BAB IV HASIL PENELITIAN
4.4 Penyajian Data
4.4.5 Kelengkapan
Berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan belanja pengadaan laptop sesuai dengan Surat Perintah Kerja (SPK) tanggal 28 April 2014 BPTPM Kota Cilegon melakukan kegiatan belanja modal pengadaan komputer notebook BPTPM Kota Cilegon sebesar Rp 72,120,000 (Tujuh puluh dua juta seratur dua puluh ribu rupiah). Pengadaan kompter dimaksud sebagai peningkatan layanan pemerintahan.Kelengkapan atribut pelayanan di BPTPM Kota Cilegon adalah guna mendukung aktivitas pelayanan perizinan menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien. Mulai dari keunggulan teknologi hingga peralatan dan mesin akan masuk dalam Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) BPTPM Kota Cilegon. Seperti pernyataan yang diungkapkan Sapiudin selaku Kepala Sub Bagian umum dan kepegawaian (I2) sebagai berikut:
“Jadi saya pikir-pikir mau bikin sistem jadi ga manual lagi, misalnya data kepegawaian sekarang udah jaman canggihkan, kalau kita masih manual aja ketinggalan nanti.Misalnya ada yang minta pegawai yang lahirnya bulan agustus, kalau manual nanti milah-milah dulu tapi kalau udah tersistemkan ketik aja Agustus keluar semua orang-orangnya gitukan. Kalau di BKD kanada juga Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG) itu sistem kepegawaian, kalau kita mah menggunakann sistem udah jadi kan enak bisa ngerokok gitu. Sekarang kan yang kerjanya masih capek mah kita manfaatkan itu kan. Kaya di Cilegon, anggaran punya, tinggal kitanya aja nanti bikin kegiatan paling dicecer pertanyaan kan nanti
keuntungannya buat ini apa-apa itu aja kitanya aja mempertahankan argumen.”(Wawancara dengan Sapiudin, 12 Agustus Pukul 03.00 WIB, di kantor BPTPM Kota Cilegon).
Dari Pernyataan bapak Sapiudin di atas menjelaskan bahwa perkembangan dan terobosan teknologi informasi menjadi salah satu bagian kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, tidak sulit untuk memperkirakan bahwa salah satu ujian bagi kemahiran dan keandalan manajemen di masa depan ialah kemampuannya memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut, tetapi sekaligus mengenali berbagai dampak yang ditimbulkannya dalam kehidupan organisasional. Dengan perkataan lain, kemampuan manajemen memanfaatkan informasi dalam menjalankan fungsi-fungsi manajerial akan turut menentukan berhasil tidaknya manajemen yang bersangkutan meraih keberhasilan dalam mengelola organisasinya. Usaha BPTPM Kota Cilegon dalam mengembangkan kemajuan teknologi diperkuat oleh pernyataan Sapiudin selaku Kepala Sub Bagian umum dan kepegawaian (I2) sebagai berikut:
“Disini juga kan kita baru buat kemarin Sistem Informasi Manajemen Terpadu (SIMPADU) sudah ada” (Wawancara dengan Sapiudin, 12 Agustus Pukul 03.25 WIB, di kantor BPTPM Kota Cilegon).
Kemudian sekilas mengenai rancangan SIMPADU di sampaikan pula oleh Sapiusin selaku Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian (I2) sebagai berikut:
“Nanti ada passwordnya.Ingin kita sih kedepan gitu izin nanti pake barcodenya, pengaman.Kan takut dimanipulasi segala macam untuk pengaman segala macam. Contoh belangko nih, kan beda-beda warnanya ada yang putih, biru, pink tergantung izinnya. Ada Peraturan Menteri Dalam Negerinya untuk warna-warnanya di atur. Bukan karena kepala sub
bidangnya perempuan jadi warnanya pink misalnya, engga gitu kalau pengadaan kertas ada di bagian tata usaha saya, nanti dari bidang masing-masing minta. Nanti mah ditambahin ada barcode, terus ada emboss pengaman, takutnya kertas ginikan ada yang menyerupai. Iya harusnya juga pakai hologram, Cuma percetakan sini belum ada. Lah harganya mahal, kan susah lagi. Makanya kalau ada kertas keluar tanpa sepengetahuan ini tersangkanya mungkin ada aja sih yang mau niat mah ditarik tinggal kasih aja. Kalau kertas-kertas HVS kan bisa
aja”((Wawancara dengan Sapiudin, 12 Agustus Pukul 03.28 WIB, di kantor BPTPM Kota Cilegon).
Berdasarkan pernyataan Sapiudin di atas menggambarkan sekilas rancangan SIMPADU (Sistem Informasi Pelayanan Terpadu) di BPTPM Kota Cilegon. Adapun pentingnya keberadaan SIMPADU tersebut diperjelas oleh pernyataan M. Dedi Jauhari selaku kepala bidang perizinan dasar dan lainnya (I1) sebagai berikut:
“Sesuai dengan Permendagri nomor 24 tentang PTSP, kebutuhan perangkat penunjang yang ditujukan dalam membantu kinerja BPTPM Kota Cilegon untuk meningkatkan mutu pelayanan perizinan terhadap publik merupakan sebuah keharusan yang harus dipenuhi sehingga tujuan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada publik dapat dipenuhi. Kebutuhan perangkat penunjang ini didasarkan atas kondisi dan keadaan yang terdapat di BPTPM Kota Cilegon itu sendiri, diantaranya yaitu kondisi infrastruktur yang membutuhkan pengguna komputer yang saling terhubung satu dengan yang lainnya (Computer network dalam bentuk WNA/LAN) dengan menggunakan teknologi client-server, pencatatan dan pembuatan dokumen yang terdapat di BPTPM Kota Cilegon serta kebutuhan akan sebuah aplikasi sistem informasi yang terkomputerisasi untuk menunjang kinerja dalam mengelola data-data perizinan. Guna memberikan nilai positif dalam meningkatkan pelayanan BPTPM Kota Cilegon terhadap publik maka dipandang perlu dengan dibangunnya sebuah perangkat aplikasi yaitu Sistem Informasi Manajemen Perizinan Terpadu
(SIMPADU)”(Wawancara dengan M. Dedi Jauhari, 13 Agustus Pukul 02.50 WIB, di kantor BPTPM Kota Cilegon).
Dari pernyataan bapak M. Dedi Jauhari di atas menggambarkan bahwa jaringan komputer yang mendunia telah terbukti sangat mempermudah para
penggunanya untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber dan juga berbagi informasi yang dimilikinya dengan berbagai pihak serta mengakses file tanpa dibatasi oleh jarak, waktu atau ruang. Tiap SKPD khususnya BPTPM Kota Cilegon membutuhkan fasilitas teknologi salah satu diantaranya ialah Computer Networkdan teknologi penunjang lainnya.SIMPADU ini merupakan salah satu jawaban untuk menjawab beberapa permasalahan yang terjadi dalam pelayanan publik dengan mengandalkan jaringan teknologi internet.Dalam pembangunan SIMPADU, BPTPM Kota Cilegon bekerjasama dengan PT. Mitra Kawasa Bandung.Pembangunan SIMPADU adalah pembuatan suatu sistem yang berfungsi untuk mengelola proses-proses perizinan di lingkungan BPTPM Kota Cilegon sendiri, jadi keberadaann aplikasi SIMPADU ini diharapkan mampu menunjang kinerja intern BPTPM Kota Cilegon dalam mengelola data-data perizinan sehingga dapat mengeluarkan informasi yang tepat guna bagi semua pihak. Melalui aplikasi ini proses pengelolaan perizinan dapat lebih optimal dari segi penanganan data perizinan, kecepatan proses, pencetakan laporan dan dokumen perizinan serta kemudahan dalam mendapatkann informasi perizinan yang dibutuhkan.SIMPADU di BPTPM Kota Cilegon diharapkan mampu mengelola 50 jenis layanan perzinan dan non perizinan serta data-data yang terkait dengan setiap izin.
Adapun spesifikasi aplikasi SIMPADU terdiri dari sub system besar dengan beberapa fungsi sebagai berikut:
1. Sub system yang berfungsi mengelola/memproses data permohonan perizinan masyarakat dari mulai proses pendaftaran sampai dengan terbitnya Surat Keputusan, dimana dalam prosesnya dengan sistem Single Identification Number dengan media barcode.
2. Sub system yang berfungsi untuk mengelola dan menyajikan data dan informasi perizinan yang dapat diakses melalui internet (berbasis web) yang berupa data pemohon, status permohonan, prosedur permohonan termasuk formulir pendaftaran online bagi masyarakat. Sub system ini juga dapat memfasilitasi pihak pimpinan pemerintah daerah dan pimpinan lain yang terkait yang berhubungan dengan data-data dan informasi perizinan yang diperlukan oleh pihak eksekutif/pimpinan.Feature sistem SIMPADU dapat diakses melalui web yang mempunyai beberapa fasilitas diantaranya:
a. Pemohon memiliki single id berupa no induk pemohon;
b. Sistem mendigitalisasikan paper persyaratan dan disimpan kedalamdata store;
c. Masyarakat dapat mendaftarkan permohonan perizinan dari web; d. Pemohon dapat melihat status permohonan perizinan dari web; e. Masyarakat dapat melihat persyaratan permohonan perizinan dari
web;
f. Pemohon dapat menggunakan persyaratan yang sudah ada sebelumnya untuk permohonan yang lain;
g. Pemohon dapat mengajukan permohonan izin yang berbeda secara paralel.
Kemudian maksud dan tujuan SIMPADU di sampaikan oleh M. Dedi Jauhari selaku kepala sub bidang perizinan dasar dan lainnya (I1) sebagai berikut:
“Maksud dari pembuatan sistem ini adalah untuk memberikan layanan
terpadu yang diselenggarakan oleh BPTPM Kota Cilegon terhadap masyarakat luas sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan terhadap publik. Adapun tujuan dari kegiatan ini ialah pertama, agar terbangunnya Sistem Informasi Manjemen Perizinan Terpadu (SIMPADU) yang dikelola oleh BPTPM Kota Cilegon dapat berjalan dengan baik dan tersusun secara sistematis, efektif dan efisien. Kedua, termilikinya pusat data perizinan yang memiliki format baku dan standar dalam penyusunan sistem administrasi, sehingga memudahkan dalam pengelolaan data baik terpusat maupun tersebar. Ketiga, Sistem Informasi Manajemen Perizinan Tepadu (SIMPADU) yang memberikan informasi dan dapat membantu kemudahan layanan secara online oleh masyarakat luas. Terakhir, beroperasinya sistem dengan terpenuhinya perangkat lunak pendukung dan beserta perangkat kerasnya”(Wawancara dengan M. Dedi Jauhari, 13 Agustus Pukul 03.15 WIB, di kantor BPTPM Kota Cilegon).
Tabel 4.4 Realisasi Anggaran kegiatan Penyusunan SIMPADU BPTPM Kota Cilegon Tahun 2014
No. Belanja Langsung Jumlah (Rp)
A Belanja Pegawai
- Honorarium Pegawai Negeri Sipil (PNS)
Rp 5,300,000 B Belanja Barang dan Jasa
- Belanja Bahan Pakai Habis Kantor - Belanja Cetak dan Pengadaan - Belanja makanan dan minuman - Belanja Jasa Konsultasi dan
penyusunan SIMPADU PT. Mitra Kawasa Bandung Rp 1,638,000 Rp 1,750,000 Rp 1,600,000 Rp 376,250,000 Total Rp 386,538,000
Sumber : Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) BPTPM Kota Cilegon Tahun Tahun 2014
Berdasarkan temuan hasil lapangan, pengadaan teknologi dan informasi di BPTPM Kota Cilegon belumlah berjalan dengan optimal.Hal tersebut dapat didukung dengan hasil temuan wawancara dengan Riza Pahlevi selaku legal and licenses office PT. KIEC (I6) sebagai berikut:
“Ternyata itu masih slogan saja, masih kadang ya kita sih harapannya harus konsisten ya aturannya dibuat, kalau 14 hari ya 14 hari paling lambat 1 hari lah, kalau inikan masih tarik menarik sama begitupun investor itu masih memerlukan itu juga istilahnya masih ada biaya-biaya yang diluar dugaan gitu ya, tak terduga gitu. Kalau untuk perizinan KIEC-nya yang berhubungan dengan langsung BPTPM sih saya ya dengan teman-teman lain kalau untuk memonitor proses administrasi, isi data, kelengkapan data, kita yang menyiapkan.” (Wawancara dengan Riza Pahlevi, 4 Agustus 2015, pukul 11:43, di Wisma Krakatau, Cilegon).
Dari pernyataan bapak Riza di atas menggambarkan pengadaan teknologi di BPTPM Kota Cilegon belum mencapai hasil yang diinginkan yaitu tidak adanya kepastian dalam pelayanan salah satunya yang telah dialami PT. KIEC waktu penyelesaian perizinan tidak sesuai dengan standar pelayanan minimal. Hal serupa dialami pula oleh Bambang Tridasono selaku Manajer Food Beverage and Engineering (I5) sebagai berikut:
“Berhubungan dengan waktu pembuatan ini yang mau saya bilang ya, ternyata waktu yang dijanjikan tidak sesuai SOP yang telah ditetapkan seperti di tampilkan di plang kantor BPTPM Kota Cilegon. Misalnya, untuk Izin Prinsip PMDN dijanjikan selesai 3 hari jam kerja, tetapi hal tersebut tidak dibuktikan seperti itu kemarin saya mengajukan berkas permohonan tanggal 29 Mei tahun 2015 dan Surat Keputusannya baru keluar tanggal 8 Juni 2015”(Wawancara dengan Bambang Tridasono, 3 Juli 2015, pukul 10.10 WIB, di Cilegon City Hotel, Cilegon).
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas serta pernyataan bapak Bambang memperkuat hasil temuan lapangan bahwa BPTPM Kota Cilegon masih belum bisa memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat. Hal ini belumlah sesuai apa yang menjadi tugas pokok BPTPM Kota Cilegon yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 18 Tahun 2011 tentang pembentukan dan susunan organisasi BPTPM Kota Cilegon menyelenggarakan pelayanan administrasi di bidang perizinan secara terpadu dengan prinsip salah satunya ialah kepastian. Seperti apa yang telah disampaikan oleh M. Dedi Jauhari selaku kepala sub bidang perizinan dasar dan lainnya (I1) sebagai berikut:
“Sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kota Cilegon No.18 Tahun 2011 tentang pembentukan dan Susunan Organisasi BPTPM Kota Cilegon, mempunyai tugas pokok melaksanakan koordinasi dan menyelenggarakan
pelayanan administrasi di bidang perizinan secara terpadu dengan prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi, simplikasi, keamanan dan kepastian”.(Wawancara dengan M. Dedi Jauhari, 13 Agustus Pukul 02.50 WIB, di kantor BPTPM Kota Cilegon).
Pengadaan teknologi sebagai sarana pendukung pelayanan yaitu SIMPADU belumlah siap di laksanakan oleh BPTPM Kota Cilegon untuk meningkatkan mutu pelayanan. Seperti apa yang diungkapkan oleh bapak Sapiudin selaku Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian sebagai berikut:
“Disini juga kan kita baru buat kemarin Sistem Informasi Manajemen Terpadu (SIMPADU) sudah ada.Tapi kan belum bisa di akses terkait SOP belum selesai semua, bidang perizinan jasa usaha, bidang penanaman modal, jasa umum, bidang informasi pengaduan”.(Wawancara dengan Sapiudin, 12 Agustus Pukul 03.25 WIB, di kantor BPTPM Kota Cilegon).
Berdasarkan hasil wawancara di atas, BPTPM Kota Cilegon belumlah melaksanakan fungsi dari SIMPADU walaupun SKPD telah mengeluarkan kegiatan anggaran dalam program kegiatan penyusunan SIMPADU sebesar Rp 386.538.000 (Tiga Ratus Delapan Puluh Enam Juta Lima Ratus Tiga Puluh Delapan Ribu Rupiah). Hal ini disebabkan terkait penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) di BPTPM Kota Cilegon belumlah selesai di beberapa bidang perizinan yang meliputi Bidang Perizinan Jasa Usaha, Bidang Perizinan Jasa Umum, Bidang Penanaman Modal dan Bidang Informasi dan Pengaduan. Hasil temuan lapangan ini diperkuat oleh pernyataan yang diungkapkan oleh M. Dedi Jauhari selaku Kepala Sub Bidang Perizinan Dasar dan Lainnya sebagai berikut:
“Cuma SIMPADU masih belum kita jalankan karena masih ada
kekurangan-kekurangannya mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) di tiap-tiap bidang terus dirubah-ubah belum fix kemarin banyak izin yang ditarik ke Provinsi berapa izin. SOP ini masih harus dievaluasi dan pembenahan. Makanya dirubah lagi kan, sistem susah harus di ubah
lagi semua. Kan di sistem ada banyak macam bidang”.(Wawancara dengan M. Dedi Jauhari, 13 Agustus Pukul 02.50 WIB, di kantor BPTPM Kota Cilegon).
Mengenai pelaksanaan SIMPADU haruslah menunggu penyelesaian SOPBPTPM Kota Cilegon. Adapun penyusunan SOP yang di buat oleh BPTPM Kota Cilegon merupakan kewajiban SKPD untuk mengimplementasikan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2011 tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) di Lingkungan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota.SOP adalah suatu standar/pedoman tertulis yang di pergunakan untuk medorong dan menggerakan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. Tujuan SOP agar pertugas atau pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas atau pegawai atau tim dalam organisasi kerja. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi.Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas atau pegawai terkait.Melindungi organisasi kerja dan petugas pegawai dari malpraktik atau kesalahan administrasi lainnya. Pentingnya penyelesaian SOP untuk menunjang berjalannya SIMPADU agar terhindar dari malpraktik dalam suatu organisasi kerap disampaikan oleh Sapiudin selaku Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian (I2) sebagai berikut:
“Disini juga kan kita baru buat kemarin Sistem Informasi Manajemen Terpadu (SIMPADU) sudah ada. Tapi kan belum bisa di akses terkait SOP belum selesai semua, bidang perizinan jasa usaha, bidang penanaman modal, jasa umum, bidang informasi pengaduan, kan nanti ada pengaduan juga bisa online kalau pengaduan itu dari nomor register di Front Office yang jadi passwordnya dibuka klik, pengaduan kalau ga pake password orang bikin izin, ga bikin izin orang ngadu padahal dia ga bikin izin. Jadi yang izinnya langsung yang ada pengaduan.Nanti ada passwordnya.Ingin kita sih kedepan gitu izin nanti pake barcodenya, pengaman.Kan takut dimanipulasi segala macam untuk pengaman segala macam”.(Wawancara dengan Sapiudin, 12 Agustus Pukul 03.25 WIB, di kantor BPTPM Kota Cilegon).