Kelincahan adalah kemampuan mempercepat, memperlambat, serta mengubah sebuah arah gerakan dengan tidak kehilangan keseimbangan. Di dalam permainan bolabasket, kelincahan sangat dibutuhkan dalam teknik mengubah arah dengan gerakan yang sangat cepat.
Dengan karakteristik permainan bolabasket yang terus bergerak dengan cepat, kelincahan sangat dipengaruhi oleh faktor kecepatan, kekuatan otot, fleksibilitas, keseimbangan, koordinasi neuromuskular, dan kecepatan reaksi.
b. Faktor – faktor yang mempengaruhi kelincahan
Peningkatan kelincahan dapat diperoleh jika terjadi peningkatan pada faktor-faktor yang mempengaruhi kelincahan tersebut. Berikut ini akan dibahas faktor-faktor yang mempengaruhi kelincahan :
1) Kecepatan
Kecepatan merupakan kemampuan seseorang dalam bergerak sehingga terciptanya gerakan yang berkesinambungan dalam bentuk yang sama dan dilakukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kecepatan bagian dari prinsip paling penting dalam permainan bolabasket. Karena dengan adanya ruang lingkup lapangan yang kecil, pemain bolabasket diharapkan mampu terus bergerak dengan cepat, agar terciptanya peluang dalam menciptakan ruang. Terdapat dua tipe kecepatan yaitu :
(a) Kecepatan reaksi
Kecepatan reaksi adalah kapasitas awal pergerakan tubuh untuk menerima rangsangan secara tiba-tiba atau cepat.
(b) Kecepatan bergerak
Kecepatan bergerak adalah kecepatan berkontraksi dari beberapa otot untuk menggerakan anggota tubuh secara cepat.
Dari kedua tipe kecepatan di atas, tipe yang kedua adalah yang lebih diperlukan dalam kelincahan (agility).
2) Kekuatan otot
Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau group otot menghasilkan tegangan dan tenaga selama usaha maksimal baik secara dinamis maupun statis (Kisner, 2007). Kekuatan otot juga merupakan kemampuan sekelompok otot untuk melakukan satu kali kontraksi secara maksimal melawan beban.
Otot dalam berkontraksi dan menghasilkan tegangan sangat memerlukan suatu tenaga atau kekuatan. Dimana kekuatan mengarah kepada output tenaga dari kontraksi dan secara langsung berhubungan dengan jumlah tension yang dihasilkan oleh kontraksi otot, sehingga
meningkatnya kekuatan otot berupa level tension, hipertropi, dan rekruitmen serabut otot.
Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara fisiologi cross-sectional area dan tegangan maksimal otot ketika dilakukan stimulasi elektrik, “kekuatan otot-otot skeletal manusia dapat menghasilkan kekuatan kurang lebih 3-8 kg/cm2 pada cross-sectional area tanpa memperhatikan jenis kelamin (McArdle, 2008). Namun variabilitas cross-sectional area pada suatu otot akan berbeda setiap saat karena pengaruh latihan dan inaktifitas.
Kekuatan selain dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, dapat dipengaruhi juga oleh beberapa faktor, seperti : faktor biomekanik, neuromuskular (ukuran cross-sectional otot, mototr unit revruitment, tipe kontraksi, jenis serabut otot, dan kecepatan kontraksi), faktor metabolisme (ketersediaan energi) dan faktor psikologis.
Karena kekuatan merupakan salah satu komponen dari kecepatan, maka semakin besar kekuatan dalam melakukan suatu gerakan, semakin besar pula tenaga eksplosif yang terjadi sehingga akan mampu meningkatkan kelincahan. Terdapat 3 klasifikasi kekuatan yaitu :
(a) Kekuatan maksimum (maximum strength)
Kekuatan ini memiliki ciri jika seseorang hanya mampu mengangkat sekali saja beban yang diberikan dan tidak mampu mengangkat lagi tanpa beristirahat terlebih dahulu, atau dalam istilah kebugaran biasa disebut sebagai 1 RM (1 repetition maximum).
(b) Kekuatan yang cepat (elastic atau speed strength)
Tipe kekuatan ini memiliki ciri jika seseorang mampu mengangkat beban dalam jumlah yang besar dengan segera (dalam satuan waktu yang kecil). Dalam istilah yang umum kecepatan ini dapat disebut daya ledak (explosive power).
(c) Daya tahan kekuatan (strength endurance)
Tipe kekuatan ini memiliki ciri jika seseorang mampu mengangkat beban dalam jumlah yang besar berulang-ulang dalam waktu yang lama.
3) Fleksibilitas
Fleksibilitas adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang gerak sendi dalam jangkauan gerakan penuh dan bebas. Fleksibilitas sangat membantu dalam memberikan hasil gerakan yang terkoordinasi dan efisien. Selain itu fleksibiltas mampu memperluas ruang gerak untuk mengurangi dan menghindari cidera. Kelenturan diarahkan kepada kebebasan luas gerak sendi atau ROM dan menjadi salah satu faktor penting dalam mempengaruhi tingkat kelincahan.
Semakin lentur jaringan otot atau jaringan yang secara bersama-sama bekerja seperti sendi, ligamnet, dan tendon maka juga akan di dapat dalam peningkatan kelincahan.
Apabila seseorang melakukan latihan kekuatan sangat berpengaruh terhadap fleksibilitas, begitu juga sebaliknya seseorang melakukan latihan fleksibiltas akan berpengaruh terhadap kekuatan. Kekuatan dan fleksibilitas merupakan komponen dari kecepatan, sehingga mampu meningkatkan kelincahan.
Kelentukan dapat dikembangkan melalui latihan peregangan (stretching), yang modelnya terdiri atas :
(a) Peregangan dinamik (Dynamic stretch)
Peregangan dinamik sering disebut peregangan balistik yaitu peregangan yang dilakukan dengan menggerakkan tubuh atau anggota tubuh secara berirama (merengut-rengutkan badan).
(b) Peregangan static (Static stretch)
Cara lain untuk mengembangkan kelentukan adalah dengan latihan peregangan statis (static stretching). Dalam latihan static stretch, pelaku mengambil sikap sedemikian rupa dengan latihan meregangkan suatu kelompok otot tertentu.
(c) Peregangan pasif
Dalam metode ini pelaku merilekskan suatu kelompok otot tertentu, kemudian temannya membantu meregangkan otot tersebut, secara perlahan-lahan sampai titik fleksibilitas maksimum tercapai, tanpa
keikutsertaan secara aktif dari pelaku. Sikap regang ini dipertahankan selama kira-kira 20-30 detik.
(d) Proprioceptive Neuromuscular Facilitation
Pada peregangan cara PNF ini diperlukan adanya bantuan dari orang lain (pasangan) atau menggunakan peralatan lain untuk membantu memudahkan gerakan peregangan agar mencapai target. Bantuan dari orang lain atau peralatan bertujuan untuk membantu meregangkan otot hingga mencapai posisi statis dan dapat dipertahankan posisinya dalam beberapa waktu. Dengan demikian orang yang melakukan peregangan, otot-ototnya akan melawan tenaga (gaya) dari pasangannya (peralatan yang dipakai) dalam bentuk kontraksi otot secara isometrik. Untuk itu sasaran otot yang diregangkan dengan cara PNF bersifat antagonis (berlawanan).
4) Keseimbangan
Keseimbangan merupakan kemampuan dalam mempertahankan keseimbangan tubuh ketika ditempatkan diberbagai posisi.
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi atas dasar dukungan, biasanya ketika dalam posisi tegak.
Keseimbangan terbagi menjadi dua kelompok yaitu statis dan dinamis.
Keseimbangan statis adalah kemampuan untuk mempertahankan posisi tubuh dmna pusat gravitasi tidak berubah. Contoh keseimbangan statis saat berdiri dengan menggunakan satu kaki, menggunakan papan keseimbangan. Keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk mempertahankan posisi tubuh dimana pusat gravitasi selalu berubah, contohnya ketka berjalan.
Keseimbangan merupakan integrasi yang kompleks dari sistem somatosensorik (vestibular, visual, propioceptor) dan motorik muskuloskeletal(otot, sendi, dan jaringan lunak) yang keseluruhan kerjanya diatur oleh otak terhadap respon atau pengaruh internal dan ekternal tubuh. Bagian otak yang mengatur meliputi basal ganglia, cerebellum, area assosiasi. Sebagai respon terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal, keseimbangan juga dipengaruhi oleh faktor lain
seperti usia, motivasi, kognisi, lingkungan, kelelahan, pengaruh obat, dan pengalaman terdahulu.
Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan kestabilan postur oleh aktivitas motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan sistem regulasi yang berperan dalam pembentukan keseimbangan. Tujuan tubuh mempertahankan keseimbangan adalah untuk menyanggah tubuh melawan gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar sejajar dan seimbang dengan bidang tumpu, serta menstabilisasi bagian tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak. Keseimbangan terbagi menjadi dua :
(a) Keseimbangan Statis
Keseimbangan statis adalah kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan dalam posisi tetap.
(b) Keseimbangan Dinamis
Keseimbangan dinamis adalah kemampuan mempertahankan keseimbangan pada waktu melakukan gerak satu posisi kearah posisi lain.
5) Koordinasi Neuromuskular
Koordinasi neuromuscilar merupakan kemampuan untuk mengintegrasi indera (visual, auditori, dan propioceptive untuk mengetahui jarak pada posisi tubuh) dengan fungsi motorik untuk menghasilkan akurasi dan kemampuan bergerak.
Dalam bukunya Nurhasan (2005:21) mengemukakan bahwa komponen koordinasi menjadi dasar bagi usaha belajar yang bersifat sensomotorik. Makin tinggi tingkat kemampuan koordinasi akan makin cepat dan efektif dalam mempelajari suatu gerakan.
Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005:139) “Koordinasi merupakan hasil perpaduan kinerja dari kualitas otot, tulang dan persendian dalam menghasilkan satu gerakan yang efektif dan efisien”.
6) Kecepatan Reaksi
Menurut Wahjoedi (2000), “kecepatan reaksi adalah waktu yang diperlukan untuk memberikan respon kinetik setelah menerima suatu stimulus atau rangsangan. Karena melalui rangsangan (stimulus) reaksi tersebut mendapat sumber dari : pendengaran, pandangan (visual), rabaan maupun gabungan antara pendengaran dan rabaan”.
Kecepatan reaksi sangatlah penting dalam kecepatan bergerak. Jika waktu yang diperlukan untuk memberikan respon kinetik atas suatu stimulus atau rangsangan cepat, maka hal ini akan mengakibatkan terjadinya kecepatan dalam melakukan suatu pergerakan, yang dapat meningkatkan kelincahan. Dalam permainan bolabasket yang memiliki faktor luas lapangan yang cukup kecil dan karakteristik permainan yang sangat rumit, maka kecepatan sangat diperlukan dalam efisiensi gerakan.
c. Fisiologi Kerja Kelincahan Pada Pemain Bolabasket
Permainan bolabasket merupakan permainan yang memerlukan gerakan cepat dengan waktu yang cukup serta memiliki ruang gerak yang sempit.
Dalam permainan bola basket, terdapat 5 posisi utama pemain, yaitu center power forward, small forward, shooting guard, dan point guard dan biasa juga disebut small man dan big man. Dimana small man terdiri dari (point guard, shooting guard dan small forward) dan big man terdiri dari (power forward dan center).
Setiap pemain bolabasket diharuskan untuk terus melakukan pergerakan yang terus menerus tanpa adanya kehilangan sebuah keseimbangan, sehingga di dalam permainan bolabasket sangat dibutuhkan kelincahan untuk melewati pemain lainnya. Fisiologi kerja adalah ilmu yang mempelajari fungsi atau faal tubuh manusia pada saat bekerja. Untuk membahas mengenai fisiologi kerja kelincahan pada seorang pemain bolabasket harus dianalisa terlebih dahulu komponen dasar fisiologi apa saja yang menyusun kelincahan. Kelincahan dikembangkan dari adanya beberapa fungsi dasar, diantaranya adalah sistem skelet, sistem muskular, dan sistem
nervosum atau persarafan. Sistem skelet terletak pada persendiannya dalam bentuk luas pergerakan persendian (Fleksibilitas).
Pada permainan bolabasket, kelincahan sangat diperlukan dalam melakukan gerakan-gerakan, khususnya pada gerakan seperti menggiring bola (dribbling), dan berlari pindah arah (pivot). Dalam melakukan semua gerakan tersebut sangat diperlukan adanya sistem muscular, yang memiliki fungsi utama untuk kontraksi otot. Timbulnya kontraksi otot dimulai dengan adanya potensial aksi di dalam serabut-serabut otot. Potensial aksi ini menimbulkan arus listrik yang menyebar ke bagian dalam serabut, dimana menyebabkan dilepaskannya ion-ion kalsium dan reticulum sarkoplasma.
Selanjutnya ion-ion kalsium menimbulkan adanya peristiwa kimia untuk proses kontraksi.
Serabut-serabut otot dirangsang oleh serabut-serabut saraf bermielin besar. Serabut-serabut ini melekat pada serabut-serabut otot rangka dalam hubungan saraf otot (neuromuskular junction) yang terletak pada pertengahan otot. Ketika potensial aksi sampai pada neuromuskular junction, terjadi depolarisasi dari membrane saraf, menyebabkan dilepaskan acethylcholin, kemudian akan terikat pada motor end plate membrane, menyebabkan terjadinya ikatan actin-myosin yang akhirnya menyebabkan kontraksi otot. Oleh karena itu, potensial aksi menyebar dari tengah serabut kearah kedua ujungnya, sehingga kontraksi hampir bersamaan terjadi di seluruh sarkomer otot.
Ketika suatu otot berkontraksi, maka akan terjadi suatu gerakan. Pada permainan bolabasket gerakan yang terjadi merupakan gerakan yang cepat dalam merubah arah, posisi tubuh, dan tanpa adanya kehilangan keseimbangan. Dalam hal ini sangat diperlukan kekuatan otot, fleksibilitas (kelentukan), dan keseimbangan (balance).
Saat bergerak dari satu sisi yang lainnya dengan cepat dan tanpa kehilangan keseimbangan, baik dengan bola maupun tanpa bola. Hal ini membutuhkan koordinasi dan konsentrasi yang tinggi atau dengan kata lain dibutuhkan adaptasi neuromuskular. Adaptasi ini disebabkan oleh adaptasi sistem persarafan (nervosum) yaitu terjadinya peningkatan presentase
aktivasi motor unit, perubahan fungsi pada kontraktil yaitu peningkatan momen gaya kontraksi otot (twitch torque), dan terjadi hipertropi otot, serta terjadinya peningkatan pada koordinasi sistem ketrampilan motorik. Selain itu sistem persarafan (nervosum) pada seorang pemain bolabasket dibutuhkan untuk mengkoordinasikan fungsi otot untuk menghasilkan ketepatan gerak.