• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelembagaan Pengarusutamaan Hak Anak

DATA KELEMBAGAAN

24. BKB 25. APPI

5.2 Kelembagaan Pengarusutamaan Hak Anak

Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA) merupakan suatu strategi yang dipandang mampu memastikan bahwa pembuatan undang-undang, program, kebijakan, kegiatan serta anggarannya akan berpihak pada pemenuhan prinsip-prinsip hak anak. PUHA yang dimaksudkan disini adalah menjadikan pemenuhan hak anak sebagai pertimbangan utama dari para pengambil keputusan dan perencana pembangunan nasional, propinsi dan kabupaten/kota. Apabila hal ini dilaksanakan diharapkan kepedulian mengenai hak anak akan semakin meningkat, dan kemudian pemenuhan hak-hak mereka sebagai warga Negara juga akan semakin cepat dan terjamin.

Di level Kota Serang, terdapat sejumlah peraturan daerah (Perda) dan kebijakan baik berupa Peraturan Walikota, Keputusan, Instruksi dan/atau edaran yang diundangkan dalam rangka mewujudkan pemenuhan hak anak, antara lain:

1) Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 2 tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat.

2) Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 9 tahun 2010 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Daerah.

3) Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan;

4) Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 15 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

5) Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.

6) Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Penanggulangan Kemiskinan;

7) Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana;

8) Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah;

9) Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2013 tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau.

10) Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2013 tentang Perlindungan Anak dan Perempuan;

11) Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium;

12) Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima;

13) Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 5 Tahun 2012 tentang Bantuan Hukum pada Masyarakat;

14) Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2015 tentang Kota Layak Anak; 15) Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa

Asap Rokok;

16) Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial;

17) Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan;

18) Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman;

19) Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pembangunan Kepemudaan;

20) Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pendidikan;

21) Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2019 Tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, Dan Sistem Informasi Keluarga;

22) Peraturan Walikota Nomor 9 Tahun 2019 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar;

23) Peraturan Walikota Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat 112;

24) Peraturan Walikota Serang Nomor 22 Tahun 2019 Tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 7 Tahun 2015 Tentang Kawasan Tanpa Rokok;

25) Keputusan Walikota Serang Nomor 400/kep.18-org/2011 tentang Pembentukan Gugus Tugas Pengembangan Kota Layak Anak (KLA) Kota Serang Periode 2011-2015. Kemudian diperbaharui dengan Surat Keputusan Walikota yang baru nomor 463/kep.66-huk/2015 tentang pembentukan gugus tugas pengembangan kota layak anak Kota Serang periode 2015-2019.

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan Kota Serang sejak terbentuk pada tahun 2007, beragam permasalahan dalam pemenuhan hak anak juga meningkat. Di antaranya adalah sejumlah permasalahan kesejahteraan sosial yang melibatkan anak di dalamnya. Seiring dengan itu, partisipasi masyarakat juga tumbuh dan berkembang guna mengatasi ragam permasalahan kesejahteraan sosial tersebut, antara lain berupa kelembagaan kesejahteraan anak dengan beragam jenis dan bentuknya guna menopang tumbuh kembang dan keberlangsungan hidup anak khususnya yang kurang beruntung memperoleh lingkungan pengasuhan yang layak. Di samping itu, tumbuh pula beragam kelembagaan di bidang pendidikan yang mendukung tubuh kembang anak secara umum, antara lain: kelembagaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yaitu lembaga pendidikan bagi anak usia pra sekolah (0-6 tahun) dalam bentuk pendidikan formal, non formal dan informal.

Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) adalah lembaga yang memberikan bantuan dan memberikan layanan sosial, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun masyarakat yang bertujuan untuk

mensejahterakan masyarakat yang kurang mampu. LKSA di Kota Serang pada umumnya berbentuk pelayanan dalam panti, yang sebagian besar merupakan panti asuhan yang terintegrasi dengan sekolah yang dikelola secara boarding maupun pondok pesantren. Di samping itu, terdapat pula sejumlah LKSA yang bergerak pada bidang pembinaan anak jalanan, rehabilitasi sosial, maupun penggalangan dana untuk kepentingan bantuan sosial kemanusiaan, dan lain-lain.

Kota Serang memfasilitasi layanan Telepon darurat pada saluran 112 sesuai dengan Peraturan Walikota Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat 112. Layanan 112 ini merupakan panggilan kedaruratan, termasuk untuk layanan penindakan terhadap laporan kekerasan dalam rumah tangga yang dilaporkan oleh masyarakat. Layanan 112 ini secara umum bertujuan untuk melindungi dan membantu masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan pelayanan kegawatdaruratan (emergency) serta memastikan adanya akses untuk mendapatkan pelayanan berkualitas, cepat, dan murah.

Di samping layanan darurat 112, Kota Serang juga memfasilitasi adanya sistem pengaduan masyarakat yang berbasis aplikasi online yang bernama Rabeg, yaitu singkatan dari “Reaksi Atas Berita Warga”. Rabeg merupakan aplikasi berbasis online yang bertujuan menampung dan menyalurkan pengaduan, aspirasi, keluhan, dan opini masyarakat yang disampaikan oleh warga melalui media sosial, kotak saran/aduan kepada pemerintah Kota Serang sehingga dapat dijangkau oleh semua pihak. Sistem Rabeg yang terintegrasi pengelolaannya oleh Dinas Komunikasi dan Informasi, memungkinkan respon yang realtime atas laporan masyarakat yang kemudian diteruskan kepada organisasi perangkat daerah yang terkait dengan substansi laporan yang disampaikan masyarakat.

Seiring dengan meningkatnya kompleksitas permasalahan perlindungan perempuan dan anak, meningkat pula respon pemerintah dan masyarakat untuk menangani beragam kebutuhan terkait pengentasan permasalahan dimaksud melalui hadirnya sejumlah kelembagaan PUG dan PUHA. Kajian atau penelitian yang terkait dengan PUG dan PUHA misalnya, cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan PUG dan PUHA di Kota Serang. Demikian pula dengan

hadirnya fasilitasi kebijakan berupa Perda dan lain-lain, yang diformulasi secara khusus sebagai respon terhadap permasalahan dan kebutuhan masyarakat. Kebijakan terkini yang sedang dirumuskan adalah rancangan Perda tentang pariwisata dan tempat-tempat hiburan yang belum selesai digodok oleh DPRD Periode 2014-2019, yang diharapkan juga memuat dimensi-dimensi PUG dan PUHA didalamnya.

Tabel 5.7

Kelembagaan PUG dan PUHA Lainnya Tahun 2017-2019

No Kelembagaan Lainnya 2017 2018 2019 1 Hasil Kajian terkait PUG dan PUHA 27 32 NA 2 Perda / Kebijakan responsif Gender 4 4 4 3 Perda / Kebijakan Perlindungan

Perempuan dan Anak 25 27 25

4 Pusat Konsultasi Hukum dan LBH 3 3 3

5 Gugus Tugas Kelana 1 1 1

6 Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA)

1 1 1

7 Pusat Pemulihan Trauma (Trauma

Center) 2 2 2

8 Pusat Penanganan Krisis Perempuan (Women Crisis Center)

- 1 1

9 Rumah Aman (Shelter, Safe House) - 4 5

10 Rumah Singgah 1 1 1

11 PATBM 1 18 23

12 LKSA 27 27 30

13 Sekolah Ramah Anak - 40 206

14 Sistem Pengaduan Masyarakat Online 2 2 2 Sumber: Diolah dari berbagai sumber, 2020

BAB VI

P E N U T U P

Berdasarkan Strategi Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender, ketersediaan data terpilah merupakan prasyarat penting guna mengintegrasikan perspektif gender dalam pembangunan nasional. Dengan demikian tujuan pembangunan nasional dapat dicapai secara lebih optimal melalui upaya sistematis dalam mereduksi adanya kesenjangan akses,partisipasi, kontrol dan manfaat pembangunan bagi laki-laki dan perempuan,yang bertujuan untuk mewujudkan perencanaan dan anggaran yang lebihberkeadilan, yang kini dikenal dengan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG). Melalui penyediaan data terpilah dan analisis gender akan diketahui perbedaankondisi dan kebutuhan laki-laki dan perempuan yang ada, yang dijadikansebagai dasar dalam melakukan perencanaan dan penganggaran responsif gender sehingga berkontribusi dalam mencapai tujuan pembangunan nasional secara lebih efektif dan efisien.

Meski bukan isu baru, namun penyediaan data terpilah ini diakui belum “diimani” oleh para perencana dan penyelenggara pemerintahan daerah pada umumnya, sehingga kebijakan dan manfaat pembangunan daerah belum mampu menyasar pada kelompok-kelompok sasaran yang tepat. Karenanya disadari penyusunan data terpilah ini bukanlah pekerjaan sederhana mengingat kondisi ketersediaan data yang kurang memada tersebut. Karenanya penyempurnaan mekanisme pengelolaan data pada masing-masing perangkat daerah penting dilakukan sehingga penyediaan data dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Penyusunan data terpilah ini dapat terlaksana dengan dukungan dan bantuan dari seluruh perangkat daerah dan badan publik terkait. Karenanya kerjasama yang lebih intensif mutlak diperlukan guna meningkatkan ketersediaan dan kualitas data, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal dalam merumuskan kebijakan yang tepat sehingga mampu secara efektif mengatasi permasalahan daerah, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan mencapai tujuan pembangunan daerah. Aamiin.

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Dokumen terkait