada ketua kelompok tani karena kami cukup dekat dan akrab”. “Assa, wawancara, Agustus 2017).

Merencanakan dan mempersiapkan kebutuhan belajar. Semua responden memilih kategori rendah. Karena ada yang tidak mengetahui pelaksanaan kegiatan kelas belajar da nada juga yang hanya memperoleh informasi melalui pengumuman yang disampaikan di Masjid.

“Kami hanya mendapatkan informasi melalui pengumuman di Masjid tentang jadwal pelaksanaan pertemuan kelompok tani” (Assa dan Basriadi, wawancara, Agustus 2017).

Menumbuhkan kedisiplinan dan motifvasi anggota. 25 orang memilih kategori tinggi dan 17 orang memilih kategori rendah. Anggota keloanimpok yang memilih rendah adalah anggota yang tidak mengetahui keikutsertaannya pada kelembagaan kelompok tani. Bahkan ada anggota kelompok yang menanyakan namanya pada peneliti, apakah tercantum dalam rencana definitive kebutuhan kelompok (RDKK).

Proses pembelajaran dan pertemuan kondusif dan tertib, menjalin kerjasama dengan sumber informasi, menciptakan lingkungan belajar yang sesuai, berperan aktif dalam proses belajar-mengajar. Keempat indikator tersebut memiliki skor yang sama yaitu 25 orang memilih kategori tinggi, tidak dan 17 orang memilih rendah. Yang memilih kategori rendah adalah anggota yang memang tidak menghadiri pertemuan atau kelas belajar dan tidak mengetahui status bergabungnya dalam kelompok.

Mengemukakan dan memahami keinginan, pendapat maupun masalah yang dihadapi. 12 orang memilih kategori tinggi dan 30 orang memilih kategori rendah. hanya ada beberapa petani yang mampu mengemukakan pendapat atau masalah yang dihadapi di usahataninya,

hal ini diakibatkan karena beberapa anggota tidak menghadiri kelas belajar khususnya bagi kaum wanita sangat jarang menghadiri kelas belajar karena kurangnya motivasi dan ada beberapa yang tidak mengetahui status bergabungnya dalam kelompok tani.

Merumuskan kesepakatan bersama. 23 orang memilih kategori tinggi dan 19 orang yang memilih rendah. Hanya yang hadir dalam kegiatan kelas belajar atau pertemuan yang dapat merumuskan kesepakatan.

Merencanakan dan melaksanakan pertemuan berkala. Semua responden memilih kategori rendah. seperti dengan persepsi pengurus bahwa kelas belajar hanya dilaksanakan dalam sekali setahun pada saat musim tanam telah tiba dan tidak pernah dilakukan pertemuan pertemuan khusus dalam kelompok tani maupun antar kelompok tani (GAPOKTAN).

Secara umum persepsi anggota kelompok tani terhadap peran kelompok tani sebagai kelas belajar dapat dikatakan tinggi, karena dalam sepuluh indikator yang harus dicapai dari 42 responden hanya empat indikator yang dominan memiliki kategori rendah yaitu menggali dan merumuskan kebutuhan belajar, merencanakan dan mempersiapkan kebutuhan belajar, mengemukakan dan memahami keinginan pendapat maupun masalah, dan merencanakan pertemuan berkala. Enam indikator yang dominan memiliki kategori tinggi yaitu menumbuhkan kedisiplinan dan motivasi anggota, proses pembelajaran dan pertemuan kondusif dan tertib, menjalin kerjasama dengan sumber informasi, menciptakan

lingkungan belajar yang sesuai, berperan aktif dalam proses belajar-mengajar, dan merumuskan kesepakatan bersama. Adapun tingkat peran kelompok tani dalam kelas belajar untuk anggota kelompok tani di Desa Awolagading dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Tingkat Peran Kelompok Tani dalam Kelas Belajar Menurut Persepsi Anggota Kelompok Tani di Desa Awolagading, Kecamatan awangpone, Kabupaten Bone, 2017.

No. Skor Interval Jumlah Responden

(orang) Persentase (%)

1. Rendah (11-16) 17 41

3. Tinggi (18-22) 25 59

Jumlah 42 100

Tabel 19 menunjukkan bahwa 17 orang (41%) anggota kelompok tani yang menyatakan peran kelompok tani dalam kelas belajar tergolong rendah. dan yang menyatakan bahwa peran kelompok tani dalam kelas belajar tinggi sebanyak 25 orang (59 %). Dapat dikatakan bahwa persepsi tentang tingkat kelas belajar Desa Awolagading menurut anggota kelompok tani tergolong tinggi karena para anggota kelompok tani telah kurang yang ikut serta dalam menggali dan merumuskan kebutuhan belajar, aktif dalam mempersiapkan kebutuhan belajar, menghadiri pertemuan atau kelas belajar, sumber informasi yang diperoleh anggota sebagian besar dari penyuluh.

Secara umum dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa pengurus kelompok tani Desa Awolagading telah menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya dalam kelas belajar karena adanya kesamaan persepsi antara pengurus kelompok tani dan anggota kelompok tani.

Dokumen terkait