• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

4. KELUARGA BERENCANA (KB)

1. Konsep Dasar a. Pengertian

Keluarga berencana (KB) adalah suatu upaya yang dilakukan manusia untuk mengatur secara sengaja kehamilan dalam keluarga secara tidak melawan hukum dan moral pancasila untuk kesejahteraan keluarga (Maritalia, 2017).

Keluarga berencana (KB) adalah mengatur jumlah anak sesuai dengan keinginan dan menentukan kapan ingin hamil. Jadi, KB (family planning, planned parenthood) adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai alat kontrasepsi, untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Marmi, 2016).

b. Macam-macam KB

1) Metode Kontrasepsi Sederhana (Tanpa Alat) a) Metode Kalender/ Pantang Berkala

(1) Pengertian

metode dimana pasangan suami istri menghindari berhubungan seksual pada siklus subur seorang wanita. Ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) terjadi 14 hari sebelum menstruasi (pada siklus menstruasi yang teratur). Sel telur yang telah dilepaskan hanya bertahan hidup selama 24-48 jam, tetapi sperma bisa bertahan selama 3-4 hari setelah melakukan hubungan seksual. Pembuhan bisa terjadi akibat hubungan seksual yang dilakukan 4 hari sebelum atau setelah perkiraan siklus ovulasi. Untuk pasangan yang memilih metode kontrasepsi ini, maka berpantang melakukan hubungan suami istri 4 hari sebelum dan setelah siklus tersebut (Maritalia, 2017).

(2) Manfaat

Menurut Marmi (2016), Manfaat dari metode kalender/ pantang berkala yaitu:

(a) Manfaat kontrasepsi yaitu sebagai alat pengendalian kelahiran atau mencegah kehamilan. (b) Manfaat konsepsi dapat digunakan oleh para

pasangan untuk mengharapkan bayi dengan melakukan hubungan seksual saat masa subur/ ovulasi untuk meningkatkan kesempatan bisa hamil.

(3) Keuntungan

Menurut Marmi (2016), Keuntungan dari metode kalender/ pantang berkala yaitu: Metode kalender atau pantang berkala lebih sederhana, Dapat digunakan oleh setiap wanita yang sehat, Tidak membutuhkan alat atau pemeriksaan khusus dalam penerapannya, Tidak mengganggu pada saat berhubungan seksual, Tidak memerlukan biaya, Tidak memerlukan tempat pelayanan kontrasepsi.

(4) Kerugian

Menurut Marmi (2016), Kerugian dari metode kalender/ pantang berkala yaitu:

(a) Memerlukan kerja sama yang baik antara suami istri.

(b) Harus ada motivasi dan disiplin pasangan dalam menjalankannya.

(c) Suami istri tidak dapat melakukan hubungan seksual setiap saat.

(d) Pasangan suami istri harus tahu masa subur dan masa tidak subur.

(e) Harus mengamati siklus menstruasi minimal enam kali siklus.

(f) Siklus menstruasi yang tidak teratur (menjadi penghambat).

(g) Lebih efektif bila dikombinasi dengan metode kotrasepsi lain.

(5) Keefektifitasan

Angka kegagalan penggunaan metode kalender adalah 14 per 100 wanita per tahun (Marmi, 2016).

b) Metode Suhu Basal Tubuh (1) Pengertian

Suhu Tubuh Basal adalah suhu terendah yang dicapai oleh tubuh selama istirahat atau dalam keadaan istirahat (tidur). Pengukuran suhu basal dilakukan pada pagi hari segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas lainnya (Marmi, 2016).

(2) Manfaat

Menurut Marmi (2016), Manfaat dari metode suhu basal tubuh yaitu:

(a) Manfaat konsepsi

Bagi pasangan yang menginginkan kehamilan. (b) Manfaat kontrasepsi

Bagi pasangan yang menginginkan menghindari atau mencegah kehamilan.

(3) Keuntungan

Menurut Marmi (2016), Keuntungan dari metode suhu basal tubuh yaitu:

(a) Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada pasangan suami istri tentang masa subur/ ovulasi. (b) Membantu wanita yang mengalami siklus haid

tidak teratur mendeteksi masa subur/ ovulasi.

(c) Dapat digunakan sebagai kontrasepsi ataupun meningkatkan kesempatan untuk hamil.

(d) Membantu menunjukkan perubahan tubuh lain pada saat mengalami masa subur/ ovulasi seperti perubahan lendir serviks.

(e) Metode suhu basal tubuh yang mengendalikan adalah wanita itu sendiri.

(4) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan dari metode suhu basal tubuh yaitu:

(a) Membutuhkan motivasi dari pasangan suami istri. (b) Memerlukan konseling dan KIE dari tenaga medis. (c) Suhu tubuh basal dapat dipengaruhi oleh penyakit,

gangguan tidur, merokok, alkohol, stres, penggunaan narkoba maupun selimut elektik.

(d) Pengukuran suhu tubuh harus dilakukan pada waktu yang sama.

(e) Tidak mendeteksi awal masa subur. (f) Membutuhkan masa pantang yang lama. (5) Efektifitas

Menurut Marmi (2016), Tingakat keefektian metode suhu tubuh basal sekitar 80 persen atau 20-30 kehamilan per 100 wanita per tahun. Secara teoretis angka kegagalannya adalah 15 kehamilan per 100 wanita per tahun. Metode suhu basal tubuh akan jauh lebih efektif apabila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain seperti kondom, spermisida ataupun metode kalender atau pantang berkala.

c) Metode simptotermal (1) Pengertian

Metode simptotermal merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA) yang mengidentifikasi masa subur dari siklus menstruasi wanita. Metode simpotermal mengombinasikan metode suhu basal tubuh dan mukosa serviks (Marmi, 2016).

(2) Manfaat

Menurut Marmi (2016), Metode simptotermal memiliki manfaat sebagai alat kontrasepsi maupun konsepsi.

(a) Manfaat kontrasepsi.

Metode simptotermal digunakan sebagai alat kontrasepsi atau menghindari kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual ketika berpotensi subur (pantang saat masa subur).

(b) Manfaat konsepsi

Metode simptotermal digunakan sebagai konsepsi atau menginginkan kehamilan dengan melakukan hubungan seksual ketika berpotensi subur.

(3) Keuntungan

Menurut Marmi (2016), Keuntungan dari metode simptotermal yaitu: Aman, Ekonomis, Meningkatkan hubungan kerja sama antar pasangan, Dapat langsung dihentikan apabila pasangan menginginkan kehamilan, Tidak memerlukan tindak lanjut atau alat kontrasepsi lain setelah belajar metode simptotermal dengan benar. (4) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan dari metode simptotermal yaitu:

(a) Tidak cocok digunakan oleh wanita yang mempunyai bayi, berpenyakit, pascaperjalanan

(b) Metode simptotermal kurang efektif karena pengguna harus mengamati dan mencatat suhu basal tubuh maupun perubahan lendir serviks. (c) Metode simptotermal memerlukan kerja sama

antara pasangan suami istri

(d) Penggunaan harus mendapatkan pelatihan atau instruksi yang benar.

(5) Efektifitas

Angka kegagalan dari penggunaan metode simptotermal adalah 10-20 wanita akan hamil dari 100 pasangan setiap tahunnya. Hal ini disebabkan kesalahan dalam belajar, saran, atau tidak ada kerja sama pasangan. Namun, studi lain juga menyatakan angka kegagalan dari metode simptotermal hanya 3% apabila di bawah pengawasan yang ketat

(Marmi, 2016).

d) Metode pengamatan lendir serviks (metode ovulasi) (1) Pengertian

Metode mukosa seviks atau metode ovulasi merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA) dengan cara mengenali masa subur dari siklus menstruasi dengan mengamati lendir serviks dan perubahan rasa pada vulva menjelang hari-hari ovulasi (Marmi, 2016).

(2) Manfaat

Metode mukosa serviks bermanfaat untuk mencegah kehamilan yaitu dengan berpantang senggama pada masa subur. Selain itu, metode ini juga bermanfaat bagi wanita yang menginginkan kehamilan (Marmi, 2016). (3) Kelebihan

Menurut Marmi (2016), Kelebihan dari metode simptotermal yaitu:

(a) Mudah digunakan. (b) Tidak memerlukan biaya.

(c) Metode mukosa serviks merupakan metode keluarga berencana alamiah lain yang mengamati tanda-tanda kesuburan.

(4) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan metode mukosa serviks yaitu:

(a) Tidak efektif bila digunakan sendiri, sebaiknya dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain (misal metode simptotermal).

(b) Tidak cocok untuk wanita yang tidak menyukai menyentuh alat kelaminnya.

(5) Efektifitas

Angka kegagalan dari metode mukosa serviks sekitar 3- 4 perempuan per 100 perempuan per tahun. Teori lain juga mengatakan, apabila petunjuk metode mukosa serviks atau ovulasi billings ini digunakan dengan benar maka keberhasilan dalam mencegah kehamilan 99 persen (Marmi, 2016).

e) Metode amenore laktasi (1) Pengertian

Metode amenore laktasi (MAL) atau Lactational

Amenorrhea Method (LAM) adalah metode kontrasepsi

sementara yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif, artinya hanya diberi ASI saja tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya. MAL atau LAM dapat dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah (KBA) atau natural family planning, apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain (Marmi, 2016).

(2) Manfaat

Manfaat kontrasepsi MAL antara lain , efektivtas tinggi (98%) apabila digunakan selama 6 bulan pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui eksklusif, dapat segera dimulai setelah melahirkan,

tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat, tidak memerlukan pengawasan medis, tidak mengganggu senggama, mudah digunakan, tidak perlu biaya, tidak menimbulkan efek samping sistemik, tidak bertentangan dengan budaya maupun agama (Marmi, 2016).

Manfaat non kontrasepsi untuk bayi, yaitu bayi mendapatkan kekebalan pasif, meningkatan gizi, mengurangi resiko penyakit menular, terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi air, susu formula atau alat minum yang dipakai. Untuk ibu, yaitu mengurangi perdarahan post partum/ setelah melahirkan, membantu proses involusi uteri (uterus kembali normal), mengurangi risiko anemia, meningkatkan hubungan psikologi antara ibu dan bayi (Marmi, 2016).

(3) Cara kerja

Cara kerja MAL adalah menunda atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat menyusui, hormon yang berperan adalah prolaktin dan oksitosin. Semakin sering menyusui, maka kadar proklatin meningkat dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon penghambat (inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi

kadar esterogen, sehingga tidak terjadi ovulasi (Marmi, 2016).

(4) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan dari MAL yaitu: (a) Memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan. (b) Metode ini hanya efektif digunakan selama 6 bulan

setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui secara eksklusif.

(c) Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk hepatitis B ataupun HIV/ AIDS

(d) Tidak menjadi pilihan bagi wanita yang tidak menyusui.

(e) Kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara eksklusif.

(5) Efektivitas

Menurut Marmi (2016), Efektivitas MAL sangat tinggi sekitar 98 persen apabila digunakan secara benar dan memenuhi persyaratan sebagai berikut: digunakan selama enam bulan pertama setelah melahirkan, belum mendapatkan haid pasca melahirkan dan menyusui secara eksklusif (tanpa memberikan makanan atau

(6) Indikasi

Menurut Marmi (2016), Metode Amenore Laktasi dapat digunakan oleh: Wanita yang menyusui secara eksklusif, Ibu pasca melahirkan dan bayinya berumur kurang dari 6 bulan, Wanita yang belum mendapatkan haid pasca melahirkan

(7) Kontra Indikasi

Menurut Marmi (2016), Yang tidak dapat menggunakan MAL yaitu: Pasca melahirkan yang sudah mendapat haid, Tidak menyusui secara eksklusif, Bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari 6 jam, Harus menggunakan metode kontrasepsi tambahan, Bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan, Bayi yang mempunyai gangguan metabolisme.

f) Senggama terputus (coitus interuptus) (1) Pengertian

Coitus interuptus atau senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional/ alamiah, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum mencapai ejakulasi (Marmi, 2016).

(2) Manfaat

Coitus interuptus memberikan manfaat baik secara kontrasepsi adalah alamiah, efektif bila dilakukan

dengan benar, tidak mengganggu produksi ASI tidak ada efek samping, tidak membutuhkan biaya, tidak memperlukan persiapan khusus, dapat dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain, dapat digunakan setiap waktu. Manfaat non kontrasepsi adalah adanya peran serta suami dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, menanamkan sifat saling pengertian, tanggung jawab bersama dalam ber-KB (Marmi, 2016). (3) Cara kerja

Alat kelamin (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk kedalam vagina, maka tidak ada pertemuan antara sperma dan ovum, dan kehamilan dapat dicegah. Ejakulasi diluar vagina untuk mengurangi kemungkinan air mani mencapai rahim (Marmi, 2016).

(4) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan dari metode coitus interuptus yaitu:

(a) Sangat tergantung dari pihak pria dalam mengontrol ejakulasi dan tumpahan sperma selam senggama.

(b) Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual (orgasme).

(c) Sulit mengontrol tumpahan sperma selama penetrasi, sesaat dan setelah interupsi coitus. (d) Tidak melindungi dari penyakit menular seksual. (e) Kurang efektif untuk mencegah kehamilan. (5) Efektifitas

Metode coitus interuptus akan efektif apabila dilakukan dengan benar dan konsisten. Angka kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan per tahun (Marmi, 2016). 2) Metode Kontrasepsi Sederhana Dengan Alat.

a) Kondom (Karet KB) (1) Pengertian

Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi yang terbuat karet/ lateks, berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat dan dilengkapi kantung untuk menampung sperma. Kebanyakan kondom terbuat dari karet lateks tipis, tetapi ada yang membuatnya dari jaringan hewan (usus kambing) atau plastik (Marmi, 2016).

(2) Cara kerja kondom

Menurut Marmi (2016), Cara kerja kondom yaitu: (a) Mencegah sperma masuk ke saluran reproduksi

wanita.

(c) Sebagai pelindung terhadap infeksi atau tranmisi mikro organisme penyebab PMS.

(3) Efektifitas

Angka kegagalan kontrasepsi kondom sangat sedikit yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun. Namun ada yang menyebutkan bahwa efektifitas teoritik: 1 2 kehamilan/ 100 pemakai/ tahun, sedangkan efektifitas praktek: 3 15 kehamilan/ 100 pemakai/ tahun (Marmi, 2016).

(4) Manfaat kondom

Manfaat kondom secara kontrasepsi, yaitu efektif bila pemakaian bener, tidak mengganggu produksi ASI, tidak mengganggu kesehatan klien, tidak mempunyai pengaruh sistemik, murah dan tersedia diberbagai tempat, tidak memerlukan resep dan pemeriksaan khusus, metode kontrasepsi sementara. Sedangkan manfaat kondom secara non kontrasepsi yaitu peran serta suami untuk ber-KB, mencegah penularan PMS, mencegah ejakulasi dini, mengurangi insidensi kanker serviksa, adanya interaksi sesama pasangan, mencegah

(5) Keterbatasan kondom

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan kondom yaitu: Efektifitas tidak terlalu tinggi, Adanya pengurangan sesitifitas pada penis, Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual, Perasaan malu membeli ditempat umum, Masalah pembuangan kondom bekas pakai. (6) Kontra indikasi kondom

Menurut Marmi (2016), Kontra indikasi kondom yaitu: (a) Setiap pria dapat memakai kondom kecuali dia

atau pasangannya rentan (alergi/ sensitif) terhadap lateks.

(b) Memiliki kelainan berbentuk penis (malformasi). (c) Secara psikologi pasangan tidak bisa menerima

metode kondom. b) Diafragma

(1) Pengertian

Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung seperti topi yang menutupi mulut rahim, terbuat dari lateks (karet) yang diinsersikan kedalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks (Marmi, 2016).

(2) Cara kerja

Menurut Marmi (2016), Cara kerja dari diafragma/ kap yaitu:

(a) Mencegah masuknya sperma melalui kanalis servikalis ke uterus dan saluran telur (tuba falopi). (b) Sebagai alat untuk menempatkan spermisida. (3) Manfaat

Manfaat dari diafragma/ kap sebagai alat kontrasepsi yaitu efektif bila digunakan dengan benar, tidak mengganggu produksi ASI, tidak mengganggu hubungan seksual karena telah dipersiapkan sebelumnya, tidak mengganggu kesehatan klien, tidak mempunyai pengaruh sistemik. Sedangkan manfaat sebagai non kontrasepsi untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual, dapat menampung darah menstruasi, bila digunakan saat haid (Marmi, 2016 ).

(4) Keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan dari diafragma/ kap yaitu:

i. Efektifitas tidak terlalu tinggi (angka kegagalan 6- 16 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama, bila digunakan dengan spermisida).

ii. Keberhasilan kontrasepsi ini tergantung pada cara penggunaan yang benar.

iii. Memerlukan motivasi dari pengguna agar selalu berkesinambungan dalam penggunaan alat kontrasepsi ini.

iv. Pemeriksaan pelvik diperlukan untuk memastikan ketepatan pemasangan.

v. Dapat menyebabkan infeksi saluran uretra

vi. Harus masih terpasang salam 6 jam pasca senggama.

c) Spermisida (1) Pengertian

Spermisida adalah bahan kimia (biasanya non oksinol-9) digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma (Saifuddin dkk, 2010).

(2) Cara Kerja

Menurut Marmi (2016), Cara kerja dari spermisida yaitu:

(a) Menyebabkan sel selaput sperma pecah. (b) Memperlambat motilitas sperma.

(c) Menurunkan kemampuan pembuahan sel telur. (3) Jenis-jenis spermisida

(a) Aerosol (busa) akan efektif setelah dimasukkan (insersi). Aerosol dianjurkan bila spermisida digunakan sebagai pilihan pertama atau metode kontrasepsi lain tidak sesuai dengan kondisi klien.

(b) Tablet vagina, suppositoria dan film sangat mudah dibawa dan disimpan. Penggunaannya dianjurkan menunggu 10-15 menit setelah dimasukkan (insersi) sebelum berhubungan seksual.

(c) Jenis spermisida jeli biasanya digunakan bersamaan dengan diafragma.

(4) Manfaat

Menurut Saifuddin dkk (2010), Manfaat dari spermisida sebagai kontrasepsi yaitu efektif seketika (busa dan krim), tidak mengganggu produksi ASI, sebagai pendukung metode lain, tidak mengganggu kesehatan klien, tidak mempunyai pengaruh sistemik, sudah digunakan, meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual, tidak memerlukan resep ataupun pemeriksaan medik. Sedangkan manfaat non kontrasepsi yaitu memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual HBV dan HIV/AIDS.

(5) keterbatasan

Menurut Marmi (2016), Keterbatasan dari spermisida yaitu:

(a) Efektifitas kurang (bila wanita selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk, angka kegagalan 15 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun dan bila wanita tidak selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk maka angka kegagalan 29 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun).

(b) Spermisida akan jauh lebih efektif, bila menggunakan kontrasepsi lain (misal kondom). (c) Keefektifan tergantung pada kepatuhan cara

penggunaannya.

(d) Tergantung motivasi dari pengguna dan selalu dipakai setiap melakukan hubungan seksual. (e) Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah

spermisida dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual.

(f) Hanya efektif selam 1-2 jam dalam satu kali pemakaian.

(g) Harus selalu tersedia sebelum senggama dilakukan.

3) Metode kontrasepsi hormonal a) Pil Kombinasi

(1) Pengertian

Pil kombinasi atau combination oral contraceptive adalah pil KB yang mengandung sintetis hormone estrogen dan progesterone yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melaui penekan hormone LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa serviks, dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium (Marmi, 2016).

(2) Jenis-jenis pil kombinasi

Menurut Saifuddin dkk (2010), Jenis-jenis pil kombinasi yaitu:

(a) Monofasik

Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone aktif estrogen/progestin dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormone aktif.

(b) Bifasik

Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone aktif estrogen/progestin

dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormone aktif.

(c) Trifasik

Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet hormone aktif estrogen/progestin dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormone aktif.

(3) Cara kerja

Cara kerja dari pil kombinasi dengan menekan ovulasi, mencegah implantasi, lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma, pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula (Marmi, 2016).

(4) Waktu Penggunaan

Menurut Marmi (2016), Waktu mulai menggunakan Pil Kombinasi adalah hari pertama sampai hari ke tujuh siklus haid, sewaktu mendapat haid, setelah melahirkan (pasca keguguran, setelah 3 bulan tidak menyusui, setelah 6 bulan pemberian ASI), saat ingin berhenti kontrasepsi hormonal jenis suntikan dan ingin

(5) Efektifitas

Efektivitas pil kombinasi lebih dari 99 persen, apabila digunakan dengan benar dan konsisten. Ini berarti, kurang dari 1 orang dari 100 wanita yang menggunakan pil kombinasi akan hamil setiap tahunnya. Namun pada pemakaian yang kurang seksama, efektivitasnya masih mencapai 93% (Marmi, 2016).

(6) Manfaat

Manfaat dari pil kombinasi, yaitu Memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan), Resiko terhadap penggunaan sangat kesehatan kecil, Tidak mengganggu hubungan seksual, Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid, Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan, Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause, Mudah dihentikan setiap saat, Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan,

Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat (Saifuddin dkk, 2010).

(7) Keterbatasan

Keterbatasan dari pil kombinasi yaitu Mahal dan membosankan karena harus menggunakan setiap hari,Mual terutama pada 3 bulan pertama, Perdarahan bercak atau perdarahan sela, terutama 3 bulan pertama, Pusing, Nyeri payudara, Berat badan naik sedikit, tetapi pada perempuan tertentu kenaikan berat badan justru memiliki dampak positif, Berhenti haid (amenorea) jarang pada pil kombinasi, Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi ASI), Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi, dan perubahan suasana hati, sehingga keinginan untuk melakukan hubungan seks berkurang, Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan, sehingga risiko stroke, dan gangguan pembekuan darah pada vena dalam sedikit meningkat. Pada perempuan usia>35 tahun dan merokok perlu hati-hati, Tidak mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual), HBV, HIV/AIDS (Saifuddin dkk, 2010).

(8) Indikasi

Indikasi dari pil kombinasi, yaitu Usia reproduksi, Telah memiliki anak atau pun yang belum memiliki anak, Gemuk atau kurus, Menginginkan merode kontrasepsi dengan efektivitas tinggi, Setelah melahirkan dan tidak menyusui, Pasca keguguran, Anemia karena haid berlebihan, Riwayat kehamilan ektopik (Saifuddin dkk, 2010).

(9) Kontra Indikasi

Kontraindikasi dari pil kombinasi, yaitu hamil atau dicurigai hamil, Menyusui eksklusif, Perdarahan pervaginam yang belum diketahui penyebabnya, Penyakit hati akut (hepatitis), Perokok dengan usia>35 tahun, Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan darah tinggi (>180/110 mmHg), Riwayat gangguan factor pembekuan darah atau kencing manis > 20 tahun, Kanker payudara atau dicurigai kanker payudara (Saifuddin dkk, 2010).

b) Pil Kb Mini ( Minipil Or Progestion Conraceptive ) (1) Pengertian

Pil mini atau pil progrestin kadang – kadang disebut dengan pil masa menyusui. Mini pil adalah pil KB yang hanya mengandung hormon progresteron dalam

dosis rendah dan diminum sehari sekali. Berisi derivat progrestin, noretindron atau norgestrel, dosis kecil, terdiri dari 21-22 pil. Cara pemakaiannya sama dengan cara tipe kombinasi. Dosis yang digunakan adalah 0,03-0,05 mg per tablet. Karena dosisnya kecil maka pil mini diminum setiap hari pada waktu yang sama selama siklus haid bahkan selama haid (Marmi, 2016). (2) Jenis Mini Pil

Menurut Marmi (2016), Jenis Mini Pil

(a) Mini pil dalam kemasan dengan isi 28 pil

Mini pil dalam kemasan dengan isi 28 pil, mengandung 75 mikro gram desogestrel.

(b) Mini pil dalam kemasan dengan isi 35 pil

Mini pil dalam kemasan dengan isi pil mengandung 300 mikro gram levonogestrel atau 350 mikro gram noretindron.

(3) Cara Kerja

Cara kerja dari Mini Pil yaitu Menghambat ovulasi, karena terjadi penekanan sekresi gonadotropin dan sintesis streroid seks di ovarium, Mengubah dalam fungsi korpus luteum, Mencegah implantasi karena endometrium mengalami transformasi lebih awal, Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat

penetrasi sperma, Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma menjadi terganggu (Marmi, 2016). (4) Efektifitas

Pil progrestin atau mini pil sangat efektif (98,5 persen). Penggunaan yang benar dan konsisten sangat mempengaruhi tingkat efektifitasnya. Penggunaanya jangan lupa dan jangan sampai terjadi gangguan gastrointestinal (muntah, diare) karena kemungkinan terjadinya kehamilan sangat besar (Marmi, 2016). (5) Manfaat

Menurut Marmi (2016), manfaat mini pil meliputi manfaat kontrasepsi yaitu sangat efektif apabila digunakan dengan benar dan konsisten, tidak mempengaruhi ASI, nyaman dan mudah digunakan, hubungan seksual tidak terganggu, kesuburan cepat kembali, efek samping setiap saat, dapat dihentikan setiap saat, dan tidak mengandung esterogen. Sedangkan manfaat Non Kontrasepsi yaitu, mengurangi jumlah darah haid, mengurangi kejadian anemia, menurunkan pembekuan darah, mengurangi nyeri haid, mencegah kanker endometrium, melindungi dari penyakit radang panggul, penderita endimetriosis dan kencing manis yang belum

mengalami komplikasi dapat menggunakan, tidak menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala dan depresi, mengurangi gejala pre mensrusl sindrom. (6) kerugian

Menurut Marmi (2016), Kerugian dari mini pil yaitu

Dokumen terkait