• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

C. Variabel Penelitian

12. Keluhan sakit

Aday et al membagi kebutuhan (need) pelayanan kesehatan dalam perceived need dan evaluated need. Perceived need (persepsi sakit) dilihat dari sisi konsumen meliputi status kesehatan berdasar pendapat umum, seperti jumlah keluhan sakit (symptoms of illness), status kesehatan dibandingkan orang lain, berapa hari tidak produktif karena sakit (disability days). Sedangkan evaluated need (memiliki penyakit) dinilai dari hasil pengukuran/diagnose penyakit yang dilakukan oleh tenaga medis profesional. Penyakit (disease) adalah bentuk reaksi biologis terhadap suatu organisme, benda asing atau injury, yang bersifat objektif ditandai adanya

perubahan fungsi tubuh sebagai organisme biologis. Sedangkan persepsi sakit (illness) merupakan penilaian seseorang terhadap penyakit tersebut sebagai pengalaman langsung. Konsep sakit (illness) berbeda pada tiap orang atau kelompok masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh faktor fisik, sosial dan mental yang menghasilkan kondisi sakit tersebut (Notoatmodjo and Sarwono, 1985 dalam Su'udi, 2010).

Persepsi individu terhadap sehat sakit erat hubungannya dengan perilaku pencarian pengobatan. Individu atau anggota masyarakat yang terkena penyakit tetapi tidak merasa sakit (disease but no illness) tentunya tidak berusaha mencari pengobatan. Namun bila memang merasakan sakit, maka respon antar individu akan berbeda-beda. Setidaknya ada empat jenis respon orang yang sakit, yaitu (1) menerima saja tanpa berbuat apa-apa (no action), (2) berusaha mengobatinya sendiri (self treatment) dengan membuat atau membeli ramuan atau obat-obatan sesuai dengan pengetahuannya, (3) mencari pengobatan ke fasilitas pengobatan tradisional (traditional remedy) seperti dukun atau pengobatan tradisional lainnya, dan (4) mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan modern, seperti mantri, dokter, ke Puskesmas ataupun rumah sakit. Nadjib menggunakan banyaknya keluhan sakit sebagai salah satu proksi adanya kebutuhan (need) seseorang terhadap pelayanan kesehatan (Nadjib, 1999 dalam Su'udi, 2010).

Menurut teori Health Service Use dari Andersen (1975) menyatakan bahwa perilaku masyarakat dalam memanfaatkan layanan kesehatan

ditentukan oleh tingkat atau derajat penyakit yang dialami serta adanya kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan (perceived need). Adanya tingkat atau derajat penyakit yang semakin dirasakan berat, maka individu tersebut akan semakin membutuhkan kesembuhan dengan demikian akan semakin perlu adanya pelayanan kesehatan, demikian juga dengan kebutuhan layanan kesehatan, jika semakin tinggi kebutuhan akan suatu layanan maka akan semakin tinggi pula keinginan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan tersebut (Manurung, 2008).

Persepsi masyarakat tentang kesehatan masih belum sesuai dengan konsep yang sebenarnya. Persepsi sehat diperlihatkan oleh individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat. Sedangkan, masyarakat mengganggap dirinya sakit pada saat mereka sudah tidak mampu lagi untuk melakukan aktivitas dan terbaring lemah. Pada saat masyarakat tidak dapat lagi melakukan aktivitas yang menggangga dirinya sakit disaat itulah masyarakat baru memanfaatkan Puskesmas Barrang Lompo Makassar. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2010), rendahnya utilisasi (penggunaan) fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, rumah sakit, balai pengobatan, dan sebagainya seringkali kesalahan atau penyebabnya ditudingkan kepada faktor jarak antara fasilitas tersebut dengan masyarakat yang terlalu jauh (baik jarak secara fisik maupun secara sosial), tarif yang tinggi, pelayanan yang tidak memuaskan dan sebagainya.

Kita sering melupakan faktor masyarakat itu sendiri, di antaranya persepsi atau konsep masyarakat tentang keluhan sakit. Penelitian yang dilakukan oleh Mujahidah (2013), menyatakan bahwa persepsi memiliki hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan.

Sejalan juga dengan penelitian Wahyuni (2012) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara diagnosa penyakit dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Adanya penyakit yang diderita memberikan peluang memanfaatkan pelayanan kesehatan Puskesmas 2,108 kali (95% CI: 1,29 – 3,45), dibandingkan kelompok yang tidak ada penyakit.

Tabel 2. Sintesa Penelitian No Nama Peneliti

Tahun Judul Metode Penelitian Hasil

1 (Napirah, et al 2016)

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan

Pelayanan Kesehatan Di Wilayah Kerja Puskesmas

Tambarana

Kecamatan Poso Pesisir

Utara Kabupaten Poso

Penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 69 responden

yang diambil

menggunakan rumus Standley Lameshow yang populasinya diketahui.

Data dianalisis secara deskriptif yaitu analisis univariat dan bivariat, pada taraf kepercayaan 95% (p<0,05).

Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa persepsi masyarakat tentang kesehatan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan (ρ=0,000), persepsi masyarakat tentang kualitas pelayanan tidak berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan (ρ=0,213), pendapatan keluarga berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan (ρ=0,004), dan terdapat hubungan tingkat pendidikan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan (ρ=0,000). Tidak adanya hubungan persepsi masyarakat tentang kualitas pelayanan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan dan empati.

2 (Rumengan and Kandou, 2015)

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan

Pelayanan Kesehatan Pada Peserta BPJS

Kesehatan di

Penelitian survey analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional.

Ada hubungan yang bermakna antara Persepsi responden tentang JKN, akses layanan dan Persepsi responden terhadap Tindakan Petugas dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas.

Puskesmas Paniki Bawah Kecamatan Mapanget Kota Manado

3 (Rambe, 2015) Determinan Pemanfaatan

Pelayanan Rawat Jalan Di Puskesmas

Batang Toru

Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2015

Penelitian survei dengan menggunakan

pendekatan explanatory research yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Batang Toru

Berdasarkan uji bivariat dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pengetahuan, sikap, persepsi, keterjangkauan dan sikap petugas ada hubungan terhadap pemanfaatan pelayanan rawat jalan sedangkan berdasarkan uji multivariat variabel sikap petugas kesehatan mempunyai nilai p sebesar 0,011 dan Exp (B) sebesar 9,375, merupakan model terbaik untuk meningkatkan pemanfaatan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Batang Toru.

4 Anjela Mei Rahayu

Ambarita, 2015

Determinan Pemanfaatan Puskesmas

Kecamatan Pematang Sidamanik Oleh Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kabupaten

Simalungun Tahun

Survei dengan tipe explanatory research untuk menjelaskan pengaruh faktor predisposisi (pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan sikap), faktor pemungkin (informasi dan keterjangkauan), dan faktor kebutuhan (kondisi kesehatan) terhadap

sebanyak 24 responden (26,7%) memanfaatkan puskesmas dan 66 responden (73,3%) tidak memanfaatkan puskesmas Kecamatan pematang Sidamanik.

2015 pemanfaatan Puskesmas Kecamatan Pematang Sidamanik

5 Ratna Dewi Hussein

Musiana, 2012

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan

Puskesmas Oleh Pasien Hipertensi

Penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 100 responden.

Ada hubungan antara umur dengan pemanfaatan puskesmas ,tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan pemanfaatan puskesmas, tidak ada hubungan antara pendidikan dan pemanfaatan puskesmas tidak ada hubungan pendapatan dengan pemanfaatan puskesmas, ada hubungan antara pekerjaan dengan pemanfaatan puskesmas ,tidak ada hubungan antara akses ke puskesmas dengan pemanfaatan puskesmas, tidak ada hubungan antara peranan orang lain dengan pemanfaatan puskesmas.

6 (Su‟udi, 2010) Analisis Pemanfaatan Subsidi Pelayanan Kesehatan Gratis Tingkat Puskesmas Di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan Tahun 2010

studi analitik dengan disain cros sectional.

Sampel sebanyak 405 rumah tangga, diambil secara acak sistematik dari klaster 15 desa/kelurahan yang berada di tiga wilayah Puskesmas terpilih.

Analisis

Faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas adalah pengetahuan, kemauan untuk membayar (WTP), adanya penyakit dan biaya

transportasi.

dilakukan menggunakan statistik regresi logistik ganda

7 Elmamy Handayani, Sharon

Gondodiputro, Avip Saefullah, 2012

Faktor-faktor yang Memengaruhi

Kemauan Masyarkat Membayar Iuran Jaminan Kesehatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang, melalui survei.

Sampel Kepala keluarga atau istri kepala keluarga berjumlah 142 orang.

Rata-rata nilai ATP Rp.108.270,- , nilai terkecil Rp.10.000,- dan terbesar Rp.800.000,- Responden dengan ATP≥Rp.88.500,- , memiliki pendapatan rata-rata yang lebih besar dibanding responden dengan ATP<Rp.88.500,-, kebutuhan dasar mereka relatif telah terpenuhi, sehingga kebutuhan akan jaminan kesehatan muncul.

8 (Rianti, Wibowo and Hardiyanto, 2011)

Kemampuan Dan Kemauan Membayar Pasien

Terhadap Pelayanan Rawat Inap

RSUD Dr. Rasidin Padang

Penelitian deskriptif kuantitatif

Semua transaksi keuangan yang terjadi pada bulan

Januari-Desember 2011 dan pasien rawat inap selama bulan Juli 2012 yang bukan peserta Askes dan bukan pengguna program JPS.

Besarnya kemampuan membayar pasien apabila dihitung berdasarkan total pengeluaran non esensial selama satu bulan adalah kelas VIP sebesar Rp.876.000,-, kelas I sebesar Rp.

352.220,-, kelas II sebesar Rp. 265.740,- dan kelas III sebesar Rp. 209.220,-.

9 (Mukti, 2001) Survei Kemampuan

dan Kemauan

Membayar

Masyarakat untuk

Penelitian Cross sectional Sampelnya yakni 600 rumah tangga

Sebagian besar responden memiliki kemauan untuk membayar keluar pasien dan rawat inap per kunjungan dan per masuk adalah Rp 10.000 dan kurang dari

Pelayanan dan Asuransi kesehatan

Rp 300.000 masing-masing.

10 (Nuraini, Rianti and Asmijati, 2009)

Analisis Demand Masyarakat Terhadap Pelayanan Kesehatan Di Puskesmas Kecamatan Cilandak Jakarta Selatan Tahun 2008

Penelitian desain cross sectional atau potong lintang yang bersifat deskriptif.

Sampel yakni 100 responden dari 5 kelurahan

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh distribusi Ability To Pay masyarakat tinggi sebanyak 67% dan Ability To Pay masyarakat rendah sebanyak 3.3%, itu artinya pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cilandak Jakarta Selatan yang memiliki ATP rendah dibandingkan dengan yang tinggi lebih banyak yang memiliki ATP rendah.

11 (Yandrizal et al, 2015)

Analisis Kemampuan

Dan Kemauan

Membayar Iuran Terhadap Pencapaian UHC JKN Di Kota Bengkulu

Metode penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional, dan rancangan metode analisis formatif

Respoden tidak mampu membayar 86,59%

belum menjadi peserta. Responden yang mampu tetapi belum peserta 88,89%.

Responden yang merokok 81,2% tidak mampu, sedangkan belanja rokok lebih besar dari iuran.

Upah minimum regional di Bengkulu tahun 2015 sebesar Rp. 1.500.000,-. Pendapatan masyarakat dengan penghasilan UMR termasuk yang tidak mampu membayar.

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas yang memuat teori variable dalam penelitian maka peneliti menggunakan kerangka teori sebagai berikut :

Berdasarkan model Andersen (1975), faktor determinan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan dituangkan ke dalam 3 kategori utama yaitu karakteristik predisposisi, karakteristik kemampuan dan karakteristik kebutuhan. Karakteristik predisposisi menggambarkan fakta bahwa setiap individu mempunyai kecenderungan menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda yaitu jenis kelamin, umur, pekerjaan dan karakteristik lainnya. Karakteristik kemampuan adalah keadaan atau kondisi yang membuat seseorang mampu untuk melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhannya terhadap pelayanan kesehatan yaitu sumber daya masyarakat yang termasuk jumlah sarana pelayanan kesehatan yang ada.

Karakteristik kebutuhan merupakan komponen yang paling langsung berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah hasil pemeriksaan dan penentuan diagnosis penyakit oleh dokter.

Gambar 2.2 Kerangka Teori

Gambar 2. Kerangka teori

Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan, Modifikasi teori Anderson (1975), Gani (1981), Russel (1996), Nadjib (1999), Prijodarminto (2000)

Karakteristik predisposisi (Predisposing Characteristics)

demografi (umur, seks, status perkawinan),

struktur sosial (pendidikan, pekerjaan, ras, hobi, agama), dan

kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan (health belief)

Karakteristik kemampuan (Enabling Characteristics)

sumber daya keluarga (penghasilan, kepemilikan asuransi kesehatan, daya beli dan pengetahuan tentang layanan kesehatan), dan

sumber daya masyarakat (ketersediaan sarana pelayanan, jumlah tenaga kesehatan, rasio penduduk )

Karakteristik kebutuhan (Need Characteristics);

permintaan layanan kesehatan (persepsi sakit, diagnosa

penyakit, kecacatan, status kesehatan)

Jarak/Waktu Tempuh

Kemauan Untuk Membayar

Pengeluaran Rumah Tangga

Kesesuaian Jam Buka

Berdasarkan kerangka teori tentang faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas sehingga dirancanglah oleh peneliti kerangka konsep sebagai berikut:

Gambar 3. Kerangka konsep

Pendidikan Pengetahuan

Pekerjaan

Waktu Tempuh

Pengeluaran Rumah Tangga

Kemampuan Untuk Membayar

Kepemilikan Jaminan/

Asuransi Kesehatan

Keluhan Sakit Persepsi Kualitas PKM

Keberadaan Dokter Kesesuaian Jam Buka

Puskesmas Kemauan Untuk

Membayar

PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN PUSKESMAS BARRANG LOMPO

KOTA MAKASSAR

1. Ada hubungan antara pendidikan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar

2. Ada hubungan antara pengetahuan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar

3. Ada hubungan antara pekerjaan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar

4. Ada hubungan antara waktu tempuh dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar 5. Ada hubungan antara pengeluaran rumah tangga dengan

pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar

6. Ada hubungan antara kemampuan membayar dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar 7. Ada hubungan antara kemauan membayar dengan pemanfaatan

pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar 8. Ada hubungan antara kepemilikan jaminan/asuransi kesehatan

dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar

9. Ada hubungan antara kesesuaian jam buka puskesmas dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar

10. Ada hubungan antara keberadaan dokter dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar

dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar

12. Ada hubungan antara keluhan sakit dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo Kota Makassar

Tabel 3. Definisi operasional dan kriteria objektif No Variabel

Penelitian

Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Kriteria Objektif

1. Pemanfaatan pelayanan kesehatan puskesmas

Kunjungan rawat jalan ke puskesmas untuk

mendapatkan

pelayanan kesehatan dasar oleh rumah tangga dalam satu tahun terakhir.

Kuesioner Wawancara Sering : jika jawaban responden jawaban ≥ nilai mean (2.00) Jarang : jika total skor jawaban

<nilai mean 2. Pendidikan Jenjang sekolah formal

tertinggi yang pernah diikuti.

Kuesioner Wawancara Rendah : Jika pendidikan yang ditamatkan olrh responden ≤ tamat SLTP.

Tinggi : Jika Pendidikan yang ditamatkan responden ≥ SMA/SMK

3. Pengetahuan Pemahaman responden tentang adanya program

subsidi pelayanan kesehatan di puskesmas yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah.

Kuesioner Wawancara Kurang : Jika nilai yang

didapatkan < nilai mean (2.98) jawaban responden

Baik : Jika nilai yang didapatkan

≥ nilai mean jawaban responden

untuk mendapatkan penghasilan.

bekerja, petani, buruh dan wirausaha berdasarkan hasil wawancara

Formal : jika responden bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta, PNS, Polri, TNI dan memiliki pensiunan

5. Waktu tempuh Rata-rata lamanya waktu perjalanan (dalam menit) yang diperlukan dari tempat tinggal responden ke puskesmas pulang pergi.

Kuesioner Wawancara Lama : bila ≥ nilai mean (08.27 menit)

Tidak lama : bila < nilai mean 6. Pengeluaran

rumah tangga

Rata-rata jumlah semua pengeluaran rumah tangga dalam satu bulan,

dipergunakan sebagai proksi sosial ekonomi.

Kuesioner Wawancara Tinggi : jika total jawaban ≥ Mean (Rp 549.144,00)

Rendah : jika total jawaban <

nilai mean

7. Kemampuan untuk

membayar (ATP)

Jumlah uang yang mampu dibayarkan oleh rumah tangga untuk setiap kali kunjungan berobat ke puskesmas sebagai mengganti biaya pelayanan kesehatan.

Kuesioner Wawancara Tinggi : jika total skor jawaban ≥ Mean (Rp 185,00)

Rendah : jika total skor jawaban

< nilai mean

untuk membayar (WTP)

dibayarkan oleh rumah tangga untuk setiap kali kunjungan berobat ke puskesmas sebagai mengganti biaya pelayanan kesehatan.


Mean (Rp 6.431,00)

Rendah : jika total skor jawaban <

mean

9. Kepemilikan jaminan/asura nsi kesehatan

Adanya organisasi penanggung biaya berobat di fasilitas

kesehatan, di luar program subsidi pelayanan kesehatan gratis yang diberikan Pemda.

Kuesioner Wawancara Tidak memiliki : Jika responden tidak memiliki jaminan/asuransi kesehatan

Memiliki :

Jika responden memiliki jaminan/asuransi kesehatan 10. Kesesuaian

jam buka puskesmas

Kebutuhan waktu rumah tangga untuk berobat, dibandingkan dengan waktu jam buka puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Kuesioner Wawancara Tidak Sesuai : Jika jam buka puskemas > jam 08.00

Sesuai : Jika jam buka puskesmas jam 08.00

11. Keberadaan dokter di puskesmas

Pemeriksaan pelayanan kesehatan di puskesmas dilakukan oleh dokter kepada pasien secara langsung.

Kuesioner Wawancara Jarang : Jika dokter tidak setiap hari kerja berada di puskesmas Sering : Jika dokter selalu berada

Dokumen terkait