• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Kelompok Majelis Ta’lim

Majelis Ta‟lim merupakan sebuah lembaga pendidikan non formal, sebagai lembaga dakwah yang mempunyai peran yang startegis dan penting dalam pengembangan masyarakat. Majelis Ta‟lim sebagai institusi pendidikan yang berbasis masyarakat peran strategisnya terutama terletak dalam mewujudkan learning society, suatu masyarakat yang memiliki tradisi belajar tanpa dibatasi oleh usia jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Namun realitasnya tumbuh dan berkembangnya Majelis Ta‟lim tersebut tidak yang seperti yang diharapkan oleh masyarakat sendiri maupun oleh pemerintah setempat.

Majelis Ta‟lim sebagai bagian penting dari sistem pendidikan nasional.hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Undang Undang Sisdiknas Nomor 20 Bab VI pasal 26 ayat (I) menyatakan bahwa pendidikan non formal diperlukan untuk menambah dan melengkapi pendidikan formal.bahkan pada ayat (4) secara eksplisit disebutkan Majelis Ta‟lim bagian dari pendidikan non formal.hal ini menunjukkan bahwa Majelis Ta‟lim merupakan bagian penting dari sistem pendidikan nasional.

Majelis Ta‟lim sebagai pendidikan non formal dapat bergerak lebih fleksibel terbuka dan menjadi salah satu solusi dan peluang kepada masyarakat untuk menambah dan melengkapi pengetahuan yang kurang atau tidak sempat mereka peroleh pada pendidikan formal, khususnya dalam aspek keagamaan.

Kedudukan Majelis Ta‟lim yang demikian semakin mendapat dukungan dari masyarakat, indikasinya bisa dilihat dengan semakin berkembangnya Majelis Ta‟lim dari tahun ketahun.Menurut data yang diperoleh dari Kanwil Depertemen

15

Agama Provinsi Riau hingga tahun 2006 jumlah Majelis Ta‟lim tercatat mencapai 2.947 lembaga.dalam realitas yang ada. Ada perbedaan antara Majelis Ta‟lim yang dilahirkan masyarakat perkotaan dengan Majelis Ta‟lim yang dilahirkan masyarakat perdesaan.

Sebagai lembaga pendidikan non formal Majelis Ta‟lim berfungsi :

a. Membina, dan mengembangkan ajaran islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah Swt.

b. Sebagai taman rekreasi rohaniah,karena penyelenggaraannya yang santai. c. Sebagai ajang berlangsungnya silaturahmi massal yang dapat menghidup

suburkan dakwah dan ukhuwah islamiah

d. Sebagai sarana dialog bersinambungan antara ulama dan umaro dengan ummat.

e. Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembagunan masyarakat.

Suatu lembaga pendidikan agama dapat disebut Majelis Ta‟lim bila memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Adanya badan yang mengurusi pendidikan secara berkesinambungan.

2. adanya guru/ustad/kiyai/baik seorang maupun lebih yang memberikan pelajaran secara rutin atau berkesinambungan.

3. Adanya peserta atau jamaah yang terus menerus mengikuti pelajaran dalam jumlah yang relatif banyak

4. Adanya kurikulum baik dalam bentuk kitab/buku, pedoman atau rencana pelajaran yang terarah.

5. Adanya kegiatan pendidikan secara teratur dan berkala

6. adanya tempat tertentu untuk penyelenggaraan kegiatan pendidikan.

Ditinjau dari kelompok sosial peserta atau jamaahnya terdapat jenis Majelis Ta‟lim sebagai berikut :

a. Majelis Ta‟lim kaum Bapak, pesertanya khusus terdiri dari kaum Bapak. b. Majelis Ta‟lim kaum Ibu, pesertanya khusus terdiri dari kaum ibu.

c. Majelis Ta‟lim remaja, pesertanya terdiri dari para remaja muda usia, baik pria maupun wanita.

d. Majelis Ta‟lim campuran, pesertanya merupakan campuran tua muda, dan pria wanita.

Ditinjau dari dasar pengikat peserta, Majelis Ta‟lim dapat dibedakan menjadi :

a. Majelis Ta‟lim yang diselenggarakan oleh masjid atau mushalla tertentu.Peserta terdiri dari orang-orang yang berbeda disekitar masjid atau mushalla yang bersangkutan.Jadi faktor pengikatnya adalah persamaan masjid atau mushalla.

b. Majelis Ta‟lim yang diselenggarakan oleh Rukun Warga (RW) atau Rukun Tetangga (RT) tertentu. Peserta terdiri dari warga RW atau RT itu.dengan demikian dasar pengikatnya dalah persamaan wilayah administratif.

c. Majelis Ta‟lim yang diselenggarakan oleh kantor atau instansi tertentu dengan peserta yang terdiri dari para pegawai atau karyawan beserta keluarganya.Dasar pengikatnya adalah persamaan kantor atau instansi tempat bekerja.

d. Majelis Ta‟lim yang diselenggarakan oleh organisasi atau perkumpulan tertentu. pesertanya terdiri dari para anggota atau simpatisan dari organisasi atau perkumpulan tertentu.Jadi dasar pengikatnya adalah anggota atau rasa simpati peserta terhadap organisasi atau perkumpulan tertentu.

Bila ditinjau dari metode penyajian, terdapat Majelis Ta‟lim :

a. Majelis Ta‟lim yang diselenggarakan dengan metode ceramah.metode ini dilaksanakan dengan dua cara pertama ceramah umum,dimana pengajar / ustad/kiyai bertindak aktif dengan memberikan pelajaran atau ceramah,sedangkan peserta fasif, yaitu tinggal mendengar atau menerima materi yang diceramahkan kedua ceramah terbatas dimana biasanya terdapat kesempatan untuk bertanya jawab.jadi baik pengajar/ustad/kiyai maupun peserta sama-sama aktif.

17

b. Majelis Ta‟lim yang diselenggarakan dengan metode halaqah. dalam hal ini pengajar/ustad/kiyai memberikan pelajaran biasanya dengan memegang suatu kitab tertentu.peserta mendengarkan keterangan pengajar sambil menyimak kitab yang sama atau melihat kepapan tulis dimana pengajar menuliskan apa-apa yang hendak diterangkan. Perbedaannya dengan metode ceramah terbatas,dalam metoda halaqah peranan pengajarsebagai pembimbing jamaah jauh lebih menonjol.

c. Majelis Ta‟lim yang diselenggarakan dengan metode muzakarah.metode ini dilaksanakan dengan cara tukar menukar pendapat atau diskusi mengenai suatu masalah yang disepakati untuk dibahas.dalam metode ini pengajar/ustad/kiyai seolah olah tidak ada karena semua peserta biasanya terdiri dari orang-orang yang pengetahuan agamanya setaraf. Namun demikian peserta awam biasanya diberi pula kesempatan mengikutinya sebagai pendengar.

d. Majelis Ta‟lim yang diselenggarakan dengan metode campuran. Artinya satu Majelis Ta‟lim menyelenggarakan kegiatan pendidikan atau pengajian tidak dengan satu metode saja, melainkan dengan berbagai metode secara berselang-selang.

Sampai saat ini kendala utama pembangunan keluarga di Indonesia adalah kemiskinan. Karenanya pembangunan keluarga atau pembangunan manusia dengan menempatkan keluarga sebagai agen atau pelaku pembangunan lengkap dengan delapan fungsi utamanya. Dari delapan fungsi utama tersebut yaitu fungsi keagamaan, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi serta fungsi pemeliharaan lingkungan.([email protected], Laporan Haris, Edition 83/VIII/2007)

Dokumen terkait