1.4. Manfaat Penelitian
2.1.1.1. Kelompok dan Dinamika Kelompok
Beberapa konsep tentang kelompok yang dikemukakan oleh pakar dapat kita jumpai, baik yang membahas dari sudut pandang sosiologis, antropologis, maupun dari sudut pandang psikologis. Beberapa konsep tentang kelompok antara lain: Soedijanto(1981), mengemukakan bawa definisi kelompok adalah ”dua atau lebih orang yang berhimpun atas dasar adanya kesamaan, berinteraksi melalui pola/struktur tertentu guna mencapai tujuan bersama dalam kurun waktu yang relatif panjang”. Hubungan antara dua orang atau lebih individu ini dinyatakan oleh Gunardi sebagaimana dikutip oleh Soedijanto(1981) adalah ”mereka yang mempunyai beberapa kesamaan obyek perhatian, berinteraksi secara mantap, bersama menyusun suatu struktural, dan bersama berpartisipasi dalam kegiatan- kegiatan tertentu”. Ungkapan yang hampir sama dikemukakan oleh Gerungan (1978) bahwa kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri dari dua orang atau lebih yang telah mengadakan interaksi yang intensif dan teratur sehingga diantara mereka terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu yang khas bagi kesatuan tersebut. Tidak berbeda dengan pandangan Syamsu, dkk (1990) kelompok sebagai kumpulan dua orang atau lebih, yang secara intensif dan teratur selalu mengadakan interaksi sesama mereka untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan, dan secara sadar mereka merasa bagian dari kelompok yang memiliki norma tertentu, peranan, struktur fungsi dan tugas masing-masing anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas jelaslah bahwa kelompok merupakan kumpulan orang-orang yang menyatukan diri karena adanya kesamaan tujuan yang hendak dicapai. Kemudian Horton dan Hunt (1999) mendefinisikan bahwa kelompok merupakan setiap perkumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Dari beberapa pengertian
12
adalah adanya interaksi dan saling ketergantungan, serta memiliki kepentingan bersama dan tujuan bersama. Kelompok-kelompok sosial timbul karena manusia dengan sesamanya mengadakan hubungan yang langgeng untuk suatu tujuan atau kepentingan bersama (Soemardjan dan Soemardi, 1964). Menurut pengertian sosiologis kelompok sosial adalah kumpulan individu-individu yang mempunyai hubungan dan saling berinteraksi satu sama lain, dimana didalamnya terdapat ikatan perasaan yang relatif sama.
Kelompok-kelompok dalam sistem sosial bukan merupakan kelompok yang statis, karena setiap kelompok sosial cepat atau lambat hampir dapat dipastikan akan mengalami perubahan dan perkembangan. Sistem sosial merupakan entitas sosial yang dicirikan oleh individu-individu atau unit sosial lainnya yang berproses secara fungsional saling terkait satu sama lain. Menurut Cartwright dan Zander (1968) salah satu orientasi teoritis dalam mempelajari dinamika kelompok yaitu pendekatan teori sistem. Dalam pandangan ini kelompok dilihat sebagai suatu sistem yaitu merupakan sistem orientasi, sistem saling keterhubungan dari posisi-posisi dan peran-peran, dan sistem komunikasi. Kelompok dipandang sebagai sistem yang terbuka, yang dianalogikan dari konsep biologi. Teori sistem menekankan kepada berbagai jenis input ke dalam sistem dan output keluar sistem. Menurut Slamet (2006), sistem sosial adalah suatu kesatuan dari banyak unsur yang dapat menghasilkan suatu output tertentu. Sistem terbentuk oleh adanya komponen atau unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain membentuk suatu jaringan. Masing-masing komponen mempunyai fungsi sendiri yang berbeda satu dengan lainnya. Fungsi komponen yang satu dipengaruhi oleh fungsi komponen lain yang berhubungan dengannya. Kelompok sebagai sistem sosial memiliki beberapa ciri misalnya dalam kelompok terdapat orang-orang yang saling berinteraksi; mempunyai pola perilaku yang teratur dan sistematis; bisa diidentifikasi bagian-bagiannya; dan bisa dilihat sebagai sistem sosial. Sistem sosial terdiri dari interaksi yang terpola dari para anggotanya. Sistem sosial merupakan interaksi dari beragam individu yang hubungannya satu dengan yang lain diorientasikan kepada definisi dan mediasi dari pola simbol- simbol terstruktur dan harapan-harapan. Dalam sistem sosial, terdapat interaksi yang spesifik antara anggota dan bukan anggota(Loomis&Loomis, 1961).
Kelompok - kelompok sosial bersifat dinamis dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, selalu bergerak dan aktif. Dalam sosiologi gerak perubahan dan pergerakan kekuatan yang ada dalam kelompok lazim disebut Dinamika Kelompok. Menurut Soekanto S (1990) definisi dinamika kelompok di dalam kelompok sosial cenderung tidak merupakan kelompok yang statis, akan tetapi selalu berkembang serta mengalami perubahan-perubahan, baik dalam aktivitas maupun bentuknya. Dinamika kelompok diartikan sebagai suatu studi yang menganalisis berbagai kekuatan yang menentukan perilaku anggota dan perilaku kelompok yang menyebabkan terjadinya gerak perubahan dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Dinamika kelompok akan mencakup faktor-faktor yang menyebabkan suatu kelompok itu hidup, bergerak, aktif, efektif dalam mencapai tujuan. Selanjutnya menurut Jetkins (1950) dalam Sudaryanti (2002), Dinamika Kelompok merupakan kajian terhadap kekuatan- kekuatan yang terdapat di dalam maupun di lingkungan kelompok yang akan menentukan perilaku anggota kelompok dan perilaku kelompok yang bersangkutan, untuk bertindak atau melaksanakan kegiatan-kegiatan demi tercapainya tujuan bersama yang merupakan tujuan kelompok tersebut. Menelaah dinamika kelompok berarti menelaah kekuatan-kekuatan yang muncul dari berbagai sumber di dalam kelompok, mencoba menerangkan perubahan- perubahan yang terjadi dalam kelompok dan mencoba menemukan serta mempelajari keadaan dan gaya yang dapat mempengaruhi kehidupan kelompok. Lebih lanjut Horton dan Hunt (1999) mengutarakan bahwa dinamika kelompok mempelajari interaksi dalam kelompok dan pemecahan masalah serta pengambilan kesimpulan untuk mencapai pemahaman dan penanggulangan masalah organisasi.
Menelaah dinamika kelompok berarti menelaah kekuatan-kekuatan yang muncul dari berbagai sumber didalam kelompok. Menurut Slamet (1978) dalam Tonny (1988) kekuatan-kekuatan didalam kelompok tersebut, yaitu:
1. Tujuan Kelompok (Group Goals)
Tujuan kelompok merupakan gambaran tentang sesuatu hasil yang diharapkan dicapai oleh kelompok. Untuk mencapai hasil tersebut diperlukan
14
tujuan kelompok karena kelompok mempunyai tujuan yang jelas dan anggota kelompok mengetahui arah kelompok. Akibatnya tujuan kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok menjadi kuat karena kegiatan anggota kelompok.
Anggota kelompok yang berorientasi kepada kelompoknya (group oriented
motives) menggambarkan kesetiaan atas kelompok sehingga dengan tercapainya tujuan kelompok mengakibatkan masing-masing anggota kelompok merasa puas. Tujuan kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok menjadi semakin lemah jika tujuan kelompok semakin tidak mendukung tujuan anggota kelompok.
2. Struktur Kelompok (Group Structure)
Struktur kelompok yaitu hubungan antara individu-individu di dalam kelompok yang disesuaikan dengan posisi dan peranan masing-masing individu. Kelompok yang telah memiliki struktur yaitu kelompok yang telah memiliki hubungan yang stabil antar anggota kelompok. Struktur kelompok berhubungan dengan struktur kekuasaan atau pengambilan keputusan, tugas dan pembagian kerja, struktur komunikasi dan bagaimana aliran komunikasi terjadi dalam kelompok serta sarana bagi kelompok untuk berinteraksi. Struktur kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin lemah jika pengambilan keputusan kelompok semakin didominasi oleh orang-orang tertentu, Struktur tugas menjadi semakin baik jika masing-masing anggota kelompok semakin merasakan terlibat dalam tugas-tugas kelompok. Semakin baik struktur tugas maka struktur kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat. Dalam struktur komunikasi, anggota kelompok menjadi puas jika komunikasi di dalam kelompok lancar dan struktur kelompok menjadi semakin kuat. Sedangkan dalam proses interaksi, struktur kelompok semakin kuat jika semakin besar kemungkinan berinteraksi.
3. Fungsi Tugas (Task Function)
Fungsi tugas adalah segala kegiatan yang harus dilakukan kelompok sehingga tujuannya tercapai. Kriteria yang digunakan untuk melihat fungsi tugas, adalah (1) fungsi memberi informasi, kelancaran arus-arus informasi menunjukkan fungsi tugas berjalan dengan baik sehingga fungsi tugas sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat; (2) fungsi memuaskan anggota, semakin tinggi tingkat kepuasan anggota kelompok mengakibatkan
fungsi tugas sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat; (3) fungsi menyelenggarakan koordinasi, semakin baik penyelenggaraan koordinasi maka fungsi tugas semakin baik yang berarti fungsi tugas sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat; (4) fungsi menghasilkan inisiatif, semakin tinggi tingkat inisiatif kelompok maka fungsi tugas semakin baik yang berarti fungsi tugas sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat; fungsi mengajak untuk berperanserta, semakin sering kelompok mengajak anggotanya berperanserta dalam setiap kegiatan kelompok maka fungsi tugas semakin baik, dan fungsi tugas semakin kuat; fungsi menjelaskan kepada anggota tentang segala sesuatu yang kurang jelas maka fungsi tugas semakin baik. Dengan demikian fungsi tugas sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat.
4. Pembinaan Kelompok (Group Building and Maintenance)
Pembinaan kelompok dimaksudkan sebagai usaha mempertahankan kehidupan kelompok. Usaha mempertahankan kehidupan kelompok dapat dilihat dari (1) peranserta semua anggota kelompok, (2)adanya fasilitas dalam pelaksanaan pembinaan kelompok, (3) adanya kegiatan kelompok, (4)adanya kesempatan mendapatkan anggota baru, dan (5)adanya sosialisasi sebagai proses pendidikan yang membuat anggota mengetahui norma, tujuan dan lain-lainnya didalam kelompok. Apabila semua ciri tersebut ada di dalam kelompok maka pembinaan kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat.
5. Kekompakan Kelompok (Group Cohesion)
Anggota kelompok yang tingkat kekompakan kelompoknya tinggi lebih terangsang untuk aktif mencapai tujuan kelompok dibandingkan anggota kelompok yang tingkat kekompakan kelompoknya rendah. Kekompakan kelompok yaitu adanya keterikatan anggota kelompok terhadap kelompoknya. Tingkat rasa keterikatan yang berbeda-beda menyebabkan adanya perbedaan kekompakan. Tujuh faktor yang mempengaruhi kekompakan kelompok, yaitu : (1)kepemimpinan kelompok dapat menumbuhkan rasa kesamaan diantara anggota kelompok, (2)anggota kelompok menunjukkan kemauan dan saling memilki sehingga kelompok terasa sebagai milik bersama, anggota kelompok memiliki penilaian yang tinggi terhadap tujuan kelompok, rasa kesamaan diantara anggota
16
6. Suasana Kelompok (Group Atmosphere)
Kelompok mempunyai suasana yang menentukan reaksi anggota terhadap kelompoknya. Suasana kelompok yang dimaksud yaitu rasa hangat dan setia kawan, rasa takut dan saling mencurigai, sikap saling menerima dan sebagainya. Kelompok yang suasananya kondusif adalah kelompok yang memiliki suasana dimana anggotanya merasa saling diterima dan dihargai. Demikian juga halnya jika suasana kelompok penuh rasa persahabatan maka kelompok menjadi menarik. Faktor yang mempengaruhi suasana kelompok, yaitu : hubungan antara anggota kelompok, kebebasan berperanserta dan lingkungan fisik.
7. Tekanan Pada Kelompok (Group Pressure)
Tekanan pada kelompok ialah segala sesuatu yang menimbulkan tegangan pada kelompok untuk menumbuhkan dorongan berbuat sesuatu dan tercapainya tujuan kelompok. Sistem penghargaan maupun hukuman bagi anggota kelompok merupakan salah satu tekanan pada kelompok. Memberi penghargaan kepada anggota kelompok yang berbuat baik dan menghukum anggota yang berbuat salah terhadap kelompok menimbulkan ketegangan psikologis sehingga mempengaruhi dorongan berbuat sesuatu demi tercapainya tujuan kelompok.
8. Efektifitas kelompok
Efektifitas kelompok mempunyai pengaruh timbal balik dengan kedinamisan kelompok. Kelompok yang efektif meningkatkan kedinamisan kelompok. Kelompok yang dinamis meningkatkan efektifitasnya. Efektifitas dilihat dari segi : (1) produktivitas, moral dan (2)kepuasan anggota. Tercapainya tujuan kelompok dipakai mengukur produktivitas. Semangat dan sikap anggota dipakai mengukur moral misalnya para anggota merasa bangga dan bahagia berasosiasi dengan kelompoknya. Keberhasilan anggota mencapai tujuan pribadi dipakai mengukur kepuasan anggota. Semakin berhasil kelompok mencapai tujuannya, semakin bangga anggota berasosiasi dengan kelompoknya dan semakin puas anggota karena tujuan pribadinya tercapai, maka kelompok semakin efektif. Dengan demikian efektifitas kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat.
Dinamika kelompok dalam penelitian ini akan dilihat sari 8(delpan) unsur dinamika kelompok, yaitu:
(I)Tujuan
Tujuan kelompok yang dianalisis dilihat dari indikator-indikator yaitu: hubungan tujuan dengan anggota, kejelasan tujuan dan kesepakatan tujuan.
(II) Struktur Kelompok
Indikator yang digunakan untuk melihat struktur kelompok dalam tujuan ini yaitu; struktur kekuasaan, struktur tugas dan struktur komunikasi.
(III). Fungsi Tugas
Dalam melihat fungsi tugas kelompok ini digunakan indikator: pemberian informasi, pemberian dorongan belajar, pemberian penjelasan dan penyalur sarana produksi.
(IV). Pembinaan dan Pemeliharaan Kelompok
Dalam melihat pembinaan kelompok ini digunakan indikator: peningkatan partisipasi, pengadaan fasilitas kelompok, jenis kegiatan kelompok, adanya kontrol sosial, adanya koordinasi dan komunikasi antar anggota kelompok.
(V). Kekompakan Kelompok
Indikator yang digunakan untuk melihat kekompakan kelompok adalah: kerjasama, kinerja pengurus kelompok dan keanggotaan kelompok.
(VI). Suasana Kelompok
Indikator lingkungan fisik dan interaksi dalam kelompok digunakan untuk melihat hal suasana kelompok.
(VII). Tekanan Pada Kelompok
Ada dua indikator untuk melihat tekanan kelompok, yaitu: tekanan dari dalam dan tekanan dari luar.
(VIII) Efektivitas Kelompok
Ada tiga indikator untuk melihat efektivitas kelompok, yaitu: produktivitas kelompok, moral kelompok dan kepuasaan.