AKUNTABILITAS KINERJA
11. Kelompok Minyak/Lemak
Kelompok ini terdiri dari minyak/lemak nabati dan hewani, tahun 2021 kontribusinya terhadap ketersediaan energi perkapita sebesar 575 kkalori/hari.
Berdasarkan data Neraca Bahan Makanan (NBM) Kota Kotamobagu Tahun 2021 bahwa jumlah penyediaan dalam negeri sebesar 275.260 Ton untuk 123.763 Jiwa penduduk Kota Kotamobagu.
Capain Indikator Kinerja Sasaran Ketersediaan Pangan Utama melampaui penetapan target 100% Tahun 2021 yaitu sebesar 222,41%. Capaian Tahun 2021 ini lebih besar dari capaian skor pada Tahun 2020 sebesar 202%.
b. Capaian Kinerja Penanganan Daerah Rawan Pangan
Undang-undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 menyatakan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.
Ketika kondisi pangan bagi negara sampai dengan perorangan tidak terpenuhi maka kondisi yang akan terjadi adalah kondisi kerawanan pangan, sehingga kerawanan pangan dapat diartikan adalah kondisi tidak tersedianya pangan yang cukup bagi individu/perorangan untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Kerawanan pangan juga dapat didefinisikan sebagai kondisi apabila rumah tangga (anggota rumah tangga) mengalami kurang gizi sebagai akibat tidak cukupnya ketersediaan pangan (physical unavailability of food), dan/atau ketidak mampuan rumah tangga dalam mengakses pangan yang cukup, atau apabila konsumsi makanannya (food intake) berada dibawah jumlah kalori minimum yang dibutuhkan.
Terjadinya kondisi kerawanan pangan dapat disebabkan oleh banyak faktor, namun setidaknya dapat disebabkan oleh antara lain: (a) tidak adanya akses secara ekonomi bagi individu/rumah tangga untuk memeperoleh pangan yang cukup;
(b) tidak adanya akses secara fisik bagi individu rumah tangga untuk memperoleh pangan yang cukup; (c) tidak tercukupinya pangan untuk kehidupan yang produktif individu/rumah tangga;
dan (d) tidak terpenuhinya pangan secara cukup dalam jumlah,
mutu, ragam, keamanan, serta keterjangkauan harga. Di samping itu, kerawananan pangan dapat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang ditentukan oleh tingkat pendapatannya.
Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat dan menurunnya daya beli pangan akan memperburuk konsumsi energi dan protein masyarakat.
Situasi pangan dan gizi juga digunakan sebagai kondisi awal tingkat pencapaian pelayanan dasar dan kondisi pencapaian target penanganan daerah rawan pangan yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 65/Permentan/OT.140/12/
2010 tentang Sistem Pelayanan Minimal (SPM) bidang ketahanan pangan di propinsi dan kabupaten/kota khususnya mengenai penanganan kerawanan pangan.
Sejak tahun 2010, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian telah menyempurnakan suatu alat analisis pemantauan situasi pangan dan gizi yang dikenal dengan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian/Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan Nomor 43 Tahun 2010 tentang Pedoman Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi merupakan serangkaian proses untuk mengantisipasi kejadian rawan pangan dan gizi melalui pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi. Hasil SKPG digunakan sebagai dasar pelaksanaan investigasi untuk menentukan tingkat kedalaman kejadian kerawanan pangan dan gizi di lapangan serta intervensi dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan masyarakat.
1. Metode Penilaian Indikator Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
a. Indikator Sektor Pertanian
Indikator Sektor Pertanian dengan menggunakan penilaian terhadap Produksi Setara Beras (PSB) untuk daerah bukan potensi poduksi pangan. Indikator ini diperhitungkan dari dukungan penerimaan sub sektor pangan (padi dan non padi) yang disetarakan dengan Produksi Setara Beras (PSB) dalam memenuhi keperluan pangan pokok. Kemudian dihitung jumlah ketersediaan pangan pokok PSB (beras dan non beras) yang merupakan penjumlahan semua ketersediaan pangan baik dari beras dan non beras yang ada di wilayah (kecamatan) yang diamati. Oleh karena itu langkah-langkah dan data-data yang perlu dilengkapi sebagai berikut :
1. Data produksi tanaman pangan (padi) 1 tahun yang ada dikonversikan menjadi beras dengan konversi 62,74%.
2. Data produksi tanaman pangan non padi yang disetarakan dengan beras.
3. Kebutuhan beras penduduk desa/kecamatan per tahun
4. Perimbangan ketersediaan Produksi Setara Beras dikurangi kebutuhan beras pertahun
5. Data jumlah penduduk Akhir tahun 6. Konsumsi beras perkapita pertahun.
Rasio ketersediaan produksi dibandingkan kebutuhan beras menjadi indikator sebagai berikut :
Skor 1 = apabila rasio > 1,14 (surplus)
Skor 2 = apabila rasio 1,00 – 1,14 (swasembada) Skor 3 = apabila rasio 0,95 – 1.00 (cukup)
Skor 4 = apabila rasio < 0,95 (defisit) Catatan :
Untuk daerah tertentu apabila tersedia pasokan beras dari luar daerah dan atau stock maka diperlukan data tambahan sebagai berikut :
a) Data pasokan bahan pangan (beras) dari luar kecamatan dan atau stock.
b) Total ketersediaan beras (produksi setempat + pasokan).
c) Apabila pasokan bahan berupa pangan non beras maka pasokan dapat dihitung PSB-nya.
b. Indikator Sektor Kesehatan
Indikator Kesehatan dengan melakukan penilaian terhadap Prevalensi KEP (Kurang Energi Protein).
Prevalensi KEP pada balita diperoleh berdasarkan indikator berat menurut umur hasil pemantauan status gizi yang dilakukan 1 tahun sekali :
Prevalensi KEP sebagai berikut : Skor 1 = Prevalensi KEP 20 %
Skor 2 = Prevalensi KEP > 20 % - 30 % Skor 3 = Prevalensi KEP > 30 % - 40 % Skor 4 = Prevalensi KEP > 40 %
c. Indikator Sosial Ekonomi : Keluarga Miskin
Indikator Sosial-Ekonomi dengan melakukan penilaian terhadap data Kepala Keluarga Miskin terdiri dari keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I karena alasan ekonomi. Indikator KK miskin dihitung berdasarkan jumlah keluarga miskin terhadap total keluarga di wilayah yang bersangkutan.
Skor 1 = % Keluarga miskin 0 % - 19,99 % Skor 2 = % Keluarga miskin 20 % - 39,99 % Skor 3 = % Keluarga miskin 40 % - 59,99 % Skor 4 = % Keluarga miskin > 60 %
Selanjutnya skoring ketiga indikator tersebut di atas (pertanian, kesehatan dan sosial ekonomi) dijumlahkan dan disimpulkan tingkat kerawanan dan gizi suatu wilayah.
1. Total skor 9 –12 atau salah satu indikator memiliki skor 4 termasuk wilayah resiko tinggi dalam peta diberi warna merah.
2. Total skor 6 – 8 atau tidak ada diantara ketiga indikator yang memiliki skor 4 termasuk wilayah resiko sedang dalam peta diberi warna kuning.
3. Total skor 3 – 5 atau termasuk wilayah kategori resiko ringan dalam peta diberi warna hijau.
2. Hasil Penilaian Indikator Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
a. Indikator Sektor Pertanian (PSB)
Dari sektor pertanian khususnya komoditas padi sawah, hasil identifikasi produksi padi terlebih dahulu dikonversikan ke dalam satuan beras dengan mengalikan dengan angka koreksi sebesar 62.74%,
yang dilakukan pada masing-masing kecamatan yang ada. Perimbangan Kebutuhan Beras di Kota Kotamobagu Tahun 2021 dapat dilihat sebagai berikut :
No. Kecamatan pertanian dengan komoditas padi secara keseluruhan di wilayah Kota Kotamobagu pencapaian rasio ketersediaan produksi dibandingkan kebutuhan beras mencapai 2.70. Angka indikator 2.70 ini tentunya lebih besar dari angka rasio yang ditetapkan sebesar 1,14.
Dalam kondisi ini dapat dikatakan perimbangan kebutuhan beras di Kota Kotamobagu untuk Tahun 2021 pada indikator katagori Surplus (aman untuk tingkat ketersediaan pangan). Dari hasil perhitungan untuk Kota Kotamobagu dapat dijelaskan sebagai berikut :
No. Kecamatan Skor Keterangan
1. Kotamobagu Utara 1 surplus
2. Kotamobagu Selatan 1 surplus
3. Kotamobagu Timur 1 surplus
4. Kotamobagu Barat 4 defisit
Kota Kotamobagu 1 surplus
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi PSB di Kota Kotamobagu berada dalam kondisi yang aman dengan katagori Surplus dimana terdapat 3 (tiga) kecamatan dengan kondisi surplus dan 1 (satu) kecamatan dengan kondisi defisit. Kecamatan dalam kondisi cukup seperti ini masih perlu mendapat perhatian serius untuk penentuan kebijakan lebih lanjut.
b. Indikator Sektor Kesehatan
Untuk sektor kesehatan, skor indikatornya adalah Prevalensi KEP pada Balita berdasarkan Hasil
Pemantauan Status gizi di Kota Kotamobagu Tahun 2021 berikut ini.
No
. Kecamatan
Jumlah Balita yg Ditimbang Gizi Buruk Gizi Kurang Total % KEP
1. Kotamobagu
Utara 926 0 30 30 3,24
2. Kotamobagu
Selatan 382 0 17 17 4,45
3. Kotamobagu
Timur 432 2 42 44 10,19
4. Kotamobagu
Barat 1.672 0 25 25 1,56
Kota Kotamobagu 3.412 2 115 117 3,43
Prevalensi KEP pada Balita berdasarkan Hasil Pemantauan Status gizi di Kota Kotamobagu Tahun 2021 mencapai 3,43%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah gizi buruk dan gizi kurang terhadap jumlah balita yang ditimbang mengalami resiko ringan dengan angka rasio 3,43. Skor Indikator Sektor Kesehatan di Kota Kotamobagu Tahun 2021 dapat dilihat sebagaimana berikut ini :
No. Kecamatan Skor Keterangan
1. Kotamobagu Utara 1 Resiko Ringan
2. Kotamobagu Selatan 1 Resiko Ringan
3. Kotamobagu Timur 1 Resiko Ringan
4. Kotamobagu Barat 1 Resiko Ringan
Kota Kotamobagu 1 Resiko Ringan
c. Indikator Sektor Sosial Ekonomi
Untuk sektor Sosial Ekonomi data yang dipergunakan berdasarkan hasil perhitungan jumlah KK miskin yang terdiri dari keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I.
Perhitungan jumlah KK Miskin di Kota Kotamobagu Tahun 2021 adalah sebagai berikut :
No. Kecamatan
KK yang didata Pra Sejahtera Sejahtera I Jumlah KK Miskin % RT Miskin
1. Kotamobagu
Utara 748 24 37 61 8.16
2. Kotamobagu
Selatan 1.547 48 71 119 7,69
3. Kotamobagu
Timur 1.451 34 53 87 6.00
4. Kotamobagu
Barat 1.761 97 176 273 15.50
Kota Kotamobagu 5.507 203 337 540 9.81
No. Kecamatan Skor Keterangan
1. Kotamobagu Utara 1 Resiko Ringan
2. Kotamobagu Selatan 1 Resiko Ringan
3. Kotamobagu Timur 1 Resiko Ringan
4. Kotamobagu Barat 1 Resiko Ringan
Kota Kotamobagu 1 Resiko Ringan
Untuk sektor Sosial Ekonomi data yang dipergunakan berdasarkan hasil perhitungan jumlah Kepala Keluarga (KK) Miskin adalah sebanyak 5.507 KK, yang terdiri dari keluarga Pra Sejahtera sebanyak 203 KK dan Sejahtera I sebanyak 337 KK.
d. Indikator Total
Dalam perhitungan hasil indikator SKPG secara keseluruhan/total dengan menggunakan cara perhitungan dengan menggabungkan 3 (tiga) indikator utama yang menjadi penentu dalam kegiatan pelaksanaan evaluasi SKPG ini di suatu wilayah.
Ketiga indikator tersebut terdiri dari :
Indikator Produksi Setara Beras (PSB)
Indikator Sektor Kesehatan (Prevalensi Gizi)
Indikator Sektor Sosial Ekonomi (%KK miskin) Untuk lebih jelasnya mengenai perhitungan Evaluasi Indikator untuk Sektor PSB, Sektor Kesehatan dan
Sektor Sosial Ekonomi di Kota Kotamobagu Tahun 2020 dapat dilihat sebagai berikut ini :
No. Kecamatan
Indikator PSB (B+NB) Indikator Kesehatan Indikator Sosial Ekonomi
Jumlah Skor
Resiko Rawan
Pangan Warna
Skor 1. Kotamobagu
Utara 1 1 1 3 Resiko
Ringan
2. Kotamobagu
Selatan 1 1 1 3 Resiko
Ringan
3. Kotamobagu
Timur 1 1 1 3 Resiko
Ringan 4. Kotamobagu
Barat 4 1 1 6 Resiko
Sedang
Kota Kotamobagu 1 1 1 3 Resiko
Ringan
Untuk perhitungan Indikator SKPG secara total didapatkan bahwa untuk Kota Kotamobagu secara umum berada dalam wilayah kategori resiko ringan yang ditandai dengan skor tingkat kerawanan yang rendah dimana tidak ada kecamatan yang berada dalam tingkat resiko rawan pangan yang tinggi. Namun ada Kecamatan yang perlu dilakukan peningkatan dan pembinaan yang lebih lanjut karena kondisinya berada dalam posisi sedang seperti di Kecamatan Kotamobagu Barat.
Berdasarkan perhitungan indikator SKPG secara total bahwa secara umum Kota Kotamobagu memiliki skor 5 atau kondisi pangan dan gizi dengan tingkat resiko kerawanan ringan (warna hijau).
Capain Indikator Kinerja Sasaran Penanganan Daerah Rawan Pangan Tahun 2021 adalah sebesar 100%. Capaian ini sesuai penetapan target skor 5 dengan capaian sebesar skor 5 pada Tahun 2021. Capaian 2020 sama dengan capaian skor pada Tahun 2020.
Upaya Pemerintah Kota Kotamobagu dalam Penanganan
Daerah Rawan Pangan (PDRP) melalui pendanaan sebesar Rp. 221.700.000,- pada Program Penanganan Kerawanan
Pangan/ Kegiatan Penanganan Kerawanan Pangan Kewenangan Kabupaten/Kota / Sub Kegiatan Pelaksanaan Pengadaan, Pengelolaan, dan Penyaluran Cadangan Pangan pada Kerawanan Pangan yang Mencakup dalam 1 (satu) Daerah Kabupaten/Kota yang bersumber dari APBD Tahun 2021 pada Dinas Ketahanan Pangan Kota Kotamobagu. Substansi kegiatan tersebut adalah pemberian bantuan pangan pada 575 masyarakat miskin rawan pangan yang terdiri Balita Gizi Kurang, Balita Kurus, Balita Stunting dan Lanjut Usia (Lansia) yang tersebar di 33 Kelurahan/Desa se-Kota Kotamobagu.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Kotamobagu menyerahkan 575 paket bantuan pangan (sembako) ke Desa dan Kelurahan (17/7/2021)
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Kotamobagu menyerahkan 575 paket bantuan pangan (sembako) ke Desa dan Kelurahan (16/7/2021)
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Kotamobagu menyerahkan 575 paket bantuan pangan (sembako) ke Desa dan Kelurahan (16/7/2021)
c. Persentase Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan
Urusan pangan merupakan hal yang sensitif, segala hal yang terkait dengan pangan akan menarik perhatian publik, baik dari sisi harga maupun keamanan pangannya. Pangan dibagi tiga golongan yaitu pangan segar, pangan olahan dan pangan siap saji. Pangan segar merupakan pangan yang belum mengalami pengolahan yang dapat dikonsumsi langsung dan/atau yang dapat menjadi bahan baku pengolahan pangan. Buah dan sayuran segar termasuk dalam golongan ini. Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) belakangan ini mendapat perhatian khusus, karena membanjirnya produk buah dan sayuran segar yang berasal luar negeri ke wilayah Indonesia. Pangan Segar Asal Tumbuhan merupakan pangan yang berisiko tinggi terhadap cemaran kimia (residu pestisida, mikotoksin, logam berat) yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
Kebijakan penanganan keamanan pangan diarahkan untuk menjamin tersedianya pangan segar yang aman untuk dikonsumsi agar masyarakat terhindar dari bahaya, baik karena cemaran kimia maupun mikroba yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi dan mendukung terjaminnya pertumbuhan/perkembangan kesehatan dan kecerdasan manusia.
Keamanan pangan merupakan salah satu aspek penting yang menentukan kualitas SDM. Konsumsi pangan
yang beragam, bergizi seimbang tidak akan berarti, jika makanan yang dikonsumsi masyarakat tidak aman dari cemaran kimia maupun mikroba. Pangan yang tercemar mikroba menyebabkan berbagai kasus Penyakit Bawaan Makanan (PBM), seperti diare. Sedangkan pangan yang terkontaminasi cemaran kimia, seperti residu pestisida dan toksin diduga sebagai penyebab penyakit kanker.
Berdasarkan karakteristik tersebut, profil produk pangan umumnya ditentukan oleh ciri organoleptik kritis, misalnya kerenyahan pada keripik. Namun, ciri organoleptik lainnya seperti bau, aroma, rasa dan warna juga ikut menentukan.
Pada produk pangan, pemenuhan spesifikasi dan fungsi produk yang bersangkutan dilakukan menurut standar estetika (warna, rasa, bau, dan kejernihan), kimiawi (mineral, logam-logam berat dan bahan kimia yang ada dalam bahan pangan), dan mikrobiologi (tidak mengandung bakteri Eschericia coli dan patogen). Ada beberapa dampak tersebut adalah Residu Pestisida mempunyai pengaruh yang sangat merugikan terhadap kesehatan manusia dalam jangka panjang. Dapat menyebabkan kanker, cacat dan merusak sistem syaraf, endokrin, reproduktif dan sistem kekebalan.
Dinas Ketahanan Pangan Kota Kotamobagu telah melakukan pengambilan sample pangan untuk diuji dan diperiksa. Dari 90 produk pangan yang diperiksa, tidak ditemukan pangan yang tidak memenuhi persyaratan. Produk pangan tersebut umumnya tidak menggunakan bahan tambahan pangan yang dilarang atau melebihi batas penggunaan sesuai persyaratan sebagaimana yang diatur
dalam Peraturan Menteri Pertanian RI No.53/Permentan/
KR.040/12/2018 tentang Keamanan dan Mutu Pangan Segar Asal Tumbuhan.
Adapun hasil pengujian terhadap komoditi pangan segar asal tumbuhan yang beredar di Kota Kotamobagu adalah sebagai berikut :
Hasil Pengujian Residu Pestisida pada Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) di Kota Kotamobagu Tahun 2021
NO NAMA SAMPEL
PSAT ASAL/LOKASI SAMPEL TANGGAL
PENGUJIAN
8 Anggur Penjual Molinow 16 Agustus 2021 Negatif
9 Pisang Penjual Kopandakan I 18 Agustus 2021 Negatif
10 Ketimun Pasar Serasi 26 Agustus 2021 Negatif
11 Bawang Daun Pasar Serasi 26 Agustus 2021 Negatif 12 Bawang Merah Pasar Serasi 26 Agustus 2021 Negatif 13 Jeruk Manis Penjual Molinow 31 Agustus 2021 Negatif 14 Semangka Penjual Molinow 31 Agustus 2021 Negatif
15 Apel Penjual Molinow 31 Agustus 2021 Negatif
16 Cabe Rawit Pak Lukman/Matali 2-Sep-21 Negatif
17 Cabe Rawit Pasar Serasi 4-Sep-21 Negatif
18 Tomat Penjual Molinow 20-Sep-21 Negatif
19 Bayam Pasar Poyowa Kecil 20-Sep-21 Negatif
20 Rambutan Pasar Poyowa Kecil 21-Sep-21 Negatif
21 Salak Penjual Kopandakan I 21-Sep-21 Negatif
22 Cabe Rawit Penjual Kopandakan I 24-Sep-21 Negatif
23 Cabe Keriting Pasar 23 Maret 24-Sep-21 Negatif
24 Kangkung Pasar 23 Maret 24-Sep-21 Negatif
25 Cabe Rawit Pak Rian/Kopandakan I 1 Oktober 2021 Negatif 26 Kacang Tanah Petani Molinow 1 Oktober 2021 Negatif 27 Nenas Petani Mongkonai Barat 8 Oktober 2021 Negatif 28 Kemangi Supermarket Paris 19 Oktober 2021 Negatif 29 Kangkung Supermarket Paris 19 Oktober 2021 Negatif 30 Kol/Kubis Supermarket Paris 19 Oktober 2021 Negatif
31 Nenas Supermarket Paris 19 Oktober 2021 Negatif
32 Cabe Rawit Pasar Serasi 26 Oktober 2021 Negatif
33 Tomat Pasar Serasi 26 Oktober 2021 Negatif
34 Seledri Pasar Serasi 26 Oktober 2021 Negatif
35 Bayam Pasar Serasi 26 Oktober 2021 Negatif
36 Cabe Rawit Supermarket Abdi Karya 27 Oktober 2021 Negatif 37 Kemangi Supermarket Abdi Karya 27 Oktober 2021 Negatif 38 Kangkung Supermarket Abdi Karya 27 Oktober 2021 Negatif 39 Kol Supermarket Abdi Karya 27 Oktober 2021 Negatif
40 Bawang Merah Pasar 23 Maret 1-Nov-21 Negatif
46 Jeruk Manis Pasar Serasi 5-Nov-21 Negatif
47 Bayam Pasar Serasi 5-Nov-21 Negatif
48 Cabe Keriting Pasar Serasi 5-Nov-21 Negatif
49 Seledri Pasar 23 Maret 12-Nov-21 Negatif
50 Buncis Pasar 23 Maret 12-Nov-21 Negatif
51 Bawang Merah Pasar Serasi 26-Nov-21 Negatif
52 Cabe Rawit Pasar Serasi 26-Nov-21 Negatif
53 Jeruk Manis Penjual Molinow 1 Desember 2021 Negatif 54 Semangka Penjual Molinow 3 Desember 2021 Negatif 55 Kacang Panjang Demplot SMK Panca Marga 6 Desember 2021 Negatif 56 Ketimun Demplot SMK Panca Marga 6 Desember 2021 Negatif 57 Kopi Merah Biji Pasar Serasi 6 Desember 2021 Negatif 58 Kopi Putih Biji Pasar Serasi 6 Desember 2021 Negatif
59 Kangkung Pasar Serasi 9 Desember 2021 Negatif
60 Tomat Pasar Serasi 9 Desember 2021 Negatif
61 Langsat Pasar Serasi 9 Desember 2021 Negatif
62 Cabe Rawit Pasar Serasi 9 Desember 2021 Negatif 63 Jeruk Manis Pasar Serasi 10 Desember 2021 Negatif
64 Semangka Pasar Serasi 13 Desember 2021 Negatif
65 Beras Pasar 23 Maret Lokasi 1 14 Desember 2021 Negatif 71 Cabe Rawit Pasar Serasi 16 Desember 2021 Negatif
72 Kangkung Pasar Serasi 16 Desember 2021 Negatif
73 Bawang Merah Pasar Serasi 16 Desember 2021 Negatif 74 Beras Pasar Serasi Lokasi 2 17 Desember 2021 Negatif 75 Bawang Daun Pasar Serasi 17 Desember 2021 Negatif
76 Kangkung Pasar Serasi 17 Desember 2021 Negatif
77 Nenas Pasar Serasi 17 Desember 2021 Negatif
78 Beras Pasar Serasi Lokasi 1 17 Desember 2021 Negatif 79 Bawang Merah Pasar Serasi Lokasi 1 21 Desember 2021 Negatif 80 Cabe Rawit Pasar Serasi Lokasi 1 21 Desember 2021 Negatif
81 Wortel Pasar Serasi 21 Desember 2021 Negatif
82 Cabe Rawit Pasar Serasi Lokasi 2 22 Desember 2021 Negatif 83 Bawang Merah Pasar Serasi Lokasi 2 22 Desember 2021 Negatif
84 Kol Pasar Serasi 22 Desember 2021 Negatif
85 Nenas Pasar Serasi Lokasi 2 23 Desember 2021 Negatif 86 Nenas Pasar Serasi Lokasi 1 23 Desember 2021 Negatif 87 Tomat Pasar Poyowa Kecil 30 Desember 2021 Negatif 88 Cabe Rawit Pasar Poyowa Kecil 30 Desember 2021 Negatif
89 Tomat Petani Bungko 30 Desember 2021 Negatif
90 Cabe Rawit Petani Bungko 30 Desember 2021 Negatif Keterangan : - Jumlah Sampel PSAT Positif = 0
- Jumlah Sampel PSAT Negatif = 90 Total sampel PSAT yang di uji = 90
Untuk menjamin keamanan pangan segar baik yang diproduksi secara lokal maupun yang diimpor, perlu dipersiapkan infrastruktur penunjang, baik berupa perangkat lunak maupun perangkat kerasnya.
Dalam rangka pengembangan sistem keamanan pangan segar di Indonesia, komponen penting yang harus dibangun adalah sistem pembinaan/fasilitasi dan sistem pengawasan terhadap pangan segar. Agar mampu melaksanakan fungsi tersebut, perlu peningkatan kapasitas dan kompetensi bagi fasilitator dan pengawas keamanan pangan, untuk mendukung sistem pembinaan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh unit organisasi yang berwenang.
Adapun beberapa regulasi yang dimungkinkan untuk diimplementasikan dalam pengawasan keamanan pangan segar asal tumbuhan yakni :
1. Undang-undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
2. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan
3. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan
4. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48 tahun 2006 tentang Pedoman Budidaya Tanaman Pangan yang Baik
5. Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 35/Permentan/
OT.140/7/2008 tentang Persyaratan dan Cara Pengolahan Hasil Pertanian Asal Tumbuhan Yang Baik 6. Peraturan Menteri Pertanian Nomor :
44/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Pedoman Penanganan Pasca panen Hasil Pertanian Asal Tanaman yang Baik
7. Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 48/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Pedoman Budidaya Sayur dan Buah yang Baik
8. Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 20/Permentan/OT.140/2/2010 tentang Sistem Jaminan Mutu Pangan Hasil Pertanian
9. Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 88/Permentan/PP.340/12/2011 tentang Pengawasan
Keamanan Pangan Terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Pangan Segar Asal Tumbuhan
10. Peraturan Kepala Badan POM RI No: HK.00.05.55.6497 Tahun 2007 tentang Bahan Kemasan Pangan
11. Peraturan Kepala Badan POM RI No:
HK.03.1.23.12.11.10569 Tahun 2011 tentang Pedoman Cara Ritel Pangan yang Baik
12 Peraturan Menteri Pertanian RI No.53/Permentan/
KR.040/12/2018 tentang Keamanan dan Mutu Pangan Segar Asal Tumbuhan.
Capain Indikator Kinerja Sasaran Pengawasan terhadap Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) Tahun 2021 adalah sebesar 100%. Capaian ini sesuai penetapan target 90% dengan capaian sebesar 90% pada Tahun 2021.
4. Persentase Harga Komoditi Pangan Pokok yang