• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELUARGA BERENCANA. 37

Dalam dokumen KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL (Halaman 186-195)

PEMBINAAN KELUARGA SEJAHTERA

D. KELUARGA BERENCANA. 37

Masalah kependudukan merupakan masalah nasional yang dihadapi bangsa Indonesia pada waktu ini, dan oleh du-nia pada umumnya. Laju perkembangan penduduk dudu-nia

t1-dak terimbangi oleh kemampuan dunia dalam pengadaan pa-ngan dan penyediaan kebutuhan hidup lainnya, beserta ku-rangnya lapangan kerja yang dapat menampung angkatan ker-ja, betul-betul suatu hal yang mencemaskan.

Di Indonesia sendiri tampaknya belum dapat sepenuh-nya berhasil menekan laju perkembangan penduduk. Hasil sensus 1980 menunjukkan angka pertumbuhan penduduk rata-rata 2,34% per tahun, selama I 0 tahun terakhir, adalah hal yan~ cukup mengejutkan. Terlepas dari segala sebab yang diperkirakan menghasilkan angka 2,34% itu, seluruh bangsa Indonesia haruslah mem berikan perhatian terhadap masalah kependudukan ini, demi kesejahteraan dan keselamatan ge-nerasi yang akan datang.

Perkem bangan penduduk haruslah diatur sedemikian ru-pa, agar negara dapat menyediakan kebutuhan pokok hidup bagi seluruh warganya, bahkan dapat meningkatkannya ke taraf yang lebih tinggi, sehingga setiap keluarga akan menja-di keluarga bahagia dan sejahtera dalam negara yang aman makmur, sebagaimana negara yang digambarkan oleh Al Qur'an sebagai Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur (ne-gara yang baik, adil dan makmur dengan warganya yang ba-hagia dan sejahtera dalam ampunan Allah SWf).

Dalam Al Qur'an Surat An-Nisa ayat 9, Allah SWf mem-peringatkan sebagai berikut :

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahte-raan) mereka. Oleh karena itu hendaklah mereka ber-taqwa kepada Allah dan berbicara dengan perkataan yang benar".

Dari ayat ini dapat diambil pelajaran bahwa Allah SWf telah menggariskan dengan tegas akan masalah kependudukan, di

37) Sambutan Pad.a Pcmbukaan Lokakarya Peranan Depag Dalam Pengem-bansan Program Kependudukan; Jakarta, 19 Maret 1981.

mana kita diperingatkan untuk tidak meninggalkan generasi yang lebih lemah dari pada generasi yang sekarang. Kita mcnghcndaki generasi yang akan datang lebih kuat, lebih se-jahtera lahir dan batinnya.

Mcnurut keyakina.n umat Katholik, di mana ajarannya bcrfokus pada penegakan martabat manusia, soal pembebas-an mpembebas-anusia dari segala belenggu jasmpembebas-ani dpembebas-an rohpembebas-ani menjadi usaha utama dan logis, termasuk usaha membebaskan manu-sia dari bahaya kepadatan penduduk (over population). Seti-ap keluarga dituntut untuk bertanggung jawab sosial atas sejahteraan keluarga dan anak-anaknya dan juga terhadap ke-sejah teraan umum. Petunjuk tentang keluarga yang bertang-gung jawab ini dapat dilihat dalam lnjil Ma ti us : 18. 6 bah wa:

"Barang siapa menyesatkan salah satu dari anak-anak ke-cil ini yang percaya kepndaKU. lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu

di-tenggelamkan ke dalam lau t."

Dari ketentuan di atas, dapat diambil pelajaran bahwa gereja Katholik pada prinsipnya mendukung pembangunan keluarga yang bercncana secara bertanggung jawab, menuju kesejahte-raan (dalam arti luas), baik keluarga itu sendiri maupun bagi masyarakat umum.

Bagi gereja (Kristen) Protestan, membolehkan dilaku-kannya usaha mengatasi peledakan penduduk melalui keluar-ga berencana, terutama dalam rangka mewujudkan keluarkeluar-ga sejah tera yang didasari kasih sayang dan pengabdian kepada Tuhan. Menciptakan keluarga sejahtera dan bahagia tersebut bagi umat Kristen Protestan berarti menciptakan keluarga bertanggung jawab.

Menurut ajaran Hindu kehidupan manusia di dunia ini dapat dibagi dalam empat tahap. Di antara keempat tahap ini, tahap kedua yang dinarnakan "Grhasta Asrama" adalah masa seseorang menempuh hidup berumah tangga, menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab penuh terhadap

ke-sejahteraan dan kebahagiaan rumah tangga yang dibinanya.

Walaupun tidak secara tegas disebutkan dalam ajarannya, agama Hindu mengandung prinsip-prinsip "membatasi kela-hiran" yaitu larangan "berkumpul" sebagai suami isteri pada waktu-waktu tertentu, yakni pada hari-hari bulan pumama dan bulan gelap, atau yang disebut "pantang berkala". Dalain tradisi kehidupan umat Hind•J di Bali, terdapat hal-hal yang dapat dianggap mengarah kepada anjuran pelaksanaan usaha-usaha yang dapat mempengaruhi meledaknya pertambahan penduduk. Ini terlihat dengan jelas pada nama depai1 yang di-berikan kepada anak-anak menurut urutan kelahirannya:

Anak pertama dengan nama depan Gede, Putu atau Wayan;

bagi anak kedua dengan nama depan Made atau Nengeh; anak ketiga Nyoman atau Anom. Sedangkan bagi anak keempat diberikan nama dengan Ketut yang berasal dari kata Ka.tut yang berarti "tidak direncanakan". Urutan nama dep3ll ini memberikan pengertian bahwa menurut ajaran agama Hindu, jumlah anak dalam suatu keluarga yang ideal adalah tiga orang, yang berarti suatu anjuran pembatasan jumlah kela-hiran, yang dapat mempengaruhi problema yang berkaitan dengan masalah kependudukan.

Dalam ajaran Budha tidak dijumpai ajaran-ajaran yang secara langsung mem bicarakan masalah pembatasan kela-hiran. Sang Budha hanya menganjurkan agar orang hidup da-lam "Dhamma", mengendalikan nafsunya, mengurangi kese-rakahan dan memupuk cinta kasih antara sesama makhluk untuk mencapai hidup bahagia. Ajaran Budha menyerahkan persoalan pem batasan kelahiran, a tau dalam arti yang luas mengenai masalah kependudukan, kepada masing-masing individu untuk menentukan pendiriannya dan mengambil keputusan dengan mengingat petunjuk:Petunjuk dari Sang Budha agar orang hid up dalam "Dhamma".

Demikian inilah prinsip-prinsip ajaran agama mengenai pembatasan kelahiran. Apabila seluruh umat beragarna benar-benar dapat memaharni dan menghayati akan ajaran

agama-nya masing-masing, maka usaha untuk menanggulangi masa-lah kepadatan penduduk akan dapat teratasi. Untuk itumasa-lah maka pengembangan pengertian dan pemahaman akan ajaran agama tersebut dalam lingkungan masing-masing pemeluk agama perlu dipergiat dan dieffck ti fkan.

Masalah kependudukan bukanlah masalah suatu instansi atau Departemen dalam pemerintahan, tapi adalah masalah seluruh rakyat dan Pemerintah. Masalahnyapun harus

di-tanggulangi bersama. Oleh sebab itu, segenap unit pemerin-tahan hcndaknya dapat bekerjasama dengan baik, terkor-dinasi dan terarah untuk mensukseskan pelaksanaan kebijak-sanaan Pemerintah dalam bidang kependudukan. Demikian pula segenap rakyat hendaknya merasakan bahwa masalah kependudukan adalah masalah mereka, sehingga akan ter-panggil dan merasa berkewajiban untuk menanganinya ber-sama-sama dengan Pemerinta11.

Apabila dipelajari masalah kependudukan ini, sekurang-kurangnya ada 3 hal yang mempengaruhi perkembangan ke-pendudukan.

Pertama, adalah tingkat fertilitas penduduk yang tercer-min dalam angka kelahiran. Penurunan angka kelahiran me-lalui Keluarga Berencana akan menekan laju pertumbuhan penduduk.

Kedua, tingkat mortalitas penduduk yang digambarkan oleh angka kematian. Jumlah kematian dalam decade ter-akhir ini menunjukan angka yang menurun dibandingkan de-ngan decade sebelumnya Hal ini terjadi di antaranya, berkat pelayanan kesehatan yang lebih baik dan pemberian makan-an ymakan-ang bergizi. Selisih makan-antara makan-angka fertilitas dmakan-an mortalitas akan menunjukkan angka pertumbuhan penduduk.

Ketiga, mobilitas penduduk. Transmigrasi untuk menga-tur pemerataan penduduk akan mewujudkan keseim bangan yang memberikan kemungkinan hidup yang lebih baik.

Penumpukan penduduk pada suatu daerah akan

menimbul-kan akibat-akibat yang tidak menguntungmenimbul-kan, seperti kurang-nya lapangan kerja, kurangkurang-nya penyediaan alat pemenuhan kebutuhan hidup yang memadai dan timbulnya masalah-ma-salah sosial kemasyarakatan lainnya.

Oleh karena itu kita harus memberikan prioritas kepada masalah kependudukan ini agar pembangunan nasional kita dapat berhasil dengan baik dan dapat dinikmati oleh segenap rakyat Indonesia. Pentingnya masalah kependudukan ini, di-nyatakan oleh GBHN, dalam Ketetapan MPR No. IV/1978, bahwa "Agar pembangunan ekonomi dan peningkatan ke-sejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat. harus di-barengi dengan pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk melalui program Keluarga Berencana yang mutlak harus di-laksanakan dengan berhasil. Pelaksanaan Keluarga Berencana ditempuh dengan cara-cara sukarela. dengan

mempertimbang-kan nilai-nilai agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esan.

Sebagai suatu program yang pelaksanaannya memerlu-kan kegiatan secara lintas sektoral, maka kegiatan pokok Departemen Agama dalam menunjang keberhasilan program Pemerintah dalam bidang kependudukan adalah suatu ke-giatan dalam bentuk komunikasi, lnfonnasi dan Edukasi (KIE). Yakni: mengadakan komunikasi dengan masyarakat umat beragama, memberikan informasi kepada mereka ten-tang situasi dan keadaan kependudukan di Indonesia yang memerlukan perhatian dan penanganan yang serius serta per-lunya kesadaran masyarakat terhadap masalah ini. Kemudi-an memberikKemudi-an semacam pendidikKemudi-an kepada mereka yKemudi-ang da-pat menim bulkan perilaku dan tindakan serta sikap yang me-nunjang kepada keberhasilan pelaksanaan kebijaksanaan Pemerintah di bidang kependudukan. Semuanya ini tentunya dilakukan melalui jalur kegiatan keagamaan dan pendidikan agama, dengan bahasa agama, berdasarkan ajaran agarna dan oleh pemuka agama.

Di antara unit-unit kerja di lingkungan Departemen Aga-ma yang diharapkan dapat menunjang keberhasilan program Pemerintah di bidang kependudukan ini antara lain, adalah Direktorat Penerangan Agama Islam dan unit-unit Ditjen lainnya dengan segenap aparatnya mulai dari Pusat sampai ke Daerah, melalui media yang ada supaya memberi penje-Iasan kepada masyarakat, terutama kepada umat beragama, tentang masalah kependudukan yang dihadapi bangsa In-donesia, dikaitkan dengan petunjuk-petunjuk berdasarkan ajaran agama Islam dan pandangan Islam tentang masalah kependudukan itu, demikian pula pandangan agama lainnya.

Selain itu perlu juga ditanamkan kesadaran kepada masya-rakat untuk mengikuti dengan baik segala anjuran Pemerintah sehubungan dengan masalah kependudukan.

Khusus mengenai Keluarga Berencana, kiranya dalam hal ini perlu diperhatikan keputusan Musyawarah Ulama ter-batas, tanggal 26 s/d 29 Juni 1972, di Jakarta, yang memu-tuskan sebagai berikut :

(a) Pengarahan dan Niat :

Perencanaan Keluarga Berencana harus ditujukan dan diarahkan kepada pem bentukan kebahagiaan suami is-teri, kesentosaan keluarga keturunan yang sehat, kuat jasmani, akal dan rohani, ilmu dan iman serta pembina-an masyarakat bpembina-angsa dpembina-an pem bpembina-angunpembina-an negara dengpembina-an mengharapkan keridhoan Allah SWf.

(b) Penjarangan Kelahiran :

(I) Melakukan Keluarga Berencana dengan menja-rangkan kelahiran dibolehkan (mubah) bila hajat keperluan pribadi suruni isteri yang bersangkutan dalam rangka tujuan di bagian A di atas asal .dengan kesadaran, pengertian sukarela dan kesepakatan ke-dua belah pihak.

(2) Pelaksanaan Keluarga Berencana secara umum ha-ruslah didahului dengan penelitian/research oleh

suatu Team Ahli dalam bidang-bidang yang ber-sangkutan (Kesehatan), Kependudukan, Perekono-mian, Sosial, Pendidikan dan Agama). Bilamana hasil penelitian itu menentukan bahwa Keluarga Berencana memang benar-benar perlu dilaksanakan secara umum. maka bolehlah dilakukannya dalam arti di daerah mana dan sampai jangka waktu yang diperlukan.

(3) Ala t-alat/Cara-cara :

a. Untuk melaksanakan Keluarga Berencana boleh dipergunakan obat-obat/alat-alat dan cara-cara yang tidak membahayakan suami isteri dan ketu-runan, rohani dan jasmani, seperti pill, zalf, kon-dom, diaphrahma, pantang berkala dan azal.

b. Pemakaian I. U.D. (spiral) dan sejenisnya tidak dapat dibenarkan selama masih ada obat-obat dan alat-alat lain karena untuk pemasangannya/

pengon trolannya harus dilakukan dengan meli-ha t aurat besar (mugholladhoh) perempuan, meli-hal mana diharamkan oleh Syariat Islam, kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa (darurat).

(c) Pemandulan :

Melakukan pemandulan yang berarti mencegah sama se-kali pem bu ah an, baik yang untuk sementara apalagi untuk selamanya dengan operasi atau pengobatan, baik untuk suami atau isteri dilarang (diharamkan) oleh Sya-riat Islam kecuali dalam keadaan sangat terpaksa (daru-rat) umpamanya: untuk menghindarkan penurunan pe-nyakit dari ibu/bapak kepada anak-anaknya atau bilama-na si ibu terancam jiwanya kalau ia mengandung atau melahirkan lagi.

( d) Penggugu ran.

Melakukan pengguguran kandungan dilarang

(diharam-kan) oleh Syariat Islam, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa (darurat), umpamanya untuk menyelamatkan nyawa si ibu.

(e) A n j u r a n.

Pemerintah hendaknya memperkeras dan mempergiat pengawasan atas pemasukan, pengedaran dan pemakaian obat-obat serta alat-alat Keluarga Berencana, supaya

ja-ngan disalah gunakan (untuk tujuan yang tidak baik).

Adapun ayat Al Qur'an dan Hadist Nabi yang berhu-bungan dengan Keluarga Berencana dan Kependudukan, an-tara lain adalah sebagai berikut :

( l) Hendaklah orang-orang merasa khawatir kalau mereka meninggalkan di belakang mereka anak cucu yang le-mah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan me-reka. Hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan ber-kata yang benar.

(Al Qur'an S. An-Nisa ayat 9).

(2) Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu (dari kehancuran yang akan membawa ka-mu) masuk ke neraka ... dan seterusnya.

(Al Qur'an S. At-Tahrim ayat 6).

(3) Capailah dari ni'mat Allah yang dianugerahkan kepada kamu bahagia di akhirat dan jangan lupa nasib karnu di dunia ini. Berbuat baiklah seperti Allah telah berbuat baik kepada kamu dan jangan melakukan kerusakan.

Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang pe-rusak.

(Al Qur'an S. Al Qoshash ayat 77).

(4) Bahaya besar bagi orang yang berkeluarga besar sedang hidupnya dalarn kemiskinan.

(Al Hadist).

(5) Meninggalkan anak-cucu dalam keacaan mampu lebih baik dari pada meninggalkan mereka dalam keadaan mis-kin - mengharapkan kasihan orang.

(Al Hadist riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam dokumen KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL (Halaman 186-195)