• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Kelompok Usaha Bersama

Berdasarkan Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok Usaha bersama (KUBE) Departemen Sosial Republik Indonesia memberi pengertian KUBE adalah:

1. Kelompok Usaha Bersama (KUBE) adalah kelompok warga atau keluarga binaan sosial yang dibentuk oleh warga atau keluarga binaan sosial yang telah dibina melalui proses kegiatan PROKESOS (program kesejahteraan sosial) untuk melaksanakan kegiatan kesejahteraan sosial dan usaha ekonomi dalam semangat kebersamaan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya.

2. KUBE merupakan metode pendekatan yang terintegrasi dan keseluruhan proses PROKESOS dalam rangka MPMK (memajukan permasalahan kemiskinan).

3. KUBE tidak dimaksudkan untuk menggantikan keseluruhan prosedur baku PROKESOS kecuali untuk Program Bantuan Kesejahteraan Sosial Fakir Miskin yang mencakup keseluruhan proses. Pembentukan KUBE dimulai dengan proses pembentukan kelompok sebagai hasil bimbingan sosial, pelatihan ketrampilan berusaha, bantuan stimulans dan pendampingan. 4. Kelompok Usaha Bersama (KUBE), yaitu wadah yang menghimpun dan

mengelola keluarga binaan sosial yang telah mendapatkan bantuan sarana usaha dari pemerintah sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan atau kehidupannya.

Tujuan KUBE diarahkan kepada upaya mempercepat penghapusan kemiskinan termasuk juga bagi penyandang cacat, melalui: Peningkatan kemampuan berusaha para anggota KUBE secara bersama dalam kelompok, Peningkatan pendapatan, Pengembangan usaha, dan Peningkatan kepedulian dan kesetiakawanan sosial diantara para anggota KUBE dan dengan masyarakat sekitar.

Proses pembentukan KUBE ditumbuhkembangkan melalui Program Bantuan Kesejahteraan Fakir Miskin. langkah/kegiatan pokok pembentukan KUBE untuk sasaran PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) lainnya adalah:

1. Pelatihan keterampilan berusaha, dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan praktis berusaha yang disesuaikan dengan minat dan keterampilan PMKS serta kondisi wilayah, termasuk kemungkinan pemasaran dan pengembangan basil usahanya. Nilai tambah lain dari pelatihan adalah tumbuhnya rasa percaya diri dan harga diri PMKS untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dan memperbaiki kondisi kehidupannya

2. Pemberian bantuan stimulan sebagai modal kerja atau berusaha yang disesuaikan dengan keterampilan PMKS dan kondisi setempat. Bantuan ini merupakan hibah (bukan pinjaman atau kredit) akan tetapi diharapkan bagi PMKS penerima bantuan untuk mengembangkan dan menggulirkan kepada warga masyarakat lain yang perlu dibantu

3. Pendampingan, mempunyai peran sangat penting bagi berhasil dan berkembangnya KUBE, mengingat sebagian besar PMKS merupakan kelompok yang paling miskin dan penduduk miskin. Secara fungsional pendampingan dilaksanakan oleh PSK yang dibantu oleh infrastruktur kesejahteraan sosial di daerah seperti Karang Taruna (KT), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Organisasi Sosial (ORSOS) dan Panitia Pemimpin Usaha Kesejahteraan Sosial (WPUKS).

Program KUBE bukan program perberdayaan yang bersifat individual tetapi merupakan program kelompok karena program kelompok punya banyak kelebihan. KUBE dilandasi pertimbangan akan kenyataan berbagai keterbatasan yang melekat pada perorangan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

(PMKS) termasuk keluarga miskin dan penyandang cacat. Penanganan secara kelompok ditujukan untuk menumbuhkembangkan semangat kebersamaan dalam upaya peningkatan taraf kesejahteraan sosial.

Program Kesejahteraan Sosial (PROKESOS) bertujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan PMKS agar dapat menikmati kehidupan secara layak dan berperan dalam pembangunan serta memantapkan peran dan kontribusi PROKESOS melalui KUBE dalam rangka upaya menghapus kemiskinan dan penyandang cacat.

KUBE paling tidak ada dua unsur yang selalu ditekankan yaitu: Pertama keuntungan ekonomis dan kedua keuntungan sosial. Unsur pertama lebih menekankan pada keuntungan ekonomis dari perguliran hasil usaha yang diterima melalui paket bantuan usaha ekonomis produktif (USEP) sedangkan unsur kedua lebih menekankan pada terjadinya interaksi sosial, kesetiakawanan sosial, kohesi sosial dan adhesi sosial antar anggota kelompok KUBE maupun dalam lingkungan sosialnya. Keuntungan ekonomis dengan mudah dapat dihitung tetapi keuntungan sosial memerlukan proses waktu untuk melihat keberhasilannya.

KUBE terus diberdayakan secara berkelanjutan. Asumsinya adalah: jika KUBE telah berhasil dari sisi ekonomi dan sosial, diharapkan KUBE tersebut berkembang menjadi sebuah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang menjangkau pelayanan kepada penyandang miskin lainnya untuk berkembang.

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) merupakan salah satu pendekatan yang digunakan Program Kesejahteraan Sosial (PROKESOS) dalam memberdayakan perubahan. Perubahan pada pengetahuan, keterampilan, sikap

dan tingkah laku secara bersamaan dan berkesinambungan. Pemberdayaan terhadap penyandang cacat mengandung makna pengakuan terhadap potensi, pemberian kepercayaan, mendorong kemandirian dan peningkatan kemampuan untuk memecahkan masalah. KUBE dibentuk dengan harapan agar para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang terdapat di Indonesia dapat tereliminir sedikit demi sedikit. KUBE merupakan metode pendekatan yang terintegrasi dari keseluruhan proses PROKESOS dalam rangka MPMK (Memajukan Permasalahan Kemiskinan). KUBE tidak dimaksudkan untuk menggantikan keseluruhan prosedur baku PROKESOS, kecuali untuk Program Bantuan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat yang mencakup keseluruhan proses.

Pembentukan KUBE dimulai dengan proses pembentukan kelompok sebagai hasil bimbingan sosial, pelatihan keterampilan berusaha, bantuan stimulans dan pendampingan. Sebagai salah satu program untuk memberdayakan dan mendorong masyarakat untuk mandiri. Program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang ada selama ini dapat berkembang menjadi usaha ekonomi produktif yang dapat memberikan profit sehingga KUBE tersebut tidak saja memberikan manfaat bagi anggotanya saja, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi warga masyarakat lainnya. Untuk dapat berkembang menjadi usaha ekonomi produktif yang menguntungkan, KUBE sangat tergantung dengan manajemennya. Dengan pengelolaan secara bersama-sama bukan tidak mungkin KUBE akan berkembang menjadi sebuah bidang usaha yang menguntungkan. Oleh karena KUBE merupakan wadah yang dibentuk dari oleh dan untuk keluarga binaan sosial

sendiri, maka kepengurusannya juga dikerjakan oleh para anggotanya sendiri sekaligus melaksanakannya.

Dalam pembentukan KUBE ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Lokasi tempat tinggal penyandang cacat berdekatan sehingga memungkinkan mereka melakukan kegiatan secara teratur.

2. Adanya kesamaan jenis usaha ekonomis produktif. 3. Kemudahan dalam memperoleh bahan baku. 4. Kemudahan dalam pemasaran.

5. Kemudahan dalam pembinaan. 6. Pengelolaan jenis usaha.

7. KUBE dikelola oleh anggota kelompok sendiri dibawah bimbingan seorang pembina atau pendamping. Pelaksanaan KUBE harus melibatkan semua anggota kelompok.

8. Pembina atau pendamping bersama-sama anggota kelompok berusaha agar KUBE tersebut dapat lebih ditingkatkan dan dikembangkan pada waktu mendatang.

9. Aparat Desa atau Kecamatan agar memberikan petunjuk, bimbingan dan mengikuti pelaksanaan KUBE serta membantu memecahkan kesulitan yang dihadapi anggota KUBE dimasyarakat.

10.Perlu dibuat aturan main dalam kelompok yang mengatur tentang hak dan kewajiban serta sanksi bagi anggota kelompok

Dalam pengembangan KUBE agar dapat maju dan berkembang dengan baik, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Penentuan nasib sendiri. Setiap anggota KUBE sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat, mempunyai hak untuk menentukan dirinya sendiri.

2. Kekeluargaan. Pengembangan KUBE perlu dibangun atas dasar kekeluargaan sehingga dapat menumbuhkan semangat dan sikap dalam mewujudkan keberhasilan KUBE.

3. Kegotong-royongan. Pengembangan KUBE menuntut perlu adanya semangat kebersamaan diantara anggota KUBE.

4. Pengembangan potensi anggota. Pengelolaan dan pengembangan KUBE didasarkan pada kemampuan dan potensi anggota KUBE.

5. Pemanfaatan sumber-sumber setempat. Pengembangan usaha ekonomi produktif yang dilaksanakan harus didasarkan pada ketersediaan sumber-sumber yang ada di lingkungannya.

6. Kegiatan berkelanjutan. Pengelolaan KUBE harus diwujudkan dalam program-program yang berkelanjutan.

7. Usaha yang berorientasi pasar. Pengembangan KUBE diarahkan pada jenis usaha yang memiliki prospek yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dokumen terkait