BAB II. TANGGUNGJAWAB KELUARGA KATOLIK TERHADAP
A. Tanggungjawab Keluarga Katolik
2. Keluarga Katolik
a. Pengertian Keluarga Katolik
FX. Heryatno WW, SJ mengemukakan bahwa Paus Yohanes Paulus II, yang mendapat salah satu gelar sebagai Paus Keluarga, melalui Anjuran Apostolik
Familiaris Consortio (1981), menegaskan keyakinannya bahwa keluarga Kristiani
sebagai Gereja rumah tangga atau Gereja kecil (LG, 11, FC, 21, 86, KGK) dan sekaligus sebagai sel pertama masyarakat (FC art. 42) memiliki posisi yang amat strategis demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah hidup bersama. Perkembangan keutamaan sosial dan kesejahteraan bersama dalam banyak hal di masa depan sangat dipengaruhi oleh kualitas kehidupan keluarga termasuk keluarga-keluarga Kristiani. Citra keluarga Kristiani baik sebagai Gereja rumah tangga maupun sebagai sel pertama masyarakat merupakan dua hakikat dasar keluarga yang saling menopang dan sekaligus mengandaikan.Sebagai
Ecclesia Domestica (LG, 11) keluarga-keluarga Kristiani, berdasar belas kasih
Kristus yang telah mempersatukan mereka secara istimewa melalui sakramen perkawinan, menghayati panggilan mereka melalui beberapa kegiatan inti keluarga yaitu persekutuan pribadi (koinonia), kesaksian iman (marturia), perayaan iman
(leitourgia), pelayanan (diakonia), dan pewartaan (kerygma) yang amat berdekatan
dengan (didache) atau pengajaran. Sedang sebagai sel pertama masyarakat, keluarga Kristiani dipanggil dan diutus oleh Dia yang telah mempersatukan mereka untuk terlibat secara aktif membangun hidup bersama demi Kerajaan Allah. Paus Yohanes Paulus II, melalui beberapa beberapa dokumen yang ia tulis, menyatakan bahwa keluarga Kristiani mempunyai posisi kunci dalam usaha mewujudkan
nilai-nilai Kerajaan Allah (Christifideles Laici, 40, FC, 42, dan SRS, 33). Keluarga sebagai komunitas cinta, komunitas keutamaan, dan sekolah hidup sosial memberikan sumbangan utama mereka melalui penghayatan hakikat dan panggilan mereka sebagai keluarga Kristiani di tengah-tengah hidup masyarakat di zaman sekarang.
KWI (2014: 5) menyatakan bahwa keluarga merupakan buah dan sekaligus tanda kesuburan adikordrati Gereja serta memiliki ikatan yang mendalam sehingga keluarga disebut sebagai Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica). Sebutan ini selain memperlihatkan eratnya pertalian anara Gereja dan keluarga, juga menegaskan fungsi keluarga yang disebut bentuk yang terkecil dari Gereja.
Keluarga, yang didasarkan pada cintakasih serta dihidupkan oleh cintakasih, merupakan persekutuan pribadi: suami dan istri, orang tua dan anak-anak, serta saudara-saudara. Kasih sejati dalam keluarga adalah kasih yang membuahkan kebaikan bagi semua anggota keluarga (FC art. 18). Pengertian keluarga ini memperlihatkan bahwa setiap manusia berasal dari keluarga. Dalam keluarga terdapat pribadi yang berbeda-beda, namun mereka hidup bersama dalam cinta kasih. Setiap pribadi menunjukkan cinta kasih melalui tindakan konkret demi kebahagian, kesejahteraan, dan keselamatan keluarga (KWI 2011: 10).
Keluarga tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Keluarga merupakan sel terkecil dari masyarakat luas. Konsili Vatikan II mengatakan: “Karena pencipta alam semesta telah menetapkan persekutuan suami-istri menjadi asal-mula dan dasar manusia, maka keluarga merupakan sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat” (AA art. 11). Sebagai sel terkecil dalam masyarakat, keluarga
mempunyai hubungan-hubungan yang amat penting dan organik dengan masyarakat, karena di dalam keluarga seluruh jaringan hubungan sosial dibangun (Paus Yohanes Paulus II, 1994:8). Melalui kehadiran dan peran anggota-anggotanya, keluarga menjadi tempat asal dan upaya efektif untuk membangun masyarakat yang memanusia dan rukun (FC art. 43).
Keluarga memiliki hubungan kedekatan atau relasi antar anggota-anggotanya. Dalam perkawinan dan keluarga terjalin serangkaian hubungan antar pribadi (FC art. 15). Setiap anggota keluarga dijalin oleh relasi yang bersifat personal dan fungsional. Yang dimaksud dengan relasi personal adalah relasi antar pribadi, yang tidak didasarkan pada kedudukan atau fungsi seseorang. Dalam keluarga, kedua relasi ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena hubungan fungsional dalam keluarga harus selalu personal juga, artinya harus selalu dalam semangat menerima yang lain sebagai pribadi yang bermartabat sama karena memiliki hak yang sama pula.
Pandangan mengenai keluarga di atas sejalan dengan Katekismus Gereja Katolik yang mengartikan keluarga Katolik sebagai persekutuan kodrati, di mana pria dan wanita dipanggil untuk menyerahkan diri dalam cintakasih melanjutkan kehidupan (KGK. No. 2207). Arti persekutuan pribadi-pribadi ini terjadi atas dasar pilihan dan keputusan sadar dan bebas antara seorang pria dan seorang wanita, serta diungkapkan dalam kesepakatan nikah. Mereka bersedia meninggalkan segalanya, termasuk orang tua dan sanak-saudaranya untuk membangun persekutuan hidup dengan pasangannya.
Pria dan wanita dipanggil untuk senantiasa menumbuhkembangkan persatuan mereka dengan selalu setia pada janji perkawinan. Mereka tidak lagi dua melainkan satu daging. Dalam Mat 19:6 dikatakan “Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu, apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Sabda Yesus ini mengatakan bahwa suami-istri merupakan dua pribadi yang telah disatukan oleh Allah. Surat Santo Paulus kepada jemaat di Efesus (5:22-23) mengatakan suatu perkawinan dapat dikatakan sebagai sakramen, sebagai tanda dan rahmat hubungan antara Allah dan jemaat-Nya, bila perkawinan tersebut dilakukan secara sah oleh dua pribadi yang telah dibabtis dalam nama Yesus. b. Gereja Katolik adalah Gereja Rumah Tangga
Heryatno mengemukakan kembali pandangan Santo Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostoliknya menegaskan kembali pandangan para bapa konsili Vatikan II bahwa keluarga Kristiani merupakan Gereja rumah tangga (Ecclesia
Domestica) yang dilandasi oleh cintakasih antar anggota keluarga (FC, 21). Cinta
kasih antar suami istri, orang tua dengan anak-anak dan sebaliknya membentuk keluarga sebagai persekutuan antar pribadi (FC, 15).
Heryatno menyampaikan kembali pandangan Groome (2011) yang menyatakan keluarga Kristiani menghayati hakikatnya sebagai Gereja rumah tangga melalui kegiatan-kegiatan inti keluarga seperti mewujudkan hakikatnya sebagai persekutuan antar pribadi (koinonia), memberikan kesakisan iman mereka (marturia), merayakan iman mereka (leitourgia). Di samping itu, melihat bahwa kegiatan keluarga dalam pelayanan (diakonia) dan pewartaan sabda (kerygma) merupakan jalan yang penting untuk mewujudkan panggilan dasar sebagai Gereja
rumah tangga. Groome berpendapat meskipun banyak keluarga Kristiani sedang mengalami krisis, tetapi peran mereka sebagai Gereja rumah tangga tetap dapat dijalankan. Keluarga yang sedang mengalami kesulitan tetap dapat mewujudkan panggilannya menjadi pewarta Injil melalui jalan kesaksian dan pelayanan. Mereka boleh percaya bahwa Allah dapat berkarya melalui keluarga-keluarga yang sedang terluka. Berikut ini akan disampaikan secara singkat uraian terhadap masing-masing kegiatan inti keluarga Kristiani beserta beberapa langkah konrket untuk mewujudkan hakikat keluarga sebagai Gereja rumah tangga.
1) Persekutuan (koinonia) keluarga sebagai persekutuan pribadi yang ramah terbuka
Sebagai komunio antar pribadi, keluarga Kristiani diharapkan memiliki keramahtamahan yang otentik dan terbuka terhadap komunitas lain atau komunitas yang lebih besar. Citra hidup keluarga Kristiani yang ramah tamah amat relevan dengan makna katolik yang berarti terbuka, menerima siapa saja. Sikap hidup ini berarti memperlakukan setiap orang sebagai saudara atau saudaraku (FC, 64). Sikap ini juga sangat penting dikenakan karena akan menjauhkan orang dari sikap diskriminatif. Heryatno menyampaikan kembali pandangan Groome (2011:208-212) mengemukakan 5 strategi yang dapat digunakan untuk membina keluarga Kristiani yang ramah dan terbuka. Pertama, mengusahakan supaya setiap anggota keluarga diterima, dihormati, dan dicintai. Kedua, menemukan cara untuk bersikap terbuka kepada tetangga, sesama, dan setiap orang yang datang. Ketiga, menunjukkan sikap peduli atau bela rasa kepada mereka yang membutuhkan. Strategi ini sebetulnya dapat pula dipakai untuk kegiatan diakonia. Mereka yang paling membutuhkan adalah kelompok orang yang miskin, kecil, tersingkir,
berkebutuhan khusus, dalam diri yang lemah, keluarga justru dengan lebih mudah menemukan wajah Tuhan yang penuh belas kasih. Keempat, bergabung dengan perkumpulan keluarga yang ada di lingkungan Gereja atau masyarakat, entah itu KBG (Komunitas Basis Gerejawi) atau KBM (Komunitas Basis Masyarakat). (5) Mengadakan acara rekonsiliasi keluarga supaya semakin mudah saling mengampuni dan mengasihi.
2) Marturia: keluarga sebagai saksi-saksi kasih
Kegiatan memberikan kesaksian melalui tindakan bela rasa yang nyata memiliki hubungan yang erat dengan pelayanan (diakonia). Cinta kasih kepada Allah secara penuh dan cinta kasih kepada sesama pertama-tama diwujudkan di dalam keluarga. Ini cocok dengan kata-kata bijak yang menyatakan: “Cinta kasih dimulai di dalam rumah sendiri”. Heryatno mengemukakan kembali pandangan Groome (2011: 212) mengatakan bahwa keluarga Kristiani merupakan tempat utama untuk menghidupi dan mewujudkan nilai Kerajaan Allah seperti cinta kasih, kesabaran, kemurahan hati, kejujuran. Nilai-nilai ini bukan merupakan hal yang mudah untuk dihayati di dalam keluarga. Bersikap sabar kepada anak sendiri yang menginjak usia remaja dan setiap hari mendengarkan dengan hati bukan perkara yang mudah. Di tengah-tengah masyarakat yang lebih besar dengan cepat kita dapat melihat segala macam ketidakadilan sosial dan berbagai tindakan kekerasan, tetapi di dalam keluarga Kristiani kita berusaha tetap berlaku adil, tulus, dan rendah hati. Pada kegiatan marturia ini (2011: 214-218) juga menyampaikan 5 strategi untuk mewujudkannya di dalam keluarga. Pertama, perlunya keluarga sering-sering menilai atmosphere hidup keluarga, sejauh mana sungguh dilandasi oleh nilai-nilai
Kristiani. Kedua, menggunakan bahasa sehari-hari yang sungguh mencerminkan nilai-nilai Kristiani. Ketiga, mengusahakan dilaksanakannya saat Sabat dalam keluarga untuk memaknai makna kerja bersama dan sekaligus mempertajam visi keluarga. Keempat, meningkatkan kesadaran akan perlunya menjaga lingkungan yang sehat di dalam keluarga. Kelima, memperlakukan setiap anggota keluarga dengan cara yang saling menghormati dan tidak bias gender.
3) Leitourgia: keluarga sebagai komunitas perayaan iman
Ibadat atau liturgi tidak hanya dirayakan di gereja paroki atau di lingkungan melainkan juga perlu dirayakan di dalam keluarga untuk menciptakan suasana religius di dalamnya. Ibadat keluarga merupakan kegiatan yang krusial untuk pembinaan iman seluruh anggota keluarga entah itu orang tua, anak-anak, dan anggota keluarga besar lainnya. Tentu, telah disadari keluarga bukan biara. Heryatno mengemukakan kembali pandangan Groome (2011: 218-222) juga mengemukakan 5 strategi yang perlu dilakukan. Pertama, pada hari-hari istimewa entah ulang tahun anggota keluarga atau ulang tahun perkawinan keluarga dapat mengadakan ibadat keluarga. Ibadat yang berbentuk doa bersama dapat dilakukan secara rutin misal pada hari Minggu malam atau menjelang makan bersama. Kedua, menyusun ibadat keluarga sendiri sesuai dengan kebutuhan agar lebih relevan dengan keadaan keluarga. Ibadat keluarga semacam ini dapat lebih meyakinkan anak-anak akan kesetiaan dan kemurahan hati Allah. Ketiga, menyusun ibadat keluarga yang sambung dengan tradisi kesalehan umat dan nilai budaya setempat. Keempat, memasang simbol religius di kamar utama atau di kamar-kamar pribadi entah berupa gambar, patung, salib yang bernilai estetis. Kelima, menikmati karya
seni entah film, lagu, puisi, kisah rohani, dll untuk memupuk dan mengembangkan spiritualitas keluarga.
4) Diakonia: keluarga yang berbela rasa
Dengan berkembangnya paham materialisme, konsumerisme, dan individualisme di tengah-tengah masyarakat, keluarga Kristiani sebagai Gereja rumah tangga diharapkan memiliki hati dan kepedulian pada mereka yang paling membutuhkan. Kegiatan ini akan sangat memperkembangkan keluarga dan meningkatkan kebahagiaan mereka. Beberapa keluarga Kristiani yang melakukan tindakan cinta kasih sebagai perwujudan syukur mereka atas kemurahan hati Allah. Dengan tulus mereka berbagi kemurahan ilahi kepada sesama yang sangat membutuhkan. Heryatno mengemukakan kembali pandangan Groome (2011: 222-225) menyampaikan beberapa strateginya. Pertama membiasakan berbagi dan berbela rasa antara lain dengan bersikap dan bertindak adil kepada semua anggota. Memperhatikan secara lebih istimewa anggota keluarga yang paling lemah. Kedua, menjauhkan diri dari segala bentuk KDRT baik yang bersifat fisik ataupun verbal. Ketiga, terlibat secara aktif dalam kegiatan cinta kasih yang dilakukan oleh lingkungan Gereja atau masyarakat. Dalam hal ini orang tua perlu memberikan teladan kepada anaknya dan sangat bagus apabila dikerjakan secara bersama-sama. Keempat, menyisihkan sebagaian pendapatan demi mendukung gerakan penegakan keadilan dan perdamaian serta pelestarian lingkungan hidup. Dapat juga digunakan untuk biasiswa. Kelima, tindakan amal cinta kasih dilakukan tanpa memandang latar belakang agama, suku, atau ras.
5) Kerygma: keluarga sebagai komunitas pewarta sabda Allah
Heryatno menyampaikan kembali Groome (2011: 225) berpendapat perlunya meyakinankan orang tua bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berbagai pengalaman iman kepada seluruh anggota keluarga, terutama kepada anak-anaknya. Ia juga menyatakan bahwa katekese keluarga sangat penting untuk diselenggarakan di dalam keluarga demi mewujudkan hakikat keluarga sebagai Gereja rumah tanga. Analog dengan katekese umat, katekese keluarga dapat menerapkan semboyan katekese dari keluarga, oleh keluarga, dan untuk keluarga. Perlu disadari bahwa pewartaan sabda dalam keluarga perlu disatukan dengan kegiatan pelayanan dan kesaksian agar secara efektif dapat digununakan untuk mewujudkan hakikat keluarga sebagai Ecclesia domestica. Dengan pelaksanaan katekese dalam keluarga, semua anggota keluarga diharapkan semakin merasa akrab dengan Kitab Suci dan menjadikannya sebagai makanan rohani keluarga.
c. Keluarga Katolik Adalah Sel Terkecil di Masyarakat
Heryatno mengemukakan kembali pandangan Santo Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostolik Familiaris Consortio, a. 42 yang menyatakan keluarga Kristiani sebagai sel pertama masyarakat. Keluarga Kristiani memiliki hubungan yang vital dan organis dengan hidup masyarkat. Kehidupan keluarga Kristiani tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Itu berarti, perkembagan, kemajuan, dan kesehatan masyarakat juga berhubungan dengan kehidupan keluarga Kristiani. Santo Yohanes Paulus II menyebut keluarga sebagai sekolah sosial, di mana dalam keluargalah dikembangkan keutamaan-keutamaan sosial yang sangat berguna demi
pembangunan hidup bersama. Karena itu, Santo ini mengajak keluarga untuk memandang dirinya bukan sebagai tempat bersembunyi dari segala kekacauan dan penyakit sosial masyarakat (FC, 64). Ia juga meminta supaya keluarga Kristiani tidak bersikap eksklusif dan egois hanya memikirkan kepentingan keluarga secara internal semata. Sebagai sel masyarakat keluarga memiliki peran yang vital dalam pembangunan masyarakat agar nilai-nilai Kerajaan Allah semakin terwujud di tengah-tengah hidup mereka. Turut serta secara aktif dalam pembangunan masyarakat relevan dengan hakikat keluarga sebagai sel pertama masyarakat dan sekaligus relevan dengan panggilan dan pengutusan yang diberikan oleh Allah kepada semua orang yang telah dibaptis dan disatukan dengan Tubuh Mistik Kristus. Seperti telah disinggung di depan, dan di sini diulangi lagi penegsan yang disampaikan oleh Santo Yohanes Paulus II bahwa keluarga memiliki tempat yang strategis dalam usaha bersama menegakkan Kerajaan Allah (FC, 42; SRS, 33).
Heryatno menyampaikan kembali pandangan Santo Yohanes Paulus II juga menyatakan bahwa sumbangan utama keluarga Kristiani dalam pembangunan masyarakat melalui kesetiaan dan kesungguhan mereka menghidupi panggilan dan pengutusannya sebagai persekutuan antar pribadi yang telah dipersatukan dalam ikatan cinta kasih yang datang dari Allah sendiri. Pengalaman keluarga Kristaini yang secara tekun menghayati panggilan dan pengutusannya sebagai Gereja rumah tangga dan buah-buah refleksi terhadapnya merupakan bahan yang amat layak untuk dibagikan kepada keluarga-keluarga yang lebih besar baik dalam lingkup Gereja maupun lingkup masyarakat. Dalam hal ini Santo Yohanes Paulus II menegaskan bahwa pengalaman persekutuan dan berbagi cinta kasih dalam
kehidupan keluarga Kristiani merupakan sumbangan pertama dan utama bagi pembangunan masyarakat (FC, 43). Pengalaman keluarga membangun hakikatnya sebagai Gereja rumah tangga menjadikan keluarga sebagai sumber yang kaya dan pelaku yang efektif untuk mengusahakan hidup bermasyarakat agar memiliki citra yang lebih humanis. Corak kehidupan keluarga Kristiani sebagai sekolah cinta, sekolah keutamaan sosial di mana keluarga lebih mengasihi anggota keluarga yang paling membutuhkan apabila diteruskan dan diwujudkan dalam kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat akan menjadi daya yang kokoh untuk menghadapi paham individualisme yang telah bersatu dengan materialisme dan yang memperanakkan kecendurangan depersonalisasi. Panggilan dasar keluarga Krsitiani untuk mengharagai setiap orang sebagai pribadi yang bermartabat karena diciptakan oleh Allah menurut citra dan gambarnya sendiri (Kej 1:26-27) menjadi fondasi utama untuk pembangunan hidup masyarakat agar semakin berwajah manusiawi.
d. Ciri-ciri keluarga Katolik
Pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga, malahirkan anak, membangun hidup kekerabatan yang bahagia dan sejahtera (KWI, 2011: 6). Keluarga merupakan bagian dari Gereja, keluarga ikut ambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yakni mewartakan dan menyebarluaskan Injil. Maka dari itu, keluarga juga sering disebut Gereja kecil (FC art. 21). Sebagai Gereja Kecil, keluarga Katolik memiliki cici-ciri yang khas, yakni membentuk persekutuan
pribadi-pribadi, monogam dan tak terceraikan Rukiyanto dan Esti Sumarah (2014: 63-65).
1) Membentuk persekutuan pribadi-pribadi
Keluarga mempunyai peranan membentuk persekutuan pribadi-pribadi. Membentuk persekutuan pribadi berarti membangun antar pribadi dalam komunitas yang berdasarkan pada cinta kasih. Pribadi yang bersekutu atau bersatu adalah pertama-tama suami dan istri, kemudian orang tua dan anak-anak serta sanak saudara. Pribadi-pribadi yang hidup dalam keluarga memerlukan dasar untuk mempersatukan mereka. Dasar yang mengikat persatuan mereka adalah cinta kasih. Cinta kasih merupakan dasar dan kekuatan dan tujuan akhir hidup keluarga. Tanpa dilandasi dan diperkokoh dengan cinta kasih, keluarga tidak dapat hidup atau memperkembang atau menyempurnakan persekutuan pribadi-pribadi (FC art. 18) “Cinta merupakan dasar kehidupan keluarga Kristiani” (Wingnyasumarta, 2000: 13). Artinya keluarga Kristiani harus memperkembangkan cinta itu agar tumbuh menjadi persekutuan antar pribadi. Sebab cinta yang mempersatukan suami istri adalah cinta yang eksklusif. Cinta suami istri juga bersifat tak terceraikan, karena dilandaskan pada cinta yang total, dituntut demi kesejahteraan anak, serta dikehendaki Allah menjadi lambang cinta Allah dan Kristus pada umat-Nya (Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah 2014: 65). Perempuan dan laki-laki berperan sebagai suami dan istri dan juga sebagai ayah dan ibu terhadap anak-anak mereka. Kehadiran anak dalam keluarga mereka memang patut dilindungi, dihargai
dan dicintai. Martabat pribadi anak-anak mereka diakui dan dijadikan pusat perhatian orang tua.
2) Monogam dan Tak Terceraikan
Pernikahan adalah persekutuan hidup yang dibangun oleh seorang pria dan seorang wanita (monogami). Terbentuknya persekutuan itu pertama dijalin dan berkembang oleh persekutuan suami istri melalui janji perkawinan. Mereka ini ‘bukan lagi dua melainkan satu’ (Mat 19:16). Kutipan ini memberi gambaran bahwa pasangan suami istri senantiasa menjaga keutuhan hubungan mereka berdua. Kesatuan cinta yang mereka bina sepenuhnya hanya dapat terwujud dalam ikatan satu orang pria dan satu orang wanita berlangsung sepanjang hidup mereka (kekal tak terceraikan). Maka sifat poligami (memiliki istri lebih daru satu), dengan berbagai alasan apapun sangat bertentangan dengan kehendak Allah (GS art. 49).
Persekutuan suami istri menjadikan mereka dipanggil oleh Allah untuk tumbuh dan berkembang dalam persekutuan yang mereka bina lewat kesetiaan dalam janji pernikahan untuk saling menyerahkan diri seutuhnya (FC art. 19). Persekutuan suami istri tidak hanya merupakan ciri kesatuan melainkan tak terceraikan. Kesatuan yang tidak terceraikan ini sekaligus menuntut kesetiaan yang utuh dari kedua pihak baik dari suami maupun dari istri dan kepentingan anak-anak (GS art. 48). Demi kepenuhan cinta menuju kesempurnaannya, dan demi kesejahteraan anak serta tuntutan sakramental, cinta suami istri merupakan lambang cinta Allah dan Kristus kepada umat-Nya yang bersifat kekal, maka perceraian ditolak secara tegas oleh Kristus sendiri. Sebuah pernikahan tentu membawa konsekuensi atasnya. Janji nikah yang diikrarkan oleh kedua mempelai
membuktikan bahwa cinta mereka pun dituntut menuju kesempurnaan serta kesejahteraan anak. Hubungan cinta keduanya juga merupakan gambaran hubungan Allah dan Kristus kepada Gereja yang mana Kristus sebagai kepalanya dan manusia menjadi anggota-anggotanya. Oleh karena itu sebuah pernikahan yang telah dilakukan secara sah dan diikat oleh rahmat sakramen perkawinan tidak dapat diceraikan atau dipisahkan lagi. Demikian juga segala bentuk perbedaan maupun perpecahan yang menyangkut apapun itu merupakan sebuah penyimpanan dari makna kesatuan yang sesungguhnya. Walaupun suami-istri memiliki berbagai perbedaan, hendaknya jangan sampai hal tersebut menjadi sumber perceraian tetapi justru didayagunakan secara sinergis, agar dapat tercipta kesejahteraan bersama (Kristianto dalam buku Rukiyanto dan Esti Sumarah 2014: 65).
e. Tugas Keluarga Katolik
Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah (2014: 66-70). mengungkapkan kembali isi dari Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang peranan Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern (Familiaris Consortio) bahwa sesuai dengan rencana Allah, keluarga Katolik mengemban tugas penting sebagai berikut:
1) Mengabdi Kehidupan
Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah (2014: 66). mengungkapkan bahwa peranan keluarga Kristiani yang juga sangat penting adalah mengabdi kehidupan. Peranan dari keluarga yang pertama-tama adalah penyaluran kehidupan. Peranan keluarga menyalurkan kehidupan diwujudkan melalui pengadaan
keturunan. Kesuburan cinta kasih suami istri terbuka bagi adanya keturunan. Hubungan suami istri tidak hanya berpusat pada hubungan seks saja. seksualitas harus semakin mengarahakn diri akan maknanya sebagai ungkapan penyerahan diri masing-masing pribadi dengan cinta kasih yang mendalam (unifikasi) dan penuh syukur atas Rahmat Kasih Allah yang telah memanggil mereka untuk hidup berkeluarga. Tugas dan kewajiban orang tua untuk mendidik anak itu merupakan hak esensial, orisinil dan primer, tak tergantikan dan tak terpindahkan oleh siapapun semua itu didasarkan atas dasar cinta sebagai prinsipnya. Anak-anak perlu dididik dalam nilai-nilai dasar: tidak lekat pada harta, adil karena cinta meluap, dan murni dalam seksualitas. Dan masih banyak hal lain, seperti pendidikan iman, pendidikan mengenal arah hidup atau panggilan, dan sebagainya, karena orang tua adalah ibu dan guru, seperti Gereja, dalam bidang iman.
2) Ikut Serta Dalam Pengembangan Masyarakat
Keluarga sebagai sel masyarakat mempunyai peranan yang pertama dan amat penting dalam mengembangkan masyarakat yang sehat. Masyarakat yang